
"Aku mau siapkan dulu air panas untuk kamu mandi," ucap Anna, membalikkan badan. Terlihat raut wajah tak menyenangkan dalam diri Anna saat Galih menatapnya.
"Anna, tunggu," balas Galih, meraih tangan sang istri. Berusaha menahan Anna agar tidak pergi dari hadapannya. Galih tak mau ada kemarahan dalam diri sang istri.
"Ada apa?" tanya Anna, sedikit terdengar cetus. Ia melepaskan tangan sang suami, sedikit menghindar. Membayangkan tengah malah suaminya berpegangan tangan dengan Ainun.
Pikiran jahat merasuk dalam otak Anna, seperti ingin membuat Anna marah dan menyalahkan suaminya saat itu juga.
"Kamu marah?" tanya balik Galih, Anna seketika membuang wajah dari hadapan Galih. Ia melipatkan kedua tangan, berusaha menarik napas walau terasa sesak.
"Kalau marah, ayo katakan saja. Jangan diam seperti itu," ucap Galih, tak ingin melihat sang istri diam tak menjawab perkataanya.
"Aku tidak marah kok mas," balas Anna, ia kini pergi dari hadapan suaminya. Untuk membuatkan air hangat.
Galih merasa menyesal, telah berkata jujur. Hingga pada akhirnya sang istri seperti marah dan hanya memendam semua kekesalan pada hatinya.
Lelaki berbadan kekar, hanya bisa mengacak rambut dengan kasar. Ia mengikuti langkah sang istri, melihat betapa juteknya raut wajah Anna.
Setelah sampai di depan kamar mandi. Terlihat Anna menyiapkan air hangat, Galih yang melihat pemandangan dari luar kamar mandi, menatap sang istri, mencoba menghampiri dengan memeluk dari belakang punggung istrinya.
"Terima kasih ya, sayang."
Anna hanya diam, tak mengucapkan satu patah katapun, ia berusaha acuh. Dan pergi begitu saja, " cepat mandi, bersihkan bau farpum pada baju kamu itu."
Galih mencium bau bajunya, saat Anna menyuruhnya untuk membersihkan diri." Aku enggak suka bau farpum anehmu itu." ucap Anna. Berharap jika sindirannya membuat sang suami sadar.
"Perasaan kamu kali An, biasanya aku pake farpum ini," balas Galih, perlahan melepaskan baju yang ia kenakan.
"Sudahlah jangan banyak alasan, farpummu itu jauh berbeda wanginya," ucap Anna. Menyindir kembali Galih.
Ia sudah tak ingin berdebat lagi, merebahkan tubuh dan tertidur. Hatinya masih merasakan rasa sakit, setelah kejujuran di uangkapkan Galih.
Yang diharapkan seorang wanita, kata maaf dari mulut lelaki, bukan bualan atau omong kosong dengan sok mesra.
Galih baru saja selesai membersihkan diri, ia mulai duduk di ranjang tempat tidur. Mendekat ke arah Anna dan berkata." Sudah tidur."
__ADS_1
Anna berusaha mengabaikan ucapan suaminya, ia menutup kedua mata berusaha acuh dan tak ingin memperlihatkan kesedihan atau amarah di depan sang suami.
"Anna, apa kamu marah kepadaku. Coba katakan."
Tidak ada jawaban sama sekali, ketika Galih terus bertanya kepada sang istri.
Ia kini memakai baju, untuk segera tidur di samping Anna.
Lampu dimatikan, Galih mulai mendekat dan memeluk kembali sang istri dari belakang, Anna merasa tak nyaman, berusaha melepaskan pelukan suaminya kembali.
Ia mulai beranjak berdiri, dan pergi dari kamar Galih," aku akan tidur bersama Lulu."
Mendengar hal itu, membuat Galih merasa semakin heran. Ia menahan tangan sang istri," kamu ini kenapa, dari tadi menghindariku terus. jika aku ada salah tolong katakanlah jangan seperti ini?"
Anna tetap saja tak memperdulikan perkataan suaminya, ia kini berjalan di mana lampu kamar belum dinyalakan, pergi dari kamar sang suami untuk segera tidur di kamar anaknya.
