Dibalik Diamnya Mertuaku

Dibalik Diamnya Mertuaku
Bab 101 Menjenguk ke penjara.


__ADS_3

"Tapi, jika Deni terus mengejar kakak gimana?" Pertanyaan Deni sedikit menyulitkan Indah untuk menjawab.


"Loh, kok kakak malah diam saja?"


Pertanyaan Deni seperti menekan untuk Indah. Membuat ia menganggap semua itu hanya gurauan anak muda untuk wanita tua seperti dirinya. 


"Mm, kalau kamu bisa! Kenapa enggak."


Seperti sebuah tantangan di saat kata kata dari mulut Indah terlontar begitu saja untuk Deni, dengan sangat senang ia berkata," Deni akan buktikan, kakak lihat saja nanti."


Indah tak mempermasalahkan perkataan Deni, ia tetap menganggap lelucon, tapi tidak dengan Deni sendiri. 


*******


Anna kini sampai di penjara, ia ingin melihat Ajeng yang dikabarkan polisi sudah ditangkap. Melangkah menuju polisi untuk menanyakan dimana  Ajeng ditahan.


Saat itulah polisi mulai mengantarkan Anna, terlihat Ajeng di dalam penjara duduk dengan kursi rodanya. 


"Sejak kapan Ajeng memakai kursi roda?" Pertanyan mulai terlintas pada hati Anna. 


Wanita dengan bulu mata tebalnya melangkah mendekat kearah Ajeng yang terdengar menangis di dalam penjara. 


Perlahan kakinya mendekat pada jeruji besi, pegangan setiap besi jeruji. Mulut Anna mulai memanggil Ajeng dengan lembut. 


"Ajeng."


Wanita bermata bulat dengan hidungnya yang mancung kini membalikkan kursi roda. Terlihat wajahnya sudah basah dengan air mata. 


"Anna."


Ia mendekat sambil menggerakan kursi rodanya, "Anna, akhirnya kamu datang juga."


Kedua mata Anna membulat saat Ajeng semakin  ke arahnya, ia menutup mulutnya yang tiba tiba mengagah karena melihat kedua kaki Ajeng sudah tidak ada. 


"Anna, kamu pasti kaget dengan aku yang sekarang?"


Anna mengusap pelan wajahnya, polisi perlahan membuka jeruji besi itu, Anna ingin mengobrol di tempat pengunjungan, agar lebih nyaman. 


Kini mereka mulai saling menatap satu sama lain, Anna masih tak merasa kasihan, karena mungkin ini balasan yang setimpal untuk Ajeng. 


"Anna, aku mohon pada kamu, tolong lepaskan aku dari penjara ini ya, aku nggak betah di sini."


Rayunya memelas di depan Anna, akan tetapi Anna tetap bersikap tegas, "Maaf Ajeng, aku tak bisa membebaskan kamu begitu saja."


Ajeng tak menyangka dengan Anna, wanita yang tak punya rasa simpati sedikitpun di hatinya. 


"Anna, apa kamu tak merasa kasihan dengan keadaanku ini?"

__ADS_1


Pertanyaan yang tak membuahkan hasil untuk Ajeng, Anna tetap bersikukuh dengan pendirianya, ia malah membuang muka agar tak merasa kasihan. 


"Dimana hati nuranimu, Anna. kamu ini tega Anna, kamu ini wanita egois yang menginginkan sesama wanita menderita."


Modal mengemis, tak menyadari akan kesalahanya. Bukannya menyadari kesalahan tapi Ajeng seperti wanita tidak tahu diri. Mengolok ngolok Anna, seakan dirinya yang sekarang cacat itu perlu dikasihani. 


"Anna, kamu ini dengar tidak aku berbicara. Benar kata ibuku kamu tidak seperti Bu Sumyati yang gampang melupakan kesalahan. Dimana rasa simpati dan kebaikan kamu, Anna. "


Brakkk. 


Tiba tiba Anna memukul meja yang berada di hadapnya dengan kedua tangan, ia membulatkan mata dengan menatap tajam ke arah Ajeng. Posisi yang berdiri, dan berkata. " Kamu bilang aku egois, apa kamu tidak sadar akan kesalahanmu yang fatal itu."


"Aku sudah menyadari kesalahanku, makanya aku begini. Dan sekarang aku meminta agar kamu membebaskanku dengan mengasihaniku yang kini."


