
Anna menangis, setelah menelepon pengasuh kepercayaannya, ia menangis dan memeluk Galih yang kini berdiri.
"Pergi kemana? Coba kamu tenangkan dulu hati kamu," ucap Galih, mengusap pelan punggung sang istri.
Anna masih dalam tangisannya, ia tak percaya jika Lina mengalami kecelakaan, karena dirinya mengingat Lulu. Anak kecil berumur tiga tahun yang selalu ia abaikan.
"Lina mengalami kecelakaan, mas!" jawab Anna, tentu saja membuat ia menyesal karena tak buru buru mengangkat panggilan telepon dari pengasuhnya.
"Kok, bisa, ya sudah. Ayo cepat kita pergi ke sana," ucap Galih tampak panik mendengar pengasuh Anna mengalami kecelakaan, Galih juga mengingat keadaan Lulu. Ia takut terjadi sesuatu yang serius pada anak Anna.
Farhan masih dengan posisinya, ia duduk menunggu kesembuhan Ainun. Hingga dahinya mengerut melihat kepanikan kedua orang tuanya secara tiba-tiba.
"Kenapa kalian panik, ada apa sebenarnya?" tanya Farhan berdiri. Merasakan kepanikan dirasakan oleh kedua orang tuanya.
Anna melepaskan pelukan Galih, ia berjalan perlahan ke arah anak pertamanya," Lina mengalami kecelakaan, kami panik dengan keadaan Lulu. Jadi sekarang kami akan pergi ke sana, kamu jaga baik-baik Ibu Ainun ya."
Farhan terkejut dengan jawaban ibunya sendiri, Ia tak menyangka jika Lina mengalami kecelakaan.
"Ya sudah, mamah dan papah hati hati."
Galih dan Anna mulai bergegas pergi keluar rumah sakit, mereka menaiki mobil. Galih mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi, kepanikan terus melanda hati dan pikiran Anna.
Ia menyesali dirinya sendiri, tak mempedulikan panggilan telepon dari Lina.
Galih memegang punggung tangan sang istri yang terlihat bergetar karena ketakutan, mengingat anak bungsu yang ia lahirkan dari suami pertama bernama Raka.
"Kamu harus tenang, aku yakin Lina dan Lulu baik baik saja."
Galih berusaha melayangkan kata semangat pada istrinya, karena ia tahu jika istrinya pasti merasakan rasa takut yang sangat luar biasa, apalagi mendengar Lulu berada di asuhan Lina.
Setelah sampai di tempat tujuan yang lumayan jauh jaraknya, Anna melihat mobil ambulans dan juga orang-orang yang berkeliling di sisi jalanan.
Ia segera mungkin turun dari dalam mobil untuk melihat keadaan anaknya dan juga pengasuh.
Anna melihat pada mobil ambulans, Lina jatuh pingsan tak sadarkan diri, ia mencoba mencari keberadaan anaknya.
__ADS_1
"Lulu, kemana?"
Anna mulai bertanya pada segerombolan orang-orang yang melihat kecelakaan itu terjadi.
"Pak, maaf sebelumnya. Saat kecelakaan itu terjadi apa bapak-bapak di sini melihat seorang anak kecil yang dibawa pengasuh saya pada motor ini?"
Pertanyaan Anna, membuat orang-orang di sana tentu saja kebingungan." Maaf sebelumnya Bu kecelakaan ini hanya ada satu orang saja, tidak ada anak kecil yang dibawa oleh perempuan itu."
"Jadi Lulu kemana?"
Kedua mata Anna berkaca-kaca, setelah mendengar orang-orang yang berkata jika Lulu tidak ada pada kecelakaan itu terjadi.
Galih kini menyusul ke arah Anna, ia mulai menanyakan keberadaan Lulu.
Anna yang mendengar pertanyaan suaminya kini menggelengkan kepala, dia juga tidak tahu keberadaan Lulu.
Anna masih tak percaya dengan kata orang-orang yang melihat kecelakaan itu, iya mulai menyusup ke dalam mobil ambulans. Melihat Lina masih tak sadarkan diri.
"Kamu harus tenang ya, coba kita lihat di sekolahan. Berharap jika Lulu berada di sana."
