
Setelah kepergian Anna, Indah menemani Lulu bermain, karena Farhan dan juga Radit pergi ke sekolah.
Suara bel berbunyi. Terkadang tamu mengetuk pintu atau membunyikan bel. Lulu yang tengah anteng bersama Indah dan juga baby sister. Masih mendengar suara bel berbunyi, membuat Indah penasaran, ia lupa jika Mbok Nun tengah pergi ke pasar.
Indah perlahan berjalan menuju pintu rumah, saat membuka pintu rumah Anna, betapa terkejutnya Indah melihat Deni datang dengan penampilan yang terlihat begitu rapi. Anak muda itu memakai kemeja bermotif kotak dengan jens berwarna krem. Terlihat lebih dewasa, Indah yang melihat Deni tetap saja berpikir bahwa dia bocah ingusan.
Kedua ujung bibir yang lebar, masih di perlihatkan Deni di depan Indah. Membuat Indah berucap, " Bocah, Aneh."
"Helo, kak. Deni mau tanya, Kak Anna ya ada?"
Indah melipatkan kedua tangannya menjawab perkataan Deni dengan cetus. " nggak ada, Anna pergi. "
Deni malah semakin suka dengan jawaban Indah, membuat ia semakin penasaran. Ingin mendekati Indah dan mengenalnya lebih dalam.
"Ngapain liat liat gitu. " Pekik Indah tak suka dengan Deni.
"Wah, sayang sekali ya, kak. Padahal Deni datang ke sini mau mengajak Kak Anna kepemakaman Almarhum Kak Daniel. "
Terlihat raut wajah sedih dari Deni, membuat Indah perlahan merasa kasihan dan bersimpati.
"Kenapa kamu tidak kirim pesan pada adikku? " Tanya Indah dengan nadanya yang masih sama, cetus.
"Tadi Deni sudah mencoba menghubungi Kak Anna, tapi nomor kak Anna sedang pada panggilan lain, oh ya apa Kak Indah, bagaimana kalau kakak saja yang menggantikan Kak Anna, mengantar jenazah Kak Daniel kepemakaman! " Tawaran terlontar begitu saja dari mulut Deni. Anak remaja yang masih menginjak umur 20 tahu, ia masih baru barunya mengenal sosok perempuan dan juga perasaan cinta pada hatinya.
Indah berpikir sejanak," apa bisa digantikan dulu seperti itu. Enggak wajar baget, soalnya kan saya hanya kakaknya saja. "
Deni berusaha memikirkan cara agar Indah bisa ia ajak pergi, dengan seribu cara, saat itulah Deni menjawab. " Tentu saja bisa Kak, dari pada tidak ada pihak dari keluarga Kak Anna, kasihan almarhum kakak saya. "
"Benar juga ya, kata kamu. Kalau sekarang Anna di suruh pulang itu tak mungkin, bisa saja acara Anna dan Galih rusak, kasihan juga Anna." Gumam hati Indah memikirkan sang adik yang tengah pergi bersama Galih.
"Ya sudah kalau begitu, saya yang akan mengantikkan Anna ke pemakaman, tapi kamu tunggu dulu di sini, saya mau ganti baju dulu." Indah mulai berjalan untuk mengganti pakaianya, ia bergegas berdandan seadaanya.
Setelah selesai, Deni yang menunggu di luar rumah Anna begitu senang. Jika Indah bisa di bawa pergi olehnya.
"Sepertinya akan menyenangkan."
__ADS_1
Indah tiba tiba ada dibelakang Deni, membuat Deni terkejut, " tadi kamu bilang apa?"
Sembari mengelus dada, Deni mulai menjawab, " An_nu Kak, itu tadi orang lewat. Nyapa saya, katanya saya ganteng. "
Indah tertawa kecil, dimana Deni yang melihat tawa Indah terpesona. Jantung Deni berpacuh lebih cepat dari sebelumnya, ia merasakan getaran cinta semakin membahana. Membuat hatinya tak terkendali ingin mengungkapkan rasa suka itu.
Indah melihat Deni bengong, membuat ia melambaikan tangan ke arah wajahnya." Deni. "
Seketika lamunan membuyar, Deni kembali bertanya. " kenapa, kak. "
"Mm, dasar bocah banyak melamun. Mikirin apa? Jangan jangan kamu sudah puber ya. "
Deni tak menyangka dari sifat Indah yang cuek itu ada kesan humor.
