
Mas Raka kini mengambil map berwarna biru yang aku lemparkan pada wajahnya, tangan kekarnya mengambil dan perlahan mulai membaca setiap baris kata.
Kulihat kedua matanya membulat, apa dia kaget? Atau berpura pura kaget, jantungan. Atau langsung struk di tempat?
Mana mungkin? Toh dia tak peduli denganku!
"Anna, kamu menggugat cerai mas? "
Aku tersenyum kecil dengan melipatkan kedua tangan, " ya. Mas, aku gugat cerai kamu. Sekarang kamu setujui dan tanda tangan dalam kertas lembar itu. "
Ibu mertua menghampiriku, kedua matanya berkaca kaca," Anna, kenapa kamu lakukan ini. Kamu harus tetap jadi keluarga kami. "
Rayuan apa lagi itu?
"Maaf, bu. Hatiku sudah merasa sakit, aku lebih baik menyerah. Aku cape harus bertahan dengan keluarga yang selalu menghina dan tak menghargaiku. "
"Anna, apa tidak ada jalan lain untuk kamu memikirkan semuanya. Ibu berharap kamu tetap bertahan? "
Wanita tua itu terus merayuku, aku tidak tahu. Apa tujuannya, bukanya dia itu yang sudah membuat keluargaku hancur. Sekarang?
"Maaf bu, aku tetap pada pendirianku. Jangan paksa aku untuk bertahan, karena itu rasanya sulit sekali."
Aku tetap berusaha menegarkan hati ini. " Ayo mas, tanda tangan. Setelah ini kita bisa langsung ke pengadilan, untuk membahas hak asuh anak. "
"Aku tidak bisa, menandatangani surat ini."
Mas Raka melemparkan kertas putih yang kini sudah terpisah dengan mapnya, tepat sekali mengenai wajahku.
"Mas, jangan egois kamu. Hah. "
"Hey, Anna, siapa yang egois. kalau tidak ya tidak."
Mas Raka mulai berjalan melewati tubuhku, membuat aku langsung meraih tangannya. Agar dia mau menandatangani surat yang sudah aku bawa.
"Anna, kamu bisa mengugatku. Tapi kamu tidak bisa menekanku untuk menandatangani surat ini. "
"Mas, ada apa denganmu. Aku sudah lelah terus seperti ini. Jangan kamu jadikan aku wanita yang tak punya tujuan."
"Anna, aku sudah bilang padamu jika tidak ya tidak."
Lelaki berbadan kekar itu kini mendorong tubuhku, hingga aku tersungkur jatuh, Ajeng yang melihat aku duduk di atas lantai hanya tertawa kecil dan berkata." Dasar, wanita buruk rupa."
Pak Galih berusaha menolongku untuk berdiri," Anna, ayo berdiri."
Aku mulai berdiri perlahan," aku gagal meminta tanda tangan Mas Raka." keluhku.
__ADS_1
Mas Raka ternyata menghampiriku dan menunjukk wajahku," aku tidak akan menceraikanmu, Anna. Ingat perkataan ini."
Pak Galih tiba tiba menghempasakan tangan Mas Raka," kamu tenang saja Anna, tak usah kuatir. Jika dia tidak mau menandatangani surat cerai ini, kita sered saja dia kepengadilan agama."
"Heh, siapa kamu?" Mas Raka terlihat kesal, setelah Pak Galih membelaku.
"Owh, apa dia selingkuhanmu, Anna?"
Pertanyaan yang membuat aku kesal dan menjawab," jaga ucapanmu, mas. Aku tidak pernah selingkuh."
"Lantas dia?" tanya Mas Raka, dengan amarah ya. Yang menggebu.
"Sudahlah, mas dia siapa bukan urusanmu," pekiku pada Mas Raka.
Mas Raka terlihat kesal, saat aku menjawab perkataanya. Tangan kekarnya hampir ia layangkan pada pipi kiriku.
Untung saja Pak Galih dengan sigap menahan tangan lelaki yang ingin aku tinggalkan untuk selama lamanya.
Mengusap kasar, kepala rambut Mas Raka berucap," sampai kapan pun aku tidak akan menandatangani surat itu, kamu paham. Anna."
