Dibalik Diamnya Mertuaku

Dibalik Diamnya Mertuaku
Bab 262 Debat


__ADS_3

"Saya suaminya," ucap Afdal, membuat hati Marimar sedikit lega. Masih ada harapan untuk tidak masuk ke dalam penjaran, Marimar mengusap pelan dadanya.


"Hanya saja, kami sudah tidak serumah lagi," ucap kembali Afdal, Marimar menatap ke sisi kiri suaminya, kedua mata membulat. Tak percaya dengan perkataan Afdal.


"Mas, maksud kamu apa berkata seperti itu?" tanya Marimar, dimana polisi menghentikan pertanyaan istrinya.


Marimar hanya seorang wanita lemah, ia tak berdaya dan kini diam saja, setelah menunggu penjelasan dari Afdal.


"Sudah tiga bulan kami tidak tidur seranjang, karena saya sudah lelah melihat tingkah istri saya yang berbeda akhir akhir ini, " ungkap Afdal. Marimar ingin sekali menimpal perkataan suaminya itu, kenapa bisa lelaki dihadapanya seakan membebankan semua kesalahan pada Marimar sendiri.


"Jadi saat kasus penjual beli anak anda tidak tahu menahu soal itu, saya mengecek dari seluruh data dan bukti, Nyonya Marimar ini sudah banyak menjual anak secara ilegal. Tanpa surat keterangan dan keamanan anak, " ungkap sang polisi. Bagaimana Marimar menjelaskan semuanya, jika yang ditanya terus Afdal, tidak ada pembelaan sedikit pun untuk dirinya sendiri.


"Apa? Saya baru tahu sekarang soal itu, karena sejak menikah dengan Marimar, saya jarang ada di rumah!" jawab Afdal memutar balikkan fakta, kini Marimar sudah tidak punya pembelaan sedikit pun.


Kedua mata berkaca kaca, Marimar tak menyangka orang yang ia cintai dan percaya malah berpura pura tak peduli dan melemparkan semua masalah kepada Marimar sendiri, padahal jelas jelas Afdal ikut serta dalam pejual beli anak apalagi anaknya yang ia kandung sudah mereka jual.


Menangis pilu, hanya akan ada jeruji besi menemani. " Baik semua penjelasan anda saya akan cantat. Karena sudah banyak bukti yang melapor pada kami."


"Baik pak," Afdal mempelihatkan keluguannya, karena hanya dengan cara ini, ia bisa bebas dari tuduhan polisi.


"Oh ya, ada satu kejangalan di sini. Pernah ada penduduk yang melapor karena hilangnya bayi mereka, apa semua ini ada kaitannya dengan Nyonya Marimar?"


Pertanyaan polisi hampir menyulitkan Afdal, lelaki berkulit sawo matang itu berusaha keras agar tidak terkecoh dengan jebakan pertanyaan polisi.


"Untuk masalah itu saya tidak tahu menahu, karena saya hanya tahu istri saya sosok pendiam dan jarang beriteraksi dengan orang orang di kampung!"


Jawaban Afdal, belum memuaskan polisi. Marimar yang berada di samping Afdal, menundukkan wajah. Ingin sekali ia melawan.


Samsul kini datang mendekat, ia duduk di samping kanan Marimar. Terlihat nyali Samsul menciut, karena melihat tatapan Afdal, lelaki yang masih menjawab petanyaan polisi.


Di sisi lain, seorang supir bernama Samsul itu, melihat wajah kekecewaan sang majikan, karena ternyata Afdal tak membela sedikit pun Marimar.

__ADS_1


Seperti kacang lupa kulitnya, padahal. Afdal bisa hidup enak berkat kerja keras Marimar. Walau dalam kata mereka tega menjual seorang anak.


Samsul memang pintar, ia tak tinggal diam saat itu. Memberikan bukti kembali pada polisi, " saya punya rekaman suara, dimana ini ada percakapan Nyonya Marimar dan Tuan Afdal."


Deg ....


Jantung Afdal seketika berdetak tak karuan, melihat samsul memberikkan banyak bukti. Entah dari mana lelaki yang baru setahun bekerja denganya, bisa begitu mudahnya mempunyai banyak bukti, jelas para pembantu di rumah Marimar tidak ada berani membuka mulut dan mengungkapkan kejahatan kedua suami istri itu.


