
Intan pulang untuk segera membawa Lulu kehadapan Marimar, ia ingin terbebas akan anak Anna. Awalnya Lulu dia jadikan bahan pancingan, agar dirinya tak masuk ke dalam penjara, tapi Galih ternyata begitu pintar.
Intan mendengar obrolan Nita bersama Lulu, dimana ia akan mengantarkan Lulu pada kedua orang tuanya, dari sana lah Intan sudah berencana mengubah kembali rencananya.
Semalaman berpikir sampai tak tidur, membuat kedua bawah mata menghitam. Bagi Intan, Nita sudah tak dapat di percaya lagi, ia bukan sahabat yang mampu melindungi dirinya.
"kamu lihat saja Nita, aku akan membuat kamu bersalah. kalau saja kamu tetap ada di pihakku, pastinya kamu tidak akan aku buat bersalah, sayangnya kamu berpihak pada anak sialan itu."
Intan menaikin mobil dengan raut wajah tak sabar, ingin segera menghampiri Lulu. Membawa anak itu kehadapan Marimar.
Entah kenapa, Intan merasa ada yang janggal dengan wanita bernama Marimar itu. ia seperti berpura pura baik, dan haus akan pujian.
Intan curiga saat bertemu dengan Marimar, ia sempat mengatakan kalau dirinya akan mencari ke panti asuhan, tapi setelah Intan tawarkan seroang anak tanpa basa basi dia mau. Rela menyerahkan uangnya sebesar lima puluh juta.
Sopir terlihat tenang, hingga Intan dengan isengnya bertanya." Pak Sopir saya mau tanya, memangnya Ibu Marimar itu tidak punya anak sama sekali?"
Sopir yang terlihat dingin itu, ternyata menjawab perkataan Intan." Dulu pernah adopsi anak wanita, hanya saja anak itu hilang entah ke mana?"
Intan terkejut akan jawaban sopir itu, ia bertanya lagi." Hilang, kok. Bisa sih."
Sang sopir begitu santai menjawabnya." Entahlah saya juga tidak tahu, sebenarnya anak yang di adopsi Nyonya Marimar itu bukan satu saja, saya hitung sudah banyak ada dua puluhan. Cuman anak itu hilang tak terlihat hilang dalam satu hari, ibu ibu di kampung hanya tahunya Nyonya Marimar tidak pernah mengadopsi anak. Yang mereka tahu Nyonya Marimar mandul, gosip ibu ibu ya begitu."
"Apa Ibu Marimar mengambil dari panti asuhanan?" tanya Intan yang semakin penasaran dengan carita Marimar.
"Kalau ngomong ya, bilangnya mau mengadopsi anak dari panti asuhan. Nyatanya bukan, kebanyakan dari anak yang sudah tidak punya orang tua dan di berikan dengan imbalan besar!" jawab Sang sopir. Terlihat sopir itu sudah jerah bekerja dengan Marimar. karena dari raut wajahnta terlihat sudah tak bersemangat.
Merasa aneh ya, itu yang kini di rasakan Intan. Tapi ia tak peduli, terpenting uang mengalir untuk dirinya.
Intan melihat pada layar ponselnya sudah menampilkan jam satu siang, ia bisa membawa Lulu tanpa Nita tahu.
"Saya sarankan jangan terlalu akrab dengan Nyonya Marimar, apalagi sampe menyerahkan anak kecil, " ucap sang sopir seperti memberi tahu Intan.
Intan tak mempedulikan sopir itu, bagi dirinya sekarang ia ingin duit, dan pergi dari kampung Nita.
Mobil berhenti di suatu rumah bercat biru, Intan keluar dari mobil itu, melihat seisi rumah tanpak sepi, ia berharap jika Lulu masih berada di dalam rumah.
Tok .... Tok ....
Mengetuk pintu beberapa kali, akhinya Lulu membukakan pintu rumah Nita. " kak Intan." Intan masuk begitu saja ke dalam rumah, ia duduk pada sofa rumah Nita. Melirik penampilan Lulu yang begitu kumel.
"Heh, Lulu. kamu sudah mandi belum?" tanya Intan, kesal melihat wajah anak berumur tiga tahun itu. Begitu percis dengan ibunya sendiri.