Belum perkataan Ajeng terlontar semuanya, Anna kini memotongnya dengan berkata." Cukup, aku tidak akan membebaskan kamu yang sombong seperti ini."


Menunjuk dan kini Anna ingin pergi dari hadapan Ajeng. 


"Anna, aku belum selesai berbicara kamu malah pergi begitu saja."


Anna membalikkan badan dan berkata," Oh ya, tadi kamu bilang Bu Sumyati baik hati, kalau memang ia dia baik hati kenapa dia tidak membebaskanmu sekarang."


Ajeng kini diam setelah apa yang dikatakan Anna, dan wanita itu sudah pergi dengan begitu cepat. 


******


"Benar benar attitude yang sangat buruk."


Berusaha tenang, Anna berjalan menghampiri Galih yang sedang menunggunya saat ini. Berusaha bersikap biasa saja, seakan tidak ada yang terjadi. 


Lelaki kekar itu berdiri dengan tubuhnya yang tegap, membuat siapapun wanita pasti suka, terlihat sekali setiap gadis muda yang datang ke penjara menjenguk keluarganya, sesekali mencuri pandang ke arah Galih. 


Akan tetapi sifat cuek ya Galih membuat salah satu wanita yang melihatnya tak berani mendekat, sesekali Anna melihat ada juga wanita yang memberanikan diri meminta nomor ponselnya. 


Namun karena kecuekannya, Galih menolak dengan bersikap sopan. 


"Pak Galih."


Saat Anna memanggil, lelaki itu membalikkan badan dengan senyuman yang terlihat menawan." Anna, sudah selesai."


Anna menganggukkan kepala dan menjawab." Sudah pak, aku ingin pulang sekarang."


"Loh, kamu belum makan dan bukanya mau ke restoran."


"Besok saja lah, pak. "


Anna mulai berjalan lebih dulu ke arah mobil, membuat rasa berbeda pada Galih, padahal tadi sebelum ke penjara, mood Anna terlihat baik baik saja,  tapi sekarang berubah drastis. Membuat Galih tentu saja heran. 

__ADS_1


"Ada apa dengan Anna, bukanya tadi dia baik baik saja." Gumam hati Galih. 


*******


Setelah sampai di mobil. 


Galih belum menjalankan mesin mobilnya, membuat Anna berucap, " Ayo pak kita pergi dari sini."


Terlihat sekali nada bicaranya berbeda, Anna terdengar cetus. 


Galih mulai menyalakan mesin mobil, hingga mobil kini menyala, di sela sela perjalanan menuju pulang. 


"Kamu kenapa? Setelah pulang menjenguk Ajeng, wajah Kamu berbeda sekali?"


Anna menatap ke arah Galih, ada rasa bingung. Apa dia harus bercerita atau memendam saja. Tapi semakin dipendam semakin kesal.


"Ayo cerita, kenapa? Bisa saja saya menenangkan hati kamu saat ini?"


Anna menarik napas mulai menenangkan pikiranya, ia perlahan bercerita tentang Ajeng yang berkata sombong dan menekanya, padahal ada rasa kasihan tapi rasa kasihan itu hilang begitu saja karena sifat Ajeng yang membuat kesal Anna.


"Tertanya karena itu, ya sudah bagaimana kalau kita makan dulu, dari tadi pada aku belum makan loh. "


Anna tak tahu jika Galih mengantarkannya ke sana ke mari, belum mendapatkan asupan makanan di perutnya membuat ia merasa kasihan.


"Ya ampun, pak. Maaf, saya enggak tahu jika bapak menahan lapar karena mengantarkan saya dari tadi, ya sudah kita makan di restoran terdekat sini saja ya. "


"Hehe."


Galih tersenyum kecil seraya berkata dalam hati, " demi cinta."


******


Setelah sampai di restoran kecil, Anna dan Galih mulai duduk. Mereka mulai memesan makanan.


"Karena bapak baik, saya akan teraktir bapak semua makanan di sini."


"Serius?"


Anna menganggukkan kepala, hingga dimana ia melihat seseorang yang membuat dirinya terkejut.


"Anna, kamu kenapa? "


"Pak, coba lihat, di sana! "


Anna menunjuk pada kursi yang tak jauh darinya. Hanya terhalang dua kursi.


Siapa kah itu?

__ADS_1


__ADS_2