
Mendengar seorang pengasuh membuat Nita mengerti sekarang. Ia bertanya lagi, pada Lulu anak yang berada disebelahnya." Memangnya mama kerja?"
Lulu menganggukkan kepala, pantas saja Lulu mau di ajak Intan, karena ia tak mendapatkan kasih sayang lebih pada kedua orang tuanya.
"Kak Nita tanya? Lulu nyesel nggak ikut sama Kak Intan?"
Pertanyaan Nita membuat Lulu memeluknya.
"Lulu nggak nyesel, karena ketemu kakak!" jawab Lulu begitu polosnya.
" Lulu, kedua orang tua kamu sayang sama Lulu. Hanya saja mereka terlalu sibuk mengerjakan perkerjaan, apalagi ibu kamu tengah mengandung adik buat Lulu. Harusnya Lulu tidak usah marah," ucap Nita menasehati Lulu.
Di mana anak berumur tiga tahun itu, menundukkan pandangan, setelah mendengar nasehat yang terlontar dari Nita. Ada rasa sesal karena ia terlalu egois menuruti kata napsunya, mungkin karena Lulu masih kecil dan belum bisa mengontrol emosinya sendiri.
Nita memeluk Lulu dengan penuh kasih sayang, ia tak menyalahkan anak itu.
"Lulu, tak boleh begitu. Lulu harus sayang sama mama, Lulu masa nggak lihat pengorbanan mama buat Lulu biar bisa makan."
Lulu menganggukan kepala, Nita berusaha memberikan energi positif pada anak yang mudah terpengaruh oleh orang lain.
"Lulu, pengen pulang nggak?" tanya Nita.
Lulu menganggukkan kepala, sepertinya Nita harus mengantarkan Lulu pulang. Hanya saja ia bingung dengan Intan.
"Nanti ada kesempatan, kakak antarin Lulu ya."
Lulu tersenyum setelah mendengar ucapan Nita, ia memegang dagu Lulu, memperlihatkan senyuman.
Lulu yang baru pertama kali melihat Nita, merasa senang dan nyaman.
"Ya sudah kita bobo yuk."
Nita mulai mengajak Lulu untuk tidur.
Sedangkan Intan, masih terlihat gelisah, iya tak bisa menutup kedua matanya.
"Ahk, kenapa aku tiba-tiba gelisah seperti ini ya," ucap Intan, tidak bisa tenang ia bolak-balik ke sana kemari dengan memijat rambut kepalanya.
__ADS_1
"Aku harus ada ide, agar tidak masuk ke dalam penjara. Gimana caranya ya." Gerutu Intan.
Ia menarik napas, menatap ponselnya yang sengaja tak menyala.
Perlahan ia duduk di ranjang tempat tidur, berusaha tetap tenang, mengistirahatkan badan agar tidak terlalu gelisa.
********
Galih, berusaha memperlihatkan ketenangan, walau sebenarnya ia begitu gelisa. Sudah menghubungi polisi, mencari jejak Intan yang hilang.
Polisi sudah sekuat tenaga mencari keberadaan Intan di kampung halamannya, tapi Tidak ada hasil sama sekali. Intan tidak ada di kampung halamannya, polisi sudah melacak ponsel Intan, namun ponsel itu tidak dapat terlacak.
Galih, berusaha memperlihatkan ketenangannya di hadapan Anna, ia tidak mau melihat istrinya tidak tenang, terus memikirkan anak ketiganya.
"Intan, kenapa juga kamu melakukan semua ini, apa alasanmu." Galih menggerutu dirinya sendiri, iya kesal akan kelakuan Intan yang membuat istrinya tak tenang.
Kepanikan itu, membuat Galih terkejut, saat ponselnya berbunyi. Ia melihat layar ponsel panggilan telepon dari rumah sakit.
"Ada apa ya, rumah sakit menelepon."
Kebetulan sekali, kondisi Ainun masih kritis, sampai Galih menyuruh perawat dan suster saja yang menjaganya. Karena Farhan harus melanjutkan kuliahnya yang sudah tertunda selama dua Minggu.
"Halo."
"Halo pak, ini dari rumah sakit bintang. Kami ingin memberitahu, bahwa ibu Ainun udah sadar dari masa komanya."
Mendengar apa yang dikatakan suster, tentu saja membuat Galih tak percaya," yang benar sus."
