Dibalik Diamnya Mertuaku

Dibalik Diamnya Mertuaku
Bab 33 Tak menyangka.


__ADS_3

Wanita yang berada di hadapanku kini menunjuk-nujuk dikala aku menyebutnya bodoh.


"Kurang ajar kamu, berani beraninya kamu mengatai aku bodoh. Ngomong aja kamu kesalkan karna suami kakak kamu dapat yang terbaik seperti aku."


Aku memajukan bibir bawah, saat wanita itu marah.


Melipatkan kedua tangan dan berkata," siapa yang kesal. Aku malah senang, melihat mantan suami kakaku menikah dengan wanita model alay seperti kamu."


"Apa kamu bilang alay."


Wanita itu mendengus kesal, ia memegang dada, berusaha tetap tenang menghadapi aku.


"Kenapa, mau marah, marah aja."


Menantang dia, memancing keributan, agar Mas Danu sadar dan meminta maaf.


"Heh, kamu. Siapa tadi nama kamu, aku lupa?"


Pertanyaan wanita dihadapanku membuat aku tersenyum sinis.


"Namaku, Anna. Masih muda kok pelupa, pantas saja selera rendahan. Wajah muda jiwa nenek nenek, sudah pikun!"


Jawabanku, membuat Pak Galih tertawa.


"Apa kamu bilang, ihk."


Aku melihat kekesalan dari diri wanita muda itu, ia nampaknya stres saat aku terus membuat emosinya naik.


"Asal kamu tahu ya, Anna. Kenapa Mas Danu selingkuh denganku."


Belum ucapan wanita bernama Siren itu terlontar semuanya, Mas Danu kini menutup mulut Siren dengan telapak tangan, ia berusaha menarik istrinya untuk segera pergi dari hadapanku.


Siren yang memang marah kepadaku, langsung melepaskan tangan Mas Danu dari mulutnya.


"Mas, kamu ini kenapa membekam mulutku segela. Sakit tahu." Bentak Siren pada Mas Danu.


Lelaki yang menjadi mantan suami Kak Indah, menempelkan jari tanganya pada bibir.


"Biarkan saja aku katakan yang sebenarnya mas, kenapa kamu malah melarangku, aku membela diriku sendiri, harusnya kamu menjadi suamiku bela aku jangan malah menutupi kekurangan mantan istrimu." Siren semakin menjadi jadi ia, memarahi Mas Danu di depanku. Membuat Mas Danu berusaha menghentikan ocehannya istrinya.


"Siren, ini rumah sakit, sebaiknya kita cepat periksa kandunganmu ya," Mas Danu berusaha membujuk Siren untuk diam.


Akan tetapi Siren yang memang sudah kesal dengan amarahnya yang menggebu pada hatinya, tak bisa di bujuk lagi oleh apapun.

__ADS_1


"Siren, please. Nanti setelah pemeriksaan kita makan es krim ya, sayang. Yuk."


Mas Danu terus saja membujuk istrinya, seperti membujuk anak kecil.


Wanita muda dengan rambut panjangnya yang lurus menatap ke arah wajahku, badanya putih seperti kapur mayat. Kini melipakan kedua tanganya," eh. Kamu. Asala kamu tahu ya, kenapa suamiku memilih aku yang cantik, semok dan bohay ini. Karna aku bisa ngasih suamiku keturunan, kamu catat ini keturunan. Kamu paham."


Aku mengertukan dahi, sedangkan Mas Danu. Masih diam di saat Siren kini meneruskan perkataanya," kamu ini harusnya menasehati kakakmu sendiri. Bukan malah menghinaku, tanya sono sama kakakmu yang namanya Indah tapi tak sempurna. Kenapa dia tidak bisa memberikan keturunan pada suaminya? Yang sekarang menjadi suamiku."


Aku membulatkan kedua mataku, setelah wanita itu mengatakan bahwa kakaku bukan wanita sempurna. Tangan ini tiba tiba mengepal.


"Kenapa diam, baru tahu? Mm, jelas. Pasti kakakmu itu tak memberitahu keadaanya ya. Bahwa dia itu mandul."


Palkkkk ....


Dadaku naik turun, tak bisa mengontrol emosi yang sudah meluap ke kepala," jaga ucapanmu, kakakku itu tidak mandul."


Wanita muda bernama siren kini memegang pipinya, merasakan rasa sakit, akibat tamparanku.