Pak Galih kini angkat bicara," kamu tenang saja Anna, jika dia tidak mau menandatangani surat ini. Kita bisa menyered dia ke pengadilan."
"Hah, silahkan jika bisa. Aku tidak akan datang sampai kapan pun," cetus Mas Raka.
Aku baru tahu jika tidak di tanda tangani pun bisa sah, hanya dengan menyered Mas Raka kepengadilanan. Tapi jika Mas Raka tidak kepengadilan, tetap saja gugatan cerai yang aku buat masih berlaku.
"Mana ada seperti itu?" tegas Mas Raka.
"Tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini Raka, wanita juga punya keadilan!" jawab Pak Galih dengan santainya.
"Anna, sebaiknya kita cepat pergi dari sini," ucap Pak Galih menarik tanganku, untuk segera masuk ke dalam mobil.
Mas Raka berteriak memanggil namaku," Anna. Hey kemana kamu."
Aku tak mempedulikan teriakan suamiku, yang terpenting aku sudah datang baik baik. Dan menjelasakan semuanya.
Saat langkah kakiku mulai melangkah dekat dengan mobil, Bu Nunik menampilkan wajahnya dengan tatapan penuh dendam.
"Benar apa yang aku kuatirkan saat ini, si Anna. Pasti selingkuh, menggugat cerai suaminya dengan membawa selingkuhanya." Sindiran pedas itu di layangkan oleh bibir duwer Bu Nunik.
Cobaan apa lagi ini, kenapa di setiap aku mempunyai masalah bersama keluargaku, setan bibir dower itu selalu datang.
Apa yang dia inginkan dari diriku yang tak berdosa ini?
Pak Galih menyuruhku untuk masuk ke dalam mobil, tapi aku masih penasaran dengan Bu Nunik yang selalu ikut campur dan menghujat keluargaku, tanpa alasan tertentu.
__ADS_1
Hingga di mana aku ingat tentang Radit, ia pernah menjerit saat mendengar suara Bu Nunik.
"Hai Bu Nunik, apa kabar?"
Aku berusaha tetap tenang menyapa wanita yang selalu mengurusi kehidupanku.
Bu Nunik, hanya mendelik kesal di saat kata sapaan keluar dari mulutku.
"Sok akrab, menjijikan!" jawab Bu Nunik.
Mas Raka kini menghampiriku dan juga Bu Nunik.
"Bu Nunik, aku ingin menanyakan, apa benar kamu ulah dari trauman anakku?"
Bertanya langsung membuat wanita tua itu membulatkan kedua matanya.
Mas Raka mengerutkan dahi didepanku, "Maksud kamu apa? Anna?"
"Kamu malah bertanya padaku, Mas, asal kamu tahu. Saat kamu datang ke rumahku, Radit sudah terkulai lemah, di kakinya darah bercucuran." ucapku pada Mas Raka.
"Apa maksud kamu, Anna?" tanya Mas Raka, seakan tak paham.
"Aku berusaha menjelaskan, walau sedikit kamu masih belum paham, ayah macam apa kamu mas." pekikku.
Tiba tiba Ajeng datang menghampiri Mas Raka," mas, sudahlah kamu jangan meladeni si buruk rupa itu. Kita masuk saja ke dalam."
Aku menatap Ajeng seperti memberi kode pada Bu Nunik, kode kedipaan mata.
Ajeng berusaha merayu Mas Raka, untuk tidak mendengarkan penjelasakanku lagi.
Aku yang sudah kesal, ingin menutut semua ini, memperlihatkan bukti bahwa anakku Radit mendapatkan kekerasan fisik.
"Kamu lihat ini, mas."
Ajeng dengan sigap mengambil ponselku dan meleparkannya begitu saja.
Mas Raka yang belum melihat poto Radit, kini menghardik Ajeng." Kamu ini gila, kenapa kamu lempar ponsel Anna."
"Mas, dia hanya ingin memfitnahmu saja."
Aku menimpal pekataan Ajeng dengan berkata," fitnah."
Kini kusuruh Pak Galih, menyodorkan poto Radit yang sudah Pak Galih cetak.
Poto yang berukuran besar, untuk aku perlihatkan pada kedua mata orang orang yang tidak tahu diri ini.
__ADS_1