
Setelah acara pernikahan di gelar, Anna mulai merebahkan tubuh di atas kasur kedua matanya terlelap dan tidur begitu cepat. Padahal dirinya belum membersihkan riasan, rasa lelah akibat masalah sang kakak membuat ia benar-benar stress. Melihat sang istri sudah tidur duluan, pada akhinya Galih bersiap mandi, ia mulai melangkah menuju kamar mandi, tubuh yang lengket membuat dirinya tak bisa tidur. Menyalakan sower membasahi seluruh tubuh. Segar bukan main, hingga lelaki berbadan kekar dengan ototnya yang terlihat menonjol lupa menguci kamar mandi.
Anna, baru sadar dari tidurnya, mengucek kedua telinga. Melihat tak ada tanda tanda suaminya berada di dalam kamar, segera mungkin Anna berdiri membersihkan riasan wajah.
Keadaannya berantakan sekali, melepaskan gaun yang menempel. Anna berjalan ke arah kamar mandi, karena tak di kunci dan tidak ada suara air menyala. Dengan rasa malas masuk.
Dan.
Ahkkkkkkk .... Berteriak sekencang mungkin, Anna tak tahu jika di dalam kamar mandi ada Galih. Menutup kedua mata dengan telapak tangan, membuat Galih malah tertawa.
"Kenapa bapak, tertawa? " Pertanyaan Anna, membuat Galih malah melangkahkan kaki mendekat tanpa memakai kain sehelaipun. Hatinya merasa tak karuan, karena ia akan melakukan hal yang belum ia lakukan lagi bersama seorang wanita.
"Anna, kenapa kamu menutup kedua matamu. " Pelahan tangan kekar mulai menyentuh kedua tangan yang menutupi wajah Anna, Galih menatap dengan penuh kegairahan.
Padahal Anna sudah berpengalaman, tapi dia malah menutup mata, seperti seorang gadis yang baru saja menikah dan akan melangsungkan ritual malam pengantin.
"kamu kenapa, Anna. Kenapa kamu malah menutup kedua mata kamu, kita kan sudah suami istri, jadi tak apalah kamu melihat tubuhku. "
Apa yang dikatakan Galih memang benar, kenapa juga Anna harus menutup kedua matanya. Harusnya ia melihat dan melayani suaminya, karena itu kewajiban seorang istri. Anna membuka kedua mata, pemandangan yang memang membuat dirinya menelan ludah.
"Kenapa, Anna. "
Menggelangkan kepala, tangan Anna bergetar. Saat itulah tangan dingin Galih mulai memegang dan menarik tangan Anna hingga tubuh Anna mendekap pada Galih. Tubuh yang terasa dingin kini berubah derastis, dimana tubuh itu mengeluarkan hawa panas karena berdekatan dengan lawan jenis.
Anna yang berada pada pelukkan Galih, merasakan detak jantung lelaki yang menjadi suaminya. "Nyaman."
Mencium rambut kepala Anna dengan berkata, " tetaplah seperti ini. "
Pelukan itu, kini terlepas begitu saja. Galih mulai memegang kedua pipi Anna, dengan berkata, " mau mandi bareng. "
Anna tentu saja gugup dengan jawaban Galih, membuat bibirnya bergetar.
Melihat Anna, seperti melihat Ainun. Bayangan atas kejadian dua puluh silam itu tiba tiba terbesit di pikiran Galih.
__ADS_1
Padahal Galih mencoba rileks, agar pikiranya tidak kemana mana. Kedua pipi Anna mulai memerah. Galih pelahan datang menuju bibir merah yang berada dihadapnya itu.
Ini pertama kalinya Anna, melakukan sebuah adegan dewasa di dalam kamar mandi, walau baru responan saja.
Saat lelaki berhidung mancung dengan badanya yang kekar, perlahan mulai melayangkan aksinya.
"Boleh kah saya menyentuhmu. "
Tentu saja Anna menganggukan kepala dengan berkata," silahkan. "
Jermari kekar itu mulai bermain, tatapan tajam menusuk gelora dalam jiwa. Hingga teriakan itu terdengar, dan masa lalu terbayang kembali.
