
Tangan terlihat bergetar, Anna seperti gugup menerima panggilan telepon dari calon suaminya." Halo. Pak. "
Padahal baru saja Anna memberi nasehat pada Kakaknya sendiri, dirinya pun tak jauh berbeda. Terlihat gelisah dan juga gugup," Anna. "
Suara Galih membuat Anna, menjawab dengan penuh kegelisahan. Apa mungkin karena pernikahan akan segera dimulai dengan waktu yang sangat dekat.
Hingga Anna tak bisa mengontrol rasa gugupnya sendiri.
"Anna, kamu kenapa? " Pertanyaan kini terlontar kembali dari mulut
"Iya pak, saya tidak kenapa-kenapa! "
"Syukurlah kalau begitu, saya takut kamu kenapa-kenapa karena jam malam begini saya menelepon kamu. "
"Tidak apa apa kok pak, malahan saya senang. "
Anna menutup mulutnya dengan telapak tangan, ia bisa bisanya sampai berbicara jujur pada Galih, "Ini mulut enggak bisa di jaga. " Gerutu Anna dalam hati.
"Kamu kenapa An? Saya juga senang bisa mengobrol dengan kamu. Saya sudah membayangkan nanti jika bersama kamu. "
kedua pipi Ana memerah setelah perkataan dan harapan Galih terdengar oleh dirinya.
"Eh, Anna maaf, terlalu menghayati. Ya sudah kamu cepat tidur, biar kamu bisa rileks saat menghadapi acara pernikahan kita. "
"Iya, pak. "
Anna kini terburu-buru mematikan ponselnya, Iya tak mau larut dalam bayangan Galih yang semakin mengganggu pikirannya.
saat itulah Ana mulai merebahkan tubuhnya, berusaha tetap tenang dan rileks. tidak membayangkan lagi raut wajah Galih yang terus terbayang dalam pikirannya.
********
sedangkan dengan Indah, ya masih terdiam membisu saat Deni terus memanggil namanya.
"Kak Indah. "
__ADS_1
Dalam bayangan Indah, bagaimana nantinya jika saat malam pertama nanti, Indah malah menghindar, karena tubuhnya yang tak seperti gadis kembali.
Deni hanya merasakan Indah sebagai seorang janda.
"Kak Indah. "
Deni terus berulang kali Memanggil nama indah, hingga saat itu indah memberanikan diri untuk menjawab panggilan Deni. Ia berusaha tetap tenang dan tak menampilkan rasa gelisanya.
"Kakak kenapa diam saja. Apa ada sesuatu yang kakak pikirkan? "
Pertanyaan Deni membuat dada Indah terasa sesak. Bagaimana tidak Deni begitu lembut dalam berucap membuat Indah yang sebagai seorang wanita sedikit terpaku.
"Kak Indah? "
"Iya, Deni ada apa? "
"Aku dari tadi panggil kakak, tapi dari tadi kakak diam saja!"
"Maaf ya! "
Rasa keberatan?
"Tidak ada kok, Deni. Sebenarnya kakak ini sedikit gelisah, membayangkan kamu yang menikah dengan seorang janda seperti kakak ini. Apalagi umur kamu yang masih menginjak 20 tahun, umur yang masih muda sekali. Deni kamu masih bisa mengejar cita-cita daripada harus bekerja menafkahi kakak. Apa tidak ada kata penyesalan nanti setelah kamu menikahi kakak."
" Kakak tak usah kuatir Deni benar-benar menyayangi kakak, dan untuk menafkahi kakak Deni bisa karena sekarang Deni tengah mengelola perusahaan Papa Deni yang sudah meninggal dunia karena kecelakaan di mana Papah Deni shock setelah mendengar kabar tentang kematian Kak Daniel. "
Mendengar cerita dari Deni, tentulah membuat Indah kagum, Deni di usianya yang masih muda. Bisa berpikir sedewasa itu.
" Ya sudah sekarang sebaiknya Kakak cepat tidur karena sebentar lagi hari pernikahan kita, jadi Kakak harus benar-benar menjaga kondisi kesehatan Kakak, agar tidak ada hal-hal yang tadi inginkan nanti terjadi, Kakak tak usah memikirkan Deni yang masih berumur 20 tahun ini."
