
Mendengar cerita yang terlontar dari Bu Ayu, Galih menarik tangan Anna dan berbisik. "Anna, sebaiknya kita pulang."
"Tunggu dulu, mas. Aku ingin mendengar cerita dari Bu Ayu tentang Ajeng. " Anna membantah ajakan suaminya.
"Anna, sudah cukup. Tak perlu kita ikut campur masalah dan urusan mereka, biarkan saja. " Galih berusaha mengajak Anna untuk segera pergi dari rumah sakit.
Anna malah menekan suaminya, jika ia ingin tetap mendengarkan apa yang dikatakan Bu Ayu. Mengusap kasar wajah, membuat Galih ingin rasanya memarahi sang pujaan hati, tapi apa daya mulut tak sampai dan hati tak tega.
"Tolonglah, Ann mengertilah aku sekarang. Kita juga punya banyak masalah, jangan terlalu mengurusi masalah orang lain, dan lagi masalah kamu sudah selesai dengan Raka dan juga Ajeng. Aku ingin bercerita pada kamu, agar semua ini tak menjadi beban untuk diriku. "
Galih berusaha membujuk sang istri, dengan berbagai cara, walau itu rasanya sulit, karena memang Anna adalah wanita keras kepala.
Kedua mata Anna tetap saja melirik ke arah Bu Ayu, begitu menyedihkan. Wanita tua yang menjadi ibunda Ajeng mendapatkan balasan atas kelakuan mereka tak henti-henti. Rasa iba mulai dirasakan Anna, akan tetapi ia juga sebagai seorang istri harus menurut apa yang dikatakan sang suami. Jika tidak? Apa jadinya nanti pernikahan yang baru saja dijalani Anna selama dua hari kandas.
Wajah wanita tua yang memakai baju berwarna hijau muda itu, terlihat ingin meminta bantuan terhadap Anna, akan tetapi karena rasa malu dan juga ketidakberdayaan membuat wanita itu hanya diam, dia juga menyadari. kesalahannya yang sudah ia perbuat bersama keluarganya.
"Anna, ayolah beri aku waktu untuk berbicara denganmu, aku tidak mau terus-terusan menyimpan semua yang ingin aku ceritakan kepada kamu. Aku ingin kamu tahu semuanya?"
"Baiklah mas, sekarang kita pergi ke sebuah taman, agar kamu bercerita kepadaku tanpa gangguan!"
Betapa senangnya Galih, ketika Anna mau mendengarkan cerita yang sudah suaminya simpan sejak lama.
Hati berdebaran, raga seperti tak karuan. Galih berharap jika setelah ia menceritakan semuanya Anna masih menerimanya dengan rasa cinta seperti sebelumnya.
Kedua insan mulai berjalan keluar rumah sakit, untuk segera menaiki mobil, "Perasaanku tak karuan seperti ini, memangnya apa yang akan di ceritakan Mas Galih?" Gumam hati Anna.
Sedangkan Galih berusaha menerima segala frekuensinya, untuk mendengar jawaban dari Anna setelah mendengar cerita yang sudah lama disimpan oleh Galih.
Setelah sampai di taman kota yang menurut Anna tempat yang sangat cocok untuk mengobrol hal-hal penting dan sebuah cerita. Galih berusaha mengatur napas, pada akhirnya mereka berdua turun dari dalam mobil untuk mencari tempat duduk yang nyaman agar bisa, lebih leluasa bercerita dan mengungkapkan segalanya.
__ADS_1
Angin berhembus, dedaunan dan bunga-bunga taman, tampak menarik saat hembusan angin terus meniup taman kota yang terlihat begitu segar dan terawat, hewan-hewan seperti kupu-kupu begitu mempercantik keindahan di taman kota itu.
Bagaimana bisa Galih menceritakan kesedihan di antara dedaunan dan juga bunga-bunga yang indah, menyebarkan kesegara dan mampu membuat hati nyaman.
Anna menatap ke arah wajah suaminya, yang nampak terlihat gelisah dan kebingungan. Sesekali-kali terlihat seperti orang yang tak percaya, membuat tangan lembut Anna kini memegang perlahan kedua tangan kekar suaminya.
