
"Ya sudah, kakak pulang dulu ya," ucap Kak Indah.
Wanita bermata bulat dengan lesung pipi kini mengedipkan mata kearahku, memberikan satu kode jika Pak Galih akan menemani.
"Kak Indah." Mengerutu kesal, dikala sang kakak kini semakin jauh pergi dari hadapanku.
Lambaian tangan, ia lambaikan kearah wajahku, tingkah Kak Indah memang selalu seperti itu. Di saat adiknya tengah diredungi banyak masalah, ia tetap saja sempat bercanda dan selalu menekan nekanku untuk dekat dengan Pak Galih.
Lelaki berkumis tipis yang memang tampan jika di pandang. Astaga, aku mikir apa, sekarang yang aku pikirkan kesehatan Radit.
Aku mulai mendekat ke arah Farhan, sedangkan Pak Galih duduk di kursi depan ruangan. Jika aku menyuruhnya masuk rasanya cangung sekali.
Membiarkan lelaki itu berada di luar ruangan, tak lupa kuberi selimut agar dia tak kedinginan.
"Mah, tadi Farhan, liat Bu Nunik datang ke ruangan ini."
Deg ....
Bu Nunik? Apa yang tadi berlari masuk ke ruang mayat itu Bu Nunik?
Jam semakin terdengar bersuara, aku mulai bertanya kembali pada Farhan," Apa yang dia lakukan, kenapa dia bisa masuk ke ruangan ini, nak?Bukanya ada Tante Indah yang menjaga?"
"Tante Indah memang menjaga kita. Tapi di saat Kak Indah pergi hanya untuk sekedar membeli cemilan untuk kami, Bu Nunik datang mencari kesempatan. Wanita itu mengancam Radit, membuat Radit ketakutan!"
Jawaban anakku terdengar sayu," terus?"
"Farhan mencoba menyelamatkan Radit dari ancaman Bu Nunik, dengan memukul bahu wanita tua itu dengan tas yang Farhan pegang, tapi Bu Nunik malah mencekram tangan Farhan hingga merah dan mendorong tubuh Farhan hingga kaki Farhan luka berdarah."
"Kenapa kamu tidak bilang pada Tante Indah?"
"Tadinya Farhan mau mengadu pada Tante Indah, saat Tante Indah selesai membeli cemilan dan pulang kembali ke ruagan Radit, tapi Bu Nunik sembunyi di balik gordeng dengan memegang pisau, Farhan takut mah, jadi Farhan berusaha diam. Takut jika Bu Nunik melukai Tante Indah tiba tiba dengan pisau yang ia pegang."
Farhan menceritakan ke datangan Bu Nunik dengan begitu detail, aku tak menyangka jika wanita tua itu nekad. Ingin membuat Radit menderita.
Kupeluk tubuh anakku, dan berkata." Farhan, memang jagoan mamah, kamu pintar nak. Kamu bisa melindungi Radit."
Aku menatap ke arah ruangan Radit, berharap di ruangan anakku tersimpan cctv.
"Ahk, ada cctv. Aku harus meminta rekaman kejadian di mana Radit tiba tiba sesak nafas. Ini bisa menjadi bukti kuat untuk membongkar pelaku yang sudah membuat anakku trauma."
Kini Farhan tidur di pelukanku, membuat aku merasa tenang. Perlahan kubaringkan tubuh anakku pada kursi.
Lulu yang merasa tak nyaman terus menangis, membuat aku berusaha menenangkanya. Untung saja di rumah sakit ini bisa membawa anak kecil.
"Lulu, nak sayang. Kamu kenapa?"
Lulu tetap saja menangis, membuat aku bingung sendiri. Tak biasanya anak perempuanku ini menangis. Biasanya dia selalu anteng.
__ADS_1
Cekrek.
Pak Galih datang membuka pintu ruangan Radit, membuat aku setengah kaget.
"Pak Galih?"
Kulihat lelaki berkumis tipis itu, datang tanpa aku suruh. Apa dia tergangu dengan suara tangis Lulu, hingga ia terbangun.
"Kenapa dengan Lulu, An?"
Tanya Pak Galih, dikala aku begitu repot menangani Lulu yang terus menangis.
"Entahlah Pak, Lulu dari tadi nangis terus!"
Jawabaku sembari mengayun ngayun Lulu pada pangkuanku.
