Dibalik Diamnya Mertuaku

Dibalik Diamnya Mertuaku
Bab 253 Sebuah cincin


__ADS_3

"Loh, ibu kok tega. Tapi bagus juga, Bu Suci memang harus di beri pelajaran kali kali," ucap Saiful mengendarai mobil.


"Memang iya, wanita tua itu keterlaluan sekali, dia tidak punya perasaan. Keponakannya sendiri di musuhi dasar tak waras, " balas Bu Nira, kedua anak dan ibu tetap mendukung Nita, mereka tahu jika Nita adalah anak yang baik.


Angin berhembus, tak terasa perjalanan mereka sudah sampai di tempat tujuan. Bu Nira turun pada motor yang dikedarai anaknya, para ibu ibu datang dengan kemarahan menggebu.


"Bu Nira, kami marah ya sama ibu, tega teganya ninggalin kami sendirian." Hardik para ibu ibu, wajah mereka memerah di selimuti amarah.


Saiful anak lelaki satu satunya Bu Nira, mencoba menenangkan para ibu ibu yang berkerumun, menyalahkan ibunya.


"Maksud kalian apa? Kenapa kalian memarahi ibu saya?"


Pertanyaan Saiful membuat ibu ibu dengan lantang membalas," heh. Saiful ibu kamu itu tega ninggalin kami semua, kami ini ingin ikut melihat Bu Suci, sekalian mendukung kebenaran. "


Bu Nira hanya diam, melihat pada ibu ibu itu murka, ia tak mau salah dalam berucap.


"Ibu ibu yakin ingin ikut, ibu lihat sendirikan mobil ibu saya tak ada, ibu saya pulang naik motor. "


Para ibu ibu melihat ke arah sisi kanan kiri, memang tak ada mobil Bu Nira, dimana Bu Nira pergi dengan mengendarai mobil.


"Terus kalau ibu ibu ikut, otomatis ibu pulang naik angkot. Tahu sendirikan perjalanan menuju pulang cukup jauh dan harus naik angkot beberapa kali. Emang ibu ibu mau kaya begitu?" tanya Saiful, memberi alasan yang pasti, agar ibu ibu di kampung tidak menyalahkan Bu Nira.


"Enggak sih!" jawab salah ibu ibu di kerumunan.


"Makanya itu kenapa ibu saya tidak mengajak kalian, apapun itu pasti ada alasannya," ucap Saiful, berusaha tenang memberi penjelasan pada ibu ibu.


Mereka kini meminta maaf satu persatu kepada Bu Nira, tanpa menanyakan keadaan Bu Suci, dimana wanita tua itu pastinya kebingungan untuk pulang.


"Ya sudah, maafin kami ya Bu Nira, kami sudah salah sangka dan suhuzon. Kalau begitu kami pamit pulang."


Bu Nira memperlihatkan senyuman, ia tak memperpanjang masalah, tetap diam dan berusaha tenang.


"Bu Nira, nggak marah kan?" tanya para ibu ibu, karena ibunda Saiful tidak menjawab ucapan para ibu ibu di kampung.


Menggelangkan kepala dan mulai berucap. " Tidak kok, ibu ibu. Saya tidak marah, harusnya saya tadi bicara dulu sama kalian. Tapi karena terburu buru jadi pergi begitu saja."


"Tuh, ibu ibu lihat sendirikan. Ibu saya, bagaimana pun di salahkan tetap lapang dada menerima permintaan maaf kalian," timpal Saiful, terlihat masih menyimpan rasa kesal pada para ibu-ibu.

__ADS_1


"Iya, memang Bu Nira itu. Baik, beda dengan kita kita." Mereka semua menyadari kelakuan mereka sendiri. Sampai pergi berbondong bondong.


Para ibu ibu dikampung sudah pergi jauh, waktunya Bu Nira dan Saiful masuk ke dalam rumah.


"Mm, untung kamu dukung ibu, Ful. Kalau nggak, habis ibu di keroyok mereka," ucap Bu Nira, pada anaknya.


"Ya, bu. Habisnya ibu nggak kaya mereka, ibu dukung Saiful dengan Nira, jadi Saiful juga nggak mau lihat ibu di buat kesal oleh mereka semua," balas Saiful.


Nira begitu beruntungnya, mendapatkan anak seperti Saiful yang selalu berpihak padanya, apapun keinginannya, Bu Nira selalu memenuhi karena berkat dia.


