
Pagi hari. Nita sudah bersiap siap, untuk pergi ke rumah sakit menemui sang tante. Ia merapihkan kamar setelah, berhias seadaanya.
Tok .... Tok .....
Ketukan pintu dilayangkan beberapa kali, Nita bergegas membuka pintu, terlihat Bu Nira sudah rapi dengan pakaiannya.
"Nita, sebelum kita berangkat. Kita sarapan dulu, pasti kamu lapar kan," ajak Bu Nira pada Nita.
"Mm, iya. Bu," balas Nita. Ia kini keluar dari kamar, dengan calon mertuanya, terlihat hidangan di atas meja sudah tersedia dan senyuman Saiful.
Sejak kapan calon suaminya sudah duduk di atas kursi meja makan. " Hai."
Sapaan Saiful membuat Nita sedikit malu, bagaimana tidak malunya Nita, kejadian semalam masih teringat olehnya. Ciuman itu, rasanya memalukkan.
"Ayo duduk, Nita. "
Duduk dan mulai menikmati masakan yang sudah dihidangkan ibu mertua. Perlahan Nita menyuapkan makanan, dimana wajah dan tatapan Saiful terus menatap ke arahnya.
"Mm, makan ayo Saiful," ucap sang ibunda, Saiful langsung memegang sendok, menyuapkan nasi ke mulut pandangnnya tak lepas ke arah Nita.
Bu Nira melihat pemandangan itu hanya menggelangkan kepala, memaklumi cinta kedua anak remaja.
"Bagaiman masakan Ibu, enak?"
Nita menganggukkan kepala, menikmati setiap suapan demi suapan ke mulut. " Enak bu, enak sekali."
Bu Nira tanpak tersenyum lebar, mendengar pujian terlontar dari mulut calon menantunya.
Acara sarapan pagi sudah selesai, waktunya. Nita dan yang lainnya berangkat, semua sudah tak sabar ingin bertemu dengan Bu Suci.
Di dalam perjalanan menuju mobil, " Nita, pernikahan kamu sebentar lagi, kamu harus bersiap menjaga kondisi tubuh kamu."
Nita menjawab," iya bu. Setelah menjenguk Bu Suci, Nita akan menjaga kondisi tubuh Nita kok bu, ibu tenang saja ya."
Bu Nira sangat menghuatirkan calon menantunnya itu ia mengusap pelan bahu Nita dan berkata." syukurlah, ibu takut kondisi kamu drop hanya karena mencari anak itu. Biar nanti setelah repsesi, dan pernikahan selesai, pencarian anak itu baru di mulai lagi."
Apa yang dikatakan Bu Nira memang betul, acara pernikahan sudah hampir dekat, dan Nita masih sibuk mencari keberadaan Lulu yang tak ditemukan sampai sekarang.
__ADS_1
Nita berharap sekali, jika Lulu sekarang bisa ditemukan, karena harapannya besar sekali.
"Semoga ada petunjuk baru."
Sampai di rumah sakit tempat Bu Suci di rawat, Nita melihat tantenya itu terbaring lemah di atas ranjang tempat tidur rumah sakit, keadaannya sangat mengkhawatirkan, di mana leher diberi alat agar tetap pada posisinya.
Sebelum masuk ke ruangan Bu suci, Nita meminta izin terlebih dahulu kepada polisi yang berjaga di luar ruangan tantenya.
"Pak, apa boleh saya masuk?" tanya Nita. Tak mudah masuk ke dalam ruangan Bu suci, harus mempunyai surat penjengukan terlebih dahulu.
Sedangkan Nita lupa meminta surat itu, ia memohon kepada polisi untuk bisa masuk ke ruangan sang tante.
Melihat raut wajah Nita sudah basah dengan air mata, membuat polisi sebenarnya tak tega.
Bu Nira meminta kepada polisi keringanan agar kita masuk ke dalam ruangan," Baiklah kalau begitu hanya satu orang saja yang boleh masuk ke ruangan ini."
Mendengar hal itu pastinya membuatmu Nita sangatlah senang, iya mulai masuk ke dalam ruangan.
"Tante."
Mendengar suara yang diucapkan oleh Nita, membuat wanita tua itu terbangun, menatap ke arah sang keponakan, bibir terasa berat kerongkongan begitu sakit. Ingin rasanya Bu Suci berbicara namun mulutnya tak kuasa.
