
Para ibu ibu bersujud memohon ampun di hadapan Galih, untuk tidak memasukkan mereka ke dalam penjara.
"Ampuni kami."
Bu Nira juga baru mengetahui semuanya, ketika polisi menekan Bu Suci agar mengungkapkan semua kejahatannya.
"Aku tidak bisa memaafkan kalian, yang berhak memaafkan kalian hanyalah Nita."
Mereka nampak panik, dan berdiri di hadapan Galih. " Jadi apa bisa kami masuk ke ruangan Nita untuk meminta maaf kepadanya?"
"Tapi maaf, sekarang Nita tak bisa menjawab perkataan maaf kalian semua," ucap Bu Nira, membuat kekecewaan dan rasa takut pada semua ibu-ibu. Padahal mereka ingin melegakan hati, agar tidak di kelilingi rasa menyesal.
"Ya turus gimana dong," balas Bu Sarah, terlihat tampak gelisah.
Bu Nira hanya bersikap cuek tak mempedulikan para ibu-ibu yang terlihat begitu gelisah dan juga direnungi penyesalan.
"Ya sudah, tinggal nunggu saja Nita siuman. Kalau nggak siuman ya nasib kalian masuk ke dalam penjara."
Ucapan Bu Nira terdengar sedikit menakutkan, membuat para ibu-ibu saling menatap satu sama lain, karena mendengar namanya penjara itu sangatlah mengerikan.
Tidak bisa hidup bebas dan makan enak seperti di kampung halaman, bergosip bercanda. Dan memakan makanan yang enak-enak.
Bu Nira seakan enggan menatap para ibu ibu dihadapannya.
"Bu Nira, jangan menakut-nakuti kami dong, kami takut sekali masuk ke dalam penjara," ucap Bu Darmi yang mulai angkat bicara karena rasa takut yang berlebihan. Mengigat semua kelakuan jahatnya pada Nita.
"Siapa yang menakut-nakuti kalian, selama ini kalian ke mana saja? Saat Nita terus menerus di jahati oleh Bu Suci? Hah, kalian ke mana?"
Pertanyaan Bu Nira begitu tegas," Saat Nita dalam kesusahan pun kalian tetap mengolok ngolok dia?"
Bu Nira begitu tegas dalam berucap, ia tak peduli dengan apa yang nanti ditanggapi para ibu ibu tentang dirinya, terpenting sekarang bisa menyadarkan para ibu-ibu yang begitu sombong dan angkuh ketika menjahati orang yang lemah.
"Kami minta maaf, kami hilap." Balas para ibu ibu menangis, mereka memohon untuk tidak dilaporkan ke kantor polisi.
__ADS_1
Saiful mendekat berusaha menenangkan sang ibunda agar tidak tersudut emosi terus menerus. " Bu, tenang, ya."
Para ibu ibu memohon dengan belas kasih mereka," Tolong kami. ".
Dengan rasa kepedulian yang amat tinggi pada diri Bu Nira, pada akhirnya para ibu ibu di beri kesempatan untuk merenungi kesalahan mereka semua.
" Saya, akan beri kalian kesempatan agar bisa merenungi keselahan kalian."
Para ibu ibu tersenyum senang, atas jawaban Bu Nira, " benar begitu bu."
Bu Nira menganggukkan kepala, mendengar perkataan para ibu ibu yang mengemis tak mau dimasukkan kedalam penjara.
"Terima kasih Bu Nira."
"Ya, saya berharap setelah ini kalian bisa berubah menjadi orang lebih baik lagi."
Para ibu ibu menganggukkan kepala, setelah mendengarkan nasehat dari mulut Bu Nira. " Ya sudah kalian silahkan pulang."
Para ibu ibu kini mulai pergi dari rumah sakit, hati mereka sedikit tenang dan bisa benapas lega. "Akhinya kita tidak masuk ke dalam penjara seperti Bu Suci dan Bu Ita." ucap Bu Ratna, terlihat begitu ceria dari sebelumnya.
Mereka mulai merenungi kesalahan mereka, mengigat apa yang sudah mereka lakukan terhadap Nita. Di dalam angkutan umum yang akan mengantarkan mereka untuk segera pulang ke kampung halaman.
