
Mobil yang mengantarkan Ainun kini sudah sampai, kedua kaki perlahan turun menginjakan pada tanah, melihat ke arah depan. Pemandangan rumah yang terasa nyaman, namun begitu sepi.
Ainun menitihkan air mata setelah mobil pergi meninggalkannya, ia hanya merasakan hebusan angin, melintas begitu saja. Membuat dirinya meberanikan diri melangkah ke rumah yang sudah di sediakan Galih untuk dirinya.
Rumah sepi tanpa penghuni, semakin dekat Ainun melangkah semakin hatinya berat, masih terigat akan perkataan Galih yang membuat hatinya sakit.
Padahal Ainun ingin sekali mengetahui keberadaan Alex dan bertanya Farhan itu anak siapa. Apa dia Alex?
Masih teringat, dimana Galih memarahinya habis habisan, ia sadar dirinya terlalu egois. Hampir saja merusak rumah tangga mantan suaminya itu.
Membuka pintu rumah, dimana rumah itu tak terkunci sama sekali. Ainun tentulaah heran, apa di rumah ada seseorang.
Perlahan pintu di buka, sosok pelayan muda datang, seorang wanita cantik dengan balutan baju khas pelayan di rumah Galih.
"Kamu siapa? "
Pertanyaan dilayangkan, pelayan itu memberikan sebuah ponsel kepada Ainun. Ada satu pesan dari Galih untuk di baca oleh Ainun.
(Kamu bisa tinggal di rumah dengan pelayan itu selama dua bulan, demi kesembuhan kejiwaan kamu. Aku berharap sekali pada kamu Ainun bisa memanfaakan fasilitas yang aku berikan untuk kesembuhan kamu sendiri.)
Sejahat apapun Ainun, Galih tetap memperhatikannya. Tak ada sosok seorang lelaki sebaik Galih, ia begitu bertanggung jawab dan masih mau membantu Ainun. Di saat Ainun banyak melakukan kesalahan.
"Jadi kamu akan melayani saya di sini, dari makan dan keperluan saya?" tanya Ainun, dengan kedua mata memerah.
Pelayan itu melekukan senyum seraya mengganggukan kepala.
"Siapa nama kamu?" tanya Ainun, ia masih berdiri dihadapan sang pelayan dengan memegang kopernya." nama saya, Intan! "
"Ya sudah, tolong tunjukan dimana kamar saya, " perintah Ainun kepada Intan dengan sedikit bernada tinggi, padahal baru saja ia menangis dalam kesedihan karena pastinya Ainun akan tinggal sendirian di dalam rumah yang diberikan Galih.
Nyatanya Galih memberikan sebuah teman untuk menemani dirinya di dalam rumah.
Ainun mulai duduk menyenderkan tubuh di atas sofa yang begitu empuk, hingga pelayan bernama Intan datang lagi, membawakan segelas jus segar untuk segera Ainun minum.
__ADS_1
Tangan mulusnya mulai mengambil air minum, perlahan menenguknya dan terasa begitu menyegarkan saat melewati mulut dan menyebar pada kerongkongan.
"Segarnya."
Pelayan itu memberikan sebuah buku catatan kepada Ainun, ia menaruh pada atas meja. Tentulah membuat wanita berhijab oren itu duduk tegap dan mengambil buku cantatan yang disodorkan Intan.
"Apa ini?"
Ainun bertanya tanpa melihat isi catatan dalam buku itu.
"Silahkan anda baca, Nyonya!" Menyuruh dengan nada sopan, kedua mata Ainun melihat ke arah buku yang sudah tertera tulisan.
Membaca perlahan, kedua mata Ainun membulat," Maksud kamu, aku tinggal di sini harus mengajih kamu gitu?"
Intan menganggukan kepala, dimana Ainun masih tak percaya, ia mengira jika Galih memberikannya percuma.
"Tuan Galih menyuruh anda untuk bekerja dan memenuhi kebutuhan rumah ini, katanya tidak ada yang geratis di dunia ini."
Meleparkan buku yang diberikan pelayan itu, kekaguman Ainun kepada Galih kini berubah menjadi benci. "Sial, dari mana aku dapat pekerjaan. Aku ini ingin bersantai santai." Gerutu hati Ainun.
