
Bu Suci tiba tiba saja bergetar, saat pertanyaan berulang ulang dilayangkan polisi. Sedangkan Nita dengan tepat menjawab perkataan polisi yang terus berulang-ulang. Tak ada satupun kesalahan yang terlontar dari mulut Nita semua sama.
Bu Suci mengira jika menghadapi polisi akan mudah seperti ia menghadapi para ibu-ibu yang bisa dipengaruhinya.
Namun pada kenyataannya, ia menjebloskan dirinya sendiri pada Lubang Buaya. Nita yang ketakutan kini memberanikan diri, melirik ke arah Saiful yang terus tersenyum dan menyemangatinya.
Polisi semakin curiga, kepada Bu suci karena gelagatnya, seperti menaruh sebuah rahasia.
polisi menghampiri Nita dan juga Bu suci, di mana polisi itu sempat mengobrol dengan Galih.
"Nama kamu Nita, kamu sudah pernah melapor sekali ke kantor polisi tentang kematian ibu kamu?"
Nita yang menundukkan pandangan karena tak berani menatap raut wajah tegas sang polisi, kini memberanikan diri menatap dan menjawab ucapan sang polisi itu," iya. Tapi saya mencabut tidak memperpanjang masalah kedua orang tua saya, karena .... "
Nita menatap ke arah samping kiri, dimana ada sosok sang tante. Tampak bergetar ketakutan," Karena kenapa?"
Bu Suci terdiam ia bergumam dalam hati karena rasa takutnya," gawat bisa bisa aku masuk ke dalam penjara."
"Karena aku belum cukup bukti. "
Jawaban Nita membuat polisi kini tak bertanya lagi, mereka mulai fokus pada tujuan untuk mencari informasi tentang Marimar.
Bu Suci yang tadinya terlihat gelisah, kini menempelkan kedua tangannya, apa yang dilakukan keponakannya benar benar menakjupkan. Di saat dirinya balas dendam, Nita tak membalas, ia lebih baik diam.
"Apa dia tidak salah bicara? Sok baik. " Gerutu hati Bu Suci. Wanita tua yang kini menjanda tanpa seorang anak satu pun.
Hidupnya selalu diliputi dengan penyakit hati, tak pernah besikap baik pada saudaranya sendiri. Selalu meremehkan dan mengfitnah.
__ADS_1
"Kalau kamu memang punya bukti yang kuat kami akan memperosesnya kembali, demi memulihkan nama baik kedua orang tua kamu." Polisi memberi peluang untuk Nita, gadis itu hanya tersenyum kecil. Seperti sudah menyiapkan kejutan untuk sosok orang yang sudah memfitnah kedua orang tuanya.
"Terima kasih, Pak Polis." Balas Nita.
Sementara waktu, mereka di bebaskan. Setelah kasus itu terungkap lagi. Mereka akan menjadi saksi, padahal Bu Suci sudah bersiap membuat Nita masuk ke dalam penjara. Tapi pertanyaan yang berulang kali membuat Bu Suci tak bisa berbohong.
Galih menghampiri Nita, ia meminta maaf karena sempat emosi, " Maafkan kami Nita, kami sudah salah sangka terhadap kamu, kenyataanya. Polisi sudah mengungkap semuanya, tinggal mereka menyelidiki kembali."
"Nita juga tahu, tidak gampang melaporkan kejahatan seseorang, semua butuh proses. Kita hanya bisa mengadalkan emosi. Padahal kita tidak tahu polisi sedang berusaha, " ucap Nita. Wanita penuh dengan kelembutan itu, menerima permintaan maaf dari Anna dan juga Galih.
"Apa kamu mau kami antarkan pulang, seraya berbincang, " balas Anna, menawarkan tumpangan. Ia menatap ke arah Saiful, dimana lelaki itu memperlihatkan wajahnya berseri dengan tersenyum dan mempersilahkan jika Nita mau ikut dengan kedua orang tua Lulu.
"Apa Nita merepotkan kalian, jika Nita menaiki mobil kalian?" tanya Nita. Merasa tak enak, jika ia harus menaiki mobil kedua orang tua Lulu. Dengan pakaian kampunganya.
