
Anna menyuruh pelayan rumah untuk mengantarkan Ainun ke kamarnya.
"Oh ya, tolong antarkan Mbak Ainun ke kamarnya, kasihan pasti dia kelelahan kan lagi sakit. "
Ainun berusaha menampilkan senyuman di depan istri Galih, ia tak mau jika dirinya dipermalukan lagi oleh Anna. "Terima kasih, Anna. "
Membalas dengan senyuman dan menjawab. " Sama sama, Ainun. "
Mendelik kesal itulah yang dilakukan Ainun di belakang Anna, ia berusaha bersikap ramah saat Galih berada disekelilingnya. Jika tidak mungkin sifat aslinya keluar.
Melihat dekorasi rumah Galih, tetap sama seperti dulu, hanya yang membedakan sebuah foto yang biasanya terpajang foto Ainun kini berganti alih menjadi foto Anna. Terasa ada rasa kesal dan juga tak terima jika pajangan poto berganti alih di rumah Galih, membuat wanita berhijab putih itu ingin menganti kembali posisi potonya.
Para pelayan masih sama seperti dulu, mereka semua yang selalu sabar merawat Ainun dikala depresi dulu.
"Mbak Ainun, apa kabar? Kami senang melihat mbak datang ke sini lagi. "
Sifat para pegawai begitu ramah, bagaimana tidak betahnya Anna yang sekarang jadi istri Galih, Ainun menyesali semuanya. Tapi apa boleh buat, nasi sudah jadi bubur tak bisa balik lagi.
Sungguh disayangkan bagi Ainun, Rahel sudah mati. Tak ada saudara hanya bisa meminta belas kasihan mantan suami. Sebenarnya Ainun begitu malu, karena bergantung dengan Galih, karena dirinya yang kini sudah tak mempunyai tempat tinggal diharuskan sementara berada di rumah mantan suami yang sudah bersetatus menjadi suami Anna.
"Mamah, kami pulang. "
Ainun mendengar suara seorang anak remaja yang mungkin di perkira berumur 17 tahun, yang mengigatkan dirinya pada Alex. Anak yang dibuang oleh Galih.
Saat berjalan menuju kamar tidur, Ainun bertanya. " Siapa yang tadi berteriak, memanggil mama. "
Para pelayan yang selalu melayani dengan senang hati, tentulah menjawab. " Oh itu, Den Farhan sama Den Radit. Mereka sudah pulang sekolah. "
"Apakah mereka anak Galih dan Anna? "
Ainun seperti ingin tahu tentang kehidupan rumah tangga mantan suaminya yang sudah menikah lagi.
"Bukan, mereka itu anak dari Nyonya Anna dengan suaminya yang dulu. Kalau sama tuan belum punya, mereka kan baru nikah kemarin! "
Mendengar jawaban yang terlontar dari mulut sang pelayan, membuat Ainun berkata. " jadi semalam itu acara malam pengantin mereka? "
Pertanyaan yang membuat pelayan terdiam, karena ia tak mau terlalu larut dalam obrolan yang menceritakan tentang majikannya.
Dengan tergesa gesa, pelayan itu memberikan kunci kamar Aira. Dan berpamitan pergi tak menjawab perkataan Ainun.
__ADS_1
"Saya permisi dulu ya, sudah mau siang. Waktunya menyiapkan makan siang untuk Nyonya Anna dan Tuan Galih. "
"Eh, bi. Tunggu, aku belum .... "
Dengan tergesa gesanya pelayan pergi, tak menjawab lagi pertanyaan Ainun.
"Yeh, malah pergi. Orang belum selesai ngomong. "
Ainun sedikit kesal dengan pelayan yang tak mau memberitahu dirinya, hingga ia masuk ke dalam kamar untuk segera beristirahat.
******
Sedangkan Anna yang baru saja masuk, mendapat kecupan mesra dari Galih, lelaki yang kini menjadi suaminya.
"Kamu tidak marah kan, aku membawa Ainun ke rumah ini? "
Pertanyaan berulang kali dilontarkan Galih kepada istrinya, membuat Anna membalikkan wajah dengan berkata. " Untuk apa aku marah? "
Galih mulai terbiasa dengan kata aku dan kamu, setelah menikah dengan Anna, tak ada jarak diantara mereka berdua, membuat keduanya menatap satu sama lain. "Aku takut, kamu marah sayang. Sebenarnya aku malas sekali membawa Ainun ke rumah ini. Kalau bukan karena dokter."
