
"Heh, pergi sana. Ini taksi saya ya, saya yang lebih dulu berhentiin ini taksinya, hus sana pergi. " Ainun yang memang belum sembuh total, selalu berbicara sendiri dan kadang berhalusinasi.
Ia mengira jika di dalam taksi ada sesorang padahal hanya ada sang sopir saja.
Lelaki berumur tiga puluh tujuh tahun mengaruk belakang kepalanya, melihat pada kaca mobil di belakang Ainun benar- benar berbicara sendiri.
"Mbak, jadi nggak naiknya?" tanya sang sopir, tak mau berlama lama menunggu penumpang yang terus mengoceh sendiri.
"Ya jadilah, cuman bapak sopir itu usir ini orang dari tadi nggak mau mengalah! " jawab Ainun dengan menunjuk- nunjuk kursi kosong yang dianggap ada seseorang yang lebih dulu masuk ke dalam taksi.
"Mbak ini gila ya, dari tadi juga dibelakang kursi tidak ada siapa siapa, mbak ini bagaimana sih, kalau memang nggak punya duit jangan naik," gerutu sang sopir menyuruh Ainun menyingkir pada pintu mobil taksinya. Menutup rapat dan menyalakan mesin mobil.
Ainun di tinggal pergi begitu saja, oleh sang sopir. Karena tingkahnya yang tak waras. Mengatakan jika di dalam taksi ada seseorang yang masuk terlebih dahulu dari padanya.
Sopir mengerutu kesal sembari menjalankan mobilnya dengan berkata. " Dasar stressss. "
Ainun malah tertawa setelah mobil taksi itu pergi, berjalan dan seketika berubah dalam gemercik hujan dia malah menangis. Sejadi jadinya, mengigat bayang bayang wajah Galih yang menyebuhkanya, bertangung jawab padanya. Tapi Ainun malah pergi ke desa karena hatinya yang tak mencintai Galih.
Tega meninggalkan darah dangingnya sendiri, hingga dia menyesal. Karena Galih ternyata sudah membuang Alex.
"Mama rindu kamu, Alex. "
Hawa dingin begitu terasa menusuk tubuh. Baju Ainun sudah basah dengan air hujan, ia hanya duduk menunggu taksi datang.
Sudah setengah jam menunggu, di pinggir jalan tak ada taksi yang mau menumpangi dirinya.
Ainun jatuh pingsang di pinggir jalan, semua orang yang berada di sana terkejut, mencari ponsel menelepon seseorang yang bisa dihubungi.
Ainun hanya punya satu nomor, dan itu adalah nomor Galih. Dimana lelaki berparas tampan dengan hidungnya yang mancung itu merasakan kehagatan akan dekapan Anna.
Dreet ... Drett ....
__ADS_1
Di tengah kemesraan kedua insan, suara ponsel Galih berbunyi.
Galih, mengambil ponselnya yang bergetar, melihat panggilan telepon. Dimana tertera nomor baru memanggil.
Bangkit dari tempat tidur, Galih mulai duduk dan memandangi nomor baru yang meneleponnya. Kepalanya masih terasa berdenyut sakit, karena efek obat yang dikonsumsi Galih akhir akhir ini.
Melihat sang suami hanya memandangi layar ponsel, membuat Anna beranjak duduk, perlahan tangan kanan memegang bahu sang suami dengan bertanya? " Siapa? "
"Entahlah, nomor baru. " Terlihat wajah Galih yang tak respek pada nomor baru yang meneleponnya, membuat Anna berkata. "Coba angkat dulu, siapa tahu penting. "
Melihat wajah istrinya yang begitu cantik, pada akhinya Galih menuruti perkataan Anna, lelaki berbadan kekar dengan hidungnya yang macung. Mulai mengangkat panggilan telepon dari nomor baru.
"Halo." Terdengar suara seorang lelaki dalam sambungan telepon.
"Iya, halo. Ini siapa?" tanya Galih pada sambungan telepon.
