Dibalik Diamnya Mertuaku

Dibalik Diamnya Mertuaku
Bab 105 Memberi kejutan.


__ADS_3

"Memangnya kenapa, bu?" Raka bertanya di tengah lamunan sang ibunda penuh keraguan. 


"Raka, Ajeng itu sekarang cacat. Dia sudah tak mempunyai kedua kaki!" Jawaban Sang ibu, dengan hati gelisa. 


"Ibu, jangan bercanda. Kenapa Ajeng bisa cacat?" 


Pertanyaan Raka membuat sang ibu menggelengkan kepala, karena ia juga tak tahu penyebab Ajeng tak mempunyai kedua kaki.


"Ya sudah kalau begitu aku akan …."


"Aku akan apa, mas?"


Perkataan Raka terhenti oleh Anna yang tiba-tiba saja datang, "Anna."


"Anna, sejak kapan dia datang?" pertanyaan mulai terlontar dari benak Bu Sari. 


Anna semakin mendekat ke arah Raka yang terlihat gusar karena dirinya hampir saja menghina Ajeng dan berniat mentalak Ajeng. 


"Mas, tadi kamu bilang apa?" tanya Anna tegas, Raka melirik mata ke arah sang ibu, dimana wanita yang melahirkannya menempelkan telunjuk jari pada bibir. Agar Raka tak memberitahu Anna.


"Tidak ada apa apa kok, An. Tumben  kamu ke sini?"


Lelaki tua yang tak jauh dari hadapan Bu Sari istrinya kini berucap kebenaran." Anna, Raka mau menceraikan Ajeng karena dia lumpuh."


Mendengar perkataan dari mantan mertua laki laki, Anna mengerutkan dahi, sedangkan Raka kesal dengan perkataan ayahnya yang bersikap jujur. 


Bu Sari mencubit pinggang sang suami dan berbisik," Bapak ini, mulutnya nggak bisa dijaga."


"Bukan nggak bisa dijaga, tapi semua demi kebenaran, sebaiknya ibu sadar sepenuhnya. Jangan hanya setengah setengah saja."


"Sudahlah pak, jangan sok alim. Ibu bosan dengar ceramah dan nasehat bapak itu."

__ADS_1


Beberapa kali seorang bapak mengusap pelan dadanya menyebut istigfar, melihat kelakuan anak dan istrinya tak berubah. Padahal kemarin begitu terlihat wajah kesedihan dan penyesalan dari istri dan anaknya. 


Setelah mendengar perkataan mantan mertua laki laki, Anna menggelengkan kepala dengan mengatakan," Kamu benar benar tidak tahu diri. Harusnya kamu menerima Ajeng apa adanya, bukan malah meninggalkan dia di saat keadaannya  menjadi cacat. 


"Sudahlah Anna, jika kamu datang ke sini, hanya ingin  memarahiku saja. Sebaiknya kamu pergi saja."


Mengusir dengan cara kasar, membuat Anna hanya terdiam, ia menyodorkan sebuah lembar undangan pada Raka.


"Ini, mas." Perlahan Raka mulai mengambil lembar undangan yang sudah di sodorkan Anna kepada dirinya. 


"Apa ini, Anna."


"Coba kamu baca, Mas."


Perlahan Raka mulai membaca surat undangan yang diberikan oleh Anna kepada dirinya, kedua matanya tentu saja membulat dengan apa yang ia baca. nama Anna dan juga Galih tertera dari surat undangan itu." jadi kamu akan menikah sebentar lagi."


" Iya aku hanya ingin memberitahu kamu saja, mas. karena dulu saat kamu menikahi Ajeng kamu juga memberitahuku kan, secara terang terangan di depanku. Apa kamu masih ingat itu!?"


" Oh ya, karena Mas Raka, tidak bisa menghadiri acara pernikahanku bersama Pak Galih, aku jadi mengundang ibu dan bapak saja ya ke pernikahanku. "


Mantan mertua Anna, ikut bicara," Anna, kamu ini keterlaluan, apa kamu tidak memikirkan perasaan Raka saat ini."


Anna tertawa dengan Bu Sari, " hahah, lucu ya. Padahal dulu kalian juga berbuat seperti itu kepadaku, tapi kalian malah menganggapnya biasa saja, tapi sekarang saat aku membalas, kalian marah."


"Anna, itu dulu, berbeda dengan sekarang." sergah Raka, dengan amarah yang tak terkendali.


