
Mas Raka datang, berusaha membubarkan keributan antara Kak Indah dan Istrinya Ajeng.
"Ada apa ini, kenapa kalian malah ribut ribut di sini?"
Mas Raka memperlihatkan kemarahanya di depanku dan Kak Indah, membuat jijik jika melihat raut wajah lelaki yang akan menjadi mantan suamiku.
"Heh, Raka. Kamu ajarin tuh istrimu sopan santun jangan sok menghina dan sok pintar begitu. Jijik aku lihatnya." Sindiran kakakku, membuat kedua pipi Ajeng memerah.
Pak Galih yang terkenal pendiam kini ikut serat dalam menyindir, si Ajeng kebule bulean itu.
"Sudahlah Indah, percuma memberitahu suaminya, bukannya suaminya juga sama tak pernah diajarkan sopan santun?"
Terkejut mendengar perkataan Pak Galih membuat aku ikut serta dengan berkata," Iya benar."
Tiba-tiba saja Mas Raka menatapku, tanpa mengejamkan kedua matanya sama sekali. Iya seakan kaget dengan perubahan dan tampilan aku sekarang.
Mas Raka yang berdiri di belakang punggung istrinya, membuat Ajeng heran. Wanita Alot itu membalikkan wajah dan berkata." Mas, kamu kenapa diam saja, balas dong perkataan mereka."
Ajeng memukul dada bidang Mas Raka, membuat aku tersenyum kecil. "Kenapa, Ajeng."
Aku dan yang lainya tertawa melihat Mas Raka sadar dari lamunnya karna menatapku tiada henti.
"Kamu bela aku dong, Don't be silent."
"Okey, kamu tenang dulu, ya."
Saat mulut Mas Raka mulai mengeluarkan perkataan, tiba tiba saja lelaki itu membuatku dan Kak Indah tertawa." ANNA. KAMU CANTIK."
Ajeng yang mendengar ucapan suaminya, membulatkan kedua mata kesal, Mas Raka seakan tak sadar dengan apa yang ia ucapkan. Seperti dirinya terpana dengan kecantikan wajahku.
"What, you are crazy. Mas." Ajeng mencekram kerah baju Ajeng. Membuat aku tersenyum sinis.
Mas Raka berusaha sadar akan ucapanya, ia mengusap kasar wajah dan berkata," Sorry. Ajeng. Aku repleks, mengatakan semua itu, seakan si Anna itu membuat susuk di wajahnya."
Gila, apa yang dikatakan Mas Raka, aku memakai susuk? fitnah yang begitu kejam.
__ADS_1
Kutunjuk wajahnya dan berkata." Kamu ini enggak waras ya, Mas. Aku pakai susuk, yang benar aja."
"Memang ia, pasti kamu pakai susuk. Agar aku terpancing pada kecantikanmu yang murahan itu."
Kak Indah, seperti ingin menampar Mas Raka, akan tetapi aku tahan. Aku tak mau persidanganku kali ini gagal hanya karna keributan tentang wajahku yang berubah karna make-up.
"Kakak tenang saja."
Ajeng kini tersenyum senang, di saat Mas Raka mengatakan kata susuk." Haduh, Anna. Kamu dengar kata suamiku. Kamu pake susuk. Hah meyedihkan sekali."
Aku kini mendekat ke arah Ajeng dan berkata," jika aku memakai susuk kenapa?" Itu tidak akan merugikan kamukan."
"Memang iya. Tapi, itu setandar kalau kamu cantik enggak natural, pake ilmu setan!"
Jawabanya membuat aku ingin meninju bibir jontornya itu biar semakin jontor kaya jalan tol.
"Ajeng setandar kecatikan itu bukanya kaya kamu. Ya," ucap Pak Galih, dengan ekpersi yang jelas jelas akan menyindir kembali Ajeng
"Apa kamu bilang," balas Ajeng dengan kemarahan yang terlihat mengebu gebu.
Pak Galih tersenyum sinis." Anna. Saya berharap, kamu yang cantik ini, harus benar benar berkualitas. Agar tidak seperti wanita di hadapaku ini. Cantik tapi oon dan tak berkualitas."
