
Bu Sari, duduk mendekat ke arah Anna dengan berkata." Anna, ibu minta kamu bebaskan Raka."
Wajah memelas Bu Sari terlihat menyedihkan, membuat Anna berusaha tetap pada pendiriannya.
"Maaf bu, Anna tidak bisa," balas Anna. Tentulah membuat Bu Sari kesal.
Wanita tua itu mencoba bersikap tenang agar tidak tersudut oleh emosi. Bisa bisa rencananya gagal.
"Ayolah Anna, masa kamu bisa membebaskan Ajeng, sedangkan Raka? Apa kamu tidak kasihan kepada ibu dan juga bapak?"
Bu Sari mencoba mengemis ngemis, memohon dengan raut wajah sedihnya. Memegang tangan wanita yang dulu menjadi menantunya itu, sampai Anna memegang erat tangan Bu Sari." Anna melepaskan Ajeng karena ia mengalami depresi dan sekarang akan dilarikan ke rumah sakit jiwa."
Wanita tua itu, semakin tak kuasa menahan amarah. Dia melepaskan tangan Anna dengan medelik kesal dan berkata." Kamu itu tidak adil, Anna."
"Maafin Anna, ya, bu. Tapi jika ibu butuh sesuatu Anna pasti akan bantu."
Bu Sari seakan tak senang dengan ucapan yang terlontar dari mulut Anna, ia membuang muka dan berkata." Memang kamu kejam ya, Anna. Tidak ada rasa kasihan terhadap kami."
Air mata keterpaksaan itu kini keluar dari kedua mata Bu Sari," Apa kamu tidak mau melihat ibu dan bapak bahagia."
Perkataan Bu Sari semakin aneh didengar oleh Anna, untuk apa Ana melihat kebahagiaan Bu Sari dan juga Raka.
karena Ana tidak ada hak untuk membahagiakan orang yang bukan keluarganya lagi," Anna. Minta maaf sekali lagi ya Bu. Ana tidak bisa menuruti keinginan ibu."
Amarah yang ditahan oleh Bu Sari akhirnya keluar juga, wanita tua yang menjadi ibunda Raka itu caci maki dan menghina Anna.
Ia berdiri dengan lantangnya." Memang, ya. Kamu ini jahat. Anna. Membiarkan orang lain menderita."
Anna hanya menarik napasnya mengeluarkan terasa sesak. Padahal orang yang jahat dari dulu Bu Sari dan juga Raka, tapi kenapa mereka malah mengatai Anna.
"Maafkan saya bu, jika di mata ibu saya tidak bisa menjadi orang baik. Yang terpenting saya tidak membuat ibu rugi."
__ADS_1
Anna berusaha tetap tenang, berkata seadaanya tanpa harus menyakiti hati wanita tua yang berada dihadapannya.
Brakk ....
Bu Sari yang sudah kelewatan emosi, membanting kursi di ruangan Anna, membuat para suster datang dan mengecek keruangan.
"Suster, tolong bawa wanita tua ini keluar dari ruangan saya." Printah Anna, membuat Bu Sari semakin murka.
"Heh, Anna. Jangan seenaknya kamu kepada kami, awas saja. Jika Raka tidak kamu bebaskan dari dalam penjara, ibu pastikan hidup kamu tidak akan bahagia." Ancam Bu Sari, membuat Anna berusaha tak mempedulikannya, ia hanya diam.
Sedangkan para suster menyuruh Bu Sari untuk segera keluar dari dalam ruangan." Maaf, bu. Sebaiknya ibu selesaikan masalah ibu nanti saja. Pasien kondisinya masih belum setabil."
Tangan suster yang memegang tangan Bu Sari, kini terlepas, tenanga wanita tua itu begitu kuat. Bisa membuat para suster kewalahan.
"Jangan pegang tangan saya, saya bisa pergi sendiri."
Anna masih menahan rasa sesak di dalam dada, tatapan Bu Sari begitu menyeramkan. Membuat Anna tak berani membalas tatapan itu, ia sangat menghormati orang tua, sejahat apapun itu.
