
Ternyata di tengah obrolan mereka berdua ada dua pasang mata yang megintip, Deni datang menghentikan percakapan adik kakak itu.
Terlihat, raut wajah penuh ketegangan dari diri sang istri, yaitu Indah. Wanita bermata sipit, tak menyangka jika Deni datang langsung membuka pintu kamarnya.
"Deni, kamu."
Dengan terburu buru, Indah mengedipkan mata ke arah sang adik, agar segera pergi dari kamar. Ia tak mau jika nanti suaminya banyak bertanya akan percakapan tentang Bu Dela yang terus menelepon.
Deni duduk di samping kiri sang istri, ia mengusap pelan punggung tangan dan berkata, " ada apa?"
Indah tak berani berkata jujur, ia membungkam mulut berusaha menutupi semua keinginan Bu Della yang ingin bertemu dengannya.
Karena jika Deni tahu semua itu, tentu saja ia tidak akan mengijinkan. Setelah penghinaan di pemakaman Deni merasa kesal dan benci terhadap wanita tua yang menjadi Ibunda Danu itu.
"Ayo cerita."
Deni mulai menekan sang istri untuk bercerita, tentang kegelisahan dari raut wajah yang diperlihatkan.
"Tidak ada, Deni. Itu hanya perasaan kamu saja."
Mengusap kasar, Deni tetap saja tak percaya. Terlihat Indah tengah berbohong kepadanya," Jangan berbohong, cepat katakan yang sejujurnya, aku tahu sekarang kamu tengah berbohong."
Indah meremas ujung bajunya, iya bingung harus berkata apa lagi kepada sang suami. karena lelaki di hadapannya tak mempercayai perkataan istrinya sendiri, " kamu tak usah menutupi kebohongan kepadaku, aku sudah tahu dari dulu bagaimana wajah kamu ketika kamu tengah berbohong, dan aku sudah tahu ketika kamu berkata jujur. "
Dikatakan Deni itu tidak pernah salah, ia mengetahui gelagat istrinya sendiri. Ketika sang istri tengah berbohong ataupun tidak.
Indah tiba-tiba saja menangis dengan penekanan sang suami yang terus menanyakan kejujuran kepada istrinya.
__ADS_1
"Hey, kok. Kamu malah menangis?"
Deni berusaha memeluk sang istri menenangkan wanita di hadapannya, mengusap pelan punggung sang istri dan berkata," Ya sudah aku akan diam tidak akan bertanya lagi kepada kamu."
lelaki muda dengan postur tubuhnya yang tinggi, kini beranjak berdiri dari tempat duduknya, ia pergi meninggalkan sang istri yang terlihat merenung.
Setelah kepergian Deni, Indah meremas ujung kasur karena dirinya yang tak bisa jujur. Ia menangis memukul diri sendiri.
"Kenapa aku tidak bisa berkata jujur kepada suamiku sendiri. Betapa ketakutannya aku jika berkata jujur kepadanya tentang Bu Dela."
Anna ternyata tengah menunggu dibalik pintu kamar Kakaknya sendiri, di mana Deni muncul dan melihat adik istrinya sekilas. Ia berjalan pergi meninggalkan pintu kamar sang istri, untuk menikmati suasana sore di luar rumah Anna.
Anna wanita berbulu mata lentik kini masuk ke dalam kamar sang kakak, ia melihat Indah tengah menangis.
"kak Indah kenapa menangis."
Mendengar suara Anna, Indah langsung membalikkan badan, memeluk adiknya dengan erat. Ia menangis sejadi-jadinya.
Pertanyaan Anna sang adik, membuat wanita bermata sipit itu hanya menggelengkan kepala, masih dengan posisi memeluk sang adik.
Berusaha menenangkan hati agar tidak menangis kembali, Anna kini bertanya kembali dengan rasa penasarannya." Terus kenapa Kak Indah malah menangis. Ayo cerita terhadapku, apa yang sudah dilakukan Deni, apa dia membentakmu, menyakitimu, atau memukulmu kak?"
Anna melepaskan pelukkan Indah, melihat pada badan sang kakak, takut terjadi kekerasan dalam rumah tangga kakaknya sendiri.