"Ya terus saya harus katakan apa lagi, memang kamu tidak berkualitas. Kalau memang kamu berkualitas dan kecantikanmu itu tidak setandar. Kenapa kamu mau menikah dengan laki laki beristri?"
Waw, Luar biasa. Balasan yang diberikan Pak Galih sangat sangat Menakjubkan. Aku ingin bersorak di depan wanita alot yang tiba tiba diam membeku, seperti terhebus air es pengunungan himalaya.
Ada apa dengan Mas Raka? Biasanya dia membela wanita alot ini, tapi sekarang dia terus saja memandangi wajahku.
"Eh, wanita alot, sepertinya suami kamu terpincut dengan kecantikan adikku ini." Ucap Kak Indah. Dimana Ajeng mulai menatap kembali kearah Raka, membuat Raka mengusap kasar wajahnya.
"Kenapa Mas, terpana?" Teriaku pada Mas Raka.
Aku dan Kak Indah tertawa terbahak, puas dengan apa yang kami lakukan. Benar apa kata Kak Indah, jika seorang wanita cantik di depan lelaki tidak tahu diri, dia seperti tidak punya malu, terus memandang sang wanita penuh dengan nafsu.
Ibu Mertua kini datang, menghampiri kami yang terus berdebat.
__ADS_1
"Anna."
"Ibu."
Sosok wanita tua itu, seakan terpana dengan kecantikan pada wajahku.
"Anna, kamu begitu cantik."
Pujian lagi dan lagi yang aku dapatkan saat ini, membuat Ajeng semakin kesal, " ibu, bisa tidak. Jangan terlalu memuji dia berlebihan." Bentakan Ajeng membuat ibu mertuaku menundukkan pandangan.
Padahal ibu mertuaku itu dulu adalah orang terkenal pendiam dan juga ucapannya yang lumayan membuat hati orang sakit.
Tapi mertuaku sekarang terlihat begitu lemah, tak berdaya di saat Ajeng menantunya sendiri, membentaknya begitu kejam.
Apa karna harta, ibu bisa takluk begitu saja?
Begitu berperankah sebuah harta? Sampai orang takluk kepadanya.
Dan lagi Mas Raka, kenapa dia tidak membela ibu sama sekali? Ada rasa kasihan, tapi aku mencoba mengubur dalam dalam rasa kasihan itu. Aku tidak mau menjadi Anna yang lemah, diijak ijak harga diri, hingga aku menjadi wanita yang menyedihkan karna kebaikan yang aku punya dimanfaatkan orang.
Pak Galih berusaha menenangkan keributan yang ia lihat, di mana Ajeng masih saja membentak ibu mertua dan menujuk nujuk wajahnya dengan jari tangan. Seakan ia berkuasa dari segala yang ia punya.
"Sebaiknya kita masuk ke persidangan, ini waktu kita tidak banyak."
Ajeng terlihat kesal sekali pada ibu, ia hanya memegang tangan Mas Raka untuk masuk ke ruangan pengadilan, sedangkan ibu. Berjalan tertatih tatih seakan lemah.
"Sudah Anna, kamu jangan mempedulikan wanita tua itu. Bisa saja dia berdrama agar kamu mengasihani dia, tetap pada pendirian kamu. Jangan sia siakan Pak Galih yang sudah membantu kamu hingga titik sekarang. Ingat kamu bukan dirimu yang dulu.".
Perkataan Kak Indah membuat aku perlahan sadar, " Iya kak. Terima kasih sudah selalu mengigatkan Anna."
Kak Indah tersenyum, sedangkan Pak Galih tiba tiba memegang tanganku, membuat kaget.
"Tenang, Anna. Aku hanya menguatkan kamu, agar tidak lemah."
Bertapa terkejutnya aku mendengar perkataan gombal PaK Galih bermuka dingin itu, tak ada ekpresi rama tapi membuat jantung setiap wanita berdebar.
__ADS_1
Kak Indah menyadari apa yang dilihat oleh kedua matanya, ia tiba-tiba saja menyenggol bahuku dengan bahunya sendiri. Membuat kedua pipiku tentu saja memerah, aku benar-benar malu dibuat Pak Galih.
Membuat aku langsung melepaskan tangan Pak Galih.