Intan melabaikan tangan, menyuruh Lulu untuk mendekat kearahnya," coba kamu ke sini?" Lulu kini mendekat setelah Intan memelototinya.
"kalau aku panggil itu, nyahut. Jangan diam saja, gimana sih, " cetus Intan, mendorong kepala Lulu. Terlihat anak itu hampir saja menangis.
"Maaf kak Intan," ucap Lulu, terdengar pelan. Intan hanya memajukkan bibir bawanya, menuruti ucapan Lulu.
"Aku tunggu kamu di sini, kamu harus cepat mandi," balas Intan, mendorong tubuh Lulu. Dimana anak itu menatap ke arah Intan.
"Ngapain liat ke sini, aku tadi suruh apa, " bentak Intan pada Lulu, dengan terburu buru, anak itu berlari untuk segera mandi.
Baru saja menyalakan keran air, Intan berteriak. " CEPAT MANDINYA. "
Teriakan itu terdengar begitu nyaring, membuat Lulu dengan terburu buru mandi. Intan melihat jam dinding sudah menunjukkan pukul dua siang, sebentar lagi Nita pulang. Ia takut jika nanti Nita menggagalkan rencananya.
Intan kesal, Lulu begitu lama. Hanya sekedar mandi saja. Ia mulia menghampiri Lulu, melihat sedang apakah anak itu.
"Si Lulu ini sedang apa sih. Mandi segitu juga lama, " gerutu Intan. Membuka pintu kamar mandi, terlihat Lulu sudah memakai handuk. Tatapan Intan seperti ingin menelan Lulu saat itu juga.
Lulu dengan santainya, keluar kamar mandi sembari menundukkan pandangan, ia malas menatap Intan yang terus memelototinya. Karena kesal melihat raut wajah Lulu, dengan sengaja ia menjewar telinga anak itu begitu keras.
"Ahk, sakit. kak Intan," teriak Lulu meringis kesakitan, Intan sudah di selimuti kekesalan. Ia terburu buru membawa Lulu ke kamarnya untuk segera memakai baju.
__ADS_1
"Cepat pakai baju atau aku banting kamu sekarang juga," serga Intan memarahi Lulu lagi.
Lulu hanya menangis setelah mendengar bentakan, terus keluar dari mulut Intan. Ia ingin mengatakan suatu hal, tapi Intan tak memberinya kesempatan sedikit pun untuk berbicara.
"Cepat pakai baju," bentak Intan, terus mengeluarkan kekesalannya.
Lulu terus saja menangis, membuat Intan semakin murka. Ia memukul Lulu dengan tanganya. " JANGAN MENANGIS, CEPAT PAKAI BAJUMU."
"Ampun kak Intan, Lulu tidak punya baju lagi, makanya Lulu mau bilang ini dari tadi, " ucap Lulu sambil menangis, Intan mendengar itu langsung terdiam. Ia baru ingat, saat menculiknya Lulu sedang sekolah dan tak membawa baju lagi.
Intan mulai berpikir, bagaimana mencari baju Lulu, karena badan Lulu yang kecil.
Menatap ke arah lemari, Intan melihat banyak baju anak seumuran Lulu di lemari Nita.
"LOH, sejak kapan si Nita ngoleksi baju anak seumuran Lulu. Apa sebelumnya dia pernah punya adik?" Intan mengambil beberapa baju, ia memelih untuk di pakaikan pada Lulu.
"Bajunya ternyata masih bagus bagus, lumayan juga, " ucap Intan memilih milih baju yang nantinya akan di pakai Lulu.
Dan akhirnya Intan menemukan baju yang sangat Lucu, ia memberikan baju itu pada Lulu agar segera dipakai, karena waktu tak cukup banyak.
Lima menit Lulu memakai baju dan mengikat rambuntnya, Intan terkejut dan terlihat begitu senang melihat Lulu berpenampilan rapi dan cantik.
Lulu mendekat ke arah Intan," kak."
Intan yang melipatkan kedua tangannya, menatap ke arah Lulu, " bagus. Ayo ikut."
Lulu tak ingin berpergian dengan Intan, kini diam dan tak mengikuti langkah kaki Intan sama sekali. Intan menyadari semua itu, ia membalikkan badan menatap ke arah Lulu dan berkata?" Kenapa kamu diam saja, ayo pergi denganku."
