Dibalik Diamnya Mertuaku

Dibalik Diamnya Mertuaku
Bab 102 Bercanda menjadi kenyataan.


__ADS_3

Galih mulai melihat pada orang yang di tunjuk Anna, "Loh, itukan."


"Pak, gimana kalau kita samperin mereka, kayanya asik."


Tanpa banyak basa-basi pada akhirnya, Anna mulai menarik tangan Galih, menuju meja yang ia tuju. Anna seakan tak segan segan menyentuh tangan Galih, padahal dulu dia selalu menolak tawarannya. Tapi sekarang, Anna seakan terbius dengan kebaikan Galih selama ini. 


Sampai di meja yang dituju, betapa kagetnya Indah dan juga Deni, dimana mereka tengah ketawa ketiwi. Seperti menceritakan sesuatu yang mengasyikkan.


"Mm, waw terciduk."


Indah dengan matanya yang sipit, kini berusaha melebarkan kedua matanya. Ia kaget tiba tiba sang adik berada di hadapannya. 


"An-na K-a-mu." Terlihat Indah  gugup saat Anna berkata terciduk. 


"Hay, Kak Anna." Sedangkan Deni dengan santainya menyapa Anna, tersenyum manis dengan menampilkan wajah polosnya. 


"Wah, sekarang beralih ke berondong." Sindir Anna, seakan membalas kejahilan kakaknya sendiri yang memang terkadang Indah  melakukanya  pada Anna. 


"Apaan sih, kamu bikin malu kakak aja tahu, di sini banyak orang." Bisik Indah berusaha membuat Anna paham. 


Sedangkan Deni yang memang suka dengan sindiran Anna membuat ia membalas," Memangnya kenapa dengan berondong, kak? Bukanya brondong itu manis dan menggoda."


Jawaban Deni tentu membuat Anna tertawa terbahak bahak. " Sejak kapan kamu manis, pede banget sih."


Tawa kembali terdengar oleh Indah, kedua pipi wanita yang menjadi kakak Indah itu seketika memerah. 


Anna semakin menjadi jadi, ia kini berucap kembali," Kakak malu ya. Heh kak, kakak itu enggak usah malu, Anna dukung kakak sama Deni, jadi kakak tak usah malu ya."


Wajah Indah semakin memerah, membuat ia berkata," Anna. kamu ini."


Belum perkataan Indah terlontar semuanya, Anna menjawab kembali." Kalau kalian pacaran, bisa bisa Mas Danu cemburu."


Indah yang tak tahan dengan perkataan adiknya, kini memutarkan telinga kiri Anna dengan berkata," Nakalnya kamu, Anna."


"Aduh kak, sakit. Aw."


Karena Anna menjerit pada akhirnya sang kakak melepaskan tangan kanannya, dimana Anna mengucek ngucek telinga kirinya. 


Galih melihat kepolosan Anna, membuat ia semakin tertarik, bukan karena wajahnya tapi karena keibu ibuan yang terlihat manis. 


Beberapa pelayan mulai menyediakan makanan yang di pesan Anna dan juga Galih, begitupun dengan Deni dan Indah. Mereka seperti sepasang double date. 


Mereka berempat mulai menikmati menu makanan yang sudah tersedia di atas meja.  Bertapa lahapnya seperti orang yang tengah kelaparan. 


Di tengah tengah menyantap makanan, Indah mulai melayangkan kejahilannya pada sang adik. 

__ADS_1


"Oh ya, kapan kalian menikah?" Pertanyaan Indah membuat Anna tiba tiba batuk, ia secara tidak langsung tersedak oleh makanan yang baru saja Anna telan. 


Dengan sigapnya Galih, mengambil air minum untuk Anna. 


"Huuh, perhatianya." Sindir Indah kembali. 


Anna mulai me-minum air dalam gelas yang disodorkan Galih. 


"Terima kasih, pak."


Terlihat wajah kesal Anna ia perlihatkan di depan sang kakak. 


"Apaan sih kak. Lagi makan juga." Anna berusaha bersikap tenang, tak menampilkan kemarahannya, walau sebenarnya ia ingin sekali menjambak rambut pendek sang kakak. 


"Kak Indah tenang saja, seminggu lagi kita akan menikah." Tanpa sadar Anna mengatakan hal seperti itu, ia hanya bercanda, tapi tidak dengan Galih, menganggap semua itu serius. 


