Dibalik Diamnya Mertuaku

Dibalik Diamnya Mertuaku
Bab 130 Ajeng dengan pisau


__ADS_3

Beberapa menit menunggu, Galih datang. Ia keluar dari mobil taksi melihat Sang suami, Anna melambaikan tangan seraya menyebut, " Mas. "


Teriakan wanita berbulu mata lentik dengan hidungnya yang terlihat sedikit mancung, membuat Galih dengan langsung menghampiri wanita yang sudah sah menjadi istrinya.


Terlihat ada sesuatu yang berbeda dari raut wajah suaminya, pada leher Galih terdapat bekas lipstik yang menempel berwarna nude. Anna mencoba tidak memperdulikan semua itu, ia langsung mengajak suaminya masuk ke dalam mobil.


Walau sebenarnya dalam hatinya merasa ada rasa curiga, entah bekas lipstik Siapa yang menempel pada leher suaminya itu?


Anna mencoba tetap berpikir positif dengan mengendarai mobil, ya tak mau pikirannya kemana-mana hingga mengakibatkan sesuatu yang Merugikan dirinya sendiri, jika urusannya telah selesai di rumah sakit. Anna akan bertanya pada pembantu di rumah.


Di dalam mobil tidak ada percakapan di antara mereka berdua, hanya suara drum mobil yang membawa mereka menuju rumah sakit. Galih sebenarnya ingin mengatakan sesuatu kepada Anna, tapi ia urungkan kembali.


"Mas, tadi Ainun tidak banyak tingkah kan?" Secara tiba tiba, Anna mengatakan hal yang tak terduga pada Galih, membuat lelaki berparas tampan dengan tubuh tegapnya terlihat gelisa.


"Mm, ka-mu. Ngo-mong apa! Banyak tingkah bagaimana?" Galih malah bertanya kembali dengan nada terbata batanya, jelas lelaki yang menjadi suami Anna itu masih merasa syok dengan tingkah Ainun yang hampir saja membuat dirinya gila.


Untung saja Galih, bisa menahan godaan dari sang mantan istri. Ia berusaha melawan, walau sebenarnya ia tak kuat. Tapi dengan kebulatan hati, Galih bisa memarahi dan memperigati Ainun terus menerus. Walau dirinya tak yakin jika Ainun akan berubah atau tidaknya.


"Mas, kok malah melamun, aku jawab loh tadi. "


Karena memikirkan kelakuan Ainun, membuat Galih tak fokus mendengarkan perkataan sang istri.


"Ya, maaf sayang. "


Anna ingin mendesak suaminya agar berkata jujur, sebenarnya ada apa saat Anna tidak ada di rumah.


"Kamu ini kenapa?Hem."


"Senarnya mas ingin .... "


Ucapan Galih terhenti kembali saat suara ponsel Anna berdering. Tanda seseorang menelepon. "Bu Ayu. Maafnya mas, aku angkat dulu panggilan dari Bu Sari. "


Galih sangatlah kesal, di situasi dirinya ingin berkata jujur selalu ada halangan dimana Bu Ayu, meneleponnya lagi. Hanya karena Ajeng, sebenarnya kenapa dengan Ajeng? Sampai sebegitu kuatirnya Bu Ayu sampai menelepon Anna terus menerus.

__ADS_1


"Halo, Anna. Kamu ada di mana? Cepat kesini. Ibu sangat membutuhkan kamu. Ini demi keselamatan Ajeng. "


Panggilan telepon dimatikan begitu saja, " Kenapa? "


Galih merasa penasaran, karena Bu Ayu terus saja menyuruh Anna buru buru datang ke rumah sakit.


"Entahlah, Bu Ayu terlihat panik. Menyuruh untuk segera datang ke rumah sakit. "


"Apa sesuatu terjadi dengannya. "


Mobil melaju dengan sangat cepat menuju rumah sakit, Galih dan juga Anna mulai turun dan terburu buru datang ke ruangan Ajeng.


Mereka melangkah dan sedikit berlari saat mencari ruangan Ajeng yang tak kunjung ketemu. Membuat hati dan pikiran Anna sedikit tak menentu.


"Ajeng, stop. Nak, jangan lakukan semua itu. " Teriakan Bu Ayu, terdengar oleh Anna, membuat wanita berbulu mata lentik itu berlari ke arah sumber suara.


Melihat sebenarnya apa yang sudah terjadi.


