
Setelah menerima telepon, Deni berusaha tak menceritakan apa yang dibicarakan dalam sambungan telepon bersama dokter yang mengotopsi tulang belulang sang kakak. Ia takut jika sang ibu memikirkan hal yang akan membuat pikiran ibunya stres.
"Siapa yang menelepon."
Bu Sumyati bertanya di saat pintu mobil dibuka oleh Deni," Itu hanya teman Deni saja bu, katanya hari ini ada acara. Deni disuruh datang ke sana, hanya saja Deni malas kalau sekarang. "
"Ibu kira apa?"
Raut wajah sang ibu tak terlihat curiga, membuat hati Deni lega," akhirnya ibu tak curiga. Jika ibu curiga. Urusannya tentu saja gawat."
Sang ibu kini masuk ke dalam mobil, wanita tua itu duduk sambil melihat rumah sakit, hatinya masih ragu meninggalkan rumah sakit karena tidak tahu nasib Pak Aryanto yang sekarang.
Setelah sampai di rumah, Deni berusaha tidak memperlihatkan keingintahuannya atas hasil otopsi. Ia berusaha membuat suasana biasa saja tak ada yang mengkhawatirkan, kalau hatinya tak sabar ingin menemui sang dokter, dimana dokter itu akan menjelaskan hasil otopsi Daniel.
Deni mulai mengirim pesan pada Anna, memberitahu jika besok dia harus datang, melihat hasil otopsi Deni.
Hingga akhirnya Anna membalas, besok pagi sekali dia akan datang ke rumah sakit.
*******
Setelah kepergian Bu Sumyati kini Ajeng dan Bu Ayu mulai menghampiri Pak Aryanto yang sudah dipindahkan ke ruang inap, dimana para keluarga bisa melihat keadaan pasien.
Melangkah menuju ruangan, dengan harapan sang ayah tak syok melihat keadaan Ajeng yang sekarang, "Bu, aku berharap ayah tak akan kaget saat melihat keadaanku seperti sekarang. Aku takut ayah akan menangisiku."
Bu Ayu, terus mengusap pelan air mata yang terus menetes perlahan mengenai kedua pipinya. Hatinya merasa hancur melihat keadaan Ajeng dengan kedua kaki yang sudah diamputasi, apalagi sang ayah yang begitu menjaga harta miliknya satu satunya.
Dunia terasa tak adil bagi Bu Ayu, apa ini balasan untuk keluarga Pak Aryanto? Pikiran Bu Ayu kini tak menentu.
Mendekat ke arah sang ayah, kini kedua mata lelaki tua itu perlahan terbuka, ia mendengar langkah kaki berjalan ke arahnya.
"Ayah."
Lelaki tua yang dipanggil oleh Ajeng kini menyampingkan wajahnya, hingga dimana ia tersenyum." Ajeng, kamu nak."
__ADS_1
Tangis kebahagian terpancar dari raut wajah Pak Aryanto, Ajeng mendekat dan langsung memeluk sang ayah dengan begitu erat.
"Ajeng, ayah rindu kamu."
"Ayah juga rindu kamu, sayang."
Pelukan terlepas, lelaki tua itu perlahan menyadari Ajeng yang duduk diatas kursi roda, ia menatap ke arah selimut yang menutupi kedua kaki anaknya. Terlihat ada yang berbeda.
"Ajeng, kaki kamu."
Ajeng tersenyum kecil menatap sayu ke arah ayahnya dengan berkata." Iya ayah."
Tangan kanannya membuka selimut yang menutupi kedua kaki, membuat sesuatu yang tak terduga kini dilihat oleh kedua mata ayahnya.
"Ajeng, kaki kamu sayang, kenapa?" Pertanyaan sang ayah membuat Ajeng kini menjelaskan, kecelakaan yang menimpa dirinya. "tadi pagi, Ajeng tengah melintas ke seberang jalan untuk pergi ke supermarket. Saat itulah sesuatu tak diinginkan terjadi, dimana mobil dengan kecepatan tinggi menabrak dan menggeleng kedua kaki Ajeng hingga seperti ini, ayah."
Penjelasan itu terdengar terlalu menyakitkan bagi sang ayah," Apa kamu melihat siapa orang yang ada pada mobil itu, sebelum kecelakaan itu terjadi."
