Dibalik Diamnya Mertuaku

Dibalik Diamnya Mertuaku
Bab 80 Pov Raka. Tergoda


__ADS_3

Maaf sebelumnya, ada kesalahan pada babnya.


****** Masih Pov Raka ya. Kakak *****


Melihat body seksi pelayan Villa ini begitu menggiurkan, mana bisa aku tahan. Bagai diberi sebuah hidangan segar di malam hari. Melirik ke arah pintu Ajeng, masih sama seperti tadi tertutup rapat.


"Tuan."


"Oh iya. "


Sialan, aku melamun begitu jauh. Terlalu berfantasi dengan lekuk tubuhnya yang aduhai montok. Ini kah cobaan berat dalam hidup, selama ini yang aku lihat hanya raut wajah Ajeng yang perlahan hampir menua. Padahal dia selalu perawatan kesalon. Melayani aku pun tak seindah bersama Anna.


Pelayan itu melabaikan tangan kearah wajahku. " Iya kenapa? "


" Apa tuan mau saya buatkan makanan?" Pertanyaan dari bibir mungil itu membuat aku gila dan liar. Hawa terasa panas, perut yang tadinya keroncongan mendadak tak nafsu makan, karna melihat body segar.


"Oh, ya. Saya mau dibikinin mie instan dong!" Aku berusaha menyuruh pelayan itu, dengan harapan dia mau membuatkannya segera.


"Oh mie instan. Baiklah tuan," Balasnya dengan senyuman seksi yang membuat aku terpana.


Pelayan itu berjalan dengan berlengak lengok, menuju dapur. Terlihat keseksiannya mengugah gairah dalam jiwa.


"Sepertinya akan ada santapan luar biasa malam ini. "


Pelayan itu dengan lincahnya berjoget ke sana kemari, seperti mengikuti alunan panci yang ia putar putar sembari mengaduk ngaduk mie instan.


"Sepertinya mie instan ya akan mengugah selera. "


Aku mendekat ke arah, pelayan yang tak aku tahu namanya. Memeluk ia dengan spontan. Aku mengira pelayan itu akan membrontak, akan tetapi dia malah diam.


"Siapa namamu. "


"Namaku, Inem Tuan. "


"Kamu cantik , Nem. Bodymu mulus seksi lagi. "


"Wah yang benar . Makasih tuan atas pujianya. "


Mie kini matang dengan sempurna, pelayan itu kini menuangkan mie instan yang sudah matang dan menaburi bumbu. Tak lupa di beri beberapa tambahan seperti ayam dan juga kerupuk.


"Mie instannya sudah jadi, tuan. Mau di makan sekarang. "


Aku yang memang sebagai lelaki normal, membalikkan badan pelayan itu. Membuat wajahnya berhadapan denganku.


"Inem."

__ADS_1


"Tuan, jangan begini. Ada nyonya nanti marah. "


"Nyonya lagi di dalam kamar, sekarang ini ada kita berdua. "


Sepertinya Inem merasa hal yang sama denganku, terlihat kedua matanya sayu. Pipi kiri kanannya memerah. Apa ini pertanda dia mengizinkan.


Benar benar. Luar biasa rayuan mautku ini.


"Tuan, nanti mie ya enggak enak loh. "


"Sudah tak apa, yang penting sekarang aku ingin makan kamu terlebih dahulu. ".


" Ahk, tuan ini nakal. Ya. "


Entah apa yang merasuki jiwaku saat ini, aku seperti hilang kendali. Semua kain yang menutup entah pergi kemana. Inem seperti pasrah begitu saja dengan apa yang kuperbuat.


"Tuan, ini tidak boleh terjadi. "


Aku tak peduli dengan kata katanya, yang aku pikirkan saat ini. Ialah menikmati apa yang ada di depan mataku.


"Tuan, nanti mienya merekah. "


Inem seperti hilang kendali, suaranya serak. Aku berusaha membuat dia semakin tak terkontrol. Karna permainanku yang begitu membuat wanita lemas


Saat permainan yang mengasikkan itu, tiba tiba kepalaku di lempar oleh sebuah benda keras membuat darah bercucuran.


Inem yang tadinya terlihat menikmati, kini membulatkan kedua matanya. "Tuan, kepala tuan berdarah. "


Aku melepaskan Inem, memegang kepalaku. " Darah. Ah. "


Rasanya benar benar sakit, melihat di atas lantai gelas berserakan. Membuat Inem melangkah mundur menjauh dari pecahan beling itu.


