Dibalik Diamnya Mertuaku

Dibalik Diamnya Mertuaku
Bab 149 Mimpi untuk Anna


__ADS_3

Di ruangan dingin, penuh dengan cahaya putih dokter tengah menangani Anna, dengan pisau dan alat seteril lainnya. Lampu menyorot memperlihatkan darah, oprasi dilakukan dengan sangat hati hati. Dimana Anna masih terlelap dalam tidurnya, detak jatung masih berjalan normal dan sanggup dikendalikan.


Alat-alat terdengar dimainkan dengan semestinya, ruangan yang benar benar terang dengan sorot lampu putih. Mereka saling bekerja sama satu sama lain, mencoba membuat pasien bisa seperti semula.


Harapan ada di tangan sang keluarga, sedangkan dokter hanya bisa berusaha.


Dalam ketidak sadaran Anna, sosok cahaya menyilaukan dirinya, datang seseorang yang sudah membuat ia lupa semuanya.


Sosok itu tersenyum, berjalan, mendekat dan berkata." Anna. "


Suara yang tak asing terdengar begitu nyaring, bagimana tidak. Pikiran Anna seperti berputar pada masa lalu, yang sudah ia lupakan dan tak ia ingat lagi.


Semua terlihat jelas, Daniel datang dengan wajah penuh air mata. Ia semakin mendekat, berusaha memegang pipi mulus Anna, membelai perlahan dan berkata." kita akan bersama."


Ingatan yang terlupakan kini sudah jelas tergambar, wajah sang pujaan hati yang tak berubah dengan tatapannya yang tetap mempesona. Senyuman mampu membuat jiwa bahagia.


"Daniel."


"Ya, ini aku. Kamu ingat aku Anna."


Tentu saja ingatan Anna kini kembali pulih, saat sesuatu tiba tiba merusak sel pikiran, membuat sel darah berusaha bekerja dengan semestinya. Gambaran akan hilang ingatanya kini kembali.


Anna mengigat semuanya, dimana kecelakaan itu terjadi, mereka sempat bertengkar. Niat hati Daniel ingin menganjak Anna pada keluarganya, malah hancur lembur.


Daniel memegang tangan Anna, untuk membawanya ke sebuah cahaya terang yang menyilaukan.


"Daniel."


Lelaki berparas tampan dengan raut wajah putihnya, mengerutkan dahi membalikkan wajah ke arah sang kekasih." Kita mau ke mana?"


Menampilkan senyuman dan menjawab." kita akan pergi bersama ke alam yang lain."


"Maksud kamu."


"Kamu ikut saja denganku."


Pikiran kembali berputar pada sebuah perkataan yang membuat Anna tiba tiba mengurungkan niatnya, ia tak mau ikut dengan Daniel. Saat sesaorang mengigatkan akan kelakuan Daniel yang tak diketahui Anna.


Anna tiba tiba saja melepaskan tangan Daniel.


Sorot matanya menatap tajam ke arah lelaki yang ia cintai dulu.


" Aku tidak mau ikut denganmu. Kamu ini b*jing*n, sudah cukup kamu membuat Ainun menderita."


"Ya, aku sudah membuat dia menderita tapi itu masa lalu. Ayo cepat ikut denganku kita akan hidup bersama, aku mencintaimu Anna."

__ADS_1


"Anna."


Terdengar suara teriakan dari kejauhan, suara yang Anna kenal. "Anna."


Suara itu semakin dekat, Anna ingin mengejar, tapi tanganya tertahan oleh Daniel yang terus memegang erat tangan kanan.


"Anna, sebaiknya kamu ikut denganku."


"Aku tidak mau. Daniel, aku sudah bahagia dengan hidupku sekarang."


Anna berlari setelah terlepas dari Daniel. Mencari suara yang terus memanggil namanya, melangkah terus menerus hingga .....


"Dok, jantungnya melemah."


Para suster yang membantu oprasi itu kaget dengan kondisi Anna yang tiba tiba melemah, membuat mereka sedikit panik.


Dokter berusaha menenangkan mereka, dan berkata." kalian tenang, kita masih bisa mengatasi semuanya dengan baik."


Suasana kini kembali normal, tidak menegangkan lagi. Oprasi akhirnya berjalan dengan baik.


******"


Sedangkan Indah tetap sabar, menunggu oprasi yang tak kunjung selesai, mereka berusaha berdoa demi keselamatan Anna.


