Dibalik Diamnya Mertuaku

Dibalik Diamnya Mertuaku
Bab 56 Menduga penyebab kecelakaan


__ADS_3

Aku meyuruh Kak Indah untuk berdiri, merangkul bahunya membawa dia ke dalam rumah. Kak Indah masih menangis, isak tangisnya tak henti terdengar oleh kedua telingaku.


Menyuruh Kak Indah duduk, ia masih terlihat menyesal." Kak, udah dong nangis ya."


Aku berusaha menenagkan kakakku," Anna, ini."


Pak Galih membantuku untuk mengambilkan air minum, sedangkan Lulu yang menangis di bawa Farhan bermain di teras rumah.


"Ayo kak diminum."


Kak Indah perlahan meminum air yang aku sodorkan padanya, setelah habis meminum air. Tangan ini mengusap lembut kedua pipi yang sudah basah dengan air mata.


"Maafkan Kakak, An. Kakak enggak bisa jaga Radit dengan baik."


Penyesalan Kak Indah begitu terlihat sekali, pada kedua sorot matanya, aku berusaha tidak menyalakan wanita yang sudah baik menjaga Ketiga anak anakku.


"Anna sudah maafkan, kakak." Aku memeluk erat tubuh Kak Indah, membuat wanita bermata sipit ini berhenti menangis.


Pelukan kini terlepas, saat Kak Indah bercerita tentang kejadian, dimana Radit di rebut paksa oleh Mas Raka.


Aku berusaha menahan rasa kesal, dan amarah yang berusaha aku tahan.


Apa yang sebenarnya ada di pikiran lelaki bernama Raka itu.


"Anna, sepertinya ada hal yang aneh dengan Raka?"


Pak Galih angkat bicara. Aku perlahan menatapnya dengan penuh arti," saya juga berpikir seperti itu, pak!"


"Apa penyebab kecelakaan ini, adalah suamimu?" Kak Indah menatap kearah wajah Pak Galih, kedua matanya membulat, aku melihat kak Indah belum mengerti topik pembicaraanku dengan Pak Galih.


"Maksud kalian, apa?" Pertanyaan Kak Indah, membuat aku menatap ke arahnya secara perlahan." Saat di perjalanan menuju pulang, aku Di Ikuti mobil Ajeng, hingga dimana kami berpura pura berhenti untuk mengelabui wanita alot itu. Rencana kita berhasil, hanya saja. Setelah itu ada seorang wanita bernama Tasya menghampiriku, ia menceritakan kisah masa laluku."


Kak Indah terlihat tak sabar dengan ceritaku, hingga aku melanjutkan pertemuanku dengan Tasya." Ia menceritakan jika aku mengalami kecelakaan berasama seorang pemuda bernama Daniel. Lelaki itu adalah calon suamiku?"

__ADS_1


"Calon suamimu? Daniel. Maksud kamu, An?"


Sepertinya kak Indah belum paham betul apa yang aku katakan, hingga dimana aku berusaha membuat kak Indah mengerti." Kakak ingat tidak kotak wasiat ibu yang sudah usang yang baru kita lihat kemarin?"


Kak Indah menganggukan kepala," ya, terus. Apa hubunganya?"


"Di kotak berukuran sedang itu, ada poto seorang lelaki yang di simpan ibu, dia itu calon suami Anna yang sebenarnya!"


"Calon suamimu. Kalau calon suamimu namanya Daniel. Terus Raka, siapa?"


"Aku juga belum paham, yang aku pikirkan saat ini. Mas Raka penyebab dari kecelakaanku, dan mengantikan Daniel!"


"Terus lelaki bernama Daniel itu masih hidup apa sudah mati?"


Perkataan Kak Indah membuat aku berpikir ke sana, hanya saja Daniel ada dimana sekarang? Kalau dia mati, aku pasti bisa menemui kuburanya. Sedangkan Tasya sendiri tidak tahu menahu.


Padahal dia orang yang paling dekat dengan Daniel? Kata Tasya, semenjak kecelakaan itu. Daniel tidak di temukan kabarnya lagi.


