
****Masih Pov Raka. *****
Kini harapanku sirna, aku hanya bisa meratapi nasib yang kian hari membuat aku gila. Inem kini pergi sembari memunguti baju yang berserakan, membuat aku hanya bisa menarik napas merasakan penyesalan.
Darah masih bercucuran dari belakang kepalaku, akibat benturan dari beling kaca yang kini sudah berserakan ke mana mana. Aku berusaha bangkit, hingga tak sadar pecahan beling mengenai kedua lututku.
Entah apa yang aku rasakan saat ini , hanya bisa memungut setiap baju yang berserakan. Berusaha tak memperdulikan luka pada lutut kaki dan juga kepala.
Berjalan ke arah kamar mandi untuk membersihkan diri.
Berjalan gontai, kini merasakan luka yang terasa berdenyut. Semakin lama semakin terasa sakit. Duduk di sofa, tiba tiba Ajeng menghampiriku.
Aku megira jika Ajeng menghampiriku dia berubah pikiran nyatanya.
"Ini ambil Mas, untuk mengobati lukamu yang berdarah itu. Aku berharap besok kamu pergi dari villa ini secepat mungkin, karna aku tak suka lelaki pembohong seperti kamu. "
Aku menarik napas, sesak rasanya dadaku setelah Ajeng berkata seperti itu. Padahal aku kini tengah di buru polisi. Memegang tangan Ajeng berharap dia mau mendengarkan keluahan dan memaafkanku.
"Lepaskan tangan menjijikan kamu itu mas, aku benar benar tak suka."
"Ajeng apa kamu akan membiarkan aku membusuk di penjara?"
"Sudahlah Mas, tak usah memohon lagi padakku. Aku sudah tak mau mempertahankan lelaki seperti kamu lagi. Kamu sudah banyak menyakiti hatiku. "
Padahal aku belum meminta maaf lagi padanya, Ajeng sudah pergi begitu saja. Apa yang harus aku lakukan saat ini. Merayunya pun sudah tak mempan dia terlihat benci sekali padaku.
Aku meratapi nasib, apa ini hukum karma untukku, tapi mana mungkin ada hukun karma di zaman moderen seperti ini masih ada.
Jam masih menujukkan pukul dua malam, kadua mataku belum juga merasakan rasa kantuk. Padahal besok aku harus pergi dari villa mewah ini. Karna kesalahan sendiri aku harus menanggung semuanya.
"Mas, mas bangun. "
Suara itu membuat kedua mataku tak bisa membuka, karna semalaman aku tak bisa tidur.
"Mas."
Aku tetap saja dengan selimutku, tak memperdulikkan teriakan yang terus memamggil namakku.
"Mas, Raka. "
Entah aku berada di alam mimpi atau bagaimana, Bruyyyy .....
__ADS_1
Seketika air membasahi wajah dan juga badanku, membuat aku tentu saja bangun dan merasakan hawa dingin dari air itu.
Ajeng yang ternyata berada di hadapanku kini menenteng ember, dengan menatap wajahku kesal.
"Ajeng, sayang. Apa aku bermimpi tadi malam, aku takut kehilangan kamu sayang. "
Berusaha merayu wanitaku, berharap jika Ajeng berubah pikiran dengan mau memaafkan suaminya ini.
"Mimpi, makan tuh mimpi mas. " Wanita yang menjadi istriku itu seketika melempar ember di depanku, membuat aku kaget.
Kejadian semalam itu berarti bukan mimpi tapi kenyataan, mengusap kasar wajah karena basah dengan air, membuat aku berusaha tetap tenang. Agar Ajeng berusaha mengurungkan niat untuk mengusirku.
Aku berusaha bangkit untuk segera mandi di mana Ajeng melemparkan sebuah handuk dan juga baju ganti untukku. "Cepat mandi dan segera keluar dari sini. "
Kata kata yang terlontar dari mulut Ajeng memang pedas, saat ia marah dan benci kepada seseorang. Aku yang mengakui kesalahan, hanya bisa menghelap napas dan menyadari semuanya.
Saat berjalan menuju kamar mandi, aku melihat Inem dengan koper besar. Dengan wajah menunduk, terlihat sekali ia habis menangis semalaman.