" Anna."
Menghidupkan lampu kamar, Anna ternyata sudah menutup pintu kamar, ia pergi dengan langkah kaki yang begitu cepat.
*********
Anna tak menyangka jika Galih setega itu, membiarkan istrinya pergi tanpa menahannya kembali. Padahal, Anna berusaha bersikap cuek, agar Galih tahu letak kesalahnya.
Anna berusaha membuang rasa sedihnya, ia mengetuk pintu kamar anak ketiganya, berharap jika Lulu mau tidur bersama dengan dirinya.
Beberapa menit, tak ada jawaban dari anak bungsunya sama sekali. Anna dengan terpaksa tidur di ruang tamu.
Melihat sekilas ke arah belakang punggung, tetap saja Galih tak ada niat mengejar sang istri.
Ia tertidur dengan air mata yang terus mengalir membasahi pipi, perasanya sudah tak terkendali. Anna berpura pura tegar tapi hatinya rapuh.
Galih, tak melihat istrinya kembali lagi ke dalam kamar, Iya kini turun dari ranjang tempat tidur untuk melihat sang istri yang berada di luar kamar.
Perlahan berjalan berteriak memanggil sang istri, tetap saja, tak ada sahutan dari Anna.
__ADS_1
Galih, mencoba mengetuk pintu Lulu, berharap jika istrinya tengah menemani anak ketiganya.
Saat Lulu terbangun karena ketukan pintu dari Galih, membuat yakini berjalan, memaksakan diri untuk bangun dari tidurnya.
Saat membuka pintu kamar, Lulu melihat Gali dalam kepanikan, anak kecil itu kini bertanya dengan raut wajah tak suka bila melihat ayah tirinya.
"Lulu, apa kamu melihat ibumu."
Lulu yang malas meladeni obrolan Ayah tirinya, ini menganggukkan kepala. Ia tak tahu sama sekali keberadaan sang ibunda, karena dari tadi tidur sendirian.
"Saya tidak tahu, om. Dari tadi ibu tidak datang ke sini."
"Aneh."
"Ya sudah, kalau kamu Cepat tidur sana. Maafin Papa ya sudah ganggu kamu."
Lulu tak menanggapi perkataan Ayah tirinya itu, Iya kini menutup pintu kamar dengan begitu keras. memperlihatkan kebencian yang amat dalam pada Galih.
Lelaki berbadan kekar dengan tubuhnya yang kini berjalan kembali mengelilingi rumah mencari keberadaan sang istri yang tak kunjung ketemu." Kemana Anna, kenapa dia pake acara pergi segala."
Berkacak pinggang berusaha mencari keberadaan Anna, membuat Galih hampir kelelahan karena seharian ia tak tidur sama sekali, apalagi Galih sampai nekat datang ke rumah sakit tanpa ia sadari dirinya belum beristirahat dan tidur.
Galih mencoba mencari ke kamar anak keduanya Radit, berharap sang istri tertidur di kamar Radit.
Mengetuk pintu kembali.
Tok .... Tok.
Radit terlihat mengusap ngusap kedua matanya, ia baru saja bangun tidur setelah mendengar ketukan pintu yang dilayangkan ayah tirinya.
"Papah ada apa?"
Radit yang tidak tahu apa apa, bertanya dengan begitu polosnya.
Galih mencoba berkata lembut kepada anak kedua Anna, memegang bahu Radit dengan bertanya?" Radit apa kamu melihat ibumu ke sini, soalnya tadi dia bicara mau tidur sama Lulu, tapi Papa cariin ibu kamu tidak ada di kamar Lulu, Siapa tahu saat Papa datang ke sini Ibu kamu berada di kamar ini."
__ADS_1
"Dari tadi Radit tidur, mana sempat Radit melihat Mommy pergi apalagi tidur bersama Lulu, bukannya Papa tahu sendiri jika mama itu selalu bersama papa."
Galih melepaskan kedua tangannya yang memegang bahu Radit," Apa yang kamu katakan memang benar Radit.)