Intan menampilkan sisi lembutnya, ia tak mau ikut dengannya, walau kelembutan ia perlihatkan pada Lulu.
"Lulu, ayo cepat pergi. Kita tak banyak waktu lagi," ucap Intan masih memperlihatkan keramahanya, karena ia tak sabar akan menerima uang senilai lima puluh juta.
Lulu menggelangkan kepala, ia tak mau ikut dengan Intan, takut jika Intan melakukan hal yang akan menyakiti dirinya lagi.
"Ayo cepat ikut."
Lulu hampir saja berteriak, namun mulutnya sengaja di bekam oleh Intan. Agar tentangga tidak mencurigai aksinya.
Masih di dalam rumah, Intan mendorong tubuh anak kecil itu pada sofa. Menempelkan telunjuk tangan pada bibir Lulu.
"Bisa diam tidak sih, kamu."
Lulu menganggukkan kepala, ia takut akan amukan Intan, sampai berusaha menahan tangisannya. " Maaf kak Intan, Lulu tidak mau ikut, Lulu ingin di sini nunggu Kak Nita pulang."
Intan mengusap kasar wajahnya, merasa kesal akan ucapan Lulu," heh, yang bawa kamu ke sini itu aku, kenapa kamu malah mau dengan si Nita."
Hati nurani Intan lenyap akan amarah, ia mendorong kepala Lulu dan berkata. " Kamu mau nurut tidak, kalau kamu tidak mau nurut. Aku pastikan kamu akan kubuat menderita di sini."
Intan tak segan segan, mengancam Lulu. Mengancam Lulu, membuat Lulu menangis dan ketakutan. " kamu mau, hah?"
Lulu begitu lemah, ia tak seperti kakak kakaknya yang pandai melawan, Lulu lebih mengandalkan menangis. Dari pada berpikir untuk bisa mengerjai Intan yang semena mena padanya.
"Kamu ..... "
Mengepalkan tangan, sialnya. Terlalu banyak drama, hingga Nita datang, membuat Intan tak bisa membawa Lulu ke rumah Marimar.
"Asslamualaikum."
Intan berusaha menahan amarahnya, dimana Nita masuk ke dalam rumah. Lulu berdiri dari tempat duduknya dan berlari memeluk Nita.
"kak Nita. "
"Lulu."
__ADS_1
Intan pergi, menuju kamarnya. Ia langsung membanting pintu kamar dengan begitu keras.
"Brakkkkk."
Nita yang melihat tingkah Intan seperti anak kecil, hanya menggelangkan kepala. Kenapa sahabtanya itu menjadi sosok yang kejam.
Nita mulai merangkul Lulu, menenangkan anak itu agar tidak menangis." Lulu, sayang. kamu harus tenang jangan nangis. kan ada Kakak."
Sembari berjalan, Lulu. Terlihat agak tenang, hanya air mata terus keluar dari sudut matanya. Nita terasa lelah, ia kini harus dihadapi dengan tangisan Lulu.
Rasa sabarnya, membuat Lulu merasa tenang dan nyaman, apalagi tutur kata lembut Nita, selalu membuat orang senang berada di dekatnya.
Menarik napas pelan, mengeluarkan secara perlahan di depan Lulu, rasa cape sehabis bekerja begitu terasa. Keringat dan bau badan tercium, Nita ingin segera mandi.
Namun melihat Lulu, ia merasa tak tega. Mengurungkan niat, untuk membuat Lulu tenang terlebih dahulu.
Nita mengusap pelan air mata yang berjatuhan mengenai pipi Lulu, ia tersenyum saat dirinya merasakan rasa lelah.
"Coba jawab, kamu kenapa?"
Intan membuka pintu kamarnya, ia menyenderkan bahu, melihat Intan menatap tajam wajah Lulu dengan penuh amarah. Sengaja agar Lulu tak berani mengadu pada Nita.
