Dibalik Diamnya Mertuaku

Dibalik Diamnya Mertuaku
Bab 246


__ADS_3

karena tidak ada surat ataupun izin terjual belikan anak untuk diadopsi, tetaplah termasuk ilegal. Apalagi Marimar mendapatkan anak itu tanpa mencari tahu asal-usulnya, yang terpenting bagi dirinya adalah uang.


Maka dari itu Marimar tak berani mengambil anak di Panti Asuhan, ia lebih baik memilih orang yang datang membawa anaknya ataupun seorang anak yang dilantarkan kedua orang tuanya.


"Jadi Lulu sudah menjadi sah anak kami."


Lulu hanya bisa pasrah dan menganggukkan kepala, ia kini ikut dengan orang yang tidak ia tahu.


Marimar dan juga kedua orang itu berjabat tangan, tanda sah, dengan jual beli Lulu. Uang yang diberikan mereka cukup lumayan besar, Marimar tak menyangka jika kedua orang tua yang akan mengadopsi Lulu sangat kaya raya.


Mereka pergi sembari menggandeng tangan Lulu, di mana Marimar melambaikan tangan, mengucap kata perpisahan yang hanya sementara.


Marimar berjalan ke arah mobilnya dengan membawa dua koper hitam yang ia terima dari orang bule.


"Senangnya."


Samsul melihat kedatangan sang nyonya, dia keluar dari dalam mobil segera membukakan pintu untuk sang nyonya.


Samsul sudah menduga jika sang Nyonya sudah mendapatkan hal yang diinginkannya. Tersenyum lepas Marimar tertawa duduk dengan perasaan gembira.


"Jalan."


Mobil kini melaju, Marimar pulang dengan membawa hasil yang sangat indah.


**********


Sedangkan saat motor melaju, Nita melihat Intan pergi membawa sebuah koper.


"Aa, itu Intan."


Nita memukul-mukul bahu Saiful, menunjuk-nunjuk ke arah Intan yang pergi dengan membawa sebuah koper terhitam besar, " Mana, Nita."


Saiful menghentikan motornya, di mana Nita berteriak memanggil Intan.


"Intan, ke mana kamu?"

__ADS_1


Wanita bermata bulat itu menyadari jika sang sahabat memanggil namanya, dengan perasaan cemas dan juga gelisah. Intan menyuruh tukang ojek untuk segera melajukan motornya dengan kecepatan tinggi.


"Ayo bang cepetan bang."


Motor yang membawa Intan begitu cepat melaju, membuat Nita tak bisa mengejar mereka lagi, perasaanya sudah tak karuan, ia ketakutan sekali.


"Gimana ini, Aa. Apa kita kejar."


"Percuma kalau di kejar sudah jauh."


Nita merasa kebingungan, bagaimana bisa Intan begitu cepat pergi menjauh.


"Ya sudah, Aa. Kita ke rumah Nyonya Marimar saja."


Nita, memang tak melihat Intan membawa Lulu, ia terlihat begitu curiga. Jika Lulu sudah dijual kepada Nyonya Marimar, sampai di mana Intan membawa sebuah koper besar.


" kayaknya kita kurang cepat Nita, sepertinya sahabat kamu sudah menjual Lulu kepada Nyonya Marimar."


Saiful sudah tahu akan kebusukan Marimar, akan tetapi ia hanya diam saja, karena percuma melapor kepada polisi, karena tak mempunyai bukti yang begitu kuat.


Saiful dan Nita memutuskan untuk pergi ke rumah Marimar, karena tujuan mereka untuk membawa Lulu kembali.


"Gimana ini, Pak Galih dan Bu Anna terus saja menelepon." Gumam hati Nita.


Wajah resah tak bisa di pungkiri, Saiful merasakan kegundahan wanita yang duduk di jok belakang motornya." Apa yang sebenarnya kamu pikirkan sekarang?" tanya Saiful. Di dalam perjalanan menuju ke rumah Marimar, karena memang rumah Marimar itu sedikit lumayan jauh.


" Sebenarnya, kedua orang tua anak itu akan datang sore hari ini juga. Nita takut kalau mereka kecewa, jikaternyata Nyoyan Marimar sudah pergi membawa Lulu jauh. Harus bagaimana lagi? Padahal saya sudah berusaha menyelamatkan anak itu dari kejahatan, sekarang semuanya lenyap sudah. Kasihan sekali Lulu."