Bu Nira menjadi orang terpandang di kampung halaman," ibu selalu doakan kamu yang terbaik. Mau jodoh dengan Nita pun ibu senang, asalkan kamu bahagia."


Saiful menggengam erat tangan sang ibunda, " jadi ibu dukung saiful kalau nikah sama Nita. "


Sang ibu menganggukan kepala dan berkata," ya, Nita itu anak baik, Ful. Nama ibu dan Nita juga hampir sama."


"Iya juga ya, bu."


Tawa keduanya begitu renyah, mereka merasakan kehangatan akan namanya keluarga yang saling mendukung satu sama lain.


Kepergian sang ayah tak membuat mereka terpuruk, mereka bangkit dan menjadi sosok ibu dan anak yang bahagia.


Saiful merengek, meminta pada sang ibunda untuk di Izinkan pergi menemui Nita kembali.


"Oke, asalkan pulangnya jangan larut malam ya."


"Siap."


Saiful mulai beranjak pergi menuju ke dalam kamarnya, sepertinya iya langsung membersihkan diri dengan mandi.


Tubuhnya yang penuh keringat, tak memungkinkan ia langsung pergi begitu saja menemui Nita.


Saiful ingin berdandan rapi terlebih dahulu, karena ia tahu menemui seorang wanita harus selalu tercium wangi dan terlihat tampan.


Agar sang wanita mampu terpana dan menerima cintanya, " semoga saja Nita tidak menolakku lagi."


Saiful membuka laci di kamarnya, sudah lama ia menyimpan sebuah perhiasan yang selalu ia beli dan kumpulkan, untuk nanti ketika sudah mempunyai seorang istri.

__ADS_1


Setiap kali Saiful gajian, ya tidak pernah absen untuk membeli perhiasan. Ia bagi bersama ibunya itu, satu untuk Ibunya dan satu untuk istrinya nanti.


Saiful Mulai mengambil satu kotak kecil yang ia simpan sejak lama, melihat dalam kota kecil itu adalah sebuah cincin untuk melamar seorang wanita.


Sebenarnya iya belum siap sepenuhnya, karena takut ditolak untuk kedua kalinya, tapi karena rasa cintanya yang begitu dalam terhadap Nita, membuat ia benar-benar siap dan tidak mau berputus asa.


Saiful ingin mendapatkan cinta Nita yang sesungguhnya, tanpa halangan apapun. Ia tak ingin gagal di tengah jalan begitu saja, Saiful tidak mau jika Nita jatuh ke tangan laki-laki lain.


Setelah memandangi kota kecil itu, Saiful bergegas meraih handuk, untuk segera mandi.


Sang ibunda, masuk begitu saja ke kamar anaknya.


Bu Nira melihat sebuah kotak kecil, membuat wanita tua itu penasaran. Sampai dimana, " hah, sebuah cincin."


Suara Saiful yang selesai mandi, malah mengagetkan Bu Nira, memegang kotak kecil itu. Bu Nira bergegas pergi, karena suara anaknya keluar dari kamar mandi.


Saiful, mengeringkan rambutnya yang basah, tidak cukup waktu yang lama untuk terburu-buru mandi, dengan kecepatan extra. Saiful sudah membersihkan seluruh tubuhnya.


Membuka pintu lemari, Saiful langsung memilih-milih bajunya menurut ia pantas saat melamar wanitanya.


"Sepertinya ini cocok."


Lelaki berbadan kekar itu akhirnya memilih baju kemeja dan juga celana jeans berwarna abu-abu.


Saat Saiful selesai memakai baju yang di pilihnya, ia muali berjalan menuju cermin. Menatap penampilannya kini sudah rapih.


Tangan meraih parfum, menyemprotkan kepada baju agar tercium wangi, dan mampu membuat Nita betah saat dekat dengannya.


Saiful mulai merapikan rambut menyisirnya dengan perlahan. Hingga penampilannya pun selesai.


Tinggal memakai sebuah sepatu, mungkin akan membuat tampilannya menjadi lebih keren.


Dan benar saja, penampilannya terlihat begitu sempurna.


Setelah merapikan kerah baju, Saiful Mulai mengambil kotak kecil berisi cincin.


"Loh kemana kotak kecil itu?"

__ADS_1


Kotak kecil yang sengaja ia simpan di atas meja tiba-tiba saja menghilang.


__ADS_2