
Sudah seminggu usahaku berjalan lancar, semua para pengunjung saling berdatangan, dimana aku membuat lagi tema warung nasi yang sedikit terlihat elit.
Sampai dimana kian hari kian bertambah, membuat pemasukkanku semakin banyak, yang biasa sehari hanya mendepatkan 10 juta kini sudah mencampai 40 sampai 50 juta, karna memang warung nasi yang aku bangun dengan Pak Galih begitu luas, bebagai macam hidangan khas sunda berjejer.
Sebisa mungkin membuat para pengunjung nyaman dengan suasana yang sejuk. Para pengunjung yang berdatangan kebanyakan para pengawai pabrik dan proyek bangunan.
Sebagai pemilik warung nasi yang aku bangun, aku menyuruh para pelayan untuk tetap melayani pengunjung walau keadaan mereka seperti apapun.
Dan tak lupa mengigatkan mereka, jika ada pengemis, berikan satu bungkus nasi berserta lauk pauknya. Disetiap keuntungan aku bagi hasil dengan Pak Galih, karna itu sudah menjadi perjanjian dari awal saat memulai usaha.
Mobil yang di belikan Pak Galih, memang belum sepenuhnya menjadi miliku, karna aku berusaha menyicil mobil itu.
Perlahan di setiap waktu, Pak Galih selalu mengajarkanku cara menyetir mobil. Walau sepenuhnya aku belum bisa sendirian membawa mobil berwarna merah menyala itu.
Hanya ada yang aku tak paham dari sosok lelaki bernama Galih ini, dia selalu ada waktu denganku. Apa dia tidak bekerja. Atau dia seorang pengusaha besar yang hanya mengandalkan anak buah?
Jadi pekerjaannya bisa di hendel, setiap aku membutuhkannya, dia tak pernah menolak seperti tak ada kesibukan di dalam duanianya untuk bekerja.
Oh ya, sekarang aku sudah tidak mengandalkan kak Indah karna uang dari warisan yang aku punya, aku manfaatkan untuk membangun rumah yang mungkin terlihat mewah. Kuberikan Lulu sepenuhnya pada Baby sister, karna kini aku sudah bisa mengaji karyawan dan juga para pembantu di rumah.
Aku tak menyangka setelah ada angin badai yang menghadang, kini muncullah angin segar yang membahagiakan raga. Dan membuat jiwa tenang.
Aku sukses menjadi wanita karir, dalam waktu yang cukup lumanyan dekat.
Setelah seminggu berlalu, aku rindu pada Radit. Mas Raka belum juga mengembalikkan Radit padaku
Dan untuk kasus Daniel, Deni belum datang bersama Adam ke rumah yang aku tunjukkan alamatnya pada mereka. Padahal aku sudah membebaskan Bu Sumyati, dari rumah sakit jiwa.
Baru saja ingin melangkah untuk melihat ke dapur, salah satu anak kecil menghampiriku.
Bajunya begitu lusuh, dengan tampilanya yang kotor.
__ADS_1
"Bu, aku lapar."
Suara itu seperti tak asing di telingaku, kini kulihat raut wajah yang ditutupi topi. Hingga di mana." Radit, nak. Kenapa kamu menjadi pengemis seperti ini."
Kupeluk Radit dengan erat, hatiku hancur. Padahal baru saja aku memikirkan anak keduaku yang diambil oleh Mas Raka.
"Nak. kamu kenapa enggak minta pulang ke papah?"
Radit menangis, dipelukkanku. " Ya sudah, kalau kamu belum siap bercerita, ayo kita makan dulu. Mamah ambilkan kamu makanan yang enak, kesukaan kamu."
Radit menganggukkan kepala dengan kedua mata yang basah penuh air mata, tubuhnya yang aku rawat agar terlihat berisi kini menjadi kurus kering, pipinya yang camby kini terlihat tirus.
"Radit maafin mamah ya. Mamah terlalu sibuk mengurus usaha mamah, jadi mamah tak sempat jemput kamu."