"Kami tidak merasa di repotkan kok, kamu malahan senang, jika kamu mau ikut bersama kami!" balas Anna dengan raut wajah ramahnya.
Dari kejauhan Bu Suci tetap saja pada rasa irinya, padahal Nita sudah begitu baik melolosakan dirinya dari pertanyaan polisi.
Pada akhirnya Nita pergi bersama Anna dan Galih, mereka naik ke mobil, untuk segera pulang dan mengantarkan Nita.
Setelah kepergian Nita, Bu Suci melirik ke arah Saiful, berniat menaiki motor lelaki yang menyukai keponakannya.
Karena Kebetulan sekali Bu Suci tidak membawa uang sepeserpun," Saiful. "
Baru saja menyebut nama Saiful, Bu Nira datang, dimana Bu Suci begitu senang. Melihat kedatangan wanita tua yang menjadi geng di perkampungan.
Bu Suci tak perlu kuatir, karena ada Bu Nira yang pasti ingin menumpangnya menuju ke rumah.
__ADS_1
"Ibu, kenapa ke sini?" tanya Saiful saat berjalan menuju keluar kantor polisi.
"Ibu ingin melihat ke adaan .... "
Belum perkataan Bu nira terlontar semuanya, tiba-tiba saja Bu Suci datang mengagetkan mereka berdua.
Untung saja Bu Nira belum menyebut nama Nita, jika iya salah mengucapkan nama itu, pastinya berita di kampung akan heboh. Mereka akan memusuhi Bu Nira, seumur hidup mereka.
"Loh, Bu Suci. Bagaimana sudah selesai penjelasannya pada polisi, oh ya. Nita si cewek kegatelan itu masuk penjarakan?" tanya Bu Nira, berpura-pura memperlihatkan kebenciannya dirinya pada Nita di hadapan Bu Suci.
Bu suci yang terlihat belagu dan juga sombong, dia memperlihatkan raut wajah kekesalannya di hadapan Bu nira," si Nita itu berhasil lolos, Iya dinyatakan tidak bersalah dan akan menjadi saksi kejahatan saat Intan sahabatnya itu ditemukan."
Raut wajah Bu Suci memperlihatkan amarah, Bu Nira hanya bisa mengikuti drama untuk berpura-pura baik dan juga berpihak kepada bu suci dan ibu-ibu di kampung.
"Oh ya, Bu Suci naik apa? Kebetulan sekali ...."
Belum perkataan Bu Suci terlontar semuanya, Bu Nira menarik tangan anaknya untuk segera pergi dari kantor polisi, Bu Nira ingin mengajak anaknya ke tempat makan, karena tiba-tiba saja perut wanita tua itu terasa perih.
Bu Suci tentu saja kaget, Bu Nira terburu-buru pergi hingga di mana wanita tua itu tak bisa menjelaskan bahwa dirinya tidak bisa pulang.
"Loh, loh. Kenapa Bu Nira dan Saiful malah pergi begitu saja. Gimana ini, mana nggak ada ongkos untuk pulang, " gerutu Bu Suci, terlihat kesal ia berjalan keluar dari kantor polisi
Bu Nira dan Saiful ternyata sudah pergi jauh dengan mengendarai motor, sebenarnya Bu Nira sengaja melakukan semua itu, ingin mengerjai Bu suci yang selalu semena-mena terhadap Nita.
Dari gerak-gerik Bu suci sudah terlihat oleh Bu Nira, maka dari itu ia menarik tangan anaknya dan buru-buru lari untuk menaiki motor, sedangkan mobil yang ia bawa ia taruh pada bengkel.
Dalam perjalanan menuju ke rumah," Ibu kenapa sih Kok tarik-tarik tangan Saiful?"
__ADS_1
Pertanyaan anaknya membuat Bu Nira tertawa terbahak-bahak," Ibu ini aneh, ditanya malah tertawa."
Bu Nira memukul bahu anaknya dari belakang, di mana angin berhembus membuat rambut wanita tua itu sedikit mengapung," ibu itu sengaja mau mengerjai Ibu Suci, biar dia pulang jalan kaki."