Dibalik Diamnya Mertuaku

Dibalik Diamnya Mertuaku
Bab 38 Jam 19:00 Pak Galih datang


__ADS_3

"Anna, kamu kenapa?"


Tangan Kak Indah membuyarkan lamunan, disaat kedua mata ini menatap poto dengan seksama. Wajah itu? Begitu jelas, tak percaya rasanya.


"Anna, Hellau."


"Eh, i-ya. Kak. Ke-na-pa?"


"Kamu ini kenapa? Dari tadi melamun terus. Liat apa sih?"


"Enggak liat apa-apa kok, kak!"


Aku berjalan pergi meninggalkan kak Indah yang masih melongo bertanya-tanya.


"Anna, weyy."


Mengabaikan ucapannya, aku kini mulai berjalan ke arah pintu kamar. Tanganku bergetar saat melihat orang dalam poto ini, sebenarnya apa tujuan dia?


Dreet ....


Suara ponsel kembali berdering, membuat aku langsung mengangkat panggilan telepon.


"Hallo."


"Anna, apa kamu baik baik saja?"


"Saya baik baik saja, pak!"


"Jadi kamu mengenal orang itu?"


"Ya, saya sangat mengenal dia. Dia orang baik dan selalu menjadi pelindung saya dari omelan ibu mertua. Tapi kenapa?"


"Kamu harus tenang, Anna. Kita tidak pernah tahu hati seseorang. Niat dia baik atau tidaknya!"


"Baik pak."


"Ya sudah, besok kamu harus siap-siap. Untuk kepegadilan."


Aku langsung mematikkan panggilan telepon, saat gedoran pintu terdengar keras.


"Iya tunggu."


Membuka pintu kamar, tidak ada satu orang pun di luar, siapa tadi? Perlahan mencari keberadaan orang yang sengaja mengetuk pintu, hingga akhirnya.


"Waaaahhh."


Betapa terkejutnya aku, tiba tiba anak-anak dengan sengaja mengagetkanku.


"KALIAN INI, BISA TIDAK JANGAN MEGANGETKAN MAMAH." Bentakku pada anak anak. Seketika mereka terdiam, di saat kata kata kesalku keluar.


Raut wajah bersalah, mereka tampilkan didepanku.


"Mamah."


Mata mereka berkaca kaca, menahan air mata. Sedangkan dadaku naik turun, menahan rasa kesal.


Mengusap kasar wajah, apa yang sudah aku lakukan?


Karna teror itu, membuat aku menjadi semakin waspada dan ketakutan. Perlahan aku mulai mendekap mereka berdua," Radit, Farhan. Jangan begitu ya, itu tidak baik. Maafin mamah ya."


Mereka berdua kini mengakui kesalahan atas kejahilan yang sudah dilakukan." Kami tidak akan mengulanginya lagi, mah. Maafkan Farhan dan Radit ya."

__ADS_1


Aku menganggukan kepala, memperlihatkan senyuman untuk mereka berdua." kalian janjikan."


"Janji."


"Ya, sudah. Mamah sekarang mau masak makan malam untuk kalian. Kalian tunggu dulu di kamar ya."


"Iya, mah."


Aku berjalan menuju ruangan dapur, untuk segera memasak. Pikiranku masih tertuju dengan poto yang dikirim Pak Galih.


"Aw."


Astaga, baru saja memotong bawang merah, jari tangaku terkena sayapan pisau.


"Anna."


"Iya, kak."


"Kamu kenapa? Tangan kamu berdarah."


"Hanya sedikit, kak!"


"Kamu ini kenapa? Dari tadi melamun terus. Apa yang kamu pikirkan?"


Apa aku harus bercerita, tentang masalahku saat ini. Aku takut membuat beban untuk Kak Indah.


"Sebenarnya."


Tiba tiba saja, ponsel Kak Indah berdering. Membuat ia langsung mengangkat panggilan telepon dan pergi dari hadapanku.


Sepertinya aku harus menyimpan rahasia ini, kalau kak Indah tahu, dia pasti akan kesulitan menangani masalahnya.


Melanjutkan kembali aktifitas memasakku.


Setelah selesai memasak, aku mulai menyajikan setiap makanan yang sudah aku buat.


"Mm, akhirnya selesai juga."


Aku mulai memanggil anak anak, untuk segera makan di meja makan. Hingga di mana mereka berlarian merasa senang.


"Yeh, makan."


