
Kami masuk ke ruangan persidangan, dimana aku baru pertama kali melihat ruangan ini. Semua nampak menegangkan, suasana tidak ramai, hanya ada beberapa keluarga yang melihat.
"Tenangkan dirimu, Anna. Jangan lemah," bisik Kak Indah menenangkan hati ini.
"Iya kak," ucapku pelan.
Aku mulai duduk pada kursi kayu, melihat para jaksa dan hakim. Mereka tanpak gagah, menarik napas mengeluarkan secara perlahan, kamu harus tenang. Anna.
Sekilas menatap kearah Mas Raka, lelaki itu tampak santai. Perlahan bibir tipisnya itu tersenyum sinis kearahku. Membuat wajah ini dengan fokus menatap pada jaksa yang tengah memeriksa dokumen dan gugatan cerai.
Hakim dan lain sebagainya membuat aku benar benar tak konsen, karna rasa takutku. Semoga semua berjalan dengan baik.
Lelaki berkumis tipis, yang selalu ada dan membantuku, kini maju melangkah. Menjelaskan semua perkara yang terjadi, aku berusaha menyimak dan tetap pada tujuanku, memenangkan persindangan ini.
Dengan begitu hebatnya Pak Galih menjelaskan semua dengan detail, membuat para hakim berunding.
Akan tetapi Mas Raka yang seakan tak terima kini memutarkan balikan pakta. Perdebatan semakin panas, perseteruan antara aku dan Mas Raka tak kungjung usai.
Pak Galih menyuruhku untuk tetap tenang, agar persidangan berjalan lancar.
Napas di dada seakan berpacu kencang, mas Raka begitu pintar membalikkan pakta, dengan hebatnya ia membuat semua jaksa dan Hakim kembali berunding.
Aku berharap talak ini secepatnya selesai, Pak Galih yang menjadi pengacaraku. Membisikan ucapan yang membuat hati ini tenang.
"Kamu tenang saja, Anna. Kita masih punya bukti yang kuat, dimana rekaman video Raka menapar kamu."
Pak Galih lelaki luar biasa, dia tahu cara melumpuhkan lawan, karna hanya dengan ucapan tidak akan dipercayai banyak orang. Kecuali dengan bukti.
Kini Jaksa dan Hakim kembali menatap ke arahku.
"Apa ada bukti yang lebih akurat dan bisa kami percayai?"
Pak Galih kini berjalan, menunjukkan video kekerasan yang dilakukan Mas Raka padaku.
"Mampus kamu, mas. Hubungan kini berakhir di sini." Gumam hatiku.
Mas Raka terlihat berdecak kesal, dengan apa yang dilakukan Pak Galih. Ia terlihat tak tenang, membuat aku ingin tertawa sekarang juga.
Setelah melihat bukti dan rekaman video, pada akhirnya ketukan palu itu dilayangkan, kami resmi bercerai.
Dengan perdebatan yang hampir tak kunjung usai, tapi aku memenangkan persidangan ini. Hak asuh anak anak, ternyata jatuh pada tanganku.
__ADS_1
Pak Galih benar benar luar biasa, bagaimana aku bisa mengungkapkan rasa terima kasihku pada lelaki berperawakan tinggi dan kekar itu.
Lelaki bersetatus duda, yang hampir membuat hidupku lepas dari derita.
Tepukan tangan dilayangkan para penonton di ruangan persidangan, Mas Raka mengusap kasar wajahnya. Ia benar benar terlihat frustasi.
Aku bisa bernapas lega, menghirup udara kebebasan. Jauh dari hinaan dan juga dari pelakuan Mas Raka yang tak menyenangkan.
Semua keluar dari ruangan persidangan, Kak Indah menghampiri memeluk tubuh ini, memberiku kata selamat.
"Selamat An, kamu bebas dari derita perlakuan si Raka kere itu."
Ucapan Kak Indah, membuat tatapan mata Mas Raka terlihat menyeramkan.
Apa dia menaruh dendam?
Jika ia aku tidak takut, akan kulawan dia dengan sekuat tenanga yang aku punya!
Mas Raka kini menghapiriku, menjulurkan tanganya mengajakku bersalaman dengan berkata," Anna. Selamat atas kemenanganmu!"
