Dibalik Diamnya Mertuaku

Dibalik Diamnya Mertuaku
Ban 184 Keharmonisan yang diinginkan Bu Sari


__ADS_3

Bu Sari terlihat panik, ia menggenggam ponselnya. Karena sang suami yang belum pulang ke rumah, mencoba menelepon.


Namun, ternyata ponselnya berada di dalam rumah. Bu Sari sedikit kuatir, jika sang suami mengetahui kalau Bu Sari pernah memarahi Anna, karena masalah dirinya yang meminta Raka dibebaskan di dalam penjara.


Yang ditakutkan Bu Sari, lelaki tua itu akan memarahinya, dan menegurnya." Aku nggak boleh panik, bisa saja ini hanya perasaanku saja. Karena terlalu memikirkan Raka."


Dua jam berlalu, ketukan pintu terdengar. Sosok lelaki tua datang dengan membawa beberapa bingkisan seperti makanan dan juga baju yang sengaja ia bawa.


"Bapak, kok lama pulangnya?" tanya Bu Sari kepada suaminya, terlihat wajah berseri dan dari raut wajah sang suami. Ia perlihatkan di depan istrinya.


"Bapak kenapa? Senyum senyum gitu?" tanya Bu Sari kembali, lelaki tua itu kini memberikan beberapa bingkisan yang diberikan oleh Anna. Untuk dirinya dan juga sang istri.


"Nih, bapak bawa oleh-oleh. Kebetulan Anna memberikan bingkisan ini untuk ibu!" jawab sang suami, dengan nada bicara penuh rasa bahagia.


Bu Sari perlahan membuka bingkisan yang dibawakan oleh suaminya, dia melihat isi dalam bingkisan itu.


Makanan dan juga baju hagus. " Wah, bagus sekali ini, pak."


"Oh ya, Anna yang membelikan baju itu untuk ibu, dan lagi saat bapak di rumah sakit, Anna menanyakan ibu, katanya kenapa ibu tidak datang dan ikut ke rumah sakit?"


Deg ....


Perkataan sang suami, tentulah membuat Bu Sari sedikit tak enak hati," hanya itu saja yang ia tanyakan?"


Sang suami hanya mengurutkan dahi, sembari merapikan baju yang dibelikan oleh mantan menantunya itu." iya hanya itu saja."


"Nggak ada kata ngata ngatain ibu gitu, atau jelekin ibu di depan bapak?" tanya Bu Sari, membuat sebuah pertanyaan yang membuat suaminya merasa heran.


"Ibu ini, aneh. Anna itu dari dulu, tak pernah menjelekan ibu, yang ada mulut ibu tuh yang suka menjelekkan Anna!" jawab sang suami. Terkadang benar dengan apa yang dikatakanya.

__ADS_1


Bu Sari memukul bahu lelaki tua yang menjadi suaminya dengan begitu keras," Bapak, ini kok ngomongnya gitu sih. "


Bibir Bu Sari nampak mengkerut setelah suaminya, meledeknya sesuai kenyataan." loh kok Ibu marah sih sama bapak, memang kenyataannya bukan."


Terlihat wajah Bu Sari memerah, seperti menahan amarah. Ia melemparkan bingkisan yang sengaja dibawa suaminya.


"Bapak itu, nyebelin."


Wanita tua dengan rambutnya tergulung rapi, pergi meninggalkan sang suami. Ia masuk ke dalam kamar dan membanting pintu kamarnya, sedangkan lelaki tua yang menjadi suaminya itu, hanya bisa menggelengkan kepala melihat tingkah Bu Sari seperti anak kecil.


Dengan kesabaran yang dimiliki lelaki tua itu, ia mengetuk pintu kamar istrinya." Bu, kok. Gitu aja pake acara ngambek, sudah tua juga."


Ucapan lembut keluar dari mulut suaminya, Bu Sari hanya bisa menahan amarah dan sesekali tersenyum.


"Apasih pak, sudahlah. Pergi sana memangnya punya suami tuh, banyakin meledek dari pada mendukung istrinya."


Perut Bu Sari terasa kerocongan, saat mendengar kata kue, rasanya ia ingin memakan kue yang sengaja dibelikan Anna untuk dirinya dan sang suami.