"Radit, Farhan. Kalian makan duluan ya, mamah mau mengantarkan nasi goreng ini buat tante."


Farhan dan Radit menganggukkan kepala, setelah mendengar ucapanku. Mereka dengan lahapnya memakan hidangan yang sudah aku sediakan.


Tok ... tok ....


Mengetuk pintu hingga di mana.


"Masuk."


Perlahan membuka pintu, Kak Indah terlihat sudah menangis. Hidung dan pipinya memerah, mengusap ngusap dengan tisu.


"Kak, dimakan ya." Meletakan piring pada meja makan.


"Ya, makasih ya. An." Terdengar suara isakan dari ucapan Kak Indah.


Tanganku perlahan memegang punggung tanganya dan berkata," kakak, jangan pikirkan sesuatu yang membuat hati kakak sedih, lepaskan semua masalah. Kita cari jalan solusinya, jika kakak terus memikirkan masalah ini, yang ada kakak akan sakit, dan Kak Indah yang rugi sendiri. Percaya pada Anna, semua akan baik baik saja."


Kak Indah hanya menganggukan kepala seakan mengerti apa yang aku katakan.

__ADS_1


"Ya sudah, aku pergi dulu untuk makan bersama anak anak. Kalau kakak butuh apa apa, panggil aku saja ya."


"Iya, An. Makasih ya, sudah buat hati kakak sedikit lega."


"Iya, ya sudah, sekarang kakak makan nasi goreng sepesialnya. Apa mau Anna suapin?"


"Mm, eggak usah. Orang kakak udah gede, masa di suapin. Malu maluin."


"Hehhe."


Saat itulah aku mulai berdiri, melangkah untuk ke luar kamar tidur kak Indah.


Baru menutup pintu rumah, suara ketukan pintu terdengar kembali.


Hari ini padahal hari selasa, kenapa banyak tamu yang datang. Hah, bikin kesal saja.


Perlahan berjalan, mengintip sebentar pada jendela rumah. Siapa yang datang?


"Pak Galih?"


Dengan segera aku membuka pintu rumah," Pak Galih? Loh ke sini. Bukanya besok ya?"


Lelaki berkumis tipis dengan bola matanya yang berwarna coklat kini tersenyum kembali.


"Ada hal penting yang harus saya omongin sekarang."


"Hal penting?"


"Ya! Boleh saya masuk?"


"Oh ya, silahkan. Pak!"


Aku langsung mempersilahkan Pak Galih masuk ke dalam rumah, di mana ia mau membicarakan hal yang penting, membuat aku tentu saja penasaran.


Pak Galih kini duduk, pada kursi. Dimana aku mulai beranjak pergi untuk mengambilkan air minum untuknya.


Namun, Pak Galih malah menahan tanganku dan berkata." Jangan pergi."


Aku menatap ke arah tangannya yang memegang erat tanganku. Seketika kedua pipi lelaki itu memerah.


"Maaf."


Karna reaksinya seperti itu, aku mulai duduk dan bertanya kembali." Ada apa pak?"


"Saya ke sini, sebenarnya kuatir sama kamu. Saya curiga jika orang itu malah meneror kamu!"


Aku tak menyangka jika Pak Galih merasakan hal yang aku rasakan saat ini, hati ini benar benar terasa sedikit tenang. Jika ada yang menghuatirkan keadaanku saat ini.


"Sebenarnya, saya juga sedikit was was, sekarang. Karna tadi siang ada orang yang sama percis dipoto itu mengetuk pintu beberapa kali, seperti emosi."


"Apa kamu membuka pintu rumah?"


"Tidak pak, saya mengamankan dulu anak anak. Jika tidak saya takut orang itu mengincar anak anak saya!"


"Dari awal setelah mengecek CCTV rumah sakit, saya juga sudah curiga. Maka dari itu saya datang ke sini, kalau menurut perkiraan kamu, siapa orangnya."


"Namanya CCTV, agak terlihat buram ya, pak. Pekiraan saya itu Bu Sumyati, karna postur tubuhnya yang besar."


Pak Galih menganggukan kepala, " saya pikir tadinya itu Bu Nunik, karna awal masuk rumah sakit yang mengancam Radit. Bu Nunik."


"Tadinya saya mengira begitu, tapi kenapa. Bu Sumyati melakukan hal itu, apa tujuan dia? Bukanya dia selalu membela saya di saat saya di hina oleh Bu Nunik dan juga Ibu mertua."

__ADS_1


__ADS_2