Deni tetap menemani sang istri, ia berusaha menguatkan hati istrinya dan menasehatinya. Walau nasehat itu kadang tak diterima malah menjadikan Indah marah.


Farhan dan Galih masuk lagi ke dalam rumah sakit, terlihat wajah tak menyenangkan pada Indah saat melihat Galih. Wanita bermata sipit itu tetap menaruh rasa kesal dan tak sudi bertanya pada adik iparnya sendiri.


Galih, berusaha tenang. Ia melihat lagi ponselnya, ada satu pesan datang dari Intan.


Entah kenapa Intan megirim pesan sampai jam dua malam. Apa terjadi sesuatu dengan Ainun, mecoba berpikir positif karena sekarang Galih tengah fokus dengan istrinya.


( Besok saya ke sana.)


Membalas dan tak ada jawaban sama sekali, Galih menaruh ponselnya pada saku celana.


Lirik mata Indah terus menatap gelagat Galih, ia ingin menelusuri Galih lebih jauh lagi.


Karena ada sesuatu yang begitu menganjal pada hati Indah.


Keluarnya dokter, membuat Indah langsung bertanya. " dok, bagaimana oprasinya."


"Lacar, bu."


Semua nampak senang setelah mendengar jika oprasi berjalan lancar.

__ADS_1


"Pasien akan langsung dibawa ke ruang rawat inap, jadi silahkan para keluarga menunggu di sana."


"Baik, dok."


Dengan sigapnya Galih dan yang lainnya pergi keruangan rawat inap. Mereka tak sabar melihat Anna.


******


Di dalam kamar.


Ainun masih saja tak bisa tertidur, ia melihat jam di dinding sudah pukul tiga malam. Rasa cemas menghantui pikiranya, melihat di luar hujan begitu deras, jendela terlihat menyeramkan walau sudah ditutup.


Namun, dengan Intan pelayan rumah, dia sudah tidur nyenyak di samping Ainun. " Intan kamu sudah tidur."


Ainun masih dengan rasa takutnya, mencoba membangunkan Intan, wanita itu sudah terlelap dalam mimpi.


"Si Intan dibagunin udah kaya ****** aja. Nggak bangun bangun." Gerutu Ainun, wanita berhijab hitam itu kini melirik ke arah meja. Dimana ia melihat sebuah ponsel Intan berada di atas meja dekat dengan rajang tempat tidurnya.


Ainun berpikir ia ingin mengambil ponsel Intan saat itu juga, melihat sesuatu yang mungkin bisa membuat hatinya tenang dan tak merasakan rasa takut lagi.


Perlahan bangkit dari tempat tidur, mengambil ponsel, " ponselnya mati."


Tangan mulusnya mencoba menyalakan layar ponsel Intan, Ainun senang, mungkin ia bisa meminjam ponsel Intan sementara waktu.


"Ponselnya terkunci."


Melihat pada Intan yang sudah tertidur nyenyak, pada akhinya, Ainun menempelkan jari tangan pelayannya pada ponsel, dan akhinya terbuka juga.


Walau mungkin terdengar lancang, Ainun juga mengiginkan ponsel dari dulu. Tapo apa daya uang yang hanya bisa untuk makan, tak bisa membeli keinginannya saat itu.


"Terbuka."


Ada rasa penasaran juga pada hati Intan, melihat layar ponsel sudah menyala ia melihat semua aplikasi yang dapat menghiburnya saat itu.


Rasa takutnya perlahan-lahan hilang, Ainun senang. Jika ponsel Intan mampu membuat dirinya bisa melupakan semua kegelisahaan yang ada pada hati dan pikirannya.


Hingga aplikasi hijau menujukan ada satu pesan datang, melihat nama si pengirim pesan membuat Ainun tentu saja kaget.


"Tuan Galih."


Mengucap nama itu, terdengar Intan membalikkan tubuhnya, Ainun berpura pura terlelap menutup wajahnya dengan selimut.


Beberapa menit kemudian, Intan tak bergerak lagi, Ainun membuka selimut untuk segera mihat isi pesan yang dikirim Galih pada Intan.


Kedua matanya membulat melihat pesan yang dikirim Intan pada Galih, " Pesan macan apa ini. Intan pelayan di rumahku ternyata bermuka dua ya."

__ADS_1


__ADS_2