
"Pekerjaan kamu tentulah sangat gampang."
Intan kini membisikan sebuah rencana kepada Justin, membuat lelaki muda itu tersenyum kecil.
" Hanya itu saja tidak ada lagi?" tanya Justin, dengan menyodorkan tangan ke hadapan Intan.
Melihat Justin meminta bayaran, dan belum mengerjakan semuanya. Membuat Intan mendorongkan kepala anak muda itu," kerja dulu sebelum minta bayaran."
Mendengar apa yang dikatakan Intan, membuat Justin kesal, pada akhirnya ia keluar dari dalam kontrakan kecil itu. Dengan menggerutu kesal pada Intan.
"Enak banget, belum kerja udah minta bayaran."
Intan mulai membereskan barangnya di kontrakan yang baru saja ia tempati, terlihat raut wajah tak nyaman saat tinggal di kontrakan. Melihat betapa kecilnya ruangan kontrakan itu.
Wanita manis bernama Intan itu harus bersabar sementara waktu, sebelum membalaskan dendam terhadap orang yang sudah menyakitinya. Begitupun mengusirnya secara terang-terangan.
********
Ainun nampak terlihat cemas, setelah pulang dari tempat kerjanya, ia merasa ada sesuatu yang mengintai.
Dengan berjalan cepat, Ainun berusaha mengatur napas dan berlari secepat mungkin. Baru kali ini Intan pulang tengah larut malam, karena pekerjaan yang benar-benar menumpuk, membuat ia harus mengerjakan semuanya.
Terlebih lagi Intan harus bisa membiayai hidupnya sendiri, tidak bergantung dengan Galih lagi, karena jadi sudah tidak ada hak membiayai Ainun.
Dengan terpaksa Ainun harus banting tulang mencari sesuap nasi, dan biaya sehari-hari.
Sesekali, dia melirik ke arah belakang, perasaannya sudah tak menentukan. Mengambil gawai untuk menelepon seseorang.
Nomor yang sengaja Ainun telepon tidak aktif semuanya, ia memegang dada merasakan rasa takut.
"Kenapa perasaanku tidak menentu seperti ini."
Suara langkah kaki dari belakang seakan mengikutinya, masa iya kini berlari untuk segera menjauh dari langkah kaki yang ia dengar.
Setelah sampai di depan rumah, tiba tiba ....
Tangan membekam mulut wanita berhijab itu, dengan begitu erat membuat Ainun jatuh pingsan.
Ternyata lelaki itu adalah Justin, lelaki yang sengaja diperintahkan oleh Intan untuk membuat Ainun merasakan apa yang dirasakan Intan sekarang.
__ADS_1
Justin mulai membuka pintu rumah wanita berhijab, menyeret dan membawanya ke dalam kamar. Lelaki muda bernama Justin, mulai melayangkan aksinya, di saat Ainun jatuh pingsan.
Namun saat aksi itu mulai dilakukan, Ainun kini sadar, iya langsung menjerit meminta pertolongan kepada orang-orang, tapi Justin dengan sikap memukul kepala Ainun.
Tanpa belas kasihan, dia merenggut kesucian wanita berhijab biru itu. Justin tak segan-segan menyiksa Ainun, membuat rasa trauma itu kembali lagi muncul.
"B*j***n."
Kata umpatan terus dilayangkan oleh Ainun, wanita berhijab itu berusaha melawan dengan sekuat tenaga, tapi tubuhnya terlalu lemah karena kelelahan akibat pulang dari tempat kerja.
Ainun tak segan-segan merobek baju Justin dengan kekuatan yang ia punya, rasa kesalnya membuat Ainun mendorong tubuh Justin hingga tersungkur jatuh ke atas lantai.
Justin berusaha berdiri untuk melayangkan artinya lagi, tapi Ainun tak segan-segan mengambil sebuah alat keras untuk memukul kepala Justin.
"Heh, wanita bodoh. Kemana kamu."
Justin mencoba meraih benda keras itu, untuk bisa merebut dari tangan Ainun. Menyingkirkan dan membuangnya jauh dari hadapan Ainun.
"Kurang ajar kamu."
Ainun mengambil sapu untuk memukul kan ke arah Justi, tak puas memukul dengan sapu, Ainun mau mengambil sebuah patung kecil berbahan batu, memukulkan pada kepala Justin hingga mengeluarkan darah.
