
Indah menatap ke arah suaminya Deni, ia tak mungkin menjaga mantan suaminya, karena dirinya yang baru saja melangsungkan pernikahan.
"Indah, jika kamu ingin menjaga Danu, aku izinkan. "
Padahal Deni sudah bersusah payah menahan hati untuk tidak terluka, mengizinkan Indah datang ke rumah sakit, Deni sudah baik mengantarkan istrinya. Tak mengeluh dan marah saat di dalam perjalanan menuju rumah sakit.
Deni begitu baik, ia selalu mengalah walau hatinya terluka.
"Indah, bagaimana? Ibu berharap kamu mau. Suami kamu sudah mengizinkan! "
Apa yang dikatakan Bu Dela, tak mempunyai perasaan sama sekali, bisa bisanya berkata seenak yang ia katakan, tanpa mepedulikan perasaan orang lain.
"Bu, maafkan Indah, sepertinya tak bisa, karena sebagai seorang istri harus melalukan kewajiban. Dan lagi Mas Danu buka siapa siapa Indah lagi, rasanya tak baik jika menunggu Mas Danu di sini sendirian. Maafpin Indah ya bu, bukannya masih ada saudara ibu ataupun keluarga ibu yang mau menjaga Mas Danu. "
Deni merasa senang dengan penolakan Indah kepada Bu Dela, kedua ujung bibirnya merekah, Deni tak menyangka.
"Indah, ibu mohon. Sekali ini saja, kasihan Danu. Harus melewati masa sulit seperti ini. "
"Sekali lagi Indah minta maaf ya bu, Indah tidak bisa. "
Hati Bu Dela merasa hancur dengan penolakan Indah, membuat ia ingin sekali marah dan mengusir Deni. Agar Indah menurut padanya.
Di tengah tengah Bu Dela memohon pada Indah, saat itulah Danu bangun memanggil nama Indah.
"Indah."
"Indah."
Bu Dela mendengar teriakan Danu, dengan sigap belari menghampiri anaknya.
"Danu. Kamu sudah sadar. "
Mambuka kedua mata, melihat wanita tua yang sangat menghuatirkanya. Danu kini bertanya dengan nada pelan. " Bu, dimana Indah, aku ingin bertemu dengan dia sekarang. "
Bu Dela sudah menduga, jika Danu pasti akan mencari Indah.
"Kamu tenang dulu ya. Nak. Indah ada di sini. "
Wanita tua itu menatap ke arah Indah, dengan harapan. Jika Indah akan datang menemui dirinya. Deni yang berada di samping Indah, menyuruh istrinya untuk menemui Danu, ia merasa kasihan dengan mantan suami Indah yang sekarang.
__ADS_1
"Temui dia, aku akan menunggumu di luar ruangan. "
Membalikkan badan kini Deni mulai beranjak pergi dari hadapan Indah, akan tetapi wanita bermata sipit memegang tangan sang suami dan berkata. " Aku ingin menemui Danu bersama kamu, agar dia tahu bahwa kita sudah menikah. "
Deni sebenarnya ingin menolak, ia tak mau terluka terus menerus, menyaksikan obrolan Danu dan juga istrinya.
"Ayolah."
Dengan memaksakan diri, menguatkan hati. Pada akhinya Deni menuruti permintaan sang istri, walau benar benar terasa berat. Tapi bagaimana lagi demi kebaikan Indah.
Bu Dela sebenarnya kesal, saat Indah membawa Deni menghadapi Danu. Ia tak mau jika sesuatu terjadi dengan anaknya.
"Deni. Apa kamu bisa keluar sebentar, biarkan Indah berbicara dengan Danu sebentar saja. "
Sudah Deni duga, wanita tua yang menjadi ibunda Danu tak suka jika Deni dekat dengan Indah. "Ya sudah aku keluar dulu, Indah. Kamu mengobrol saja dengan Danu. "
Tetap saja, Indah tak peduli dengan ucapan mantan mertuanya itu, ia tetap memegang erat tangan suaminya. Dengan berkata. " Kamu tetap di sini. Aku butuh kamu sekarang. "
Bu Dela membulatkan kedua matanya, kenapa Indah tidak mau memberi kesempatan Danu untuk berbicara dengan Indah saja. Tanpa melibatkan orang lain.