Wajah kami saling beradu, membuat aku hanya cuek dan melupakan kejadian semalam itu.
Entah ada apa dengan diriku ini, sampai melakukan hal yang memalukkan. Setelah sampai di dalam kamar mandi, aku mulai menyalahkan air dengan segera mandi dan membersihkan diri.
Setelah selesai mandi, aku kini menghampiri Ajeng yang berada di luar rumah.
"Sayang."
Ajeng menatap ke arah wajahku, sampai di mana aku memeluk tubuhnya. Akan tetapi, ia mendorong tubuhku. Hingga dimana aku tersungkur jatuh. "Ajeng, kenapa? "
"Mas, aku ingatkan lagi sama kamu. Jangan peluk aku, aku jijik. Jadi jauh jauh oke. "
Aku mulai berdiri, memperlihatkan wajah sedihku. " Ajeng, apa kamu tega membuatku dijalanan? "
Ajeng menatapku dengan wajah sinis, ia menunjuk dada bidangku dengan berkata. " Heh, mas. Kamu laki laki, jadi kamu bisa menyelamatkan diri kamu, kenapa meminta bantuan padaku? Yang jelas jelas aku seorang perempuan. "
Kata kata Ajeng menusuk, membuat aku merasa sangat malu . Sepertinya ia benar benar benci kepadaku.
"Ayo cepat masuk ke dalam mobil, aku akan antarkan kamu sampai keluar dari vila ini. Aku enggak mau nanti polisi sampai tahu jika aku menyembunyikanmu. "
"Ajeng sayang. "
"Sudah jangan panggil aku sayang. Mulai detik ini kamu bukan siapa siapaku lagi. Karna mulai besok aku akan mengugatmu mas. Sebelum kamu masuk ke penjara. "
__ADS_1
Deg ....
Bagaimana ini, Ajeng semakin membuat aku frustasi.
"Ayo naik, mas. "
"kamu mau bawa aku kemana, Ajeng? "
"Keliang kubur Mas! "
Deg ....
"Ajeng, kamu jangan bercanda? "
Ajeng kini menaiki mobil, sedangkan aku masih berdiri dengan rasa takut jika apa yang dikatakan Ajeng memang benar. Kenapa aku menjadi lelaki pengecut seperti ini.
Apa yang harus aku lakukan.
"Ayo mas."
Aku mulai menaiki mobil dengan hati tak tenang. Hatiku sekarang benar benar kacau. "Ajeng. Kamu mau bawa mas ke mana. "
Dalam perjalanan tak ada satu patah katapun yang terucap dari mulut Ajeng, ia tetap saja diam. Sekilas kutatap wajah istriku, apa aku harus membunuh dia? Mana mungkin?
Menghelap napas, berusaha tenang. Hingga beberapa menit kemudia, Ajeng memberhentikan mobilnya di tempat yang sepi.
"Ajeng, ini di mana? "
Bertanya dengan kedua mata yang melihat ke sana ke mari, karna jalanan yang begitu sepi.
"Cepat turun, mas. "
Ajeng memerintah dengan nada tingginya, membuat aku seorang pengecut ini hanya bisa menurut.
Setelah turun, Ajeng mulai menutup pintu mobil dengan keras, "Ajeng. Sayang jangan bercanda kamu. Masa kamu turunin aku di tempat sepi dan hutan begini. "
Ajeng menurunkan kaca mobil sembari menatapku dengan berkata. " selamat menikmati hari harimu mas, aku kasihan sama kamu kalau aku masukan kamu ke dalam penjara. Jadi dengan berbaik hatinya diriku, menurunkan kamu di sini saja. Biar kan para polisi yang mencari kamu, karna aku sudah tidak mau terlibat lagi, oh ya untuk masalah perceraian aku akan urus dan kamu tak usah kuatir untuk tidak datang kepengadilan. Karna semua sudah bisa aku atur sendiri. Bay bay mas. "
Mobil Ajeng kini melaju dengan kecepatan tinggi. Aku berteriak dan memanggil namanya. "Ajeng, sayang. "
Sial, mobil itu sudah melaju jauh dan tak terlihat lagi.
__ADS_1