
"Ya, kakak tahu itu. Jadi jangan sok menasehati kakak, kamu Anna."
Begitulah egoisnya Indah, sampai adiknya sendiri pun tak ia dengar.
Indah begitu banyak berubah setelah kematian Danu, ia menjadi sosok wanita yang pemarah dan juga egois. Mementingkan diri sendiri, tak mau dinasehati walau sebenarnya ia salah.
"Kakak, ini. Aneh, salah tak mau salahkan. Orang benar selalu di anggap salah. Kakak ini kenapa?"
Pada akhinya Anna mengatakan kekesalanya pada sang kakak dengan terus terang.
Deni yang mendengar ucapan Anna hanya bisa terdiam dan memang ia juga ingin mengatakan semua itu, tapi karena Indah yang selalu melawan, membuat Deni mengurungkan niatnya.
Terkadang nasehatnya juga tak pernah istrinya dengar.
"Sudahlah Anna, kakak ini lebih tua dari kamu. Jadi jaga ucapan kamu."
Sudah Anna duga, Indah terlalu menuruti ego, sampai ia tak menerima keritikan pedas dari adiknya.
Indah menatap ke arah Deni dengan bertanya?" kenapa kamu malah melihatku seperti itu Deni. Apa memang aku ini salah."
Deni menelan ludah, ia bingung harus menjawab apa. Sampai Anna melontarkan perkataan pada Deni." Sudahlah, Mas Deni. Jangan terlalu mengelah, katakan saja apa yang membuat Mas Deni tidak nyaman dengan Kak Indah. Siapa tahu setelah mendengar kelah keluh Mas Deni, kak Indah berubah."
"Ngomong apa kamu, Anna." Timpal Indah, terlihat raut wajah emosi ia tampilkan pada Adiknya sendiri.
"Tuh kan apa Anna bilang, baru saja Anna berbicara seperti tadi. Kak Indah sudah sewot sendiri." Anna walau pun lembut dan cengeng, terkadang dia juga memberanikan diri melawan jika itu untuk kebaikan semua orang.
Indah kembali diam, ia mengerutkan kedua bibirnya. Sudah malas berdebat dengan sang adik begitupun suaminya, Deni yang baru beberapa hari menjadi suami Indah, begitu sabar menghadapi kelakuan dan juga sifatnya yang emosional.
__ADS_1
"TERSERAH KALIAN SAJA."
*********
Setelah sang kakak diam, Anna mulai menatap ke arah suaminya," ya sudah mas, cepat panggil Farhan dan apa yang ingin kamu tunjukan padaku."
Galih berusaha memberanikan diri untuk memperlihatkan Ainun di depan Indah dan juga Anna. Walaupun mungkin akan ada perdebatan sedikit, tapi ini yang terbaik, agar Ainun mengakui kesalahannya dan juga rasa penyesal telah menyakiti Anna.
Lelaki berbadan kekar dengan hidungnya yang mancung, kini memanggil anak semata wayangnya, begitupun dengan mantan istrinya.
Mereka berdua masuk ke dalam ruangan menampilkan diri, di mana kedua mata Indah membulat dengan datangnya Ainun yang digandeng oleh Farhan.
Indah berdiri dan berkata, "kenapa kamu bawa wanita ini. Bukannya kamu sudah berjanji akan membawa dia pergi jauh dari hadapan adikku."
Anna berusaha menenangkan kakaknya yang terlewat emosi, saat melihat Ainun mantan istri dari Galih.
Deni berusaha menenangkan sang istri dengan berkata," sudahlah mungkin akan ada sesuatu yang ingin dikatakan Ainun, kita belum tahu apa niat Ainun datang ke sini. "
Bukannya tenang, Indah malah memarahi suaminya. "sudah jelas wanita ini pasti akan membuat keributan di sini. "
Ana menyuruh Deni untuk mengeluarkan kakaknya, karena mungkin ada sesuatu yang penting akan disampaikan Ainun kepada Anna saat itu.