Jarak yang lumayan jauh, membuat para ibu ibu merasa kelelahan, saat pulang mereka sengaja datang ke kuburuan Siti dan suaminya. Meminta maaf karena telah menganiaya tanpa bukti yang jelas, mendoakan dan mengaji bersama.
Kuburan yang dipenuhi bunga, terlihat begitu Indah, banyak pohon bunga yang tubuh di kuburan Siti dan suaminya.
*******
Sedangkan Bu Ita yang diseret paksa oleh Polisi, Karena wanita itu terus meronta-ronta, tak ingin dimintai keterangan.
"Pak, lepaskan saya. Saya tidak bersalah."
Beberapa pertanyaan para polisi dilayangkan, Bu Ita berusaha menjawab pertanyaan polisi dengan berbohong.
__ADS_1
Namun kebohongan Bu Nita bisa terungkap oleh Polisi, nggak pada akhirnya wanita itu mengatakan semua kejujuran yang sudah ia lakukan bersama Bu suci.
Polisi menekan terus menerus Bu Ita, sampai dengan pasrahnya wanita itu masuk ke dalam.
Dimana ia bertemu dengan sosok wanita yang menjadi sahabatnya itu, Bu Suci terkejut dengan pemandangan yang ia lihat ketika polisi menjebloskan seseorang yang begitu dekat dengannya.
"Bu Ita, loh kenapa?"
Pertanyaan Bu Suci membuat Bu Ita kesal, Kenapa bisa sahabatnya itu tidak menutup mulut, untuk tidak menyeret Bu Ita ke dalam penjara.
"Kenapa kamu sered saya ke dalam penjara?" Bukanya menjawab, Bu Ita malah melayangkan pertanyaan.
"Saya sered kamu masuk ke dalam penjara? Mana mungkin?"
Balas Bu Suci, Iya juga tak membicarakan Bu Ita, menyerednya dalam setiap masalah, saat semua pertanyaan terlontar dari mulut polisi kepadanya.
"Jangan pura pura kamu Bu Suci," wanita itu seakan murka, menjambak rambut panjang Bu suci. Karena rasa kesalnya, bisa masuk ke dalam penjara.
Para tahanan di dalam penjara itu berusaha memisahkan Bu suci dan juga Bu Ita, mereka berteriak meminta bantuan kepada para polisi untuk memisahkan kedua wanita yang bertengkar di dalam penjara.
Polisi datang menghentikan kekacauan itu, mereka terpisahkan, diberi peringatan. Jika bertengkar lagi akan diberi hukuman, pada saat itulah Bu suci dan Bu Ita berhenti mempermasalahkan semua masalah mereka.
Bu Suci menatap ke arah Bu Ita yang tak ingin mengobrol dengannya, wanita tua itu juga tak mengerti, Kenapa bisa seorang sahabat yang begitu dekat dengannya bisa masuk ke dalam penjara. Siapa yang sudah memberitahu bahwa Bu Ita ikut serta dalam kasus kematian Siti?
Karena kejadian kematian Siti itu sangatlah tertutup rapat, tak ada salah satu orang pun yang tahu. Apalagi para ibu ibu, mereka begitu klop dengan Bu Suci, percaya dengan omongan Bu Suci.
Bu Ita tetap berusaha menjauhkan diri, tak ingin bertanya ataupun mengucapkan satu patah kata pun, kepada sahabat yang paling dekat dengannya.
"Bu Ita?"
Panggilan Bu Suci tak dianggap oleh Bu Ita sama sekali. Wanita itu begitu egois dan tak memperdulikan penjelasan dari Bu suci.
"Bu Ita?"
__ADS_1
Padahal Bu Suci awalnya ingin bergantung kepada Bu Ita, karena dirinya yang masuk ke dalam penjara, sengaja agar Bu Ita bisa membebaskannya ke dalam penjara.
Namun dalam kenyataannya Bu Ita malam masuk sama seperti Bu suci, membuat rasa senang itu hilang seketika, menjadikan sebuah kesedihan.