"Ya ampun aku kerja apa, biar bisa gaji kamu," balas Ainun, memikirkan sebuah pekerjaan agar dirinya menghasilkan uang.
"Tuan Galih memberikan peluang untuk anda bekerja, dan lagi anda tak usah kuatir gaji saya hanya satu juta saja," balas Intan dengan menampilkan senyum ramahnya setelah selesai berbicara.
Tadinya Ainun akan mengusir Intan dari rumah, karena ia takut tak sanggup membayar pelayan dari rumah Galih, tapi saat gadis cantik itu menyebutkan nominal bayarnya begitu terdengar kecil.
"Baiklah aku akan bekerja, apa kamu punya alamat tujuan lowongan pekerjaan yang diberikan Galih kepadaku?" tanya Ainun, pada akhirnya Intan menunjukkan alamat pekerjaan untuk sang nyonya, dimana Ainun mengingat akan dirinya yang menyukai bidang bisnis. Membuat kata kata semangat tiba tiba tumbuh."
"Ya sudah saya akan memberitahu Tuan Galih besok!" jawab Intan, membuat Ainun yang duduk. Kini menatap ke arah pelayannya.
"Kenapa tidak sekarang, besokkan tinggal kerja, " ucap cetus Ainun. Menatap tajam kearah Intan, seakan dirinya tidak mau menunda nunda lama. Ingin segera menghirup udara segar diluar dan membiasakan diri bergaul dengan orang-orang.
Walau ada rasa tak yakin, tapi demi hidupnya lebih baik, Ainun berusaha berubah. Ia juga perlahan menyadari jika dirinya tak berhak merebut lelaki yang kini sudah dimiliki orang lain.
__ADS_1
Ainun bertanya lagi, " memangnya sekarang kenapa dengan Galih?"
"Sebenarnya ...."
Intan tak berani mengatakan tentang tuanya, ia takut jika nanti Ainun ikut campur.
"Sebenarnya kenapa? Sudahlah katakan yang sebenarnya, aku juga tidak akan ikut campur lagi urusan mereka. Aku akan berusaha berubah."
Perkataan Ainun begitu menyakinkan Intan, hingga dimana gadis cantik berbola mata bulat mengatakan keberadaan sang tuan.
"Tuan masih di rumah sakit, karena Nyonya Anna akan menjalani oprasi."
Bertapa kagetnya Ainun, ia mengira jika Anna akan baik baik saja dan segera sembuh. Tapi kenyataanya Anna dioprasi.
"Kenapa bisa dia di oprasi?"
Intan belum tahu secara detail, ia hanya menjawab. " Saya kurang tahu. Nyonya, hanya saja saya pernah mendengar jika Nyonya Anna itu mengalami amesia."
"Amesia?"
Intan walau pun seorang pelayan dia juga pandai bergosip hingga memberi tahu lagi Ainun." Karena kecelakaan dengan calon suaminya, yang saya tahu calon suaminya itu teman Tuan Galih."
"Teman Galih, yang aku tahu hanyalah Daniel, lelaki baj*ng*n tak tahu diri itu."
Intan yang mendengar nama Daniel disebut oleh Ainun, membuat ia menimpal." Iya teman Tuan Galih, Daniel."
"Apa." Kedua mata membulat, terkejut dengan pernyataan yang terlontar dari mulut Intan.
"Intan, kamu jangan mengada-ngada. Yang benar lah kamu, masa ia. Aku masih tak percaya dengan perkataan kamu."
"Ya sudah, nyonya. Kalau nggak percaya, saya bicara apa adanya, tidak pernah mengada ngada."
Intan berlalu pergi untuk menyiapkan makan malam untuk Ainun, untung saja Galih begitu baik menyiapkan persediaan makanan selama sebulan.
__ADS_1
"Intan kamu mau ke mana?" tanya Ainun. Disaat Intan berjalan menuju ke dapur.
"Saya mau masak, nyonya. Nanti nyonya pasti lapar!" jawab Intan, memang perut Ainun merasakan rasa lapar yang amat terasa perih, setelah menghampiri Galih ke rumah sakit, ia lupa makan siang. Hingga tubuhnya sekarang terasa begitu lemas dan tak berdaya.