Rasa pusing mulai terasa oleh Justin, iya hanya bisa berjalan gotai, merasakan rasa sakit di area kepalanya.
Ainun berusaha meminta pertolongan kepada orang-orang di sekitar, Justin yang mulai kabur, tentu saja ditarik paksa oleh Ainun, agar lelaki itu tertangkap oleh para warga.
"Kemana kamu, kurang ajar."
Namun Justin ketakutan, jika para warga datang melihat dirinya berada di rumah Ainun. Membuat iya dengan berusaha keras mendorong tubuh wanita berhijab itu.
Namun karena tenaga Ainun, Justin malah ikut terjatuh. Ia berusaha lari dari rumah Ainun, malah ditemukan warga yang baru saja datang setelah mendengar teriakan.
"Ada apa ini?"
"Tolong saya pak." Ainun menangis dengan darah mengalir pada bibirnya, meminta pertolongan kepada para warga.
Sedangkan Justin yang tak bisa melarikan diri, beli dibawa paksa oleh para warga untuk segera diminta pertanggungjawaban setelah apa yang dilakukannya terhadap Ainun.
"Mbak Ainun, kenapa?" tanya ibu ibu yang menjadi tetangganya. Berusaha menenangkan rasa takut dan juga rasa sakit akibat pukulan yang bertugas-tubi dilayangkan Justin," tolong saya bu, bawa laki-laki itu ke kantor polisi."
__ADS_1
"Baik, kami akan membawa pelaku ini ke kantor polisi. Ibu Ainun tenang saja ya!" jawab para warga, yang begitu mempercayai Ainun.
Anak muda bernama Justin itu, berusaha pemberontak untuk segera kabur dari hadapan para warga. " lepaskan saya."
Jam sudah menujukkan pukul tiga pagi, Justin kini diamankan di balai desa, untuk nanti dibawa ke kantor polisi.
Sedangkan Ainun, berusaha ditenangkan oleh para ibu-ibu, untung saja Ainun berteriak meminta pertolongan, sampai warga datang mendengar teriakan Ainun yang meminta tolong.
"Terima kasih ibu-ibu. Sudah mau menolong saya, Kalau tidak ada kalian saya tidak tahu nasib saya bagaimana." Keluh Ainun, kepada para ibu-ibu yang menolong.
"Bu Ainun gak usah takut lagi, ada kamu yang akan selalu membantu ibu." ucap ibu ibu yang menjadi tetangga Ainun.
********
Intan baru saja merasakan lelapnya tertidur, kini dibangunkan oleh suara ponselnya yang berdering, membuat wanita itu menggerutu kesal.
Iya mengambil ponsel dan mengangkat panggilan telepon yang betah ia tidak tahu siapa?
"Halo."
"Halo dengan ibu Intan."
"Ya saya sendiri. Siapa ya?"
"Kami dari kepolisan!"
Mendengar kata polisi membuat Intan tentulah sedikit ketakutan, di jam 03.00 pagi bisa-bisanya seorang polisi menelponnya. Apa ada sesuatu yang terjadi pada Justin?
Perasaan Intan sudah bercampur aduk, antara gelisah dan juga ketakutan, dia berpikir jika Justin ketahuan dan kini dibawa ke kantor polisi.
Menggigit jari tangan dan menjawab, " Ada apa ya Pak jam segini menelpon saya?"
polisi mulai menjelaskan semuanya, tentu membuat perasaan sok dalam diri Ainun," kami menginformasikan bahwa lelaki bernama Justin sudah berada di kantor polisi, saat ini beliau memberitahu bahwa kejahatannya ada hubungannya dengan anda Ibu Intan."
Deg ....
Baru saja membuat rencana dan memberikan rencana itu terhadap Justin, Intan sudah kena dalam masalah.
Ia menggerutu kesal dirinya sendiri dan juga suruhan yang tak becus menangani Ainun sampai ia tertangkap oleh Polisi.
__ADS_1
"Sialan, Kenapa bisa sih Justin itu gagal dan kini tertangkap di kantor polisi, kan lagi dia bawa-bawa namaku. Kalau begini urusannya akan panjang dan ribet, apalagi kalau Ainun tahu pelakunya adalah aku."