Dibalik Diamnya Mertuaku

Dibalik Diamnya Mertuaku
Bab 23 Jeritan Anakku.


__ADS_3

"Kenapa?" tanya Kak Indah kepadaku.


Tring, satu pesan datang.


(Kamu sudah membunuh anakku, Ana.)


Aku mengerutkan dahi, tak mengerti akan perkataan suamiku.


(Apa, maksud kamu. Mas?)


(Kamu sudah buat Ajeng keguguran!)


Deg ....


Aku tak tahu, saat pertengkaran itu, Ajeng mengalami hal tak terduga. Wanita Alot itu ternyata sedang mengandung benih Mas Raka.


"Kamu kenapa gelisah begitu?" tanya Kak Indah.


Tanganku seketika bergetar, saat Kak Indah bertaya." kamu kenapa?"


Bibirku keluh tak bisa menjawab perkataan, kak Indah.


Saat itu kak Indah, langsung mengambil ponsel dari tanganku. Kedua matanya membulat," apa maksud si Raka ini, kenapa dia malah mau menuntutmu. Keguguran."


"Saat kakak tak ada di rumah, aku bertengkar dengan Ajeng, dia mulai duluan mengacak rambutku. Karna aku yang kesakitan, kudorong tubuhnya saat itu juga."


Aku menjelaskan pada Kak Indah semua kejadian yang menimpaku saat itu. Kak Indah langsung paham dan berkata.


"Ini bukan masalah besar, Raka tidak bisa menuntutmu seenaknya. Karna dia tidak punya bukti apapun. Ayolah Anna, jangan mejadi wanita plin plan. Kamu harus tegas. Ini semua demi kebaikanmu dan juga anak anak. Kamu tidak maukan terkurung dalam derita, jangan membodohi diri kamu sendiri. Sekarang fokus dengan tujuanmu. Yaitu anak anakmu."


Perkataan Kak Indah memang benar, aku harus pada tujuanku, jangan mengandalkan rasa takutku.


Aku harus menghilangkan ketidak percayaan diriku.


Kalau aku tetap mengandalkan perasaan, hidup akan terus di ambang tekanan.


Pak Galih, datang menghampiriku dan berkata." Jadi bagaimana apa kamu setuju dengan tawaran saya, yang mau membantumu. Anna."


Saat itulah, Anna mulai meraih tangan yang akan berjabat dengannya, dan berkata." Setuju."


"Bagus, Anna." Ucap Kak Indah.


Setelah kata setuju dilayangkan, terdengar teriakan dari ruangan Radit, aku begitu kaget dan langsung melepaskan tangan Pak Galih.


"Radit."

__ADS_1


"Tidak, jangan. Tidak."


Aku langsung memeluk anak keduaku.


"Radit kamu kenapa, nak?" tanyaku. Radit terus menangis, seakan membanyangkan suatu siksaan yang menyakitkan.


Dokter datang dan menyuntikkan obat penenang pada Radit, membuat ia kini kembali tertidur.


Saat itu aku mulai bertanya pada Farhan, " Farhan, kenapa dengan Radit, kenapa dia tiba tiba berteriak?"


"Entahlah, bu. Saat Farhan bercerita tentang Bu Nunik, Radit langsung berteriak ketakutan."


Bu Nunik, apa urusanya dengan Bu Nunik?


Kak Indah memegang bahuku dan bertanya?" siapa Bu Nunik, Anna."


Aku menghelap nafas berat, dan menjawab." Ia tetanggaku, yang selalu usil akan kehidupanku."


"Mm, apa ada kaitanya dengan wanita bernama Bu Nunik itu?"


Pertanyaan kak Indah membuat aku menghelap nafas kembali." Entahlah kak, tapi untuk apa Bu Nunik melakukan semua itu, dia kan hanya tentanggaku saja."


Kak Indah kini terdiam, semua seakan menjadi teka teki yang harus terpecahkan. Pertama Anna di siram air panas. Kedua luka pada tubuh Radit yang baru di ketahi Anna.


Pak Galih kini masuk ke dalam ruangan.


Pak Galih, memberikan lembar surat. Untuk aku tanda tangani.


"Ini apa?"


"Aku baru menyuruh sahabatku, membuatkan ini untukmu!"


Aku langsung membaca surat yang baru saja aku pegang. " Ini surat gugatan cerai."


Kak Indah langsung menimpal ucapanku," sudah jadi. Bagus kalau begitu."