"Kamu lihat saja Lulu, apa yang akan aku lakukan jika kamu mengadu pada Nita, aku pastikan hidupmu akan penuh tangisan. Oke sekarang aku gagal menjual kamu, tapi besok aku pastikan kamu terjual laku pada Marimar. Biar ayahmu nanti menebus kamu." Gerutu Intan pada hatinya dan menyalahkan Nita. "
Nita berusaha membuat Lulu agar tetap tenang di sisinya, dimana nanti Lulu mudah untuk bercerita. " Ayo sayang katakan, kamu kenapa? Apa kak Intan melukai kamu. Atau dia buat kamu sakit?"
Intan diam sambil membulatkan kedua matanya dihadapan Lulu, ia sengaja melakukan semua itu, agar Lulu tak mengadukan kejahatan dan kekejaman Intan pada Nita.
Nita tak terlihat marah, ia mengusap pelan rambut panjang Lulu, berusaha membuat anak itu mengatakan kejujuran. " Ayo katakan, Kak Nita pasti akan mendengarkan keluahan kamu, jadi kamu jangan kuatirnya sayang."
Lulu menelan ludah melirik sekilas ke arah Intan, saat itu Nita yang tak tega melihat Lulu ketakutan, memeluk erat anak itu. "Sini peluk kakak, coba kamu katakan. Sebenarnya apa yang terjadi?"
Anak berumur tiga tahun itu begitu lemah, ia tak mampu mengungkapkan semuanya. Yang ia pikirkan saat ini adalah rasa nyaman agar tidak di sakiti.
"HAH, dasar lemah. Memangnya Lulu kamu seperti ibumu, beda dengan Radit, aku kalah dengan kecerdikan anak itu. Apalagi Farhan, pernah menjadi sasaran kejailan mereka. karena aku kepergok menjahati ibunya," Gumam hati Intan.
Rasa pegal terasa pada Intan, pada akhirnya ia duduk, dengan menyandarkan punggung. Berusaha mendengarkan keluhan Lulu yang akan di adukan pada Nita.
"Ya sudah, kalau kamu tidak mau bercerita pada kakak. Sebaiknya sekarang kamu istirahat saja ya, kakak lihat kamu kelelahan." ucap Nita meluapkan perhatiannya, walau tubuhnya terasa kelelahan.
Nita yang begitu perhatian, membopong tubuh Lulu untuk masuk ke kamarnya, dimana Intan memberikan kode sebuah acaman dan pelototan dari Intan.
Memperlihatkan kepalan tangan agar anak kecil itu ketakutan. " Kamu kenapa?"
Lulu yang hampir saja menangis, kini menahan setiap air mata yang hampir jatuh. Menggelengkan kepala pada gendongan Nita.
Ia melihat Lulu begitu percis dengan adiknya, apalagi saat memakai baju sang adik. Merebahkan tubuh Lulu di atas kasur. Anak itu menatap Nita dengan penuh kesedihan.
Nita yang menyukai anak kecil, mengusap pelan kepala rambut anak itu." Tidur ya, nanti kakak bikin makanan untuk kamu."
Lulu menganggukkan kepala, ia merasa tenang, dan berusaha menutup kedua mata untuk tertidur. Nita tersenyum senang melihat Lulu langsung tertidur begitu saja, mencium kening anak itu dan berkata." Tidur yang nyenyak Lulu."
Nita beranjak berdiri, untuk pergi membersihakan diri, hanya saja. Ia menghampiri Intan terlebih dahulu, dimana wanita itu duduk di sofa sembari menyalakan televisi.
Nita duduk di samping kiri Intan.
" Sudah tidur dia?" tanya Intan. Nita mengepalkan kedua tangan, terlihat Intan begitu jahat terhadap Lulu.
"Kenapa kamu buat dia menangis!?" tanya balik Nita, dengan menahan rasa kesal dalam benaknya ."
Intan tetap saja menatap layar TV, tak memperdulikan ucapan sahabatnya, ia berusaha tak terpancing akan pertanyaan yang terlontar dari mulut Nita.
"Intan, aku bertanya kepada kamu, apa kamu malah diam saja," ucap Nita terdengar membentak sahabatnya, Intan menatap ke arah Nita dengan tatapan kesal.
__ADS_1
"Sebenarnya Kamu ini punya hati nurani tidak, tega menganiaya anak kecil seperti Lulu, kalau memang kamu benci dengan ibunya balas dendam lah pada ibunya bukan dengan anaknya," hardik Nita.