
Dari awal menikah dengan Indah, Deni selalu bersikap dewasa, tak pernah mengandalkan emosi, ia lebih tenang menghadapi segala masalah yang menimpa dirinya. Mengusap pelan kepala sang istri dan berkata dengan lembut," Galih itu orangnya kelihatan tulus."
"Aku tak yakin, bisa saja dia tergoda oleh Ainun wanita berhijab itu. Buktinya dia membela wanita itu terus menerus."
Tetap saja pikiran Indah selalu negatif tentang lelaki, mungkin karena rasa kecewa yang sudah pernah menimpa dirinya. Sampai dirinya tak percaya lagi apa namanya laki-laki.
Deni menanggapi istrinya dengan senyuman manis, ia tetap santai menghadapi sikap kekanak-kanakan Indah.
" Sudah daripada kita terus-menerus memikirkan Galih, lebih baik kita mendoakan kesembuhan Anna. Mudah mudahan Anna tidak mengalami hal yang buruk pada kesehatannya."
Setelah mendengar perkataan yang terlontar dari mulut Deni, pada akhirnya Indah diam. Tak membahas lagi tentang Galih.
Dokter mulai menghampiri Deni dan juga Indah, dimana lelaki berseragam putih itu memberitahu keadaan Anna.
"Bapak Galih? "
kedua Insan itu saling menatap satu sama lain, ketika dokter mencari keberadaan Galih.
"Sudahlah .... "
Nada kasar yang mulai terlontar dari mulut Indah kini tertahan oleh suaminya, dimana Deni menjawab dengan sopan." Maaf sebelumnya dok, adik saya Galih pulang dulu sebentar. Jika berkenan biar kami yang mengetahui ke adaan Adik kami Anna."
Pada saat itulah dokter mulai mengatakan tentang keadaan Anna kepada Indah dan juga Deni, jika keadaan pasien sebenarnya semakin memburuk.
"Kami perlu suami pasien, agar menandatangani surat tanda setuju. Jika pasien di operasi."
Sontak Indah yang mendengar kata operasi, tentu membuat ia syok berat." Kenapa harus di oprasi. Dok? Bukanya adik saya baik baik saja."
"Biar nanti saya ceritakan pada suami pasien!"
Indah seakan kesal dengan peryataan dokter, membuat ia marah dan berkata." Sudahlah dok, apa susahnya ceritakanlah pada kami, ngapain harus nunggu lelaki tidak tahu diri itu."
Perkataan Indah membuat Deni sedikit malu, "Maaf dok, atas perkataan istri saya."
Sang dokter manganggukan kepala, tersenyum dan pergi dari hadapan Indah dan juga Deni.
__ADS_1
Wanita bermata sipit yang tak bisa berpikir jerni kini menatap lekat ke arah sang suami." Kenapa kamu harus meminta maaf pada dokter, hah. Aku ini bicara apa adanya."
"Indah, sayang, kendalikan dulu diri kamu. Tidak semua masalah dihadapi dengan emosi, aku tahu kamu kesal, aku juga merasakan hal itu. Tapi kita di sini harus bisa menyesuaikan diri apalagi ini tempat umum, rumah sakit. Banyak orang orang yang pastinya memperhatikkan kita."
Bukannya mendengar nasehat Deni, Indah kembali duduk dan berkata, " sudahlah malas mendengar nasehat kamu."
Sepertinya Deni harus bisa lebih sabar menghadapi istrinya yang terus mengandalkan emosi dari tadi, mendekat ke arah Indah dan berkata." Apa kamu tidak cape, sayang. Dari tadi marah marah terus?"
Melipatkan tangan dengan memajukkan kedua bibirnya, terlihat sekali Indah seperti anak kecil yang egois. " Kamu tahu kan, aku sangat mempercayai Galih, dari dia remaja sampai sekarang, kami seperti adik kakak, tapi nyatanya. Hah. "
"Aku tahu itu, pasti berat untuk kamu bisa mempercayai semuanya."
Deni mulai merogoh saku celananya, untuk segera menelepon Galih, memberitahu tentang keadaan Anna yang semakin memburuk.
*******
Sedangkan Galih yang baru saja sampai di rumah, tak menyadari akan ponselnya berada di dalam mobil yang terus berbunyi.
