
Masak apa?" tanya ibu mengagetkanku. dari arah belakang.
"Ini bu, ayam goreng!" jawabku, sembari membalikkan ayam goreng agar matang merata.
"Oh. Dapet duit dari mana?" tanya ibu.
"Kamu liat uang ibu yang 10 ribu dia atas meja tidak?" tanya ibu lagi saat itu.
Aku sampai lupa mengembalikan uang ibu, yang aku pakai sebentar untuk berobat Lulu.
"Oh yah bu, tadi aku pinjem. Untuk berobat Lulu." ucapku lirih, sembari menggangkat ayam goreng yang sudah matang.
"Emh,"
Terdengar suara tak menyenangkan dari mulut ibu.
Hingga beberapa menit kemudian.
Ibu berlalu pergi begitu saja, tanpa ada sepatah kata pun. "Kenapa aku bisa lupa, aku harus mengembalikan uang yang aku ambil waktu itu."
Untung saja waktu pulang dari rumah sakit, aku menemukan uang yang aku cari berada di bawah kasur, kebiasaan kalau lupa naro uang.
Setelah selesai meletakan nasi dan ayam goreng pada meja makan. Segera aku memanggil anak-anak dan juga bapak yang ternyata sudah pulang dari ladang, tak lupa memanggil ibu.
Namun saat anak anak, datang. Aku tak melihat ibu lagi.
"Kemana ibu? Apa ibu pergi lagi ke luar. Akh, kebiasaan kalau mau makan ibu suka ke luar."
"Nah, itu ibu." Saat aku hendak menghampiri ibu. Jalanku sedikit melambat, mendengar obrolan ibu pada ibu ibu tetangganya. Aku hanya berdiri mematung saat mendengar perkataan ibu kepada Sumyati.
"Sum, kamu tahu enggak. Menantu kuitu tanganya gatel. Liat duit di meja langsung di ambil, tanpa ngomong ke mertuanya ini. Keterlaluan sekali itu si Ana." ucap ibu, aku yang mendengar dari belakang badanya, hanya tersenyum kepada sumyati.
"Bu Darmi." jawab sumyati menunjuk-nunjuk kearah belakang.
"Nih, ya. Aku gak suka sama si Ana, dia sebagai menantu enggak sopan sekali. Pake acara ngambil duit tanpa bilang-bilang," gerutu ibu yang tak menyadari kehadiranku yang berada di belakangnya.
"Bu, Ada Ana di belakang ibu." Celetuk Bu Sumyati yang sudah tak tahan dengan obrolan mertuaku.
Perkataan ibu langsung terdiam, badan ibu berbalik ke arahku.
"Bu, makanan udah siap," ucapku lembut pada sang ibu mertua.
"Oh," jawab ibu begitu singkat. Mata ibu hanya menunduk, seakan malu. Saat aku mendengar percakapanya.
Ibu berjalan lebih cepat dari pada apa yang aku bayangkan. Walau sebenarnya hatiku sedikit sakit, ibu malah bertingkah layaknya musuh kepadaku.
Setelah sampai di rumah.
Kami sekeluarga makan bersama.
"Masakan kamu enak An," ucap bapak mencolek nasi beberapa kali.
"Teri ...,"
"Alah, cuman masak ayam goreng sama sambel dan kangkung juga. Bapak terlalu berlebihan." timpal ibu menghentikan rasa terimakasihku pada bapak.
Baru kali ini aku mendengar ibu berkata seperti itu. Sedikit tapi bikin hati sakit.
Ibu begitu terlihat tak suka jika menantunya ini di puji bak ratu di rumahnya. Hanya selalu di anggap pembantu dan terlihat seakan menjijikan di depan matanya.
Mm, akhirnya selesai juga makan siang.
__ADS_1
Segera kubereskan semua sisa piring yang tergeletak di meja.
Karna mendengar Lulu yang menangis, ibu langsung memberikan Lulu kepadaku.
"Nih, anakmu nangis."
Aku meraih Lulu dan mengendongnya perlahan.
"Ternyata Lulu pengen susu, alhamdulilah panasnya reda."
"Nanti kalau Lulu demam, jangan langsung bawa ke rumah sakit. Puskesmas deket ini," ucap ibu ketika aku hendak menyusui Lulu.
"Iyah bu." Andai saja ibu tau puskesmas saat itu tutup, biar saja lah aku tak mau berdebad dengan mertua.
Setelah beres menyusui Lulu, aku bergegas menemui ibu untuk mengembalikan uang yang aku ambil, waktu itu.
"Bu Maaf ini uang yang aku ambil waktu tadi pagi," ucapku menyodorkan lembaran uang 10 ribu 5 lembar.
Ibu sedikit tertohok melihat uang yang aku berikan.
