Dibalik Diamnya Mertuaku

Dibalik Diamnya Mertuaku
Bab 69 Tentang kalung dan jam tangan


__ADS_3

Aku melihat wajah Radit seperti kaget dengan apa yang aku perlihatkan pada anak ini. "Radit. Mamah tanya sama kamu, apa kamu mencuri barang ini? "


Radit terdiam sesekali ia menyekah keringatnya yang berhamburan dari kening, dengan tangan kanannya. Terlihat sekali rasa takut akan pertanyaanku.


Melakukan semua ini demi masa depan anakku nanti, tak mau jika Radit menjadi seorang pencuri karna kelalaianku dalam mendidiknya.


"Ayo Radit, katakan yang sejujurnya. Apa kamu mencuri semua benda ini? "


Masih bersikap tenang tak ingin melihat anakku ketakutan, "Nak. Jika kamu berkata jujur. Mamah tidak akan marah kok, mamah janji sama kamu. "


"Radit akan berkata jujur, asal mamah tidak marah sama Radit."


Aku sudah menduga jika Radit takut akan kemarahanku, maka dari itu dia memilih untuk diam. Aku mencoba membuat dia berkata jujur.


Memang butuh kesabaran ektra dalam mendidik anak agar berkata jujur, "


Iya mamah janji tidak akan marah, kalau Radit berkata jujur. "


Namanya anak jika ingin membuat dia berkata jujur pasti ada tingkahnya dan alasanya. Radit menunjukkan jari kelingkingnya menyuruh aku untuk meraih jari kelingkingnya denganku, mengikatkan sebuah janji agar tidak ada yang mengingkari.


"Mamah, janji kan. "


Aku menganggukan kepala dan berjanji pada anak keduaku ini. Tidak akan mematahinya jika Radit berkata jujur.


"Iya sayang mamah janji. " Sesekali kuusap pipinya.


"Radit nemuin barang ini dari mobil papah, karna papah sering nyuruh Radit bersiin mobil, barang itu berada pada jok bawah mobil yang mungkin susah terjangkau oleh orang dewasa. "


Aku mendengarkan cerita yang terlontar dari mulut anakku, dengan fokus. Radit menemukan barang ini pada mobil Mas Raka. Apa karna Mas Raka membeli mobil bekas orang lain sehingga ada benda mahal seperti ini.


Tapi kenapa saat di sorum kemarin, Mas Raka membeli mobil bekas tabrakan?

__ADS_1


"Tadinya Radit mau kasih lagi ke papah barang itu, karna papah yang selalu sibuk dan tak ada waktu bersama Radit. Radit sampai lupa, dan hanya Radit simpan ke saku celana. "


Mengusap lembut rambut anakku, hati ini sempat mengira jika Radit mencuri barang milik orang lain. Tapi kenyataanya dia anak baik.


"Ya sudah sekarang sudah jam sembilan malam, waktunya Radit tidur. "


Radit bangkit dari tempat tidurnya, ia tersenyum dan mencium pipi kiri dan kananku seraya berucap. " Selamat tidur, mamah. "


Anak manis, ia selalu berkata seperti itu ketika ingin tidur.


Setelah kepergian Radit, suara ponsel berbunyi. Nomor yang aku tak kenal menelepon.


"Nomor siapa ini. "


Aku berusaha mengabaikan nomor baru yang terus meneleponku, tak peduli.


Merebahkan tubuh di atas kasur, anak anakku sudah tidur sejak tadi.


Karna rasa penasaran membuat aku mencari tahu lewat poto yang aku simpan pada kotak berukuran sedang yang di temukan di rumah ibu. Siapa tabu dulu sebelum aku hilang ingatan itu jam tangan Daniel.


Menghelap napas, mencari bukti buka hal yang mudah. Apalagi ketika ingatan hilang begitu saja, membuat aku harus berusaha ektra mengungkap semuanya dengan mengandalkan apa yang aku bisa.