Dia berdecak kesal, mengigit giginya, seperti ingin membalas tamparanku.


Mas Danu, kini mulai membela istrinya dihadapanku setelah melihat aku menampar wanita muda itu.


"Anna, kamu kenapa tampar istriku."


Siren tertawa terbahak bahak, saat aku tak menerima perkataannya yang mengatai Kak Indah mandul.


"Helo, Anna. Kamu ini jadi orang enggak percaya banget, coba kamu tanyakan, pada mantan kakak iparmu ini."


Siren menujuk ke arah Mas Danu, membuat bibir Mas Danu tiba tiba bergetar.


"Jawab Mas Danu."


Saat itulah lelaki yang diangap kakak selingkuh, mengatakan apa yang sebenarnya terjadi dalam rumah tangga mereka.


"Benar apa yang dikatakan istriku. Bahwa kakakmu itu mandul. Maka dari itu akan berselingkuh mencari wanita yang bisa memberikan aku keturunan."


Perkataan lelaki dihadapanku, membuat hatiku sakit. "Semua itu hanya akal akalanmu saja, Mas Danu. Kamu mengatakan semua ini, karna kamu tak ingin tersalahkan oleh keluarga kamu, bukan begitu."


Betapa beraninya aku menghadapi lelaki yang sudah menyakiti hati Kakakku, padahal aku selalu lemah jika masalah dalam berdebat.


"Heh, sudahlah. Kalau mandul ya mandul jangan mengelak lagi." Timpal Siren, seperti puas dengan air mata yang membasahi pipi.


Pak Galih merangkul bahuku, menenangkan semua yang terjadi. "Kamu tenang, Anna. Jangan menangis."

__ADS_1


Aku megusap kasar wajahku dan berkata," Mas Danu. Aku berharap perkataanmu itu, bisa saja berbalik padamu, atau wanita muda ini."


Siren membulatkan kedua matanya dan berkata," eh kamu, jadi kamu menyumpahi kami berdua?"


Mas Danu kini memegang tangan wanita muda itu dan berkata," sudah kita pergi dari hadapan dia. Percuma berdebat dengan wanita itu, hanya buang buang waktu saja."


Mas Danu dan Siren kini pergi, aku yang tak puas dengan perlawananku kini berteriak." ingat Mas, karma masih ada."


Mas Danu menatap kearah wajahku sekilas, mereka pergi begitu saja.


"Anna, sebaiknya kita cepat pulang. Suster dan juga Perawat sudah mengantarkan Farhan dan Radit juga Lulu di mobil. Ayo kita pulang."


Aku berjalan beriringan dengan Pak Galih. Dimana ia terus menenangkan tangisan dan kesedihanku mengigat sang kakak.


Bagaimana kalau Kak Idah tahu, jika manusia manusia sampah itu ada di rumah sakit ini. Mungkin kak Indah akan menjadikan rumah sakit ini perang yang tiada henti.


"Kenapa di dunia ini masih ada lelaki sampah seperti Mas Danu dan juga Mas Raka, kenapa mereka tak dileyapkan seketika di bumi ini."


Pak Galih tertawa disaat aku mengerutu kesal, ketika berjalan beriringan dengannya.


"Ih. Kenapa Bapak ketawa?"


"Habisnya kamu lucu, An. Kalau marah, membuat dunia seketika goncang!"


Aku memajukkan kedua bibirku, "Enggak lucu pak."


"Oh, ya. Kenapa nasib kalian begitu menyedihkan, di khianati bersamaan, yang satu selingkuh sama wanita muda. Yang satunya lagi selingkuh sama cewek tua."


"Ish, bapak ini. Bukan tua tapi ALOT."


"Sama aja, An."


"Bedalah, pak."


"Bedanya apa, emang?"


"Nih ya, pak, Tua itu, idetik dengan orang tua yang sudah menua. Sedangkan ALOT, peot dan liat. Jadi udah enggak ada yang bagus bagusnya."


Pak Galih menepuk jidatnya di saat Anna, membuat sebuah lelucon yang tak masuk akal.


Keasikan mereka mengobrol, salah satu suster yang menjaga Lulu tiba tiba berteriak, di mana seseorang hampir mengambil Lulu dari tangan sang suster.


Pak Galih dengan sigap lari dan mengejar orang itu.

__ADS_1


Siapa dia?


__ADS_2