"Saya Asep pak, kebetulan saya menemukan seorang wanita pingsan di pinggir jalan sendirian, maka dari itu saya mengecek ponselnya dan melihat kontak dalam ponsel wanita ini. Hanya ada nomor bapak saja!" jawab lelaki pada sambungan telepon, lelaki itu ternyata seorang ojek online yang ternyata tengah mangkal dan kebetulan saat ojek melewati pinggir jalan untuk berteduh. Ia melihat sosok wanita terkulai lemah tanpa sadarkan diri di pingir jalan.
Untuk saja Asep orang baik, yang ikhlas membantu Ainun di saat wanita itu pingsan tanpa ada yang membantu.
Pertanyaan Galih, membuat Asep merogoh tas melilah nama idetitas wanita yang ia temukan di pinggir jalan tengah terbaring pingsan.
"Namanya Ainun. "
Setelah mendengar Asep menyebut nama Ainun, saat itu juga Galih berdiri dan bersiap-siap menjemput Ainun.
Anna, penasaran. Ia mulai bertanya kepada sang suami," siapa Mas, Kok kamu sampai panik begitu?"
Pertanyaan Anna mulai dijawab oleh Galih, di mana lelaki berbadan kekar dengan hidungnya yang mancung itu. Tengah bersiap-siap memakai celana panjang untuk menjemput Ainun yang tiba-tiba saja pingsan di pinggir jalan. Untung saja Ainun dipertemukan dengan orang baik yang di mana Dirinya tengah tak sadarkan diri.
"Ainun ditemukan pingsan di pinggir jalan, sepertinya aku harus cepat pergi ke sana. Membawa dia ke rumah ini. "
__ADS_1
Mendengar Galih berkata seperti itu, tentulah membuat Anna kuatir. "ya sudah, Mas. Cepat bawa Ainun ke rumah. Kasihan dia pasti dia kedinginan, karena dari tadi hujan tak berhenti, apalagi setelah pergi dari rumah ini, dia soyk berat dan jatuh pingsan di pinggir jalan. Karena melihat aku. "
"Kamu kok ngomonnya gitu, kan Ainun pergi sendiri bukan kita yang ngusir, walau dia pergi dengan kemarahannya sendiri. "
Setelah siapa, Galih mulai mencium jidat Anna, berpamitan untuk segera mungkin menjemput Ainun.
" Mas pergi dulu ya. "
Ana menganggukan kepala setelah Galih meminta izin kepada dirinya.
******
Dengan tergesa-gesa Galih mulai menaiki mobil, ia mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi, agar Ainun cepat mungkin diselamatkan.
Asep sudah memberitahu di mana keberadaannya sekarang, sampai di mana Galih melihat lelaki yang menunggu Ainun di pinggir jalan.
Membuat Galih memberhentikan mobil. Ia turun melihat keadaan Ainun, hujan semakin deras mengguyur tanah dan juga jalanan. Galih keluar dari dalam mobil dengan menggunakan payung ia mendekat ke arah wanita yang terbaring lemah di atas tanah.
Ainun yang terbaring di atas tanah, sudah basah kuyup dengan air hujan, bibirnya terlihat pucat. Sepertinya Ainun kelelahan sampai membuat ia jatuh pingsan.
Galih membopong tubuh Ainu, memasukkan wanita itu ke dalam mobil untuk segera dibawa pulang Galih ber Terima kasih sekali kepada Asep yang sudah mau menelpon dan juga menunggu.
Galih begitu salut dengan Asep yang ikhlas menunggu Ainun sampai Galih menjemput wanita yang selalu ia anggap sebagai mantan istrinya itu, sebenarnya Galih belum resmi bercerai dengan Ainun tapi ia selalu bilang terhadap Anna kalau dirinya sudah bercerai sepenuhnya.
Memang terbilang menyakitkan, tapi harus bagaimana lagi karena menceraikan Ainun yang mempunyai sakit jiwa seperti itu rasanya tak mudah bagi Galih, apalagi Ainun masih terlihat belum sembuh total saat wanita itu meninggalkan kediaman Galih.
Entah apa alasannya, tapi Galih benar-benar sakit hati dengan Ainun yang gampang pergi begitu saja.
Terdengar suara Ainun yang terus memanggil-manggil nama Galih, "Galih."
"Galih."
__ADS_1
Tak ada respon sama sekali dari Ainun, hingga di mana Galih berniat membawanya ke rumah sakit, memastikan jika Ainun tidak kenapa-napa.
.