Aku menyuruh anakku duduk di kursi, menyodorkan makanan kesukaannya, Radit dengan lahapnya memakan semua nasi dan lauk pauk di atas piring, yang sengaja aku berikan dengan porsi besar.
Hati ini tak menyangka jika Radit, memakan semua nasi dan lauk pauk tanpa ada sisa sedikit pun, hanya piring bersih tanpa ada biji dan bekas tulang dari lauk pauk.
Radit mengusap perutnya yang mungkin terasa bengah, karna makan terlalu banyak, ia berkata kepadaku dengan ujung bibir yang mereka tersenyum.
"Radit kenyang, mah. Makanannya enak."
Tangan kanan kini melepaskan topi yang menutupi rambut anakku. Membuat aku membulatkan kedua mata, saat topi itu aku lepas dari kepala anakku.
"Radit potongan rambut kamu kok jadi begini?"
Aku bertanya dimana anakku menundukkan pandangan, ada rasa sedih tersirat dari raut wajahnya, kesedihan yang belum aku mengerti.
Tanganku mulai meraih dagu anak kecil bermata sipit dengan bibir mungilnya itu, mengangkat pelan, membuat tatapan kami beradu bersamaan.
Aku menyuruh Radit menatap ke arah wajahku, dimana kedua matanya terus menunduk seakan tak kuasa dengan apa yang ia alami saat di dalam rumah Mas Raka.
__ADS_1
"Radit sayang, coba katakan sama mamah. Kenapa kamu mengemis dan baju juga dandanan kamu seperti ini? Apa papah kamu menyuruh kamu melakukan semua ini?"
Aku berusaha tidak menekan pertanyaan pada anak kecil dihadapanku ini, ia terlihat ketakutan jika mengatakan kejujuran, sesekali kedua matanya mengartikan penuh keraguan.
Aku yang tak bisa menunggu lama, dengan jawaban Radit, kini memagang bahunya dengan bertanya penuh kelembutan. Karna aku tak mau jika membuat kesalahan untuk yang kedua kalinya seperti kemarin.
Sebisa mungkin berusaha tenang dan, memberikan rasa nyaman jika Radit bersamaku, agar perlahan demi perlahan dia mengatakan kejujuran.
"Ayo nak, sayang. Cepat katakan pada mamah, kamu tak usah takut sayang, mamah tidak akan memarahi kamu. Mamah sayang sekali pada Radit."
Pendekataan dan rayuan, begitu pun kata kata lembutku, membuat Radit kini perlahan membuka mulut dan menjawab setiap pertanyaan yang aku berikan padanya.
"Sebenarnya Radit melakukan semu ini, karna memamg Radit yang ingin, mah."
Aku mengertukan dahi, jawaban yang tak membuat aku puas, hingga dimana aku bertanya kembali.
"Kenapa Radit melakukan semua ini, mengemis dan berpakaian kotor. Bukanya ada papah, memangnya papah tidak tahu soal ini."
Radit menggelengkan kepala dan menjawab." Papah tidak tahu soal ini, mah. Mamah jangan kasih tahu papah kalau mamah kasih tahu nanti Radit di jewer."
Aku mulai mengusap pelan potongan rambut anakku yang tak beraturan." Terus alasan apa Radit melakukan semua ini?"
" Selama Radit di rumah Nenek dan Papah, mereka begitu sibuk dengan aktifitas mereka, setiap kali Radit ingin makan, di meja makan tak pernah ada makanan selalu habis tak tersisa, Tante Ajeng tak pernah mempedulikan Radit, saat Radit kelaparanpun, Tante Ajeng malah menyuruh Radit masak sendiri. Sedangkan Nenek selalu pergi mengobrol dengan para tetangga."
Aku mendengar cerita anak keduaku begitu menyedihkan, Mas Raka membawa Radit ke rumah ibunya bukan mengurusnya dengan baik, malah menelantarkan begitu saja.
Benar benar keluarga gila.
Aku melihat Radit menyebunyikan tangan kananya, membuat aku memegang dan berkata," coba mamah lihat."
Radit menggelengkan kepala tak ingin jika aku melihat luka pada tanganya itu.
__ADS_1