Galih seakan dihantui dengan bayangan Ainun, Galih yang mulai menyentuh sang istri malah berteriak dan melukai dirinya. Anna yang kebingungan dengan tingkah Galih yang secara tiba tiba berubah, membuat dia berusaha menyadarkan suaminya.
"Pak, kamu kenapa? "
Mengayunkan kedua bahu Galih, Ana terus memanggil-manggil nama suaminya.
"Pak, sadar. "
Galih berteriak sekencang mungkin di depan Ana, lelaki berbadan kekar dengan tanganya yang berotot, mencoba melupakan kejadian 20 tahun yang lalu, yang sampai saat ini menghantui pikirannya.
Anna mengerutkan dahi dengan bertanya kembali. " Apa maksud, bapak? "
Jelas Anna bertanya dengan ketidak tahunya, karena Galih terus berteriak. Seperti orang yang sengaja mengusir.
"Pak, sadar. "
Galih berteriak, menutup kedua telinga. Tanpa rasa sadar tubuh Anna terdorong oleh tangan Galih.
Segera mungkin Galih mengambil handuk untuk segera menutupi tubuhnya. Pergi dari kamar mandi. Tubuh Anna terkulai lemah di atas lantai, hatinya tak karuan, kenapa di momen terindah Galih malah seperti itu.
Anna berusaha berdiri, setelah apa yang sudah terjadi pada Galih dan dirinya.
__ADS_1
Mencari keberadaan suaminya dengan memanggil manggil nama sang pujaan hati. " Pak. "
Galih ternyata tengah duduk di ujung kasur, Anna yang melihat suaminya bertingkah aneh, kini mengambil selimut dan menutupi tubuh Sang suami mendekat dari belakang, sembari memeluk tubuhnya.
"Izinkan aku tetap memelukmu. "
Galih berasa nyaman dengan pelukan yang dilayangkan Anna, dia hanya diam tak bisa berucap satu patah katapun. Ingin rasanya Galih menatap ke arah wanita yang berada di belakangnya, akan tetapi bayangan Ainun malah menusuk hati dan juga membuat pikirannya sangatlah kacau.
Kenapa bisa bayangan yang sudah lama terjadi terigat kembali, padahal Galih sudah berusaha bertanggung jawab dengan apa yang sudah ia lakukan terhadap Ainun. Tapi masih saja bayangan Ainun terlintas di pikirannya, di mana wanita itu menjerit-jerit kesakitan akibat perlakuan bej*t yang dilakukan Daniel dan juga dirinya.
Anna tetap saja memeluk erat tubuh suaminya, walau dari belakang. Ia tetap merasakan hawa hangat dari tubuh Galih, apalagi aroma sabun yang membuat Anna betah berada di sisinya.
kedua mata Galih berkaca-kaca, Iya kagum dengan tingkah Anna, yang sudah membuat dirinya tenang. Mendapatkan pelukan hangat membuat pikirannya sedikit rilek.
Anna kini berusaha bertanya dengan Galih, walau sebenarnya Anna masih ragu. Tapi apa boleh buat, demi meluruskan semuanya. Agar tidak ada rasa curiga pada setiap masing masing pasangan.
"Sebenarnya bapak kenapa? "
Pertanyaan Anna tentu saja membuat Galih bingung, apa yang harus dia jawab di depan istrinya itu, kalaupun berkata jujur. Galih takut jika Anna malah menjauh dan pergi meninggalkan dirinya sendirian.
Tapi jika ia tidak berkata jujur, bayangan Ainun terus terlintas dari pikirannya,
Apa ini saatnya Galih berkata jujur? Bibir lelaki berbadan kekar dan berotot , seakan kaku untuk mengatakan yang susungguhnya. Begitu sulitkan mengatakan kejujuran, hingga Galuh terus saja diam membisu.
Hatinya rapuh, jiwanya tak tenang. Pikiranya entah kemana, Galih seakan di tekan dengan kebingungan yang bertubi tubi.
"Pak, jika bapak belum siap mengatakan pertanyaan saya, tidak apa-apa. Yang terpenting sekarang hati dan pikiran bapak tenang, saya tak mau jika bapak kenapa kenapa. "
Perhatian Anna tentu saja membuat Galih semakin menyesal, dan merasakan rasa bersalah.
Hingga.
Tok .... Tok ....
__ADS_1