Indah mengusap pelan air mata, dengan berkata." Deni bukan orang yang seperti itu, dia lelaki baik-baik. Aku yang merasa menyesal karena tidak bisa berkata jujur kepadanya, tentang kejahatan Bu Della, karena jika aku menceritakan semuanya tentu saja Deni akan turun tangan dan malah menyakiti wanita tua itu, bagaimana kalau wanita tua itu malah menceritakan hal yang berbeda nanti, aku takut hubunganku dengan Deni malah berantakan karena wanita tua itu."
Memang setiap kali Bu Dela mengirim pesan, ia selalu mengancam Indah, jika tidak datang Bu Dela akan terus menganggu kehidupan rumah tangga mantan menantunya itu.
__ADS_1
Aneh, memang dengan wanita bernama Bu Dela. Padahal dia mengusir Indah dan Deni saat di pemakaman, tapi sekarang malah mengusik hidup Indah dan mengirim pesan tak jelas.
Apa Bu Dela mempunyai penyakit jiwa, sampai ia tak mau melihat kebahagian Indah dan suaminya.
Anna berusaha menenangkan sang kakak dengan memeluk kembali wanita sipit dihadapnya, mengusap pelan punggungnya, ia tahu apa yang kini dirasakan Indah sangatlah berat apalagi menyangkut tentang wanita tua yang menjadi ibunda Danu.
Anna sudah memperingati wanita tua itu dari dulu, agar Bu Dela menghentikan kekoyolannya hanya karena kebahagian anak semata wayangnya.
Yang sekarang sudah meninggal dunia.
"Kak Indah, Anna mengerti apa yang kakak rasakan sekarang, pasti kakak kebingungan sendiri. Anna saranin demi kebaikan kakak dan juga Mas Danu, baiknya kamu berkata jujur agar tidak ada kesalahpahaman di antara kamu dan juga Deni, Deni itu kan kata kakak lelaki baik dia tidak akan memarahimu ataupun meninggalkanmu, hanya karena masalah Bu Dela. Apalagi Bu Dela sudah terkenal jahat setelah Danu sakit sakitan dan kini meninggal dunia." Anna berusaha menguatkan sang kakak, agar tidak patah semangat dan selalu bersikap baik. Menjadi wanita yang tak takut akan masalah dihadapinya saat ini.
Yang Anna takutkan sekarang, yaitu. Rumah tangga sang kakak, ia tak mau melihat kebahagian sudah dibangun dengan susah payah malah hancur karena mantan mertua.
"Apa yang kamu katakan memang benar, An, tapi kakak tetap saja ketakutan. Bagaimana kakak bisa berkata jujur, sedangkan. Mulut ini begitu berat sekali mengatakan semuanya. Kakak seperti menjadi orang bisu saat berhadapan dengan Deni suami kakak sendiri, " ucap Indah meluapkan semua yang terasa merusak hati dan pikirannya.
Anna melepaskan pelukannya kembali dan berkata." Berusaha kak, sebelum semuanya menjadi kacau, Anna tahu kakak pasti bisa berkata jujur."
Menarik napas mengeluarkan secara perlahan, akhirnya Indah menganggukkan kepala dan akan berusaha berkata jujur.
"Baik kakak akan usahakan, terima kasih. Ya An."
Ponsel Indah kembali bersuara, menandakan panggilan telepon masuk pada ponselnya. Saat Indah menatap layar ponselnya itu, ternyata nomor Bu Dela kembali menelpon.
"Bu Dela, lagi."
"Bagaimana ini, Kakak sudah tidak mau mengungkap panggilan telepon dari wanita tua ini, rasanya dia selalu mengganggu Kakak dan kebahagiaan kakak yang kini Kakak jalan bersama Deni."
__ADS_1
Anna menyuruh kakaknya untuk memblokir nomor telepon dari Bu Della, agar tidak mengganggu kehidupan dan kebahagiaan yang telah dijalani oleh Indah.
Pada akhirnya Indah menuruti apa yang dikatakan adiknya ia memblokir nomor Bu Dela.