
Intan berlari dengan sangat cepat, ia tak berani menoleh ke arah belakang sedikitpun. Karena melihat wajah para ibu-ibu yang tengah nongkrong begitu terlihat murka kepadanya.
Perut terus terdengar keroncongan meminta jatah makanan, Intan sampai ke tempat tujuan. Ia segera duduk untuk memesan nasi goreng, menutupi wajah dengan kedua tangannya.
"Semoga ibu ibu tidak mengejar aku saat ini." Ucap Intan dengan rasa takutnya.
Seorang pedagang nasi goreng itu, kini menghampiri Intan. " Mbak. Mbak."
Beberapa kali penjual nasi goreng itu memanggil Intan, tapi Intan dengan rasa takutnya mengabaikan panggilan dari sang penjual nasi goreng.
Lelaki tua sekitaran umur empat puluh lima tahun itu, menepuk bahu gadis yang duduk di kursi dagangannya.
"Aduh, bang. Bikin kaget saja," gerutu Intan, menatap ke arah penjual nasi goreng.
"Ya neng, siapa suruh. Duduk di sini, ini khusus untuk orang yang mau beli nasi goreng saya," ucapkan pedagang terlihat kesal dengan tingkah Intan yang tak sopan.
Intan baru sadar bahwa dia sudah duduk, di kursi penjual nasi goreng," Oh iya ya Bang."
Intan terlihat malu, ia menggaruk belakang kepalanya yang tak terasa gatal.
Membuat sang penjual kembali bertanya," ya sudah mau pesan tidak?"
"Iya mau, bang."
"Ya sudah, di sini apa di bungkus?" tanya sang penjual terlihat ketuk di hadapan Intan.
Gadis bermata bulat itu langsung menunjukkan jari tangannya, ke arah sang penjual," satu aja, bang, di sini."
Lelaki tua berumur empat puluh lima tahun itu, berjalan kearah rodanya, ia mulai memotong-motong sayuran dan juga bawang, menyiapkan alat masaknya, untuk segera menggoreng nasi.
Intan bernapas lega, ia memegang dadanya. Melihat situasi sudah aman, para ibu-ibu itu sudah tidak mengejar lagi Intan yang kini tengah membeli nasi goreng.
Perut semakin terasa tak terkendali, Intan begitu kelaparan sekali. Ia meraih air minum dan segera meminumnya sampai habis.
"Haduh, haus sekali."
Sang penjual langsung menyodorkan nasi goreng, untuk Intan di atas meja," Akhirnya sudah jadi juga."
Wanita bermata bulat dengan tangannya yang bergetar, mulai meraih nasi goreng dengan sendok. Menyuapkan pada mulutnya," nikmat sekali."
Penjual nasi goreng itu hanya menggelengkan kepala, melihat tingkah gadis secantik Intan seperti orang aneh.
__ADS_1
Intan menghabiskan nasi goreng dalam waktu sekejap, ia kini memesan satu porsi lagi. Karena rasa lapar masih menghantui perutnya.
"Bang, saya pesan satu lagi."
Penjual nasi goreng itu, menarik napas, ia membuatkan lagi nasi goreng yang kedua kalinya untuk Intan.
Setelah matang dan masih mengeluarkan asap, Intan dengan lahapnya menghabiskan nasi goreng pesanannya yang kedua kali.
"Neng, makan kok kaya orang kesurupan gitu."
Intan tak memperdulikan ejekan, penjual nasi goreng itu. Yang terpenting baginya, perutnya kini sudah kenyang, ya kini taklagi kelaparan seperti tadi.
"Sudah bang, saya mau beyar. Berapa?" tanya Intan mencari tasnya.
"Dua puluh dua rebu!" jawab sang penjual.
Intan merasa heran, ia tak menemukan di mana tasnya, padahal Ia ingat tadi membawa tas menuju ke penjual nasi goreng.
"Ke mana tasku?" Intan berusaha mengingat, saat dirinya pergi dari rumah Nita.
Saat itu.
"Sial, perasaan tadi aku bawa tas, ahk. Tapi kenapa bisa sampai lupa gini ya, aduh. Mana jauh lagi, gimana nih, " gumam hati Intan.