"Maksud kakak?" Bertanya kepada Kak Indah, yang terlihat senang.


"Kakak yang suruh Pak Galih cepat cepat membuat surat gugatan cerai itu untuk kamu Anna!" jawab Kak Indah dengan santainya.


"Anna kamu ini, ya. Kakak kadang cape jelasin sama kamu. Anna gerak kamu terlalu lambat, jika kamu masih bersetatus istri Si Raka kere itu, anak kamu yang akan terus jadi korban. Kamu lihat Radit, hah. Kalau kita menunda terus terusan, perceraian kamu. Yang ada si Raka dan ibu mertuamu itu akan datang lagi dan datang lagi, untuk alasan mengambil Lulu. Oh, ya. Untuk hak asuh, makanya kamu terima saja kerja sama dengan Pak Galih, agar di setatus hak cerai itu kamu senggup membiyai ketiga anak anakmu karna kamu pengusaha sukses begitu. Adikku sayang."


Penjelasan Kak Indah baru aku pahami sekarang. Maklum aku hanya seorang wanita yang kurang tahu apa apa.


"Sekarang kamu sudah mengerti, Anna?"

__ADS_1


Aku menganggukkan kepala, di saat kak Indah bertanya lagi kepadaku.


"Bagus, kalau kamu sudah mengerti. Besok kamu harus bersiap siap menjaga kewarasanmu, jangan terlena dengan rasa kasihan Si Raka kere itu, dia sudah melukaimu, menghinamu. Jadi ketika dia menangis memohon, kamu ingat akan kesalahanya, bukan kebaiknya."


kak Indah terus menasehatiku, memberitahuku terus-menerus agar aku bisa menjadi wanita yang tegas dan tidak mudah terkecoh akan rasa kasihan orang lain.


Aku dan kak Indah memang berbeda, kak Indah adalah wanita yang cerdas dan juga berpendidikan, Iya tahu dalam segala hal.


Sedangkan aku hanyalah seorang wanita yang lemah, dengan minimnya pendidikan.


"Jangan melamun Anna, kamu harus banyak belajar dari kesalahanmu saat ini." Ucap Kak Indah, ia memeluk tubuhku.


"Iya kak, aku malu dengan kakak yang hebat ini! Sedangkan aku hanya wanita bodoh." Balasku.


"Jangan merendahkan diri kamu, aku dan kamu sama Anna, sama sama lemah. Hanya keadaan yang menguatkan kakak menjadi wanita seperti sekarang," ucap Kak Indah.


Kami yang tengah berpelukan, dengan saling menguatkan. Membuat Farhan datang dan berkata." Mamah, Farhan punya rekaman Video di mana wanita alot itu mulai duluan."


Kak Indah langsung melepaskan pelukanku, ia kini meraih ponselku melihat apa yang sudah di rekam oleh Farhan.


"Coba Tante lihat."


kak Indah tersenyum dan berkata." Bagus. Ini bisa jadi barang bukti, Farhan kamu memang hebat nak, beruntung sekali Anna memilikimu."


"Tante, Farhan juga beruntung punya mamah seperti mamah Anna, lembut dan baik."


Farhan, anak itu selalu memuji mamahnya ini yang penuh kekurangan dan lemah. Aku beruntung memilik anak sepertimu Farhan.


"Oh, ya. Anna. Untuk kerja sama kita, saya sudah mempersiapkan desain rumah makan yang mungkin kamu suka."


Pak Galih, memperlihatkan desain rumah makan yang sudah ia tentukan, aku tersenyum dikala itu. Melihat desain Pak Galih lebih bagus dari pada yang aku bayangkan.


"Bagaimana, kamu suka?"


Aku menganggukan kepala dan berkata," saya sangat suka sekali, Pak Galih."


"Oh ya, untuk karyawan, saya sudah mencarikan 4 karyawan yang akan saya pekerjakan di rumah makan kamu."


4 karyawan. Begitu banyak.


"Apa tidak begitu kebayakan?"


Kak Indah memegang tanganku, " Anna. kamu ini bagaimana sih, kalau jadi pengusaha, ya kamu harus memperkejakan karyawan yang banyak, agar pekerjaan kamu ringan nanti. Kamu tinggal memerintah para karyawanmu itu."


"Tapi."

__ADS_1


"Sudah tak ada tapi, tapian. Sekarang kamu tinggal atur saja. Oke."


__ADS_2