"Aku juga belum paham saat ini, kak. Semua terlalu rumit jika dipikirkan oleh kepala tak konsen seperti sekarang."


"Ini Aneh."


Bukan Kak Indah saja yang berpikir semua terasa Aneh, Karna aku dan Pak Galih pun berpikir sedemikian.


"Oh ya, poto lelaki itu masih kakak simpan kan?" tanyaku pada Kak Indah.


Wanita yang duduk menghadap ke arahku, menganggukan kepala, ia berdiri berjalan untuk mengambil kotak sedang yang sudah usang milik almarhum ibu.


Setelah mengambil kotak itu, perlahan Kak Indah membuka dan menyerahkan poto Daniel kepadaku.


"Kamu mau apakan poto itu?" Pertanyaan Kak Indah membuat aku menjawab." Aku mau menunjukkan poto ini pada seorang wanita yang aku masukan ke dalam penjara dan sekarang wanita itu dialihkan ke rumah sakit jiwa."


"Maksud kamu Bu Sumyati yang menyerang kita waktu kita di perjalanan, untuk pulang? Kenapa dia dialihkan ke rumah sakit jiwa, bukanya dia baik baik saja!"

__ADS_1


"Iya kak, selama ditahan beberapa hari di dalam penjara, Bu Sumnyati tertekan, hingga ia sedikit depresi."


"Dan terus apa hubunganya dengan poto Daniel, lelaki yang dikatakan sahabat kamu itu calon suami kamu."


"Aku penasaran, karna Bu Sumyati selalu menyebut nama Daniel, saat berhadapan denganku. Tatapanya itu begitu terlihat kesal dan benci kepadaku, kak. Aku ingin bertanya pada dia, apakah Daniel yang ia sebut anak kandungnya yang berada pada poto ini."


"Ya ampun Anna, masalah kamu begitu ribet seperti ini. Setelah bercerai dengan Raka, bukanya tenang kamu dihadapi dengan masalah yang bertubi tubi."


Aku memegang tangan kak Indah dan berkata," aku sebenarnya tak masalah dengan masalah ini, toh aku juga ingin mengigat masa laluku. Dan mencari orang yang sudah menambrakku dulu. Sampai aku hilang ingatan."


"Kakak curiga dengan keluarga Raka, dan ibu mertuamu, karna dari dulu. Ibu mertuamu selalu bertingkah tak baik padamu."


"Iya kak, aku juga berpikir begitu mudah mudahan, aku bisa menyelidiki mereka."


Aku mulai melepaskan tanganku, menyimpan poto lelaki bernama Daniel ini pada tas yang selalu aku bawa jika aku berpergian.


"Anna, Saya besok akan kembali lagi ke sini," ucap Pak Galih membuat aku membalas." tak usah pak, Saya melihat ada kebencian yang tak bisa saya artikan pada Bu Sumyati kepada bapak, saya takut gagal bertanya pada wanita itu, saya akan pergi sendirian."


Raut wajah Pak Galih, memperlihatkan kekecewaan membuat lelaki itu berkata dengan nada sayu." Baikalah kalau begitu, tapi jika kamu butuh saya hubugin saya segera."


Aku tersenyum tipis lelaki di belakangku ini, begitu perhatian dan sigap dalam menbantuku, entah ada maksu apa tidak dalam hatinya.


Karna iya begitu baik sekali.


"Mm, Pak Galih nemenim Anna terus saat ada masalah, kayanya ada benih benih cinta tumbuh nih."


Sindiran Kakaku membuat aku mendelik kesal, membuat aku mencubit bibirnya. "Aduh sakit."


Terlihat Pak Galih seperti salah tingkah, saat Kak Indah terus mengodaku dengan celotehnya.


"Ya sudah An, saya pulang dulu." Pamit Pak Galih kepadaku.


"Mm, Pak Galih, karna sering di ajaknya Anna jadi lupa pamitan sama saya."

__ADS_1


Tawa Kak Indah, menggema di telingaku membuat Pak Galih tersenyum kecil.


"Ya sudah Indah, saya pamit. Lupa jika di samping Anna ada kamu." Aku menutup mulut menahan tawa, dengan ucapan Pak Galih.


__ADS_2