Senyuman dari bibir tipis Indah membuat Deni semakin suka.
"Indah, kamu begitu cantik. "
Ucapan Deni ternyata terdengar juga oleh Indah, " Heh bocah kamu tadi bilang aku cantik. "
Kedua pipi Indah memerah merona, membuat ia menahan rasa malu. Deni mengalihkan pembicaraan agar Indah tak malu dan juga kesal terhadapnya. " Berangkat sekarang kak, takut keburu siang."
"Oh ya udah ayo. "
Mereka mulai menaiki mobil untuk segera berangkat ke pemakaman jenazah Daniel yang hanya tulang belulang saja.
Di dalam perjalanan, Deni mulai melayangkan aksinya. Di pertengahan jalan, Deni berpura pura mengangkat panggilan telepon dari ibunya di depan Indah.
Padahal itu hanya taktik murahan Deni, untuk mendekati Indah, wanita yang membuat hatinya tak karuan sejak pertama berjumpa.
"Halo, bu. Ada apa? "
Deni sekilas melirik ke arah Indah, mencoba membuat dia tak marah.
"Ya, gimana donk, bu. Deni kan sudah menjemput kak Indah yang mau mengantikkan Kak Anna kepemakanan. "
__ADS_1
"Ya sudah kalau di tunda. "
Deni berbicara sendiri pada ponselnya, membuat Indah yang berada di sampingnya mulai bertanya, " ada apa, Deni? "
Deni memperlihatkan wajah sedihnya, agar Indah tak marah kepadanya.
"Maaf Kak, acara pemakamanya di tunda besok. "
Sontak Indahpun tercengang kaget dengan jawaban Deni, padahal Indah sudah berdandan rapi, dan perjalanan pun sudah lumayan jauh.
"Kalau tahu gitu, mungkin kakak enggak bakal ikut kamu. " Terlihat wajah kesal dari muka Indah, Deni yang menjalankan rencana ini, kini menjawab dengan nada pelannya. " bagaimana kalau kita makan dan jalan jalan saja, kak. "
Indah menatap ke arah Deni, " apa yang di katakan kamu ada benar ya juga ya. Dari pada saya cape cape dandan enggak kemana mana, ya sudah kita jalan jalan saja. Saya kebetulan lapar, kita cari tempat makan sederhana di sini. "
Deni tak menyangka jika Indah terlihat santai tak marah marah kepadanya, ia tersenyum penuh kemenangan karena sudah membawa orang yang ia sukai pergi.
Mobil kini terparkir di sebuah rumah makan sederhana, Indah yang memang pekerja keras tak pernah ingin makan di restoran, ia selalu mementingkan kesedehanaan dari pada kemewahan.
"Kakak, yakin mau makan di sini? " tanya Deni terlihat ragu, karna ia baru pertama kali melihat cewak suka kesedehanaan.
"Yakin lah, kakak suka makanan sederhana, bagi lidah kakak itu sangat istimewa! " balas Indah. Semakin bertambahnya rasa suka Deni pada Indah.
Mereka mulai masuk, hanya saja sesuatu terjadi, dimana Danu tiba tiba datang. Menghajar Deni dengan beberapa kali pukulan. Indah langsung menghentikan aksi Danu yang keterlaluan, tiba tiba menghajar.
"Stop Danu. "
Teriakan Indah membuat Danu menghentikkan tanganya yang memukul Deni.
"Kenapa? Lelaki ini pantas aku musnakan, karena sudah berani mengajak kamu berkencang. "
"Danu, apa kamu gila. Siapa yang berkencan. "
"Sudahlah jangan pura pura lagi Indah, kamu tidak mau balik lagi denganku karena sudah ada yang baru, dan selera kamu. "
Danu menatap ke arah Deni dari ujung kaki hingga ujung kepala, membuat Danu berucap kembali," bocah tengil. "
__ADS_1
Perlahan Danu berjalan ke arah Deni dan bertanya? " Di bayar berapa kamu sama dia. " Telunjuk tangan Deni mengarah ke arah Indah. Membuat Deni tentu saja murka.