Dibalik Diamnya Mertuaku

Dibalik Diamnya Mertuaku
Bab 146 Marahnya Indah.


__ADS_3

Indah melihat Galih terus saja fokus, melihat layar ponsel, seperti tengah mengirim pesan. Padahal semua orang yang menunggu Anna di ruang oprasi begitu cemas dan kuatir.


Indah mengambil ponsel Galih begitu saja, hingga dimana kedua mata Indah membulat, setelah membaca pesan yang dikirim Galih pada pelayan kepercayaannya.


"Jadi saat istrimu tengah di oprasi kamu masih sibuk mengurusi mantan istrimu itu?" Pertanyaan Indah membuat Galih terdiam, sebenarnya ia menanyakan Ainun hanya kuatir dengan keadaanya. Dalam hati Galih masih ada rasa tanggung jawab, dan lagi Intan tak memberi tahu jika Galih sering menanyakan Ainun.


Malahan, Galih sengaja membuat Ainun hidup di rumahnya sederhanya. Tidak geratis, harus dibayar perbulan, makan dari itu. Intan ditugaskan menjaga Ainun setelah sampai ganguan jiwannya sembuh.


Terdengar penyakit sepele, tapi resiko dari penyakit deprsi itu sangatlah berbahanya. Depresi kadang menyakiti diri sendiri, atau orang lain di sekitar.


Galih tak berani membuat Ainun tinggal sendirian di rumah sederhananya, ia takut jika kejadian tak menyenangkan terjadi di rumah. Ainun depresi sendirian tanpa ada satu orang yang menemani, makanya ia mempercayai satu orang pelayannya untuk menjaga Ainun. Sebenarnya hatinya malas, kalau bukan karena rasa kasihan dan juga ibu dari Farhan, mungkin dia sudah membiarkan Ainun luntang lantung di jalanan.


Semua keresahan dan rasa bingung, menyeruak kedalam pikiran Galih. Indah terus memarahinya tanpa merasakan apa yang ia rasakan saat ini.


"Galih, kenapa kamu diam saja?"


Bentakan kini dilayangkan Indah, seakan ia tak sadar akan apa yang ia lontarkan terhadap Galih. Membuat lelaki berbada kekar itu mengepalkan kedua tangan.


Ingin sekali Galih meninju wajahnya, hanya saja Indah bukan tandinganya. Karena ia seorang wanita, jikapun lelaki sudah habis wajahnya di hajar oleh tangan kekarnya itu.


Menahan rasanya berat, saat itulah ia lebih baik menghindar dari pada berdebat dengan kakak iparnya yang akhir-akhir ini sering emosi.


"Galih, kemana kamu?" Teriakan Indah tak di dengar oleh Galih, ia tetap berjalan tegap dengan tubuhnya yang kekar.


Deni berusaha menenangkan sang istri," sayang sudahlah jangan telalu ikut campur dengan rumah tangga Galih, kita tidak tahu inti permasalahnya. Kalau bisa kita harus mencoba tenang dan menasehati dia baik baik."

__ADS_1


Cara bicara Deni benar-benar terdengar dewasa, sedangkan Indah tetap dalam pikiran ke kanak-kanakannya. Padahal baru tadi membahas tentang masalah, sekarang Indah malah begitu lagi. Seakan sifat wanita bermata sipit itu tak bisa diubah hanya dengan nasehat, ia harus melihat bukti nyata di depan matanya.


"Deni, kamu lihat sendirikan. Dia malah pergi, bukanya mendengarkan aku bicara." Gerutu Indah pada suaminya.


Deni memeluk erat tubuh Indah, berusaha menenangkan hati dan pikiran istrinya." Kamu harus tenang, semakin Galih kamu marahi dia akan semakin tertekan. Jangan biarkan kebahagian menyelimuti mereka berdua hancur, hanya karena kita menghakimi sebelah pihak, yang belum kita ketahui inti permasalahan yang sebenarnya, ayolah Indah, aku sebagai suamimu sudah berulang kali mengatakan semua ini. Kamu lebih dewasa dariku, kita ini harus lebih tenang dan bisa menjadi pelindung bagi mereka berdua bukan malah sebaliknya merusak."


"Oh, jadi kamu menyalahkanku dari masalah mereka, karena aku terlalu ikut campur."


