Dibalik Diamnya Mertuaku

Dibalik Diamnya Mertuaku
Bab 145 Pesan dari Galih


__ADS_3

Intan mendengar suara gemuruh dalam perut Ainun yang begitu terdengar jelas, ia menutup mulut berusaha menahan tawa agar sang nyonya tak memarahinya.


"Ngapain kamu? Masih berdiri di sana, cepat bikinin aku makan, lapar ni!" Mengerutu kesal pada Intan, dengan bergegas pelayan di rumah Ainun pergi ke dapur dengan berkata dalam hati," Dasar sinting, tadi ditanya. Pas jawab malah marah marah."


Dengan kelihaian tangannya, Intan mulai memotong sayuran dengan cepat. karena terbiasa memasak di rumah Galih. Membuat gadis cantik itu menikmati perkerjaannya.


Ainun yang duduk sendirian, masih memikirkan cerita dari Intan, ia baru tahu jika dulu Anna ada hubungan dengan Daniel sampai Intan menyebut jika Anna calon istri Daniel, sebelum kecelakaan itu terjadi dan merenggut nyawa Daniel seketika.


Ainun berusaha mengigat masa lalu yang sudah ia lupakan, dengan memaksakan diri hingga. " Ahkkkkk ...."


Jeritan Ainun mengangetkan Intan yang tengah fokus memasak, ia terpaska mematikkan kompor dan melihat keadaan sang nyonya.


Terlihat Ainun terbaring sembari menjerit-jerit, membuat Intan sudah tahu apa yang harus ia lakukan. Berlari mencari kotak yang sengaja diberikan Galih pada Intan, jika terjadi apa apa dengan Ainun.


"Nyonya, maafkan saya."


Intan menyuntikkan obat penenang pada Ainun, yang terus menjerit tak terkendali. Ia tak sanggup bila harus memberi obat dalam posisi Ainun menjerit menahan sakit.


Perlahan obat itu mulai bereaksi, menyebar pada jaringan sel dalam tubuh Ainun. Membuat wanita itu seketika tenang.


"Intan. Ahk, kepalaku sakit."


Memegang dengan tangan kanan, Ainun berusaha untuk duduk. Setelah ia mulai sadarkan diri dari rasa sakit, yang menusuk pikirannya.


"Nyonya, tenangkan dulu pikiran. Jangan memikirkan hal yang menyakiti pikiran Nyonya saat ini, jika itu terus terjadi. Nyonya akan mengalami depresi berat."


Mendengar Intan berkata tentang depresi, membuat Ainun ketakutan, ia lupa jika mengigat masa lalu akan merusak mentalnya saat itu juga.


"Nyonya makan obat ini, saya harap Nyonya tidak mengigat akan masa lalu Nyonya lagi."


Intan mengusap pelan punggung Ainun agar tetap tenang, merasakan jika Ainun tidak sendirian akan ada Intan menemani.


"Terima kasih, Intan."


Gadis berfropesi sebagai pelayan, kini membantu wanita berhijab oren untuk berdiri. Mengantarkannya menuju ke dalam kamar.


Setelah sampai di dalam kamar yang sudah disedikan dengan begitu terlihat nyaman, Ainun mulai membaringkan badan. Mengistirahatkan tubuh agar bisa tidur dengan nyenyak.


"Nyonya istirahat dulu, ya. Saya mau lanjut untuk masak menyediakan makanan nyonya."


Intan melangkah keluar dari dalam kamar, ia menarik napas kasar dan mengerutu kesal." Ternyata melelahkan juga mengusur wanita depresi, untung saja Tuan Galih membayar saya dengan cukup lumayan besar dan juga ada uang jajan dari Nyonya Ainun, jadi deh capenya kebayar."

__ADS_1


Intan mulai melanjutkan rutinitasnya lagi di dalam dapur, menyalakan kompor memasak kembali sayur yang sudah ia bersihkan terlebih dahulu.


Beberapa menit setelah selesai memasak menu makan malam, Intan dikagetkan dengan suara notipikasi ponselnya. Dengan terburu buru Intan membuka layar ponselnya yang menyala, melihat siapa yang mengirim pesan padanya.


( Intan, bagaimana keadaan Ainun, apa dia baik baik saja? Apa sesuatu terjadi padanya.)


Intan mengira jika pesan pada layar ponselnya dari sang kekasih, tapi nyatanya dari Galih.


