Dibalik Diamnya Mertuaku

Dibalik Diamnya Mertuaku
Bab 190


__ADS_3

Bu Ayu dan Pak Aryanto datang, melihat kekacauan di dalam penjara, dimana perdebatan semakin memanas walau hanya ucapan saja.


Pak Sodikin kesal, sampai menarik tangan sang istri dan mengatakan." kamu urus saja, masalah kamu sendiri, jangan libatkan kami lagi."


Mendengar perkataan sang ayah, Raka hanya bisa menarik napas kasarnya, kenapa ibunya bisa membawa suaminya menjenguk Raka.


Pak Aryanto mulai melangkah mendekat ke arah Ajeng," ayo kita pulang."


"Loh, pak. Ajeng masih ingin di sini, Ajeng mau sama Raka, bapak, ibu kenapa sih." Wanita bermata bulat dengan bibirnya yang tebal, berusaha melawan dan menolak ajakan kedua orang tuanya.


"Aku nggak mau pulang, bu. Pak." Bentak Ajeng, sang ayah tak mau kalah, ia kini menarik kursi roda anaknya.


"Kita pulang, kamu tidak tahu ya. Ibu dan bapak cemas sekali melihat keadaan kamu sekarang," ucap Pak Aryanto, berharap jika anaknya menurut.


Raka belum selesai, membuat istrinya menyusun rencana, malah disuruh pulang. Padahal Raka berharap sekali, hari ini dia keluar dari dalam penjara.


Tapi kenyataanya, hanya sebuah impian. Kenapa juga kedua orang tua Ajeng malah datang menghampiri anaknya.


Semua menjadi kacau, Raka hanya bisa meratapi hidupnya di dalam penjara dalam kesunyian.


Ajeng sudah bebas, sedangkan dirinya?


Bu Sari melepaskan tangan suaminya," bapak ini kenapa. Tega sama anak sendiri."


Wanita tua dengan rambutnya yang tergulung rapi, menangis dihadapan sang suami, merasa tak terima atas perlakuan kepada Raka.


"Ibu kenapa? Marah sama bapak?"


"Ibu tidak marah, ibu kesal, kenapa bapak tega berkata tidak baik pada anak kita. Darah daging kita sendiri."


"Bu, bapak bukan tega, bapak hanya memberi tahu Raka agar dia itu bisa bersikap dewasa sesuai umurnya. Dia kan sudah mempunyai anak dua, masa ia kelakuannya masih kaya bocah."


"Iya ibu juga tahu itu, tapi jangan seperti tadilah pak, kasihan Raka."


"Sudah, sudah. Sebaiknya kita pulang saja ke kampung. Bapak cape lihat ibu ngebela terus Raka."


Pak Sodikin menarik tangan istrinya untuk segera menaiki angkot. Pak Sodikin sudah tidak tahan dengan kelakuan Sang istri, berniat akan membawanya pulang.


"Pak, ibu nggak mau pulang ke kampung. Iby mau menemani dulu Raka sampai anak kita keluar dari dalam penjara."


"Sudah, bu. Percuma, ngapain juga. Ayo kita bersiap siap pulang ke rumah beres beres."

__ADS_1


"Tapi pak."


Para penumpang diangkutan umum terasa terganggu dengan pertengkaran kedua insan antara Bu Sari dan Pak Aryanto.


"Bu, pak. Kalau mau bertengkar keluar saja jangan naik angkot."


Pak Sodikin sadar ucapan para penumpang, kini berusaha menghentikan mulut istrinya yang terus menerus mengajaknya berdebat.


"Maaf ya, semuanya."


Terlihat raut wajah para penumpang diangkutan umum itu merasa terganggu sekali,


"Nah, gitu pada diam. Kan enak. Kita bisa tenang."


Lelaki tua itu, melepaskan tangan yang sengaja ia tempelkan pada mulut sang istri.


Bu Sari hanya bisa memajukkan kedua bibirnya. Setelah bekaman tangan suaminya.


Mereka berdua kini sampai di rumah kontrakan, Pak Sodikin masuk dan memasukkan semua baju pada tas.


"Pak, jangan lah, ibu masih mau di sini."


"Baik, kalau ibu masih di sini. Bapak lebih baik pulang saja, jangan harap bapak ngirim uang lagi sama ibu."


Bu Sari terdiam, mana mungkin wanita tua itu bisa hidup tanpa suaminya mengirim uang.