Dimana Deni terus menghubungi Galih beberapa kali.
Ainun dan Galih yang sudah keluar dari dalam mobil, kini bergegas masuk ke dalam rumah, di mana para pelayan sudah menyiapkan barang-barang untuk Ainun pergi dari rumah.
karena ia akan pulang, dari rumah Galih.
Ainun sebenarnya tak terima dengan perlakuan Galih yang tiba-tiba berubah seperti sekarang.
"Galih, kenapa kamu tidak izinkan aku menginap dulu di rumahmu."
"Bagaiman bisa, aku mengijinkan lagi wanita seperti kamu yang tak tahu berterima kasih."
karena kemarahan yang menggebu pada hati Galih, lelaki berbadan kekar dengan hidungnya mancung itu, memerintah sopir Untuk mengantarkan Ainun ke tempat yang di tunjukan Galih.
"Papah."
Medengar suara Farhan membuat Ainun, menghentikan langkah kakinya. Membalikkan badan dan berkata, " Galih, apa dia anakku?"
__ADS_1
Pertanyaan Ainun membuat Galih diam, tak menangapi. " Galih aku bertanya padamu? Bisa tidak kamu menjawab pertanyaanku kali ini saja, biar hatiku tak bimbang. Galih."
Farhan masih bingung dengan perdebatan antara Ainun dan Galih membuat ia bertanya." Kenapa papah, seakan memperebutkan Farhan, sebenarnya ada apa?"
Galih tak berani mengungkapkan kebenaran, apa lagi tidak ada Anna di sampingnya saat ini.
"Jawab, Galih. Farhan anakku kan?"
"Sudahlah kamu jangan mengada ngada, jelas Farhan itu anak Anna. Jadi jangan berharap Farhan itu Alex anakku, dia sudah aku buang jauh Agar tidak mengetahui bahwa ibunya tega meninggalkannya."
"Galih, aku memang bersalah tapi tidak sepatutnya kamu mengatakan semua itu."
Galih Sudah malas berdebat dengan Ainun, saat itu ia mulai memanggil kembali sopirnya untuk segera membawa Ainun masuk ke dalam mobil.
Galih segera mungkin mengajak Farhan masuk ke dalam rumah, agar tidak mendengar pertanyaan dari Ainun yang membuat Farhan curiga.
Di dalam rumah, anak remaja itu bertanya pada Galih.
"Pah, apa maksud Tante Ainun, kenapa dia berbicara, seolah olah aku ini anaknya."
"Sudahlah Farhan, kamu jangan dengarkan apa kata Tante Ainun, dia memang sedikit tak waras, makannya papah suruh dia pergi."
Terdengar Ainun memanggil Alex dimana Farhan seakan merasakan sesuatu yang berbeda pada dirinya, apalagi saat berdekatan dengan Ainun.
"Farhan, kamu jangan memikirkan hal yang aneh-aneh, sebaiknya kita ke rumah sakit. Temui mamah Anna di sana."
"Loh, pah, memang mamah kenapa. Kok Farhan baru di kasih tahu."
"Sudah ayo."
Galih sengaja mengajak Farhan ke rumah sakit untuk menghindari perdebatan antara dirinya dengan Indah yang selalu mengandalkan emosi.
Saat masuk ke dalam mobil, Galih baru menyadari jika ponselnya berada di dalam mobil, ia melihat beberapa panggilan tak terjawab dari Deni, hingga saat itulah Indah langsung menelepon melalui ponselnya.
Rasanya malas jika Galih mengangkat panggilan telepon dari Indah, karena pasti saja Indah akan memarahi dirinya habis-habisan. Apalagi dengan suatu fitnahan yang membuat Galih sangatlah kesal. Entah kenapa dari sisi kelembutan Indah yang dulu, kini berubah drastis menjadi emosional, semenjak dirinya bercerai dengan Danu.
__ADS_1
Mengangkat panggilan telepon dari Indah, saat itulah Indah mulai berucap dengan nada membentak. " Galih, kemana saja kamu? Di sini Anna sekarang membutuhkan kamu, oh aku tahu pasti kamu tengah bermesraan dengan Ainun kan? "
Mengusap kasar wajah apa yang harus Galih balas pada Indah?