"Mas Deni, bisa tidak kamu bawa dulu istrimu keluar dari ruanganku, sepertinya Ainun akan membicarakan hal yang penting denganku, tolong. "
" Anna kamu ini apa-apaan sih. Masih sempat kamu membela wanita murahan ini. Sudah jelas dari raut wajah pura-puranya itu, ada niat ingin menghancurkan rumah tangga kamu. Sudahlah sebaiknya kamu cepat usir dia dari ruangan ini. "
Anna memberikan kode kepada Deni untuk segera menarik sang kakak agar tidak membuat keributan, di mana Ainun ingin menjelaskan sesuatu hal kepadanya.
__ADS_1
Dengan kekuatan yang dimiliki Deni, lelaki itu berhasil membawa istrinya keluar dari ruangan. Akan tetapi Indah berusaha melawan dengan kekuatan yang ia punya, untuk bisa menyingkir dari suaminya yang terus memegang erat tangannya.
"Lepaskan tanganku, mas. Aku ingin memberi pelajaran kepada dia."
"Sudahlah tidak baik kamu terus saja berdebat dengan orang lain, kemungkinan besar Ainun datang ingin meminta maaf dan menyadari kesalahannya. Ayolah jangan terlalu mengandalkan emosi dan juga rasa dendam di hati kamu. "
Dada Indah naik turun, seakan merasakan sesak di dada. Ia berusaha menenangkan diri agar bisa mengatur emosi yang terus meledak pada hatinya.
Deni perlahan membawa sang istri untuk duduk.
"Ayo kita duduk dulu di sana. Tenangkan hati kamu, aku juga tahu jika kamu ini begitu sangat membenci orang yang sudah menyakiti hati Anna. Tapi alangkah baiknya kita harus bersabar dan tidak membuat emosi meledak-ledak yang malah akan merugikan diri kita sendiri."
Pada saat itulah Indah mulai pasrah, ia duduk berusaha menenangkan diri menyender pada bahu sang suami dengan berkata," kamu tahu sendiri kan, aku begitu takut jika anak terluka kembali."
"Aku tahu kekhawatiran kamu sebagai seorang kakak sangatlah besar. Tapi alangkah baiknya kamu tetap tenang dan menjaga emosi kamu agar tenaga kamu tidak terkuras habis."
Indah menundukkan kepala, saat itulah ia menangis menyesali perkataannya yang terlalu menyakiti hati orang lain, padahal dari balik ucapannya yang begitu kasar, ada rasa ketakutan ketika orang yang ia sayang terluka oleh sosok orang lain yang baru saja datang. Dan mengisi hati adiknya itu.
Indah trauma dengan luka yang sudah digoreskan Danu, sampai ia menjadi orang yang sangat egois dan emosional. Rasa takutnya terus terbayang pada pikiran dan juga terasa pada hatinya, ia tak mau nasib menyedihkannya di alami lagi oleh sang adik. Sudah cukup mendapatkan lelaki baji**an.
Yang di inginkan Indah, Annamendapat lelaki yang terbaik dan tak menyakiti hati adiknya kembali. Seperti lelaki yang dulu-dulu pernah menjadi suami Anna.
Deni yang merasa tak tega dengan istrinya itu, perlahan memeluk erat tubuh wanita yang mungkin sudah kelelahan karena mengeluarkan emosi.
"Aku seperti ini karena aku sangat menyayangi adikku, aku takut dia terluka kembali seperti dulu, hatinya disakiti oleh Raka. Mana ada seorang kakak yang tega melihat adiknya menderita , terluka. Semua Kakak di dunia ini pastinya ingin melihat sang adik bahagia. "
Deni mengusap punggung sang istri. Ia juga tahu jika istrinya yang egois ini memiliki hati yang lembut dan juga baik hati, "aku tahu perasaan kamu, aku juga tahu apa yang kamu rasakan saat ini."
__ADS_1
Pantas saja Deni begitu bertahan dengan sifat Indah yang egois, memang pada dasarnya wanita itu akan berubah jika dia mengalami rasa trauma dan juga rasa sakit hati, karena orang-orang yang dulu pernah menyakitinya.