Di dalam dus berukuran sedang ini, diary masih tersimpan rapih. Dan begitu pun poto. Perlahan aku mulai melihat lihat poto masa lalu bersama Daniel, lelaki ini benar benar tampan, ia mewarisi wajah Bu Sumyati yang memang wanita tua itu wajahnya hampir sama seperti orang turki.


Aku dengan telitinya melihat poto pada tangan Daniel yang mungkin dulu memakai jam seperti yang di temukan Radit di dalam mobil. Dan akhirnya aku menemukan poto tangan Daniel yang ternyata memakai jam tangan bermerk seperti ini.


Hanya saja di poto tak jelas, mungkin karna poto lama. Agak terlihat buram. Untuk kalung, tidak ada. Di dalam poto leherku tak memakai kalung seperti ini.


Hingga dimana.


Suara ponsel terdengar mengeluarkan suara nada pesan whast aap.

__ADS_1


Nomor baru itu lagi.


Karna rasa penasaran, saat itulah aku mulai melihat siapa yang mengirim pesan di jam sebilan malam ini. (Anna, apa Radit ada di sana? Balas pesanku. Dari tadi kamu begitu sombong tak mengangkat panggilan teleponku.)


Waw, apa katanya aku sombong. Suruh siapa dia pakai nomor baru, jelas tak aku angkat. Dasar lelaki tidak tahu diri, sudah menelantarkan anak berkata kasar pula.


(Anna, aku hanya ingin bertanya pada kamu. Apa Radit bersamamu?)


Aku mengabaikan pesan Mas Raka beberapa kali ia mengirim pesan whats aap kepadaku, tapi aku biarkan. Karna kata katanya yang menurutku tak sopan..


Dulu saja saat melamar, mengaku sebagai calon suami begitu lembut dengan keangkuhannya memiliki pendidikan tinggi. Dan pekerjaan kantoran, tapi kenyataannya seorang pengangguran.


Mas Raka seakan memanfaatkan ketidak berdayaanku, dan hilangnya pengigatanku di masa lalu waktu itu. Andai saja dulu ibu tidak sakit sakitan mungkin ibu akan melarangku menikah dengan pembohong seperti Mas Raka. Ia akan mengatakan siapa sebenarnya calon suamiku yang susungguhnya.


Mas Raka benar benar pintar dalam membuat sebuah kebohongan, mencari kesempatan dalam kesempitan, datang di saat semua orang tengah berduka dengan melamarku, sampai kak Indah yang menjadi kakakku tak bisa berpikir dengan jerni karna tercampur akan perasaan duka dan hati hancur saat meninggalnya ibu.


Aku selalu ingat akan hinaanya, setelah bersama Ajeng. Ia selalu pintar mencaciku dalam bahasa inggris, yang sudah aku pelajari dan sekarang aku mengerti.


( Anna, don't be stupid you. I asked you where is Radit? oops I forgot. Wanita seprti kamu tidak akan mengerti bahasaku.)


Sial, bahasa asingnya keluar lagi. Tentu saja membuat aku kesal dan jijik.


Karna hati yang sudah merasakan rasa kesal akibat hinaanya kini aku membalas pesan dari MANTAN SUAMIKU INI.


(Hello, ex-husband. How many times have you insulted me stupid, it's enough that you become a smart person. What I do know is that you are stupid. I don't know if I have been a victim of your stupidity all this time.) Tak lupa aku mengirim emojik tertawa agar dia sadar diri.


( Jangan lancang kamu, Anna. Setelah kamu bisa menguasai bahasa inggris aku akan terkejut begitu.)


Mas Raka ngomong saja dia malu, hanya saja gengsinya berlebihan. Belum lihat saja seperti apa aku sekarang, yang dia lihat dan ingat sekarang hanya kebodohanku dimasa dulu saat aku menikah dengannya. Menjadikan aku seperti babu dan terus mencuci otakku menjadi wanita yang bisa ia manfaatkan tenangaku, dan memproduksi keturunnanya.


Tring. Mas Raka mengrim sebuah poto, membuat aku semakin ingin membalas hinaanya.

__ADS_1


__ADS_2