Mengetik layar ponsel dengan jari tangan, membalas pesan dari sang tuan.


(Nyonya baik baik saja, keadaanya stabil. Tidak ada yang terjadi pada Nyonya, tuan tenang saja.)


Membalas tidak sesuai kenyataan, Intan tak mau dirinya tersalakan jika keadaan Ainun sedikit memburuk, karena ulahnya sendiri. Maka ia meciptakan suatu kebohongan agar dirinya tetap dipercaya di rumah Ainun.


( Syukur kalau begitu.)


Dari sana Galih tak lagi menanyakan ke adaan Ainun, Intan yang mengurus mantan istri majikanya merasa kesal dan ikut sakit hati dengan ke adaan Nyonya Ainun. Istri sah Tuan Galih, yang sekarang berada di rumah sakit.


"Bisa bisanya, Tuan Galih peduli dengan mantan istrinya, padahal wanita seperti Ainun tak pantas dikasihani. Orang songong kaya gitu." Gerutu Intan dalam hati, ia mulai menyediakan makan malam untuk Ainun.


Ada niat jahat, tapi Intan mencoba mengurungkan niatnya itu. Takut jika nanti terkena masalah, akan pelayan seperti Intan yang tiba tiba membunuh majikanya, tanpa sebab yang jelas.


Ada rasa malas, tapi kemalasan itu ia tahan demi gaji besar dari Galih, apa pun akan ia lakukan.


Tok .... Tok ....


Intan mengetuk pintu. Dan memanggil Ainun, " Nyonya makanan sudah siap."


Ainun tak membalas teriakan Intan, membuat pelayan itu masuk membuka pintu kamar majikannya.


"Mm, ternyata dia molor." Gerutu hati Intan. Membuat ia geram.


Berusaha tetap tenang dan membangunkan Ainun yang tengah tidur. " Nyonya bangun, waktunya makan malam."


Mendengar suara Intan yang memanggil namanya, pada akhirnya Ainun bangun. Dengan merapikan hijabnya.


"Intan."


Pelayan di rumah memperlihatkan lekuk senyumnya didepan Ainun, tak memperlihatkan kekesalan dalam hatinya. Ya berusaha bersikap sopan dan juga baik di depan sang majikan, walau sebenarnya hatinya begitu kesal dan ingin sekali melemparkan makanan ke arah wajah Ainun.


" Ya sudah, mana."

__ADS_1


Intan melihat tangan Ainun yang bergetar, membuat ia tentu saja kaget dan bertanya," apa Nyonya baik-baik saja?"


" Saya baik-baik saja, Intan. Hanya sedikit terasa lemah, entah mungkin karena epek samping obat yang mengenai tubuh saya."


Intan mendengar kata-kata sopan dari majikannya," apa tidak salah, si pelakor ini. Berkata sopan kepadaku, jelas tadi siang ia begitu songong dan suka memerintah se enaknya." Gumam hati Intan. Sembari menatap sinis kearah wajah Ainun.


"Bisa kamu menyuapi saya."


Intan tersenyum kecil dan menjawab," oh tentu bisa."


"Ya tuhan, manjanya minta ampun."


Gerutu hati Intan dengan menyolek nasi dan lauk pauk pada piring.


"Ini Nyonya."


Ainun mulai membuka mulutnya, beberapa suap makanan masuk ke dalam mulut Ainun. Terlihat wanita yang masih mengenakan hijab terlihat begitu kelaparan.


"Masakan kamu enak ya, Intan."


Pujian terlontar dari mulut Ainun, membuat Intan bukan senang malah tak suka." pastinya enak masakaku, orang kamu kelaparan." Gumam hati Ainun.


Selesai menyuapi makanan ke mulut Ainun, saat itulah Intan menyodorkan minum. Terlihat Ainun tak kelaparan lagi.


"Saya permisi ke dapur ya, Nyonya."


"Iya."


Intan keluar dari dalam kamar tidur Ainun, membereskan perlaratan memasak yang ia gunakan barusan.


Tring ....


Satu pesan datang, lagi lagi dari Galih.


"Pak Galih, sudah tahu istri sedang di oprasi malah bertanya tentang Ainun."


(Apa dia sudah makan, jangan lupa kasih obat dan ia selalu tenang.)


( Baik, tuan. Semua yang di perintahakan tuan sudah saya kerjakan.)


(Bagus kalau begitu.)

__ADS_1


__ADS_2