"Waw, secapat itu?" Kedua wanita yang menjadi adik kakak ini selalu ada saja tingkah mereka. 


"Iya dong, kak. Terus kakak kapan, mungpung ada Deni?!" Jawaban yang mampu membuat Indah terdiam. Deni yang memang serius pada akhirnya angkat bicara." Gimana kalau pernikahan kita juga dibarengi dengan Kak Anna."


Semua itu seperti kejutan bagi Indah, mana mungkin Deni bercanda sampai sebegitunya. 


"Wah ide yang bagus tuh." Timpal Anna, membuat Indah benar benar diam seribu bahasa. 


"Gimana, Kak?" Pertanyaan kini dilontarkan oleh Anna. 


Indah tiba tiba tertawa terbahak bahak." Kalian pasti bercanda kan!" 


Kedua mata saling menatap satu sama lain," Kak Indah mana ada kita bercanda semua serius."


Indah tak mau mempermalukkan dirinya, ia hanya menggagukan kepala dan melanjutkan suapan demi suapan makanan padai mulutnya


Acara makan makan selesai, Anna memutuskan untuk segera pulang, biarkan saja restoran  tak dijenguk karena sudah ada orang yang ia percaya. 


*****


Setelah pulang ke rumah, Indah kini menarik tangan sang adik. Dia mengusap kasar jidatnya, " Anna, apa kamu gila?"


Ana yang terlihat kelelahan kini menjawab," Siapa yang gila, kak?!"


"Anna, dengerin kakak. Tadi saat di restoran, kamu malah membuat Deni peluang mendekati kakak, kamu sadar nggak sih, An!?"


"Ya sadarlah, kak. Kan Anna nggak mabok!"


Indah merasa kesal dengan jawaban Anna," Kakak ini ngomong serius, Anna."

__ADS_1


Anna melipatkan kedua tangannya, menarik napas pelan menghadap ke arah sang kakak dengan serius." Siapa yang mulai duluan."


"kakak!"


"Ya sudah kakak terima frekuensinya, aku juga akan menikah dengan waktu yang dekat dengan Galih, gara gara candaan, kakak."


"Iya juga sih, jadi gimana? "


"Ya enggak gimana gimana, ya mungkin ini takdir kita. Mendapatkan jodoh bersamaan!"


"Ya elah Anna, masa ia kakak menikah dengan Deni, anak remaja itu, apa nanti kata emaknya?"


Indah seperti mengkhawatirkan tanggapan ibunya Deni," Wah, kalau kakak kuatir dengan tanggapan emaknya Deni, berarti kakak juga ada rasa dong sama dia!"


"Apaan sih Anna."


Indah terlihat malu dengan perkataan Anna, membuat kedua pipinya memerah lagi, hanya saja obrolan mereka terhenti karena suara bel berbunyi. 


Siapa yang datang? 


Indah mulai berjalan untuk segera membuka pintu rumah adiknya, akan tetapi. Anna malah menahan sang kakak dengan berkata. " Kakak, pergi saja ke kamar, biar Anna yang lihat. "


"Ya sudah kalau begitu. "


Dengan tergesa gesa Anna mulai berjalan membuka pintu rumahnya, ia penasaran di jam sebilan malam begini masih ada tamu. Apalagi tamunya terus menyebunyikan bel.


"Mbok Nun, mau ke mana? " tanya Anna melihat wanita tua itu berjalan.


"Mau buka pintu rumah dari tadi bel bunyi terus! " jawab Mbok Nun, dimana Anna menyuruhnya tidak membuka pintu rumah.


"Mbok Nun, istirahat saja. Ini sudah malam, biar saya saja yang lihat."


Setelah mengatakan perkataan itu, Mbok Nun menundukkan wajah menuruti apa perkataan sang Nyonya.


"Baik, Nyonya. Kalau begitu saya izin beristirahat."


"Ya."


Anna mulai berjalan lagi ke arah pintu rumah, sebelum membuka pintu rumah. Ia mengintip di balik jendela siapa yang datang.


Kedua mata Anna membulat setelah tahu siapa orang yang datang, tentu saja membuat Anna enggan membuka pintu rumahnya." Gawat ini. "


Indah yang penasaran, kini menghampiri Anna," siapa yang datang."


Jari tangan Anna mulai menutup bibir sang kakak yang bertanya.

__ADS_1


__ADS_2