Anna berusaha mendekat menghentikan tingkah konyol Ajeng.


"Ajeng, hentikan tingkah konyolmu itu. Jangan berbuat bodoh yang malah merugikan hidupmu sendiri. Stop. "


Ajeng melihat Anna datang, malah tertawa dan berkata. " Jangan suka urus kehidupanku saat ini, aku ingin mati sekarang karena tak ada yang membutuhkan aku yang cacat ini. "


Anna yang mendengar jawaban Ajeng, membuat ia perlahan mendekat lagi, hingga langkah itu disadari Ajeng. "Cukup, jangan mendekat. "


Bu Ayu hanya bisa menangis dengan apa yang ia lihat, menahan sang anakpun tak kuasa.


"Ajeng, kamu lihat kedua orang tuamu ini sangatlah menyayangimu. Kenapa kamu tak merasa kasihan terhadap mereka? "


Mencoba untuk bisa menasehati Ajeng, Anna kini perlahan mendekat disaat Ajeng lengah, dengan kedua mata yang melihat ke arah ibu dan bapaknya.


"Ajeng, jangan lakukan itu ya. Nak. Kami berdua sangat menyayangimu Ajeng, jadi jangan lakukan hal bodoh itu ya. Nak. "

__ADS_1


Ajeng kini menangis, dikala sang ibunda Ayu berkata seperti itu. " Ajeng. Papih dan mami sangat menyayangi kami, bagaimana pun keadaan kamu."


Perkataan lembut Pak Aryanto membuat Ajeng perlahan luluh. Walau sebenarnya hatinya tak bisa bohong. Ajeng tak mau hidup dalam hinaan dan kekurangan fisik seperti sekarang.


"Ayolah, Ajeng. Turunkan pisaumu itu. Beda yang kamu pegang itu sangat berbahaya. " Pak Aryanto terus mengajak Ajeng berbicara, dimana Anna perlahan mendekat ke arah Ajeng.


Hingga ini waktu yang tepat, Anna mengambil pisau dari tangan Ajeng, membuat pisau itu sedikit mengores telapak tanganya. Kedua orang tua Ajeng mendekat memeluk anak semata wayangnya dalam isak tangis.


"Jangan peluk aku. "


Teriakan Ajeng membuat kedua orang tuanya menyingkir, para perawat mulai menahan tubuh dan tangan Ajeng yang terus meronta-ronta, Sesekali aja menyebut nama Raka. " Mas Raka. Aku sangat mencintaimu. "


Terlihat sekali Ajeng begitu frustasi, membuat Anna tak tega dan merasa kasihan akan hal yang sudah menimpa dirinya.


"Ajeng, sayang. Lupakan dia, setelah kamu seperti si raka berengs*k itu tak peduli pada kamu."


Apa ini balasan untuk Ajeng, karena di masa lalu ia selalu menyakiti Anna. Membuat kebohongan dan merusak kehidupan Anna yang bahagia.


Galih yang berada di sisi Anna kini memegang tangan istrinya, terlihat sekali Ana begitu sedih melihat Ajeng yang terlihat seperti orang gila dan depresi akan fisiknya yang tak sempurna seperti sekarang.


Bu Ayu mendekat kembali pada anak semata wayangnya. Seraya membisikan perkataan. Entah apa yang dikatakan wanita tua itu, Ajeng malah berteriaka dan membuat para suster dengan terpaksa menyuntikan obat penenang.


"Sebenarnya kenapa dengan Ajeng, bu. " Anna mulai bertanya, di saat Ajeng tenang dengan obat suntik yang diberikan perawat.


Wanita tua itu sedikit ragu, ingin menceritakan apa yang sebenarnya terjadi, kenapa Ajeng tiba tiba menjadi depresi dan tak menerima keadaanya.


"Ayo bu, cerita. Saya akan mencabut gugatan kepada polisi, agar Ajeng bebas. Jika memang penjara malah merusak mentalnya. "


Bu Ayu menatap ke arah Anna, " Anna, sebenarnya bukan penjara yang merusak mental Ajeng. "


"Terus apa bu, ayo ceritakan kepada saya, jangan takut."


"Setelah Ajeng menemui Raka, Ajeng sering melamun, terkadang di dalam penjara ia tak mau makan sama sekali. Ia Selalu tertawa sendiri sembari menyebut nama Raka."

__ADS_1


__ADS_2