"Apa yang mau kamu ceritakan, mas? Kenapa dari tadi kamu begitu terlihat gelisa. Apa yang sedang kamu pikirkan sekarang?" Pertanyaan Anna membuat Galih semakin bingung, ia harus memulai dari mana dulu untuk bercerita dengan istrinya.
"Mas." Tangan lembut sang istri memegang perlahan pipi Galih dan berkata." Mas, kok kamu malah melamun?"
Badan kekar yang dimiliki Galih seakan tiada Arti, jika lelaki berparas tampan itu tak bisa mengungkapkan kejujuran. Kedua mata berkaca kaca, seakan ingin mengeluarkan air di dalamnya segera mungkin. Sebagai lelaki Galih harus berusaha kuat demi kejujuran dan juga kebahagiaannya.
"Apa kamu akan kuat menerima kejujuran yang akan aku ungkapkan saat ini?"
Anna mengerutkan dahi, setelah menunggu Galih mengeluarkan segala isi cerita yang akan ia ceritakan pada Anna. "Apa maksud kamu, memangnya kamu menyimpan kebohongan apa? Sampai ingin mengungkapkan kejujuran? "
Sebenarnya ini juga kesempatan untuk Anna, menanyakan tentang Farhan, apakah anak pertama yang di pungut Anna adalah anak Galih bersama Ainun.
"Masa lalu? Maksud, aku benar benar tak mengerti, mas?"
Anna berusaha tetap tenang, tidak terkecoh akan ucapan tentang masa lalunya dulu. Tetap mensetabilkan napas, agar tidak menjadi rasa kesal dan juga kemarahan yang menggebu.
"Anna, kecelakaan itu bukan di sebabkan Raka saja?"
Jantung Anna seakan tak karuan, mendengar sebuah kata kata yang terus terlontar dari mulut Galih secara perlahan.
"Aku juga ikut serta dalam masalah ini, maafkan aku yang dari awal menjadi sok baik, hanya untuk mengungkapkan siapa yang bersalah."
Anna mengenggem kedua ujung roknya, masih tak percaya dengan apa yang ia dengar dari mulut suaminya sendiri.
__ADS_1
"Anna, aku melakukan semua ini karena ada alasan tertentu. Jangan dulu marah. "
Kedua mata Anna memerah, seperti menahan tangis dan kekecewaan. "Alasan apa? "
Anna masih mengeluarkan nada lembut di depan Galih, ia tak mau salah mengira jika Anna marah dan memotong penjelasan Galih.
"Ainun."
Mendengar nama Ainun tentulah membuat Anna semakin murka, hati yang tak bisa menahan amarah dan terasa panas, seakan ada kobaran api yang tiba tiba datang, membuat ulul hati seakan sakit.
"Anna, maafkan aku, aku sudah lelah di hantui dengan masa lalu, maka dari itu aku ingin mengatakan semua kejujuran yang sudah aku lakukan di masa lalu, "
"Terus dengan dasar apa kamu menikahiku?"
Pernikahan kini di ungkit oleh Anna, karena ia takut jika Galih mempermainkan pernikahaan.
"Kenapa aku menikahimu karena, semakin lama aku mengenalmu, semakin aku cinta pada kamu Anna, aku tidak bermaksud meyakitimu. Ataupun membuat kamu terluka."
Terdiam, itulah yang tengah Anna lakukan, mencerna perkataan Galih. Semua yang terdengar dari mulut suaminya seakan mematahkan hati dan juga kepercayaan yang selama ini ada pada diri Anna.
"Anna, bicaralah. Aku akan terima keputusanmu. "
Menatap langit, berusaha menahan air mata agar tidak jatuh ke dasar pipi, Anna. Berusaha tegar dan kuat menerima semuanya. Walau dalam kebingbangan.
"Anna, maafkan aku." Kata maaf terus dilayangkan sang pemilik hati Anna. Tangan kekar mulai memegang bahu dengan perlahan, menunggu jawaban. Dan ternyata tangan itu mendapatkan respon yang tak menyenangkan.
Terhempas dan tak mau tersandar dalam bahu lemah Anna.
kedua mata berbinar seakan enggan menatap wajah sang pujaan hati.
__ADS_1
Apa yang akan terjadi dengan Anna dan Galih?