"Kurang ajar sekali orang itu, membuat anak kita seperti ini." Hardik Pak Aryanto merasakan rasa kesal.
Bu Ayu berusaha menenangkan hati dan juga pikiran suaminya, ia takut hal buruk terjadi. Dimana penyakit sang ayah kambuh seperti tadi siang.
"Sudah cukup, ayah jangan marah marah terus. Ibu takut penyakit ayah kambuh lagi. Ibu harap ayah bisa lebih sabar, ini teguran untuk kita, karena kesalahan yang kita perbuat. "
Pak Aryanto berusaha menenangkan hati dan perasaan, ia mengelus dada, menyadari apa yang sudah ia lakukan di masa lalu saat menutupi kasus Anna dan Daniel.
*****
Pagi menjelang dimana Deni bergegas pergi ke rumah sakit, ia terburu buru pergi tak ingin jika sang ibu tahu.
"Deni, kamu mau ke mana?" Pertanyaan sang ibu mengagetkan Deni, kaki yang melangkah seketika ragu. Membuat ia membalikkan badan.
"Deni ada urusan sama teman mah!" Jawaban Deni membuat sang ibu mengerutkan dahi, ada yang aneh dengan perilaku anaknya sendiri.
__ADS_1
"Deni, dari semalam ibu merasakan hal yang berbeda dari gerak gerik dan wajah gelisah kamu," Kecurigaan kini diungkapkan Bu Sumyati.
Deni menggaruk belakang kepalanya yang tak terasa gatal, membuat ia berpura pura menampilkan senyuman kebahagian terhadap sang ibu. Jika ia memberi tahu semuanya, bertapa sedihnya Bu Sumyati saat itu juga.
"Heh, ditanya malah cengar cengir nggak jelas gitu, kenapa ayo jawab? Ibu tahu kamu sedang membohongi ibu sekarang, cepat jawab, Deni! " Sang ibu masih bersikukuh dengan jawaban Deni, ia ingin tahu ada masalah apa anaknya.
Sebenarnya Deni bingung antara memberi kebenaran atau tidak. Tangan Bu Sumyati memegang bahu anaknya dengan bertanya kembali. " Ayo jawab, Deni sebenarnya ada apa, ibu mohon. Jangan sebunyikan sebuah rahasia di depan ibu. "
Deni yang tak tega melihat wanita tua yang terlihat bersedih, membuat ia mengakatan akan mayat sang kakak yang tengah di otopsi.
"Sebenarnya mayat Kak Daniel sudah di temukan, hanya saja kini Deni sedang mengotopsi mayat yang tinggal berlulang itu. "
"Kenapa kamu baru memberi tahu ibu, jika mayat Daniel baru ditemukan, kenapa kamu hanya mengatakan tentang Raka yang menjadi pelaku dalam penambrakan itu. "
Deni bukan tak mau menceritakan semuanya, ia takut jika sang ibu syok berat dan mengetahui jika Daniel meninggal bukan dalam tabrakan melainkan dibunuh oleh Raka, saat itu juga.
"Bukan Deni nggak mau bercerita pada ibu, Deni takut jika ibu akan syok dan bersedih lagi jika tahu kenyataan yang sebenarnya. "
"Kenyataan apa maksud kamu, Den. Memamgnya ada apa lagi dengan almarhum kakak kamu, kenapa mayatnya harus di otopsi segala, bukanya kakak kamu mati karna kecelakaan mobil saja. "
"Sebenarnya saat kecelakaan itu, Kak Daniel tidak mati. Raka membunuh Daniel karna ingin menghilangkan bukti."
"Apa? "
Apa yang di katakan Deni sudah menjadi dugaannya, sang ibu terduduk lesu di atas kursi, hatinya mungkin merasakan rasa sakit tak terduga, memegang kerah baju meremas dan merasakan sesak pada hati yang paling dalam.
"Nak, ibu kira setelah pelaku tertangkap, kematian kamu akan tenang. Tapi nyatanya masih ada kasus yang belum terungkap. "
"Bu, maafkan Deni baru bercerita pada ibu. Deni takut ibu akan sakit hati, makanya Deni sangat membenci pelaku pembunuhan dan juga persekongkolan keluarga Ajeng. Terkadang Deni selalu mengatakan perkataan yang menyakitkan bagi mereka, agar mereka sadar. "
Tiba tiba seseorang datang.
.
__ADS_1