Anna mengusap lembut kedua pipi suaminya, dengan membalas. " Sudah tak apa apa. Yang terpenting kamu tidak balikan lagi sama dia, kalau sampai balikan lagi, ya .... "
Galih berharap kali ini, ia bisa merasakan momen yang ditunggu-tunggu. Tidak ada pikiran yang terus merasuk dalam otak dan juga menggangu ketenangan jiwa.
"Anna, aku mencintaimu. "
Kecupan mendarat, pada jidat Anna dari bibir sang suami. Membuat Anna berkata." aku juga mencintai kamu. "
Dengan sepontan kedua insan itu merasakan getaran cinta, ada sesuatu yang berbeda dari keduanya. Apa saat ini waktu yang tepat.
"Aku mulai. "
Anna menganggukan kepala.
Galih mulai mengecup leher sang istri dengan kecupan mesra.
Tok .... Tok ....
Suara ketukan pintu tiba tiba terdengar keras, membuat keduanya menghentikan pemainan yang mereka dambakan dari semalam.
__ADS_1
"Apa lagi, ini. "
Terlihat sekali, Galih begitu kesal dengan suara ketukan pintu yang menganggu dirinya saat di dalam kamar bersama Anna.
Membuka pintu, ternyata Ainun datang dengan wajah sedihnya. Ia tiba tiba saja memeluk Galih, membuat Anna segera mungkin melepaskan pelukan wanita yang menjadi mantan dari suaminya.
"Kamu kenapa? "
"Galih, aku takut. Kamu mau temani aku kan! "
Ainun menangis, sembari memainkan kedua jari tanganya. Saat meminta dengan wajah ingin dikasihani.
"Hem, ini masih siang loh. Mbak Ainun, takut kenapa? Di sini kan banyak pelayan. Ngapain juga takut dan beralasan ingin di temani suami saya! "
Perkataan Anna, membuat Ainun bingung mencari akal untuk bisa bersama dengan Galih.
"Apa yang dikatakan Anna benar, Ainun. Ini masih siang ngapain kamu harus takut? " Galih menimpal sang istri berusaha membela Anna.
"Kepalaku sakit, aku hanya ingin di temani jalan jalan saja. Bisa tidak. " Permintaan Ainun jelas menganggu kemesraan Anna dan juga Galih.
Sampai saat itulah, Anna terpikirkan sebuah ide. Dimana ia mulai memanggil Farhan untuk menemani Ainun pergi keluar sekedar jalan jalan.
"Farhan. Nak. Sayang sini. "
Farhan dengan sigapnya menghampiri sang mamah, dengan bertanya. " Ada apa, mah? "
"Farhan, sayang. Kamu bisa tidak temani Mbak Ainun pergi jalan jalan, kasihan dia bosan di rumah terus. "
Farhan dengan senang hati menuruti apa kemauan sang mama, mengajak Ainun untuk jalan jalan di taman sekitar rumah Galih.
Kedua mata Ainun membulat, melihat sosok Farhan yang mengigatkan dia pada Daniel. "Alex."
Farhan yang mendengar Ainun menyebut nama Alex berkata. " Tante saya ini Farhan bukan Alex. "
Galih yang berdiri di samping kiri Anna, kini mengajak sang istri untuk kembali lagi masuk ke dalam kamar tidur, karena ia takut jika Ainun mengatakan tentang perawakan Farhan begitu percis dengan Daniel.
Apalagi sampai menyebut nama Daniel, itu sungguh patal bagi pernikahanya. Maka dari itu dengan susah payah Galih menyimpan masa lalu agar tidak membuat kehancuran pada rumah tangganya.
Farhan mengajak Ainun, memegang tangan wanita berhijab putih itu untuk keluar rumah, Ainun tetap saja diam. Ia kaget, dan kembali lagi mengira ngira jika melihat tubuh Farhan dari arah belakang membuat dirinya mengigat Daniel.
__ADS_1