
"Bisa tidak, kamu ini menjaga ucapan kamu yang asal ceplos itu?" Gerutu Galih pada sambungan telepon, dimana ia tak tahan dengan ucapan yang terus terlontar dari mulut wanita bermata sipit itu.
"Asal ceplos? Hey, aku bicara sesuai fakta!" Jawaban yang membuat kemarahan kini naik ke atas ubun ubun, Galih mensetabilkan dada kekar yang memperlihatkan naik turun, seperti mendapatkan tekanan belebihan.
"Terserah kamu .... Aku tidak seperti apa yang kamu katakan, karena kamu tak tahu awal dari cerita kehidupan yang kini aku jalani. Kamu hanya bisa menilai aku saja dari apa yang kamu lihat hari itu." Semoga saja dengan berkata seperti itu, membuat istri Deni sadar dan tak terlalu menilai seseorang dari segi luarnya saja.
Indah malah mengeluarkan suara tawanya, seakan semua adalah lelucon, Galih tak habis pikir dengan apa yang ia dengar dari sambungan telepon. " Galih, sudahlah jangan bersembunyi dari keselahanmu sendiri."
Bagi Galih tak ada guna meladeni Indah yang semakin ke sini, semakin arogan. Untuk menjaga kewarasannya, pada saat itulah Galih mematikkan panggilan telepon, untuk bisa menjaga kewarasannya dari amarah Indah. Seorang kakak mana yang akan tega membiarkan adiknya menderita, semua itu tidak ada. Indah berusaha menjaga Anna, tapi dengan cara yang salah, malah. Membuat sebuah keributan tiada henti.
Ponsel yang sudah mati itu, ia lempar ke arah belakang mobil, membiarkan tergeletak begitu saja.
Farhan yang menyadari akan perubahan sang papa, berusaha bertanya dengan nada lembut seorang anak kepada ayahnya.
"Apa yang sedang papah pikirkan, kenapa papah seperti tertekan begitu?"
Mendengar Farhan anak remaja yang dididik Anna, hingga ia mejadi anak cerdas dan pintar. Tak luput selalu memperlihatkan rasa sayang terhadap Galih, lelaki berbadan kekar dengan otot pada tanganya begitu beruntung. Farhan yang tidak tahu bahwa dirinya ayah kandung, hanya bisa menahan dan berusaha menyimpan hingga dimana Farhan mengerti dan menerima semua masalah masa lalu yang terjadi.
Bagaimana pun seorang ayah akan berusaha menyembunyikan kekewaan dan masalahnya di depan sang anak, agar tidak ada kesedihan yang harus dipikirkan Farhan.
"Farhan, papah tidak kenapa-kenapa. Papah terlalu memikirkan pekerjaan," Kebohongan kini dilayangkan Galih, agar sosok anak muda tak terlibat akan masalah serius yang kini dijalankan Galih dan Anna.
Farhan yang dulu tak bisa menerima Galih, kini lambat laut membuka mata hati, agar bisa menyayangi suami dari ibunya sendiri.
Sebagai seorang anak yang menginjak usia remaja, berusaha mengerti akan situasi dan tak terlalu ikut campur akan masalah.
"Ya sudah nanti keburu siang, ayo kita berangkat ke rumah sakit."
"Iya, pah."
Druh mobil mulai dinyalakan, dimana dalam perjalanan ponsel Galih terus menyala menandakan beberapa panggilan telepon masuk.
__ADS_1
Tak mempeduli dengan nada dring dalam ponsel, Galih terus melajukkan mobilnya untuk sampai di rumah sakit.
"Pah, ponsel yang papah lempar menyala terus."
"Sudah biarkan saja, nanti juga mati sendiri."
Terlihat dari raut wajah Galih, memendam kemarahan dan rasa kesal, hingga ia berusaha tetap tenang dengan menjalankan mobil.
Farhan terlihat menghuatirkan keadaan sang ayah, ia bingung harus berbuat apa? Terlebih lagi sebagai anak laki laki dia hanya bisa diam. Jika bertanya kemungkinan besar sang ayah akan menjawab dengan kebohongan.