"Iya, pak. Kami mengharapkan kedatangan bapak dan juga keluarga, karena dari tadi ibu Ainun terus memanggil nama anaknya yang bernama Farhan."
"Ya sudah kalau begitu saya akan memberitahu anak saya secepatnya, agar bisa datang ke sana."
Panggilan telepon pun dimatikan sebelah pihak, setelah suster menutup panggilan telepon, Galih dengan terburu-buru menelepon anaknya.
Farhan masih sibuk dengan masa kuliahnya, Iya Tengah belajar hingga tak bisa mengangkat panggilan telepon dari sang ayah.
Galih bingung, iya tak mungkin pergi sendirian. Tapi ia tak tega harus membawa istrinya melihat keadaan Ainun.
__ADS_1
"Bagaimana ya, keadaan Ainun. Apa aku pamit dulu saja pada Anna. Atau ahk, aku bingung. Takut jika Anna akan marah saat aku berpamitan denganya, Farhan tak diangkat angkat lagi." Gerutu hati Galih, dilanda kebingungan.
Hingga suara Anna mengejutkan Galih, " kenapa?"
Galih memegang dadanya, merasakan rasa kaget. Karena pegangan tangan istrinya yang membuat ia terkejut.
"Anna, kamu. "
"Kenapa, kok. Kaya kaget begitu."
"Mm, nggak."
"Ayo katakan, jangan diam seperti itu."
"Tidak ada, sayang."
"Ayo katakan."
Anna terus saja memaksa suaminya untuk mengatakan kejujuran yang ia pendam. "Ayo katakan, mas. "
"Ya sudah, tapi kamu jangan marah ya, mas tak mau mengatakan semuanya, karena takut kamu marah. Mas sayang sama kamu," ucap Galih, berusaha tidak membuat istrinya marah.
Anna, memegang kedua tangan suami," Ayo Mas katakan aku tidak akan marah. "
Menarik napas, karena Anna yang memaksa akhirnya Galih mengatakan semuanya, " Ya sudah kalau kamu tidak marah. Aku akan mengatakan semuanya."
"Ainun sembuh dari masa komanya, ia mengiginkan Farhan datang ke rumah sakit, tapi aku hubungi Farhan beberapa kali, Anak itu tidak mengangkat mengangkat panggilan teleponku, sepertinya ia masih berada di jam pelajaran. Jadi aku berniat untuk menghampiri Ainun ke rumah sakit, apa saja aku tak berani mengatakan semuanya pada kamu. Takut jika kamu marah," jelas Galih, mengatakan semuanya. Anna menarik napas, jika suaminya yang datang terasa sulit bagi dirinya mengijinkan Galih, ia bingung. Karena dilanda rasa cemburu berlebihan.
Apalagi Galih pernah datang tanpa meminta Izin pada Anna, untuk menemui Ainun saat itu.
Galih menatap ke arah istrinya, ia sudah tahu jika Anna pasti tidak mengizinkannya, karena dalam manik bola mata, ada kata tidak Ikhlas.
"Anna. Jika kamu tidak mengizinkanku. Aku tidak akan datang kok, kamu tenang saja," ucap Galih. Berusaha membuat mod istrinya lebih baik.
Anna mulai menatap ke arah suaminya, ia tersenyum lebar sembari memegang erat kedua tangan sang suami dengan berkata." Ya sudah kalau Farhan sibuk, sebaiknya kamu datang menemui Ainun. Kasihan dia sendirian pastinya dia memerlukan seseorang untuk menemani dirinya di rumah sakit, apalagi Ainun sudah mendapatkan musibah dari Intan. Aku mengizinkan kamu untuk menemui dia, asalkan kamu tetap menjaga hati kamu agar tidak berpaling dariku. "
Terlihat sekali ada rasa tak ikhlas pada diri Anna, ia seakan memaksakan diri untuk mengizinkan suaminya menemui Ainun di rumah sakit," aku sudah bilang sama kamu, aku tidak akan datang ke rumah sakit menemui Ainun, aku menghargai perasaan kamu. Sebagai istriku."
__ADS_1
" Aku juga tahu itu, aku kasihan terhadap Ainun, pastinya dia merasa kesepian dan mencari-cari Farhan yang tidak ada menemaninya saat itu. Ya sudah kamu datang saja ke sana. Aku tidak apa apa kok. "
Anna melepaskan pegangan tangannya pada Galih, dimana lelaki berbadan kekar itu dihadapi dalam rasa kebingungan.