"Pak, kalau bapak tidak mengirim uang untuk ibu. Ibu makan dari mana?"


"Pikirkan saja sendiri. Bapak nggak mau ambil pusing, siapa suruh ibu nggak mau nurut sama bapak!"


Pak Sodikin dengan cepatnya mengemasi baju dan barang lainya ke dalam tas, tanpa mempedulikan istrinya yang tengah berpikir.


"Bu, ayolah. Kenapa banyak mikir. Mau tinggal di sini sampai mati kelaparan."


"Ya nggaklah, pak. Mana mau."


"Ya sudah mau ikut pulang nggak."


Dengan terpaksa Bu Sari ikut bersama suaminya untuk pulang kampung, walau hatinya merasa berat, karena Raka belum keluar dari dalam penjara.


Mereka berdua berpamitan kepada Ibu kontrakan, untuk segera pulang ke kampung.

__ADS_1


Terlihat wajah juteknya pada Bu Sari, tentulah membuat wanita tua itu berpura pura tak melihat.


Saat Bu Sari menaiki mobil terdengar suara memanggil.


"Nenek, kakek. "


Kedua insan kini membalikkan badan, melihat ke arah belakang, tenyata Lulu dan Radit.


Kedua cucu mereka datang dan langsung memeluk Bu Sari dan suaminya.


"Kakek sama nenek mau kemana?"


Bu Sari menatap ke arah Pak Sodikin.


"Nenek dan kakek mau pergi ke kampung!" jawab Bu Sari, kedua cucunya begitu erat memeluk Bu Sari, mereka begitu sayang terhadap wanita tua yang menjadi nenek mereka.


"Nenek, kakek. Kami rindu sama kalian berdua, kok kalian malah mau pergi ke kampung, tinggal saja sama kami di rumah mamah." Ajak Radit pada Bu Sari dan suaminya.


Bu Sari mengusap pelan rambut kedua cucunya. " kalian sekarang sudah besar ya. Sudah lama nenek tak pernah bertemu dengan kalian berdua, nenek rindu kelian sekali."


"Kami juga rindu sama nenek."


Ternyata yang membawa Lulu dan Radit adalah Farhan, anak remaja itu sengaja membawa adiknya untuk menemui nenek dan juga kakeknya.


"Kakek, nenek. Farhan sengaja bawa mereka menemui kalian, bukannya kemarin kalian yang minta ingin bertemu dengan Lulu dan juga Radit, dan sekarang Farhan memenuhi keinginan kalian berdua. Tapi kalian kenapa malah pergi."


Pak Sodikin berusaha memberi pengertian kepada Farhan, bahwa mereka pulang banyak sekali pekerjaan di kampung yang menunggu' Dengan terpaksa harus meninggalkan kota.


Mendengar apa yang dikatakan sang kakek membuat ketiga cucunya sangatlah bersedih, Farhan akan tak terima jika nenek dan kakeknya pergi meninggalkan kota.


Pelukan kini terlepas dari kedua cucunya, Bu Sari menangis, hanya sekejap bertemu dengan kedua cucunya itu. Rasa rindu masih membekas.


Lambaian tangan diperlihatkan Bu Sari untuk ketiga cucunya setelah menaiki bis.


"Dadah nenek, nanti kami bertiga jenguk nenek ya."


Mendengar kata kata dari ketiga cucunya tentu saja membuat Bu Sari begitu sedih, tak menyangka jika Anna mengajarkan ketiga anaknya untuk tidak menanamkan rasa dendam.


Padahal sudah banyak kejahatan yang dilakukan Bu Sari, sampai ia berusaha menyimpan rahasia Raka, dengan membuat Anna terluka.


Di dalam mobil, sang suami menatap tajam dengan bertanya?" kenapa menangis?"

__ADS_1


"Ibu menyesali perbuatan ibu pak, andai dulu ibu bisa mempertahankan Anna, mungkin kejadian ini tidak akan terjadi. Sekarang nasi sudah menjadi bubur dan tak bisa balik lagi seperti semula rasanya pahit sekali seperti memakan sesuatu yang dipaksakan."


"Bapak tidak akan menyelahkan siapa siapa dalam kejadian ini, karena dulu Bapak sudah berulang kali menasehati Raka dan juga Ibu. tetap saja kalian tak memperdulikan ucapan bapak."


__ADS_2