"Mungkin dia lapar."
Ucapan Pak Galih membuat aku mengerutkan dahi, karna dari tadi Lulu sudah kenyang menyusu. Dan lagi aku tak pernah membuat dia kelaparan.
"Masa ia Pak, dari tadi dia sudah nyusu!"
Balasku.
Pak Galih mulai meraih Lulu dari tanganku," sini biar saya gendong."
Pak Galih menganggukkan kepala, saat ia meraih Lulu dari tanganku. Dengan perlahan, anak perempuanku kini terdiam, tangisanya mereda. Hingga di mana Lulu kini tertidur di pangkuan Pak Galih.
"Lulu tertidur Pak?"
Entah kenapa bisa kebetulan sekali, Lulu langsung tertidur begitu saja di pangkuan Pak Galih. Padahal Pak Galih hanya orang yang membantuku dia saat aku kesusahan seperti sekarang.
"Sepertinya anakmu, membutuhkan sosok seorang ayah!"
Membulatkan kedua mata, kaget dengan ucapan Pak Galih. "Lulu masih kecil pak, mungkin dia lagi cengeng cengengnya."
Kualihkan pembicaraan bersama Pak Galih agar tidak terasa canggung lagi.
"Pak, saya mau tanya? Setelah saya mengugat Mas Raka, apa bisa bapak membantu saya lagi?"
Aku memberanikan diri, meminta pertolongan pada Pak Galih, untuk menuntaskan masalah Radit
"Bisa saja. Memangnya kenapa?"
"Farhan tadi menjelaskan apa yang terjadi tadi siang!"
Aku menjawab dengan nada pelan, berusaha tidak terlalu keras." Maksud kamu?"
__ADS_1
Petanyaan melayang, aku kini menjelaskan apa yang dikatakan Farhan kepadaku, Pak Galih mengerutkan dahi dan dia mulai mecerna perkataanku.
"Apa bisa bapak menolong saya?"
Aku berharap jika Pak Galih mau membantuku, karna ini jalan satu satunya cara untuk aku bisa menjebloskan Bu Nunik ke penjara.
"Baiklah, Anna. Saya akan membantu kamu."
Setelah mendengar jawaban dari PaK Galih hatiku sangatlah senang. Ia mau membantuku lagi.
"Terima kasih, Pak."
Dengan memegang tanganya, beberapa kali mengucapkan kata terima kasih. Aku sangat berharap sekali dengan bantuan Pak Galih.
"Anna, sepertinya Lulu sudah tertidur pulas."
Aku hampir lupa Lulu masih berada di gendongan Pak Galih membuat aku dengan sigap mengambil Lulu dan menidurkannya dekat Farhan.
"Semoga saja, Radit cepat pulih. Karna sebentar lagi, hari gugatan kamu dengan suami kamu Anna. Saya berharap gugatan akan di menangkan oleh kamu, agar suami kamu bernama Raka itu menyesal." Ucap Pak Galih.
@@@@@@
Pagi hari.
Aku mulai melihat Radit, ia kini tersenyum ceria. Terlihat wajahnya tak menampilkan rasa takut seperti kemarin.
"Radit, nak. Kamu baik baik sajakan sekarang?"
"Iya mah. Radit pengen pulang, Radit bosan di sini terus!"
"Sebentar lagi ya, nak. Kamu pasti pulang dari rumah sakit ini. Nanti kamu bebas, tidak pakai alat bantu seperti ini."
Radit memperlihatkan bibir cemberutnya di depan wajahku.
"Radit." Pak Galih datang dengan membawa makanan begitu banyak.
Senyuman lelaki berkumis tipis itu, membuat ketiga anak anakku nyaman jika berada di dekatnya.
"Anna."
Lamunanku membuyar dikala, melihat wajah bahagia anak anakku." Iya pak, kenapa?"
Pak Galih menyodorkan makananan yang baru saja ia beli." aku sengaja beli ini untuk kalian sarapan pagi."
Tiba tiba saja tepuk tangan dari arah pintu terdengar keras, membuat aku membulatkan kedua mataku. Melihat siapa yang datang, lelaki tidak tahu diri tersenyum dikala pagi masih begitu tersa sejuk.
Dengan kedatanganya ke rumah sakit, membuat hawa pagi terasa panas. Ia menampilkan senyuman sinisnya.
__ADS_1