Parahannya dalam perjalanan menuju rumah sakit, mengalami kemacetan yang begitu padat, membuat Galih semakin kesal dan tak bisa lagi menahan emosi.
Ditambah lagi Indah yang tak mengerti akan posisi Galih sekarang, wanita bermata sipit itu hanya bisa memarahi suami adiknya mati matian, tanpa tahu yang sebenarnya terjadi.
"Pah, apa boleh Farhan mengangkat panggilan telepon dari Tante Indah."
Galih menatap ke arah anaknya, ia heran dari mana Farhan tahu jika Indah terus meneleponnya.
"Dari mana kamu tahu, Tante Indah menelepon?"
Pada akhinya Galih mengijinkan anaknya mengangkat panggilan telepon dari Indah. Perlahan anak berusia tujuh belas tahun itu, mengambil ponsel yang tergeletak di atas kursi belakang.
Farhan melihat layar ponsel milik Galih retak, mungkin karena benturan keras membuat layar itu rusak, untung saja ponsel masih bisa menyala dengan setabil dan masih bisa digunakan.
Perlahan jempol tangan anak muda itu mengeser layar posel yang menyala, dimana panggilan telepon dari Indah terangkat juga.
Menempelkan pada telinga kanan, suara Indah begitu terdengar jelas. Dimana wanita bermata sipit itu memarahi Galih habis habisan, karena mengabaikan panggilan telepon beberapa kali dari dirinya.
"Galih, apa kamu gila ya. Kenapa kamu main matikkan panggilan teleponku. Harusnya kamu dengan apa yang aku katakan."
Suara bentakan Indah membuat Indah membuat Farhan kini melayangkan sebuah ucapan, yang dimana perkataan Indah terhenti begitu saja.
__ADS_1
"Tante."
Indah tak menyangka jika yang mengangkat panggilan teleponnya adalah keponakannya sendiri, tentulah dari sana Indah merasakan rasa malu.
Seperti Indah mencontohkan hal yang tidak baik, tiba-tiba saja marah pada sambungan telepon yang menghubungkan dirinya dengan Galih.
"Farhan, dimana papah kamu, tante ingin berbicara dengannya."
"Maaf tante, Papah Galih tengah mengendarai mobil, karena kebetulan dijalanan begitu macet."
Farhan seakan mengerti dengan raut wajah sang ayah yang tak mau berbicara dengan Tante Indah.
Naluri antara ayah dan anak itu begitu kuat, bagaimana tidak mereka saling mengerti dan memahami satu sama lain.
"Tak bisa tante, kasihan papah."
Indah tak bisa berkata apa apa lagi, setelah Farhan mengangkat panggilan teleponya. Ia hanya bisa terdiam, tak mau jika nanti Farhan malah tersambar akan amarahnya yang mengebu-gebu.
"Ya sudah tante tunggu kalian di rumah sakit ya, hati-hati di jalannya. "
Tiba-tiba saja Indah berubah menjadi sosok wanita lembut, tak ada kemarahan yang Farhan dengar dari mulut tantenya sendiri.
Membuat Farhan menjawab dengan berkata sopan dan lembut." Iya Tante, Farhan dan papa akan segera datang ke rumah sakit sekarang juga. Oh ya kalau bisa, tante itu sabar dulu ya. kasihan Papa dari tadi terlihat gelisah mungkin karena kelelahan. "
Farhan yang masih berumur tujuh belas tahun, mencoba menasehati tantenya sendiri, agar tidak larut dalam kemarahan dan mampu membuat orang sakit hati.
"Ya sudah tante pamit dulu ya, nak."
Panggilan teleponmu dimatikan sebelah pihak, di mana Farhan sudah membuat tantenya tenang,
Galih sudah menduga Jika dia membawa Farhan ke rumah sakit, pastinya mental Indah akan lemah, karena mendengar suara keponakannya sendiri.
__ADS_1
"Papah tenang aja, tante Indah itu tidak akan marah marah."
Galih berterima kasih kepada anak kandungnya, jika ia bisa bebas dari amarah yang tiada henti mengoceh, tanpa jeda sedikitpun.