Aku yang memang tak gampang menyimpan dendam pada orang lain, dan kemarahan yang kama. Kini menjabat tangan Mas Raka, mantan suamiku.
"Iya, Mas."
Mulai melepaskan tanganku dari gengaman tanganya yang begitu erat, Mas Raka malah tersenyum kecil, bibir tipisnya terlihat sekali terangkat. Ingin sekali aku merusaknya dengan cakaran tangan ini.
Kak Indah menarik tangan dan berkata," sudah Anna, jangan kamu ladeni dia terus."
Ajeng wanita Alot itu datang dengan wajahnya yang puas, ia memegang tangan Mas Raka.
"Pesidangan yang sangat meyenangkan bukan, Anna."
Aku tersenyum kecil, malas berdebat dengan wanita alot itu," Ayo kak, kita pulang. Waktu kita terlalu berharga, untuk meladeni wanita peot seperti dia."
Terlihat sekali wajah kesal Ajeng ia perlihatkan di depanku, membuat aku tentulah senang.
Kami mulai berjalan untuk menaiki mobil Pak Galih.
Namun, Ibu mertua datang berlari menghampiriku dengan isak tangis.
"Anna, ibu boleh meluk kamu dan cucu cucu ibu?"
__ADS_1
Aneh, tidak biasanya ibu seperti ini. Ia terlihat menyesal akan perceraianku dengan Mas Raka, memangis dan memelukku begitu erat.
Akan tetapi tak ada kata maap yang terlontar dari mulutnya, hanya sebuah tangisan yang tak aku mengerti sama sekali.
Wanita tua itu melirik ke arah Lulu, perlahan ia melpaskan pelukannya padaku.
"Lulu, sayang. Cucu nenek."
Kak Indah sedikit menyingkirkan Lulu dari hadapan ibu mertua, tapi aku menyuruh Kak Indah agar tidak menghindar, biarkan saja.
Karna hak asuh sudah ada di tanganku sekarang. Jadi tak usah kuatir, jika mereka berani mengambil Radit dan Lulu. Aku bisa menuntut mereka semua.
Wanita tua itu, kini mengendong Lulu. Memeluk anakku dengan penuh cinta dan perhatian.
Tiba tiba saja Ajeng, menyingkirkan Lulu dari gendongan ibu mertuaku membuat Lulu hampir terjatuh.
Untung saja kak Indah dengan sigap merangkul Lulu. hingga tidak ada istiden tak diinginkan.
"Ajeng, kamu ini gila ya, gimana kalau anakku jatuh. Kamu bisa aku tuntun."
Ajeng melipatkan kedua tanganya dan berkata," Hallo, kamu lupa ya. Aku keguguran karna siapa, jadi bolelah aku buat anakmu jatuh."
"Gila kamu, Ajeng."
Wanita itu tersenyum dalam kesenangan dirinya, ia tak mempedulikan ucapanya yang asal bicara itu.
"Ibu, ngapain coba pake acara nangis nangis di depan wanita buruk rupa ini. It's free, it's useless. Ayo kita pulang. Ajeng enggak suka ya ibu lebai kaya gini."
Ajeng menarik paksa ibu, membuat aku merasa kasihan dengan raut wajah wanita tua itu.
"Ayo, bu." Ajeng membentak dan memarahi ibu habis habisan.
Membuat aku maju ke arah mereka berdua. Bukan menjadi seorang pahlawan. Tapi memberi tahu wanita kebule bulean itu agar sopan terhadap orang tua.
"Heh, Ajeng. Kalau mau memberitahu orang tua itu dengan sopan lembut, ngomong aja banyak gaya bahasa inggris. Tapi atuted rendahan."
Ajeng menunjuk ke arah wajahku," jangan sok menasehatiku dan sok bijak ya. Ini urusanku dengan mertuaku sendiri."
"Heh, Ajeng bentar lagi kamu bakal kaya ibu. Jadi jangan sok benar lah. Mau jadi nenek nenek juga banyak gaya. Sok marahin orang tua, enggak nyadar diri."
Ajeng terdiam dikala ucapanku membuatnya malu, kini aku melangkah menjauhi mereka berdua. Untuk segera masuk ke dalam mobil.
__ADS_1
Akan tetapi.