Bukanya menyadari akan nasehat yang dilontarkan Deni, Indah malah kembali memberontak. Ada rasa lelah menasehati istrinya, tapi Deni tetap berusaha, karena ia yang memilih sosok wanita seperti Indah dan dia juga harus menerima kekurangan yang dimiliki istrinya.


"Sudah ya, jangan marah-marah lagi. Kamu harus menjaga mentalmu. Ingat ini rumah sakit."


Deni tetap saja bersikap tenang, seolah olah semua bisa teratasi, walau mungkin semua begitu sulit.


Farhan, hanya berdiri diabang kebingungan yang membuat dirinya tak mengerti dengan perdebatan yang terjadi diantara papah dan juga tantenya.


*******


Sedangkan Galih, duduk di luar rumah sakit meratapi nasib dengan duduk diatas lantai. Hatinya tak karuan, memikirkan apa yang sudah dikatakan Indah.


Kenapa mulut Indah sejahat itu, menghakimi tanpa tau letak permasalah yang tengah dihadapi Galih.


Duduk menatap orang yang berjalan lalu lalang, melihat masuk ke luar rumah sakit, ada yang bersedih, ada yang ceria. Ada juga yang menangis histeris. Galih melihat semua itu, menyadari bukan dirinya saja yang tertekan. Banyak yang lebih parah darinya, membuat ia hampir lupa arti bersyukur yang sesungguhnya.


Kepala yang terasa berdenyut, berusaha ia pijit perlahan. Pusing dengan ocehan Indah dan amarah yang terus ia layangkan pada Galih.

__ADS_1


Tring ....


( Tuan, Nyonya Ainun katanya nggak mau kerja.)


Melihat pesan yang datang dari Intan, membuat Galih semakin kesal, padahal kurang apa dia memberi fasilitas untuk Ainun, tinggal menjalani kehidupanya sehari hari untuk bisa bekerja dan membiasakan diri, agar rasa percaya dirinya tumbuh dan juga depresi akan hilang dengan sendirinya.


Pikiran semakin kacau tak bisa dikendalikan lagi, seakan semua membuat Galih, hampir Gila.


( Bagaimana pun caranya kamu bujuk dia.)


Membalas pesan dari Intan, membuat pelayan itu tersenyum senang. Intan seperti memanfaatkan keadaan padahal Ainun berusaha berubah dan ingin menjadi wanita percaya diri dan sembuh dari keterpurukan.


Intan malah membuat sebuah aduan yang tak benar, membuat Galih tentu saja semakin murka.


Intan tersenyum dan membalas dengan singkat.


(Baik tuan. )


Entah alasan apa Intan seperti itu, padahal dia itu pelayan terpercaya bagi Galih. Tapi sekaran?


"Sepertinya seru juga, aku bisa memanfaatkan keadaan ini, Nyonya Ainun yang deperesi dan Nyonya Anna yang masuk ke rumah sakit." Ucap Intan dalam hati, sebenarnya gadis yang sudah lama bekerja di rumah Galih, menyimpan sebuah rasa pada Galih sejak ia menjadi duda karena ulah Ainun yang meninggalkannya.


Intan mencoba membuat kepercayaan Galih, agar dirinya bisa lebih dekat dengan sang tuan. walau kemungkinan besar itu sangatlah tak mungkin, tapi dengan usaha dan tekad keyakinan Intan ia pasti bisa mendekati Galih mencoba membuat rasa simpati dan kepercayaan semakin dikagumi Galih.


"Intan."

__ADS_1


Terdengar dari kejauhan teriakan Ainun memanggil dirinya, membuat Ia yang tengah mengirim pesan dengan sang Tuan tentulah kesal," ngapain coba dia pakai acara teriak-teriak malam begini? Aku kan sudah capek, waktunya beristirahat dan seharusnya dia itu mengerti. Ini jam istirahatku. Coba kalau orang lain yang mengurus dia, kemungkinan besar mereka tak sudi mengurus wanita gila seperti Nyonya Ainun, hah, itulah akibat untuk wanita seperti Nyonya Ainun yang sudah menyianyiakan, lelaki baik seperti Tuan Galih, coba saja kalau dulu Nyonya Ainun tidak meninggalkan Tuan Galih, pastinya hubungan mereka itu akan langgeng sampai sekarang, dan aku tidak mungkin menjadi seperti ini."


__ADS_2