"Dulu dan sekarang, apa bedanya, mas? Sama saja? " tanya Anna dengan nada bicara yang terlihat tenang, ia tak menampilkan kebodohanya, berusaha bersikap elegan membalas semua perkataan Raka.


kepalan tangan Raka semakin erat ia sepertinya ingin memukul wanita di hadapannya saat itu juga, akan tetapi ia tahan karena dirinya yang masih menjadi tahanan," cukup Anna. Jangan kamu buat emosiku semakin tak terkendali, sebaiknya kamu cepat pergi dari sini, untuk pernikahanmu nanti Ibu dan juga Papaku pasti akan datang ke sana. Jadi kamu tenang saja' aku bukan seorang lelaki pecundang yang hanya bisa menangisi kebahagiaanmu saat ini. "


Ana Malah semakin tertawa dengan apa yang dikatakan mantan suaminya itu," wow luar biasa nada bicaramu itu, mas. Sudah berlatih di mana kamu sekarang bisa berkata seakan dirimu yang tersakiti, sungguh luar biasa dramamu itu mas."

__ADS_1


Bu Sari mulai membantu anaknya angkat bicara, akan tetapi Raka yang tak mau dipermalukan oleh Ana saat itu juga menahan sang Ibunda..


"RAKA. Kenapa kamu tahan ibu, untuk mengehina dia lagi. "


"Sudah Bu cukup. Aku ini seorang lelaki. Tak usahlah ibu membelaku saat ini, sebaiknya biarkan dia bicara semau yang dia inginkan."


"Ya sudah ya, mas, aku mau pergi dulu . Aku hanya ingin memberitahu kamu soal pernikahanku yang sebentar lagi akan digelar. Jadi sekarang impas kan. Dulu kamu pernah mengatakan seperti ini dan sekarang aku juga bisa melakukannya sekarang. Asal kamu tahu ya Mas, sepintar-pintarnya kamu menyembunyikan bangkai, saat itu juga akan tercium baunya."


"Kurang ajar kamu Anna, beraninya kamu menasehatiku seperti itu, sudahlah aku tidak mau berdebat lagi dengan kamu, sebaiknya kamu cepat pergi dari sini. "


"Tenang mas, tenang. Aku juga akan pergi dari sini, tanpa kamu usir saat ini juga. Oh ya mas. Aku pergi dulu bye.


Setelah kepergian Anna, tiba-tiba saja Raka meluapkan kekesalannya dengan memukul tembok. Di mana para polisi datang mengecek, apa yang sudah mereka dengar.


Bu Sari yang tak mau anaknya disalahkan kini berkata, "Maafkan saya pak polisi. Saya sudah membuat keributan. "


Pak Polisi mulai memaklumi wanita tua bernama Bu Sari.


"Ya sudah kalau begitu, waktu penjengukan sudah selesai, anda bisa pulang sekarang. "


"Baik, pak polisi."


Raka.mulai dimasukkan lagi ke dalam penjara, sedangkan Anna sudah duduk di dalam mobil bersama Galih, kedua matanya mentapa ke arah jendela kaca mobil, tak menyangka dirinya menjadi wanita pendendam seperti sekarang, ada rasa menyesal dan ada rasa kepuasan sendiri karena sudah membuat orang yang melukai hatinya merasakan apa yang dulu dirasakan Anna.


"Apa yang sedang kamu pikirkan Anna? Kenapa setelah kamu melihat Raka. kamu malah melamun?" Pertanyaan Galih, membuat air mata Anna kini keluar secara perlahan, Anna menatap ke arah Galih dengan menjawab." Apa aku salah melakukan semua ini, aku membalas rasa sakitku ini kepada orang yang dulu pernah menyakitiku rasanya ini tak menyenangkan tapi itu ada rasa kepuasan tersendiri."


" Sebenarnya balas dendam itu memang tidak baik, Anna. Itu akan merusak hati kamu dan juga kebaikan kamu, tetapi jika memang kamu ingin meluapkan kekesalanmu luapkanlah tanpa menyakitinya balik. Biarkanlah balasan nanti datang kepada mereka, jangan sampai kamu kotori tangan kamu sendiri."


"Apa yang dikatakan bapak memang benar. Tapi aku sudah terlanjur menyakiti hati mereka dengan membalas rasa sakit itu kembali. "


"Ya sudah jika memang kamu sudah tak kuasa lagi, hentikan balas dendam itu. "

__ADS_1


Apa Anna akan menuruti perkataan Galih?


__ADS_2