Terdengar Nita mengeluh kepada Saiful, membuat ia merasa kasihan terhadap wanita yang sangat ia cintai." kamu sabar ya, pasti Lulu belum dibawa oleh Nyonya Marimar."


"Nita berharap begitu, Aa. Tapi kalau ternyata Nyonya Marimar sudah membawa pergi Lulu bagaimana, kita menjelaskan kepada kedua orang tua Lulu?"


Saiful juga merasa bingung, karena ia belum tahu masalah dari awal itu bagaimana. "


" kamu yang sabar dulu ya Nita, semua masalnya pasti akan terpecahkan, yang terpenting kamu harus tetap semangat mencari Lulu dan mengambil hak anak itu agar bisa menjadi milikmu lagi, berikan kepada kedua orang tuanya."

__ADS_1


Saiful seperti penenang, bagi Nita.


Dari dulu Nita tak pernah merasakan ketenangan, ia selalu merasa resah sendirian tanpa penenang.


semenjak kedua orang tuanya meninggal, dia hanya bisa menguatkan dirinya sendiri.


"Bagaimana apa sekarang perasaan kamu tenang?" tanya saiful, masih dalam perjalanan menuju ke rumah Marimar.


"Iya, Aa!" jawab Nita.


Akhirnya mereka sudah sampai di tempat tujuan, perasaan tak tenang mulai meliputi hati mereka. Di mana rumah terpagar begitu tertutup, membuat mereka memberanikan diri mengetuk pintu rumah Marimar.


Beberapa kali mengetuk pintu akhirnya Satpam datang.


"Ada apa ya."


Untung saja satpam di rumah Marimar begitu ramah, tidak seperti yang dibayangkan oleh Nita saat di perjalanan. Ia takut jika satpam dan para penjaga di rumah Marimar tidak memperbolehkan mereka masuk," Kami ingin bertemu dengan Nyonya Marimar, apa dia ada di rumah?"


Saiful memberanikan diri untuk bertanya kepada satpam penjaga rumah, berharap jika jawaban sang satpam adalah harapan untuk bisa Nita bertemu dengan Lulu kembali, membawa anak berumur 3 tahun itu ke pangkuan ibu dan juga ayahnya.


"Wah, kalian telat datang ke sininya, terus aja Nyonya Marimar naik mobil. Katanya ada urusan penting."


Jawaban yang tidak menyenangkan untuk Nita, dari sang satpam penjaga rumah itu.


" kira-kira Nyonya Marimar pergi ke mana ya? Oh ya, apa Nyonya Marimar pergi membawa anak kecil?" pertanyaan Nita tak bisa dijawab oleh satpam, Karena semua itu adalah privasi di dalam rumah, tak ada yang boleh menceritakan aktivitas sang nyonya ataupun kepergian sang nyonya bersama siapa.


Satpam itu tersenyum lebar, menjawab perkataan yang tak menyenangkan bagi Nita dan juga Saiful." Saya tidak tahu Nyonya pergi bersama siapa, silakan anda berdua pergi dari sini."


Padahal Nita butuh sekali jawaban dari satpam itu, jika memang Marimar pergi membawa Lulu. pastinya ada satu bukti yang akan menunjukkan jika Lulu benar-benar dijual oleh Marimar.


karena tak ingin membalas, pertanyaan dari Nita dan juga Saiful, satpam itu langsung menutup pintu gerbangnya.


Dengan begitu keras, hingga membuat Nita dan juga Saiful terkejut." Pak satpam tolong dengarkan perkataan kami. "


Satpam itu tidak mau terlalu menjawab pertanyaan orang luar, ia takut jika nanti Nyonya Marimar akan marah kepada dirinya. Jika privasi seorang Nyonya terbongkar sudah, pastinya akan membuat sebuah bencana, bagi kehidupan Marimar untuk kedepannya.

__ADS_1


karena susah payah Marimar membangun kekayaannya bersama suaminya, tentulah bukan hal yang mudah. Butuh perjuangan yang sangat berat dan juga rintangan yang harus ditempuh oleh keduanya.


Walau mereka begitu tega menjual anak-anak yang tak berdosa.


__ADS_2