Ia mencari kesempatan untuk lari dari penjual nasi goreng, karena dirinya yang lupa membawa uang.
Dengan mengendap ngedap, pada akhirnya.
"Kaburrrr."
Bukannya terbebas, kerah baju Intan sengaja ditarik oleh penjual nasi goreng itu," mau ke mana. Neng, belum juga bayar?"
Pertanyaan Intan membuat dia menelan ludah, sebenarnya ia ingin segera kabur dari penjual nasi goreng, karena dirinya yang lupa membawa uang.
"Say-a mau ke ...."
Penjual nasi goreng itu sedikit curiga, dengan gelagat Intan, " mau kabur ya. Neng?"
"Eh, ya. Mm. Tidak, tidak. Kok, bang?"
"Lah, terus!"
__ADS_1
Penjual nasi goreng itu melepaskan kerah baju Intan, membuat Intan membalikkan badan, menundukkan pandangan." saya."
"Saya kenapa?"
Intan begitu malu harus berkata jujur, ia melirik ke arah para pembeli nasi goreng, kedua pipinya memerah.
"Ayo ngomong kenapa?"
Sembari menggaruk belakang kepala yang tak terasa gatal, pada akhirnya Intan berkata jujur," saya lupa bawa uang. Bang, makanya saya mau pulang dulu dan bawa uang saya ke sini," ucap Intan, dengan penuh rasa malu, dia melihat para pembeli seakan menertawakan dirinya.
"Alasan saja kamu." Penjual nasi goreng itu sedikit kesal dengan perkataan sang pembeli.
"Ya elah, makan banyak ternyata nggak punya duit," bentak sang penjual.
Intan memperlihatkan kedua telapak tangannya, berusaha menjelaskan kepada sang penjual nasi goreng." saya berkata jujur. Bang, uang saya memang ketinggalan di rumah, sekarang saya mau ambil dulu uang saya di rumah dan nanti saya balik lagi ke sini."
Penjual nasi goreng itu tak mempercayai Intan, ia menyeret tubuh Intan," sudah sebaiknya kamu cuci piring saja di sini, setelah kamu cuci piring sampai bersih. Anggap saja makanan kamu tadi gratis."
Perintah sang penjual nasi goreng itu, kedua mata Intan terlihat semakin membulat, melihat begitu banyak piring kotor yang belum tercuci.
" Sebanyak ini, bang?"
"Iya. Cepat kerjakan sampai beres!".
Intan menelan ludah, kini berjongkok meratapi nasib menjadi seorang cuci piring bagi penjual nasi goreng, karena dirinya yang tak membawa uang dan terlalu teledor saat berpergian.
" Yang bersih."
Penjual nasi goreng itu menambahkan lagi, piring bekas para pelanggan ke hadapan Intan, tentulah membuat Intan syok berat, mana mungkin Intan membersihkan piring sebanyak.
Pastinya tangannya akan terasa pegal, apalagi Intan sudah lama tidak mengerjakan pekerjaan rumah, ya terlalu bermalas-malasan setelah dipecat dari rumah Ainun.
"Ya elah, bang. Yang benar saja napa, kesucian banyak banget, aku kan makan cuman dua porsi doang. Nggak sebanding dong," Intan mengelak pada penjual nasi goreng itu, ya tak terima dengan pekerjaan yang menumpuk begitu banyak.
"Sudahlah, daripada nanti aku berikan kamu pada ibu-ibu yang nongkrong di sana, biar kamu disiksa sama mereka. Karena sudah nyolong nasi goreng dari saya," ucapan penjual itu tentu saja membuat Intan ketakutan, Ya hanya bisa meratapi nasib sembari membilas piring-piring kotor yang berserakan di atas tanah.
"Cepat bersihinnya."
Kedua mata Intan berkaca-kaca, hanya karena dia lapar. Intan harus menerima nasib takkan dirinya yang menjadi tukang cuci piring di tempat penjual nasi goreng.
"Ya elah apes banget nih hidup, semua gara-gara si Nita dan juga Lulu." Intan mendengus kesal sembari membersihkan piring-piring yang begitu Kotor.
__ADS_1