Bu Suci berusaha menggerakkan tangannya, air mata perlahan jatuh mengenai kedua pipi, Nita melihat kesedihan itu, perlahan mengusap air mata yang terus jatuh mengenai pipinya.
"Tente, Kenapa menangis?"
Salah satu suster datang menjelaskan keadaan pasien yang sekarang," Maaf sebelumnya. Apa anda keluarga dari Bu suci?"
"Iya sus!" mengusap perlahan air mata yang terus berjatuhan, Nita berusaha mendengarkan penjelasan suster.
" Pasien mengalami pergeseran tulang leher, membuat pasien sulit berbicara," ungkap suster. Padahal Bu Suci ingin sekali memberitahu alamat orang tua angkat Lulu.
Di saat percakapan Nita dan juga suster, Bu Suci malah menumpahkan air, ingin mengatakan sesuatu hal, suster melarang Bu Suci untuk berbicara. Karena keadaan pasien yang belum stabil, sampai diharuskan untuk memaksakan diri berbicara.
Bu Suci mulai menunjuk ke arah kertas yang tengah dipegang oleh suster, di mana Nita mengerti," tante ingin mengatakan sesuatu?"
Bu Suci berusaha menggerakkan kepalanya, Walau terasa sangat sakit, demi kebaikan Nita agar bisa menemukan Lulu secepat mungkin. Nita kini meminta lembar kertas pada suster, beserta bolpoin yang dipegang oleh Suster itu.
__ADS_1
Perlahan Nita memberikan pada tangan Bu suci yang bergetar, wanita tua itu memaksakan diri untuk menulis sesuatu.
Walau sedikit berantakan namun membuat wanita paham akan tulisan tantenya, Bu Suci mulai memberikan kertas putih yang berisi tulisan kepada keponakannya.
Nita mengambil kertas putih itu, melihat alamat yang ditunjukkan oleh Bu suci." apa ini alamat Lulu?"
Bu Suci mengganggukan kepala, dimana Nita tersenyum, merasa senang jika sang tante rela berkorban hanya demi mendapatkan alamat keberadaan Lulu yang sekarang.
Nita mulai menggenggam lembaran kertas berisi alamat itu, hari ini juga ia akan mencari keberadaan Lulu, meminta bantuan kepada Saiful. memberitahu kepada kedua orang tua Lulu.
Meraih tangan sang tante dan berterima kasih kepadanya," Terima kasih Tante sudah membantu Nita saat ini."
Wajah pucat dengan kedua mata yang terlihat sayu, Bu Suci tersenyum kecil, hinggal di mana sesuatu yang tak diinginkan terjadi.
Jantung wanita tua itu tiba-tiba berdetak begitu cepat, napas terlihat berburu, memperlihatkan rasa sakit.
Nita seketika panik, begitupun dengan suster.
"Tante, kenapa?" Berteriak memanggil sang tante, namun Bu Suci tetap saja tidak sadarkan diri. Iya terlihat seperti orang yang tengah merenggut nyawa.
"Tente bertahan!"
suster terburu-buru mencari keberadaan dokter untuk segera menangani pasien.
Bu Nira dan Saiful yang menunggu di luar ruangan, penasaran dengan apa yang sedang terjadi. Dimana Mereka melihat suster berlari untuk mencari dokter," apa yang sebenarnya terjadi dengan Bu suci."
Bu Nira begitu sangat penasaran, dengan keadaan bu suci, sampai dokter berlarian masuk ke ruangan.
Nita yang berada di samping sang tante berusaha menguatkan diri, berpikir jika tantenya akan baik-baik saja.
Melihat Bu suci yang ditangani oleh dokter, membuat Nita merasa tak tega, menangis dan merasakan rasa bersalah, karena memaksakan sang tante untuk berbicara.
"Tente bertahanlah,"
Dokter sebisa mungkin menangani sang pasien, namun karena kondisi ibu Suci yang drop, membuat wanita tua itu tak bisa bertahan lagi.
Hingga akhirnya dokter menyerah, karena sang pasien sudah dijemput sang Ilahi.
__ADS_1
"Inalilahi wa Innalillahi roji'un."
mendengar dokter berkata seperti itu, membuat Nita seketika menangis menjerit meronta. mendekat ke arah sang tante.