Dibalik Diamnya Mertuaku

Dibalik Diamnya Mertuaku
Bab 259 Marimar dalam situasi gawat


__ADS_3

Nita dan kedua orang tua Lulu, hanya bisa menunggu informasi dari polisi. Padahal mereka ingin segera mungkin kasus penjual belikan anak dapat di usut tuntas.


Tanpa berlama lama, harus menyelidiki dengan cara yang begitu ribet.


Polisi kini datang lagi ke rumah Marimar, ingin menyelidiki rumah Sang Nyonya yang terkenal kaya raya. Wanita ramping berbaju seksi itu selalu berpergian menghindari polisi.


Namun sekarang Marimar tak bisa kemana mana, karena pagi sekali polisi datang. Ia tampak resah dan gelisah, atas kedatangan polisi yang menunggunya di depan gerbang.


"Aduh, bagaimana ini. kenapa bisa bisanya polisi datang pagi buta seperti ini, ahk. Aku harus menelepon suamiku."


Wanita berkulit putih itu, meraih ponsel yang tergeletak di atas sofa, mencari nomor ponsel Suaminya. Beberapa kali menelepon tapi tak kunjung di angkat, memang sudah tiga bulan Afdal lelaki yang menjadi suami Marimar tak pernah pulang pulang, dengan alasan dinas di kota.


Entah kenapa, perasaan Marimar sudah di ambang kebingungan, bagaimana bisa di situasi genting seperti ini. Tak ada lelaki yang menemaninya, apalagi Marimar selalu gugup jika di tanyai keterangan oleh polisi.


"Mas, kamu ini ke mana sih? Setiap kali aku hubungi tetap saja tak diangkat-angkat juga. Bagian uang aja neleponan terus. Ihk sebal. "


Marimar melemparkan ponsel berlogo buah apel itu pada sofa, ia melipatkan kedua tangan masih posisi berdiri.


Kedua bibir mengkerut, hawa dingin ACE tidak menyejukan badanya sama sekali. Malah membuat keringat dingin keluar bercucuran, sesekali tangan kanan perlahan mengusap jidat yang dilumuri keringat.


Samsul datang, terlihat raut wajah cerianya menampilkan kelicikan, ia berusaha sembunyikan di depan sang nyonya dan lainnya, ia tak mau jika mereka tahu. kalau yang menggundang polisi ke rumah sang Nyonya adalah dirinya sendiri.


"Haduh, aku malas. kalau polisi datang ke sini, bukannya kemarin baru bertemu, sekarang ahk. "


"Nyonya, dari tadi polisi menunggu nyonya. Mereka sudah beberapa kali datang ke sini tapi nyonya selalu tak ada."


Marimar menggerutu kesal pada hatinya" Jelas aku tidak ada di rumah, karena berusaha menghindar dari kejaran polisi."


"Ya, izinkan saja mereka masuk." Tidak ada pilihan lagi selain mengizinkan para polisi masuk, Marimar harus menghadapi polisi sendirian tanpa suaminya seperti dulu.


Entah bagaimana nasibnya, jika semua kejahatannya terungkap, apa bisa ia menjalani hari hari di dalam penjara.


Sebelum menghadapi polisi, Marimar meraih ponsel . Mengirim pesan kembali.

__ADS_1


(Mas, kamu dimana. Aku butuh kamu sekarang, banyak polisi datang ke rumah.)


Akhirnya, pesan terkirim dan kini sedang di baca oleh Afdal. Yang ternyata Afdal tengah berkumpul dengan keluarga barunya, terlihat dari kecerianya, Afdal tanpak bahagia.


Tiga bulan tak pernah pulang pulang, ternyata Afdal sudah memiliki seorang istri baru dan seorang anak cantik jelita. Afdal menyebunyikan keluarga barunya itu dari Marimar sudah lama, sekarang ia memberanikan diri tinggal lama di rumah istri barunya, karena rasa bosan, jika hidup dengan Marimar yang ternyata tak bisa memberikannya keturunan. Semenjak menjual anak anaknya, rahim Marimar bermasalah hingga ia tak bisa memperoduksi seorang anak.


Cinta dan uang membutakan hidupnya, sampai ia lupa akan hati nurani, untuk menyayangi anak yang ia lahirkan. Begitupun dengan Afdal, lelaki egois tak mau menafkahi anak istrinya.