"Sebuah rekaman percakapan antara Nyonya Marimar dan Tuan Afdal di jam malam," ungkap Samsul. Polisi langsung mengambil ponsel Samsul, lelaki yang menjadi profesi sebagai seorang sopir.


Rekaman itu kini di putar, dimana Marimar sudah pasrah dan tak ingin mengelak, ia terlanjur sakit hati.


Polisi mendengar rekamana dalam ponsel Samsul, membuat polisi dengan sangat jelas menahan Marimar dan suami.


Karena ternyata keduanya adalah sekomplotan pedagangan anak, dalam rekaman itu ada pembahasan dimana Marimar juga pernah menjual anak anaknya, karena biaya ekonimi. Dan semua itu di printahkan oleh Afdal.


"Sialan kenapa bisa ada rekaman semacam itu," gerutu hati Afdal, lelaki itu terlihat gelisa.


Kedua tangan mengepal dengan erat, Afdal tiba tiba saja berdiri, ia menggengam kerah baju Samsul.


" Kamu berengs*k."


Pukulan hampir melayang, dimana polisi mengamankan Afdal, membrogol kedua tangan lelaki itu.


Marimar menitihkan air mata, hingga ia melihat sebuah poto berukuran sedang terlihat dari sudut tas yang dikenakan suaminya.


Marimar begitu penasaran, ia mengambil dan melihat gambar dalam poto itu.


Melihat poto itu, membuat kedua mata langsung membulat, apalagi melihat sosok anak kecil dan seorang wanita berhijab yang baru saja ia lihat.


"Siapa mereka?"

__ADS_1


Poto Afdal mempelihatkan mereka begitu bahagia, seperti keluarga yang harmonis.


Afdal di tenangkan oleh polisi, melihat jika poto keluarga barunya di lihat oleh Marimar. Gigi atas ia rekatkan dengan gigi bawah karena melihat hal yang semakin menyakitkan hatinya.


Sekarang Marimar tahu alasan kenapa Afdal tak pulang pulang ke rumah, karena ternyata ada sosok wanita baru dan seorang anak kecil.


"Marimar." Afdal berusaha bersikap tenang kembali, ia meremas poto yang ia temukan di sudut tas sang suami.


Lelaki kulit sawo matang itu duduk, dan kini mulai menjawab pertanyaan polisi yang masih berlanjut.


Kedua mata sudah berlinangan air, tak sanggup menahan lagi, air itu mengalir mengenai kedua pipi Marimar.


Tak menyangka dengan apa yang ia lihat, sangatlah menghacurkan hati dan pikirannya. Apa alasan Afdal menikah lagi, apalagi sekarang dia sudah mempunyai seorang anak kecil, berjenis kelamin wanita.


Marimar dikusai dengan perkataan itu setiap kali, ia menatap sang suami.


Afdal tak sanggup berucap satu patah katapun, " kurang ajar."


Melemparkan poto pada wajah Afdal dan berkata." Bangs*t kau Afdal, hah. Kurang apa selama ini, aku menuruti keinginanmu, mengirim uang nominal meliaran setelah menjual anak anak malang itu. Aku kira kamu setia, nyatanya. Hah, kamu sudah membuat hatiku sakit, kamu membuat seorang anak dengan wanita lain. Sedangkan anakku kamu suruh jual pada orang lain, agar bisa mendapatkan uang."


Polisi mulai mengetahui semuanya, setelah mendengar penjelasan dari Marimar, " diam kamu, Marimar. "


Ingin sekali Afdal memukul mulut istrinya itu, tapi apa daya tangan sudah di borgol.


"Diam, aku akan mengungkapkan semuanya. Kamu tahu itu, kamu penghianat. Egois, bisa bisanya bahagia dengan wanita lain dan memanfaatkanku."


"Marimar."


Polisi akhirnya menghentikan perdebatan itu, dimana, mereka menyita ponsel Afdal.


"Pak, tunggu. Jangan hubungi keluarga saya."

__ADS_1


"Sudahlah, pak. Jangan dengarkan ucapan lelaki berengs*k ini, cepat hubungi mereka. Bagaimana pun mereka juga ikut menikmati uang hasil penjualan anak. "


__ADS_2