"Lulu."
Mendengar Lina menyebut nama Lulu, membuat Anna masuk kembali ke dalam mobil ambulans, ternyata Lina sadarkan diri dengan menyebut nama Lulu.
Pengasuh itu, membuka kedua matanya, melihat Anna sudah berada di hadapannya." Bu, Lulu dibawa Intan keterminal."
Anna tak percaya apa yang dikatakan pengasuhnya itu," Apa maksud kamu? Aku tak mengerti Lina."
" Bu cepat susul Lulu di terminal bus, sepertinya Intan ada rencana jahat dengan membawa anak ibu masuk ke dalam bus untuk segera pergi dari kota ini." ucap Lina dengan keadaanya yang begitu lemas.
Anna masih tak percaya, Kenapa bisa Lulu berada di tangan Intan. Jelas jelas Intan itu melarikan diri dari kejaran polisi, Galih yang menyusul ke dalam mobil ambulans.
Membuat Lina, menyuruh majikannya itu mengejar Intan sekarang juga.
Karena masih ada rasa panik, pada akhirnya Galih mulai keluar dari mobil ambulans untuk segera mencari keberadaan anaknya.
__ADS_1
Galih menaiki mobil untuk segera mencari keberadaan Lulu, " Intan, kenapa dia buat ulah teris menerus sih."
*******
Saat Galih menyusun Intan, mobil bus yang berada di terminal kini mengangkut banyak orang, mobil itu berbunyi.
Menandakan jika bus akan melaju ke tempat tujuan, Intan sudah bisa bernapas lega lagi. Ia bebas dari kejaran Lina. Dan bisa merasakan kebagian dengan menahan anak Anna.
"Akhirnya sudah menyalakan mesin mobilnya."
Lulu hanya bisa menahan tangisan saat dirinya dibawa pergi oleh Intan, ia mengingat ibunya dan juga pengasuh, kedua mata berkaca kaca, sampai tak terbendung lagi, akhinya kedua tangan mungil itu mencoba menghampus air mata yang mengenai kedua pipi Lulu.
Intan yang menyadari suara tangisan Lulu terdengar pelan membuat dirinya. Tentu saja sangat terganggu, Intan berencana untuk tidur dan mengistirahatkan tubuhnya terasa lelah. Karena terlalu banyak mengurusi kematian Justin.
Suara tangisan Lulu semakin terdengar kembali, Intan tak segan-segan menyumpal mulut anak kecil berumur tiga tahun itu dengan tisu yang ia bawa.
"Kamu itu bisa diam tidak, kalau terus menangis dan berisik, aku jait mulut kecilmu ini. Kamu mau."
Mendengar ancaman dari Intan, tentu saja membuat Lulu semakin tertekan. Ia kini berusaha menutup mulutnya agar tidak menangis lagi.
Namun rasanya itu tak muda, karena ia rindu sang pengasuh. Mengepal kedua tangan dengan erat.
Suara ketenangan mulai dirasakan Intan, wanita bermata bulat itu kini menyandarkan punggung pada kursi untuk segera menutup kedua mata dan tertidur pulas. Agar nanti saat pulang kampung, ia terlihat segar dan bersemangat.
Lulu berusaha mencari ide untuk kabur dari hadapan Intan saat di mana wanita yang membawanya pergi lengah.
"Aku harus kabur dari sini, kalau bisa jangan sampai tertangkap." Gumam hati Lulu.
Intan tak menyadari kecerdikan anak Lulu, yang berusaha memikirkan cara untuk kabur.
"Kamu mikirin apa?" tanya Intan, wanita bermata bulat itu sedikit curiga dengan gerak- gerik Lulu yang terlihat begitu mencurigakan.
Ternyata Intan hanya berpura-pura tidur, untuk menjaga Lulu agar tidak kabur dari dirinya.
Lulu terkejut dengan pertanyaan yang terlontar dari mulut Intan, kedua tangan mungil itu bergetar ketakutan.
__ADS_1
Sedangkan Intan yang berada di sisi Lulu tertawa kecil, ia membisikan perkataan pada telinga Lulu.