Dan untuk Marimar, ia begitu bodoh. Memilih cinta dari pada anaknya sendiri, hingga Keterpakasaan menjadi kebiasaan yang buruk untuk Marimar.


"Siapa pah?" tanya Cika, membawakan sebuah jus untuk suaminya.


"Ini rekan bisnis papah, suruh papah ke sana!" jawab Afdal berbohong, ia sengaja mengunci layar ponsel agar tidak di ketahui istri mudanya itu.


"Loh, kenapa papah nggak siap siap. Pasti itu penting, " ucap Cika. Afdal kini meminum jus yang sudah di sediakan istrinya hingga meminum sampai habis.


Afdal mulai berpikir sejenak, memang Marimar itu penting bagi dirinya, karena ia atm berjalan Afdal. Berkat Marimar, ia bisa menghidupi cika dan anak semata wayangnya itu.


"Pah?"


"Ah, iya. Mah!"


"Malah melamun, cepat sana pergi. Kasihan loh kalau penting."


Cika wanita sederhana, ia memakai hijab. Tampilannya anggun. Tidak banyak menuntut pada sang suami, karena itulah Afdal berani menikahi wanita sederhana seperti Cika dengan modal nekad membohongi, jika dirinya hanyalah seorang duda. Di tinggal pergi.


Jika Marimar tak beduit kemungkinan ia akan membuangnya begitu saja, karena itu Afdal masih sangat membutuhkan Marimar, saat itulah ia meraih kunci mobil. Padahal ia berbohong pergi ke luar kota, untuk menyakini Marimar, dirinya sedang mempunyai bisnis baru.


Afdal berpamitan pada sang istri, tak lupa mencium keningnya dan berkata." Aku pergi dulu ya."


"Iya hati hati, pah. "


Sosok gadis kecil berumur dua tahun, berlari. Mengejar sang ayah, memeluk erat kaki Afdal dengan erat, seakan tak ingin melihat sang ayah pergi.

__ADS_1


"Ayah, ayah. Jangan pergi." Kata kata yang terdenger kurang fasih, membuat Afdal mengerti.


"Ayah, pergi dulu ya. Besok pulang bawain oleh oleh ya. "


Anak berumur dua tahu itu kini memajukan kedua bibir bawahnya, kedua mata berkaca kaca. Terlihat ia tak ingin ayahnya pergi dari hadapanya, memeluk erat betis sang ayah.


"Khaira, ayahkan sudah bilang, besok ayah pulang bawa oleh oleh." ucap Afdal, mengusap pelan rambut pendek anaknya.


Khaira menganggukkan kepala, dimana Cika mengambil anaknya, seraya berkata." Khaira jangan nangis ya, nanti ayah bawa oleh oleh. Kalau khaira cengeng, ayahnya nanti nggak pulang loh. "


Anak bermata sipit, hanya menganggukkan kepala setelah mendengar ucapan dari sang mama. Dimana Cika mengusap pelan kedua mata anak kecil itu, Afdal yang melihat pemandangan indah itu mendekat dan berkata.


"Sini, papa. Cun. "


Anak berbulu mata letik, dengan pipi chambynya memeluk sang ayah, dan mencium keningnya.


"Khaira baik baik ya, sama mama di sini." Ucap Afdal, dimana anak kecil itu dengan usilnya. Meletakan satu lembar poto pada tas yang terlihat terbuka.


Afdal. Mulai berdiri, mencium kening istrinya berpamitan untuk pergi," dada ayah."


*******


Sedangkan Marimar masih dalam penyelidikan polisi, ia menunggu suaminya yang katakanya sudah dalam perjalanan menuju pulang.


Polisi duduk sembari menanyakan semua pertanyaan yang membingungkan Marimar, " Pak, saya tidak tahu menahu tentang anak itu. Kenapa sih bapak jadi polisi ngeyel sekali. "


Marimar kesal karena di introgasi tanpa bukti, hingga dimana polisi memberikan sebuah rekaman Video.


Kedua mata membulat melihat isi rekaman yang diperlihatkan oleh polisi, bagaimana bisa ada rekaman seperti itu.


"Ya, memang saya sempat mengobrol dengan anak itu. Setelah itu saya tidak tahu lagi, " ucap Marimar, bagi polisi alasan yang tak jelas.


Sampai .....

__ADS_1


__ADS_2