Sosok seorang wanita yang aku kenal kini semakin dekat ke araku.


Plakkk .... Inem menjauh, ia memungut kain agar menutupi tubuhnya.


Tamparan keras beberapa kali aku rasakan. " Mas, jadi ini kelakuan busuk kamu. Saat aku berusaha diam untuk tetap tenang dengan perlakuanmu dan apapun yang terjadi pada rumah tangga kita. Dan mempertahankan kamu agar tidak masuk ke dalam penjara. Kamu. "


Aku tak menyangka jika Ajeng tiba tiba keluar dan melihat permainan gilaku bersama pelayan di villa miliknya. " Ini tidak seperti yang kamu bayangkan. Aku di goda olehnya. "


Dengan menahan rasa sakit aku masih berusaha membela diri. "


Ajeng langsung menatap ke arah Inem dengan tatapan kesal, ia menunjuk wajah pelayanya itu, menjambak rambut indah sang pelayan dengan membantingkan kepalanya pada tembok.


"Jadi ini balasan kami Inem. "

__ADS_1


"Nyonya saya tidak bermaksud menggoda tuan, Tuan sendiri yang melakukan itu pada saya. Dia memaksa saya. "


Ternyata Inem juga membela diri, aku kira wanita hanya bisa menangis. Tapi berbeda dengan Inem.


"Kalian semua sama saja. Aku menyesal mas, menyesal sudah mempertahankan kamu. Tidak mendengar apa yang dikatakan kedua orang tuaku. "


Terlihat sekali wajah kecewa Ajeng, membuat aku menyesal. Harusnya aku bisa menahan diri. "Ajeng ini tidak seperti yang kamu bayangkan. Aku hanya .... "


Belum perkataanku terlontar semuanya, Ajeng kini menamparku kembali.


Plakkkk .....


Tamparan Ajeng memang tak keras, membuat aku hanya bisa terdiam dan berusaha membela diri di depannya.


"Nyonya, saya berjanji bersumpah. Tidak ada niat menganggu rumah tanggan Nyonya, tuan yang memaksa melakukan semua itu. "


"Diam."


Teriak Ajeng membuat aku tentu saja menelan ludah merasakan rasa takut, akan di usir olehnya. Jika aku di usir, bagaimana dengan nasibku. Uang dan kendaraanpun tak punya.


Aku masih mengandalkan istriku sendiri.


Ajeng melipatkan kedua tanganya, berdiri tegak dengan wajah merah padam seperti menahan kemarahan.


"Sayang. Maafkan mas. Tolong mas jangan sampai kamu usir mas dari sini." Aku memegang tangan istriku dengan bersujud memohon mohon tanpa rasa malu sedikitpun. Menurun kan rasa ego.


"Mas, sudah cukup, nanti pagi kamu cepat angkat kaki dari sini. Aku sudah tidak mau berurusan lagi dengan lelaki yang tak bisa aku percaya. Aku sudah tidak mau berhubungan lagi denganmu. Aku akan memilih ayah, mengugatmu di pengadilan nanti. "


Deg ..... Kata kata Ajeng, membuat kedua lututku rasanya lemas. Bagaimana ini, Ajeng akan mengugatku. Jika dia mengugatku, sama saja membiarkan aku masuk ke dalam penjara.


"Mas, mohon jangan lakukan itu. Pleas. Oke, Baby. Ayolah maafkan suamimu ini. Jika kamu mengugat mas bagaimana nanti dengan nasib mas? "


Aku berusaha meminta maaf terus menerus pada istriku ini, berharap jika hatinya akan luluh. " Sudah cukup mas. Aku tak mau mendengar kata maaf mu itu. Sebaiknya cepat istirahat. Agar besok kamu segera pergi dari vila ini. "


.


Ajeng kini menatap ke arah Inem, dimana wanita itu menundukkan pandangan. Karna rasa takutnya terhadap Ajeng.


"Dan untuk kamu Inem, saya pecat kamu sekarang juga. Cepat pulang jangan sampai aku melihat wajah mu yang menjijikan ini."


"Nyonya."


"Sudah tak ada alasan lagi, ini keputusanku yang bulat. Tolong jangan biarkan aku membuat kalian masuk penjara. "


Ajeng kini berlalu pergi meninggalkan kami berdua.

__ADS_1


__ADS_2