"Indah, alangkah baiknya, ibu dan juga Deni. Keluar dulu sebentar, agar Danu leluasa bercerita. "
"Maaf bu, tapi Indah tak mau ditinggalkan oleh suami Indah. Biarkan Mas Deni berada di samping Indah, karena dia berhak atas Indah. "
"Tapi, Indah. "
Wanita tua itu tetap ngeyel, dengan apa yang dikatakan Indah, seakan berusaha memisahkan kedua insan yang tengah memadu kebahagian.
"Maaf, bu. Biarkan Deni berada di samping Indah. "
Tetap Indah pada pendirianya, ia tak mau mengecewakan Deni demi Danu yang sudah menyakiti hatinya. Janganlah masa lalu terulang kembali, biarkan saja pergi menjauh, Indah hanya berusaha menjadi wanita yang bisa mengatur setiap masalah.
"Indah, sudah kamu jangan bertengkar dengan Bu Dela. Biarkan saja aku mengalah demi kebaikanmu. "
"Tidak, Deni. Aku tidak mau terus di perbudak oleh mereka, menuruti mereka hanya akan menyakiti hatimu. "
Deni menundukkan kedua mata, apa yang dikatakan Indah memang benar. Hati Deni merasakan rasa sakit yang terasa amat sakit.
Bu Dela menatap ke arah Indah tak suka dengan cara bicaranya.
__ADS_1
"I-nd-ah."
Danu menyebut nama Indah, berulang kali. Hingga saat itu Deni melepaskan pegangan tangan Indah dan pergi begitu saja.
Hati lelaki itu hancur bekeping keping, Bu Dela beranjak pergi keluar ruangan mengikuti Deni.
Membiarkan Indah berdua dengan Danu.
Menutup pintu. Bu Dela memulai percakapan dengan Deni.
"Deni."
Deni kini menjawab panggilan Bu Dela, " iya. "
Melipatkan kedua tangan, dengan berkata. " apa kamu bisa melepaskan Indah dengan Danu, kamu tahu sendirikan Danu itu sedang sakit. Ia masih butuh Indah untuk menjaganya.
Entah apa yang dipikirkan Bu Dela, ia begitu egois.
"Apa ibu pernah memikirkan hati seseorang saat ini. Memang ya, bu. Lidah itu tak bertulang dengan gampangnya ibu berkata sedimikian."
"Sudah jangan sok berkata bijak, saya hanya memita kamu melepaskan Indah bukan malah berkata seakan menasehati saya. "
" Memang susah ya, kalau berbicara dengan orang tua egois seperti anda. Harusnya anda itu lebih memikirkan orang lain daripada diri anda yang memang sudah membuat salah terhadap istri saya. Harusnya anda itu berpikir dengan jerni, kurang baik apa saya mengizinkan istri saya datang ke rumah sakit hanya untuk menemui anak Anda dan juga merelakan anak anda berduaan di ruangan rumah sakit. Walau sebenarnya itu rasanya berat sekali. "
Bu Dela terdiam setelah mendengar ucapan yang terlontar dari mulut Deni.
" Kenapa Ibu diam saja, ayo jawab. Asal ibu tahu saya berusaha mengalah, karena saya kasihan terhadap anak ibu. "
Pintu terbuka sosok wanita bernama Indah keluar dari ruangan Danu. Ia menghampiri Deni dengan berkata, " ayo kita pulang. "
Bu Dela heran, seharusnya Indah menjaga Danu, bukan malah mengajak Deni pulang.
"Indah, kenapa kamu pulang. "
Indah yang memegang tangan suaminya, tersenyum dan berkata. " Danu, sudah melepaskan Indah bahagia. Ia sudah ikhlas jadi tak ada yang harus di permasalahkan lagi, yang terpenting Indah sudah mendengar penjelasan dan keinginan Danu. Jadi ibu tak usah menekan Indah untuk bersama Danu. Danu sudah rela jika Indah bersama Deni. "
Mendengar penyataan itu membuat Bu Dela masih tak percaya, ia masuk mengecek ke adaan Danu yang tengah menangis.
"Danu."
__ADS_1
Apa yang terjadi? Dengan Danu.