Bu Sari pada akhinya keluar dari dalam ruangan Anna, hingga dimana wanita tua itu bertabrakan dengan Indah.
"Aw."
Berdiri dan menatap ke arah Bu Sari." Ibu."
Kedua mata Bu Sari membulat melihat Indah, wanita yang menjadi kakak Anna, " Mm, jalan tuh pake mata." Tiba-tiba saja Bu Sari mengatakan hal yang tak terduga.
Tentulah membuat Indah kesal dan membalas." Loh, kok ibu sewot gitu sama saya. Ibu tuh, jalan yang nggak pake mata."
Mendelik kesal," memang ya, adik kakak itu tak jauh berbeda, sama sama kurang ajar sama orang tua."
Indah melipatkan kedua tangannya, wanita tua yang dianggap lembut itu membuat Indah kesal dan ingin menamparnya saat itu juga.
__ADS_1
"Apa ibu bilang, saya dan Anna kurang ajar sama orang tua. Memang ibu itu orang tua ya, heh bu. Kalau memang mau di hargai, jadilah orang tua yang bijak dalam menyikapi masalah bukan malah marah marah nggak jelas. Ini nggak ada angin nggak ada ujan, tiba tiba marah marah kaya orang gila."
Amarah semakin memucak, membuat rasa kesal semakin mendera. Bu Sari mulai melayangkan tamparan pada Indah.
Namun tertahan oleh Deni, lelaki yang mejadi suami Indah menghempaskan tangan Bu Sari, yang hampir melukai pipi sang istri.
"Bu, kalau ada masalah jangan main tangan. Ini namanya tidak baik dan bisa saya laporkan ke kantor polisi. "
Bu Sari yang mendengar perkataan Deni membuat ia menjawab." Saya tak peduli, kamu hanya anak kemarin sore yang menikahi janda bekas dan tak berkelas ini. Sungguh. Miris hidupmu Deni, seakan tak laku."
Mulut Bu Sari memang tak bisa dijaga pandai menghina dan mejelekan orang lain. Tak bisa introfeksi diri akan kejelekannya sendiri.
"Pantas saja anaknya masuk penjara, toh mewarisi kejelekan emaknya. Untung saja adikku aku suruh gugat tuh si Raka kere, udah selingkuh, pengangguran tak berguna lagi. Mana ada laki kaya gitu. Eh bu, walau suami saya ini milih janda kaya saya, inget ya bu. Suami saya pekerja keras, tampan dan banyak duit, dari pada anak ibu yang laki. Songongnya aja kebangetan."
Indah tak habis habisnya menjawab hinaan Bu Sari, karena terlampau kesal. Andai saja Bu Sari bisa menjaga perkataanya, Indahpun tak akan membalasnya dengan lebih sadis.
"Alah." Menyenggol keras tangan Indah, wanita tua itu pergi, terlihat sekali kedua pipinya memerah. Seperti malu. Menahan amarah.
"Ih, dasar sudah tua bukanya memperbaiki diri, ini malah semakin jadi jadi. Amit amit jabang bayi, ada ya model wanita berumur kelakuanya kaya sok benar aja."
Deni menggelengkan kepala dengan istrinya yang menggerutu kesal, " Sudah, Bu Sarinya juga sudah pergi. Ayo kita lihat keadaan Anna."
Indah berusaha mengontrol diri agar tidak larut dalam emosi saat menghampiri adiknya sendiri.
"Sudah tenangkan sekarang?" tanya Deni. Merangkul bahu istrinya. Mereka kini masuk ke dalam ruangan Anna, melihat keadaanya.
Terlihat para suster tengah menenangkan Anna, Indah dengan berjalan cepat, menghampiri sang adik. Melihat kondisinya yang sekarang, apa Anna baik baik saja setelah berhadapan dengan wanita tua rese bernama Bu Sari itu.
"Anna, sayang. Ini kakak."
Mendekat ke arah sang adik, Anna menangis dan memeluk sang kakak dengan begitu erat. Indah sudah menduga jika Bu Sari sudah melakukan hal yang tak baik kepada adiknya itu.
__ADS_1
"Kamu yang tenang ya, Indah."