"Bukanya hanya 10 ribu kenapa kamu beri lima lembar pecahan 10 ribu."
Aku tersenyum dengan perkataan ibu.
"Ini aku berikan untuk ibu, karna sedikit membantu saat aku lupa menyimpan uang, dan kebetulan sekali sisanya aku nitip sama ibu untuk bayar ayam ke warung sebelah.
Ibu seakan malu untuk mengambil uang itu. Tapi perlahan-perlahan tangan ibu menghampiri pecahan uang 10 ribuan itu dan mengambil, sambil berlalu pergi.
Aku hanya menggeleng-geleng kepala.
*********
Mas Raka kemana kamu?
"Suami kamu lagi kerja, tak usah di pikirin dia lagi cari uang banyak." ucap ibu saat aku menunggu di abang pintu.
Apa ibu sudah tahu pekerjaan Mas Raka, sampai berbicara seperti itu.
"Emang Mas Raka kerja apa bu?" tanyaku pada ibu, tapi nihil ibu tak menjawab pertanyaanku. Dia malah berlalu pergi meninggalkan aku dengan sejuta pertanyaan.
Tok ... Tok ... Tok ...
Siapa ya, sudah malam gini.
Saat kubuka pintu, ternyata Mas Raka pulang membawa. Oleh-oleh untuk anak-anak.
Aku memeluk tubuhnya seakan rindu berat tak tertahankan.
"Mas dari mana saja kamu?" Dia tersenyum menatap ke arah wajahku.
"Mas kerja, jadi Mas pulang 1 bulan sekali!" balas Mas Raka, memperlihatkan manik manik bahagianya di depan wajahku.
"Mmm."
"Jangan suka nanya-nanya, suami kerja bikinin kopi ke, makanan. Ini sudah malah di siapin pertanyaan," ucap ibu menghampiri suamiku,
Deg ...
Kenapa omongan ibu makin ke sini makin ketus, aku menundukan pandangan. Dan berpamitan untuk pergi mengambil air minum.
Aku sempat lupa menanyakan Mas Raka ingin di buatkan makanan apa?
__ADS_1
Ternyata Mas Raka dan ibu sedang menggobrol begitu serius, entah apa yang mereka obrolkan aku tak tahu.
Tapi aku melihat ibu menampilkan wajah senangnya pada Mas Raka. Sedangkan Mas Raka seperti orang yang terlihat sedih.
Apa yang mereka bicarakan hingga serius begitu?
"Mas, mau di bikinin makanan apa?" tanyaku memotong pembicaraan ibu dan Mas Raka.
Mereka menatap kearahku.
"Apa ajah Mah ...," ucap suamiku, seakan dia seperti ketakutan. Saat obrolan Mas Raka dengan ibu terpotong oleh perkataanku.
Kenapa Hati ini kian resah, gemuruh jiwa seakan melanda pikiranku yang bertanya-tanya.
Mudah-mudahan tidak ada yang di rahasiakan oleh ibu dan Mas Raka. Pikiranku benar-benar dibuat tak karuan, malam ini.
***********
Saat malam hari, entah kenapa Mas Raka tidak meminta haknya kepadaku. Apa karna dia lelah.
Biasanya kalau sudah berbulan-bulan mungkin, dia akan merindukanku dan juga meminta hak nya.
Tapi biarlah mungkin dia lelah.
Dret ...
Suara Hp Mas Raka berbunyi tengah malam gini.
Siapa ya?
Aku segera mengecek layar Hp yang berbunyi itu, kulihat satu pesan terbaca olehku.
Namun tak banyak hanya terlihat sedikit, karna layar yang terkunci.
1 Minggu lagi, maksudnya apa. Pesan apa satu minggu lagi.
Sebenarnya ada apa dengan Mas Raka?
"Mah, kamu belum tidur?" Mas Raka memegang tanganku, lalu dia membuka matanya. Melihat aku yang memegang Hp-nya, ia langsung terduduk seperti orang kaget saja.
"Kenapa pah?" tanyaku melihat gelagatnya yang seakan mencurigakan.
"Oh gak, kenapa mamah pegang Hp papah?" tanyanya sembari mengaruk belakang kepala.
"Oh tadi ada pesan, cuman gak bisa kebuka karna layarnya terkunci."
"Sini biar papah lihat,"
Saat Mas Raka membuka layar Hp nya, ada sedikit kesedihan terukir di bibirnya, wajah begitu terlihat tak suka.
Ada apa?
"Siapa Mas?" Aku bertanya-tanya, memegang pundaknya.
"Ini temen." jawaban Mas Raka seakan tak dapat aku percayai
"Cewek, Cowok?"
"Cew ... Cowok lah sayang masa cewek." tingkahnya semakin mencurigakan.
Apa yang kamu sembunyikan Mas? Di balik wajah sedihmu itu?
__ADS_1