Indah berusaha menghalap napas mencoba mencerna perkataan anak berusia 20 tahun itu.
"Ya sudah kakak, tidur dulu ya. "
Tanpa basa basi, mengucapkan kata selamat malam, Indah yang malu malu, langsung menutup ponselnya.
__ADS_1
Menarik napas, merasakan rasa tenang. Hatinya lega. Setelah dirinya mengobrol dengan Deni. "Apa yang dikatakan Anna, ada benarnya juga. setelah mengobrol dengan perasaanku sedikit tenang."
******
Di rumah Danu.
Lelaki berperawakan tinggi dengan dada bidangnya yang kekar, mengacak seluruh isi rumah, kesal dan kecewa yang kini ia rasakan. Apalagi setelah mendapat undangan pernikahan mantan istrinya dengan seorang pemuda yang kemarin bertemu dengan dirinya.
"Ini tidak bisa di biarkan, Indah. Aku tak sudi jika kamu harus menikah dengan bocil itu. Yang pantas dengan kamu itu adalah aku. Jadi kenapa kamu malah memilih bocah ingusan yang belum tentu membahagiakan kamu, Indah. "
Mendengar amarah yang terlontar dari mulut Danu, sang ibunda berusaha menenangkan kekesalan anaknya.
"Sudah cukup, Danu. Kenapa kamu malah uring-uringan seperti ini. Apa yang sedang kamu pikirkan? "
Pertanyaan sang ibunda membuat Danu seketika menangis, Iya perlahan menunduk meminta maaf kepada wanita tua yang sudah melahirkannya.
Sang ibunda. Mulai merangkul bahu anaknya agar berdiri bersejajar dengan dirinya.
"Sebaiknya kita duduk di kursi, agar peraasanmu tenang. Danu. Jika tidak begini kamu akan terus berhalusinasi dan memikirkan Indah. "
"Tapi, bu. "
Perlahan wanita tua itu mulai menenangkan anaknya, memeluk erat tubuh Deni dengan mengusap punggung dan menasehati anak semata wayangnya yang memang sebenarnya ia bersalah. Sudah melakukan hal yang membuat Indah sakit hati dan sekarang ia harus menanggung semua akibat yang ia peroleh dari dirinya sendiri, saat itulah sang ibunda berusaha menasehati dengan berkata, " sebaiknya kamu merubah diri kamu untuk menjadi lebih baik lagi. ibu berharap dengan kejadian semua ini menjadikan pelajaran untuk kamu kedepannya. Ibu tak mau melihat kamu tersiksa seperti ini. "
Kedua mata Danu memerah, menatap ke arah sang ibu dengan tatapan kegelisahaan." Bu. Danu tak ikhlas jika melihat Indah menikah."
Ibu mana yang tak tega melihat seorang anak menangis, pastinya tak ada. Tapi demi menjadi ibu baik, ia hanya bisa menasehati dengan penuh kasih sayang. " Danu, apa kamu pernah memikirkan perasaan Indah saat kamu di jebak Siren. Tidak kan, kamu malah egois tidak mencari tahu terlebih dahulu. Kamu malah membela terus menerus Siren karena dia mengaku jika di hamil anak kamu yang pada kenyataanya kamu dibohongi dengan cara yang sangat licik. "
"Danu menyesali semua itu, Bu. Maafkan Danu. "
"Jangan meminta maaf pada ibu, minta maaflah yang tulus pada Indah. Iklaskan dia bahagia, jangan kamu paksa dia kembali lagi padamu. "
Danu perlahan mengerti dan menyadari apa yang dikatakan ibunya. " Ya. Bu, dua hari lagi pesta pernikahan Indah dan juga Deni, Di sana Danu akan mengumumkan kata maaf Danu pada Indah. Danu tidak akan mengusik hidup Indah, Danu akan mencoba merubah diri dengan memperbaikin semua kesalahan Danu. "
"Syukurlah kalau begitu, Danu. Itu yang ibu harapkan pada kamu. Sebenarnya ibu juga merasa kehilangan Indah karena kamu tidak bersama dia lagi. Tapi bagaimana lagi. Sudahlah sebaiknya kamu persiapkan mental kamu nanti saat menghadiri pernikahan Indah. "
__ADS_1
Bagaimana nanti jadinya Danu menghampiri pernikahan Indah dan Deni.