Namun karena amarahnya yang menggelunjuk, membuat ia menahan rasa ingin mencicipi kue itu. Berusaha memperlihatkan kemarahan di depan sang suami, agar ada rasa kesabaran, jika Bu Sari tak menyukai Anna dari dulu.


Lelaki tua yang menjadi suaminya, menikmati kue itu dengan begitulah lahap, hingga menyisakan setengah dari kue yang ia makan. Karena ia tahu sang istri pastinya akan datang setelah ia tidur, untuk memakan kue sisa setengah itu.


Bu Sari, berusaha menutup kedua matanya untuk segera tertidur. Tapi suara perut tak bisa dibohongi, ya terus terdengar nyaring seakan meminta makanan.


Perlahan Bu Sari bangkit untuk keluar dari dalam kamar, melihat apakah masih ada kueh yang tersisa di atas meja.


Saat membuka penutup makanan, Bu Sari begitu senang ternyata sang suami menyisakan setengah kue yang dibelikan anak untuk dirinya.


Mengambil dan mencoba merasakan, betapa nikmatnya kue itu saat ia makan.

__ADS_1


Sang suami ternyata belum tidur, kini menertawakan istrinya tengah menikmati kue yang sengaja iya sisakan untuk sang istri.


"Hem, gimana enak?" Perkataan sang suami, membuat Bu Sari mengganggukan kepala sembari menikmati begitu lezatnya kue yang ia makan.


"Katanya nggak mau!"


Perkataan lelaki tua, membuat ia tentu saja malu. Dengan terburu-buru menyimpan makanan di atas meja, agar tidak diketahui sang suami.


"Pak, ngapain bapak ada di sini?"


Pertanyaan Bu Sari terlihat gugup dan ketakutan, ia seperti malu dengan apa yang ia makan dibelakang suaminya.


"Loh, bapak kan datang ke dapur pengen makan lagi kue yang dibelikan oleh Anna, memangnya kenapa?"


Bu Sari semakin tak terkendali, ia malu dan berlari menjauh dari hadapan suaminya. Lelaki tua yang selalu menerima dirinya apa adanya kini memegang tangan sang istri, agar tidak pergi dari hadapannya saat itu juga.


"Kenapa pergi, ayo kita makan kue bersama."


Berusaha membujuk dengan harapan sang istri mau, memakan kue bersama sang suami.


Lelaki tua itu, menyuruh istrinya untuk duduk. Ia juga sengaja menyiapkan kopi dan teh hangat, agar menemani malam-malam yang begitu dingin.


"kalau begini rasanya, jauh lebih enak kan. Coba kalau dari dulu ibu selalu mau diajak Bapak berdua seperti ini, mungkin tidak akan ada pertengkaran di antara kita berdua, sudah lama Bapak ingin merasakan kemesraan Ini, setelah sekian lama ibu selalu disibukkan dengan masalah Raka. Padahal anak kita itu sudah besar, dan kita tidak usah mengurusi urusannya. Biarkan dia menjadi lelaki dewasa agar hidupnya tidak bergantung dengan orang tua."


Bu Sari menundukkan wajah setelah apa yang dikatakan suaminya tentulah sangat benar, sebenarnya Bu Sari juga tidak ingin mengurusi urusan anaknya sendiri. Tapi karena Raka anak satu-satunya yang selalu melawan dan menginginkan sesuatu hal yang harus dituruti, membuat ia ketakutan jika nanti Raka pergi di dunia ini. Apakah masih ada kesempatan untuk Bu Sari mencurahkan kasih sayangnya terhadap Raka.


Namun, ternyata semua itu salah besar, semakin kita memanjakan seorang anak. Semakin ia akan bergantung dengan kita, dan tak mau berusaha sendiri melawan kehidupan yang akan ia rintangi.


Begitulah dengan Raka, yang selalu dimanjakan Bu Sari, tanpa mengenal lelah akan dirinya yang juga butuh waktu memanjakan diri. Bersama sang suami. Merasakan momen-momen bahagia untuk seorang suami istri yang jauh kata romantis dari sebelumnya.

__ADS_1


__ADS_2