Dibalik Diamnya Mertuaku

Dibalik Diamnya Mertuaku
Bab 156 Jebakan sudah di mulai


__ADS_3

Ainun mempersiapkan diri, ia sudah tidur pada ranjang tempat tidurnya. Berusaha berpura pura, melihat dan mendengar apa yang nanti akan dibicarakan pelayannya pada Galih.


Ia sudah menjalankan aksinya, tinggal menunggu waktu yang tempat, membuat wanita bernama Intan itu menyesal telah membuat perlakuan bodoh yang merugikan dirinya sendiri.


Padahal kurang baik apa ya, Ainun. Walau ucapanya cetus ia selalu menghargai Intan sebagai teman buka pelayanya, atau pun orang bawahannya.


*******


Ainun yang terlihat tertidur pulas, membuat Intan tersenyum lebar, ia menatap majikannya dengan begitu santainya sembari mengatakan, " sepertinya kamu sudah tertidur pulas, Nyonya Ainun. Tapi bagus lah, kalau nanti tuan datang, pastinya saya akan membuat Nyonya selalu jelek di mata Tuan Galih."


Wanita berhijab merah muda yang berpura pura tidur, mendengar apa yang dikatakan pelayanya. Intan begitu ceroboh dan bodoh. Bisa bisanya berbicara didepan Ainun.


"Oh, jadi itu rencanamu, Intan. Tenang saja, bukan saya yang akan dibenci Galih, tapi kamu. Akan saya buat kamu malu dan di pecat saat Galih datang." Gumam hati Ainun.


Intan berlengak lengok, melihat kamar Ainun yang sudah begitu rapi, ia melihat make-up yang mungkin dibelikan Galih saat dirinya masih berada di rumah mantan suaminya.


Memegang make-up Ainun, ia dengan lantangnya memakai satu persatu make-up yang tersusun rapi di meja rias.


"Enak juga ya, bisa jadi Nyonya, diberi rumah sama mantan suami."


Intan berteriak dan merasakan rasa kesal saat di kamar Ainun, ia mengira jika Ainun tertidur pulas. Jadi dengan leluasanya mengata-ngatai Ainun. Menyangka jika sang majikan sudah tertidur pulas dan pastinya tidak akan mendengar apa yang dikatakan Intan.


Wanita berhijab merah muda, tak tinggal diam, saat pelayannya melakukan hal yang tak terduga dan juga berkata tak pantas, mengatai Ainun dengan hinaan.


Membuat sang majikan dengan leluasa merekam, dengan berharap rekaman itu menjadi sumber bukti Ainun, untuk memberitahu Galih.


Agar tidak tertipu dengan kepolasan Intan.


"Yes, akhirnya bisa saya rekam sebagai barang bukti." Gerutu Ainun, kini menyimpan poselnya pada saku celana.


Ainun tak sabar menantikan momen di mana Intan keluar dan dipecat dari rumah yang diberi oleh Galih untuk dirinya.


Intan kini melangkah berjalan ke hadapan Ainun, tangannya memegang pipi sang majikan yang berpura-pura tertidur. sesekali Intan memukul sedikit keras kedua pipi Ainun, dengan memastikan jika majikannya itu tertidur pulas dan tak mendengar apa yang ia katakan.


"Ya, ternyata nyonya sudah tertidur pulas, tinggal menunggu tuan."

__ADS_1


Intan tersenyum kecil, ia mengira jika rencananya itu akan berhasil dan bisa mengelabui Ainun. Agar bisa pergi dari rumah yang diberikan Galih.


"Sepertinya akan menyenangkan, tinggal menunggu sesuatu yang sangat saya nantikkan. Yaitu Tuan Galih."


Intan perlahan bangkit, ia berjalan untuk segera menutup pintu kamar Ainun.


Sedangkan Ainun, membuka mata setelah melihat Intan pergi dari kamarnya." benar benar pelayan tidak tahu malu, berani beraninya dia memegang perlaratan di kamarku. Ini tidak bisa dibiarkan, aku harus bisa mengeluarkan dia dari rumah ini."


Mengerutu kesal, Ainun hanya bisa duduk dan melihat rekaman pada benda kecil yang ia punya.


"Untung saja punya benda ini." Tertawa pelan, berharap jika sang palayan tak mendengar suaranya.


Intan membersihkan bekas sarapan manjikannya, ia membuat seisi rumah besih karena kedatangan tamu sepecial bagi dirinya.


" Tak sabar rasanya menunggu Tuan Galih."


Bernyanyi sambil mengoyangkan pinggulnya, hingga dimana suara ketukan pintu terdengar pintu luar.


"Sepertinya itu, Tuan Galih."


Saat membuka pintu rumah, bukanya senang. Intan tentulah heran, ada pengantar bunga datang membawakan karangan bunga kepadanya.


"Bunga?"


"Permisi, apa anda bernama Intan?" tanya sang pengantar bunga dengan senyum ramahnya.


Intan mengerutkan dahi, masih tak mengerti. Kapan ia memesan karangan bunga.


"Salah kirim kayanya."


"Maaf Nona, tapi ini atas nama anda. Tolong tanda tangan di sini dan ini tagihannya."


Intan melihat nominal harga pada nota yang diberikan sipengantar bunga, membuat ia terkejut. Karena pada nominal harga tertera satu juta dua ratus lima puluh ribu rupiah. Harga yang fantastik untuk seorang pelayan seperti Intan.


"Bayar." Ucap pengantar bunga dengan nada cetus.

__ADS_1


Gadis yang berfropesi sebagai pelayan itu menelan ludah. Bagaimana bisa ia membayar karangan bunga yang bernominal sangat besar baginya.


"Nona. Kalau anda tida bisa bayar, saya pastikan .... "


Karena mendengar acaman yang terasa menakutkan, pada akhinya Intan dengan keterpaksaan membayar karangan bunga itu. Berjalan mengambil dompet, melihat isi uang yang sengaja ia simpan, kini harus melayang bunga. Yang tidak ia pesan.


Dengan raut wajah cemberut dan tak rela uangnya di bayarkan pada bunga, Intan sedikit menangis. Ia kesal dan ingin menampar si pengantar bunga yang memaksa untuk membayarnya.


"Permisi."


Baru saja membalikkan badan, sosok seorang lelaki datang menghampiri rumah Ainun. Lelaki itu begitu tampan.


"Apa lagi, mau suruh saya bayar lagi." Gerutu Intan, melihat sosok lelaki berdiri di depan pintu.


Mulut Intan seketika mengagah, melihat penampilan lelaki muda di hadapannya.


"Tampan."


"Maaf, apa ini rumah. Ibu Ainun?" Pertanyaan lelaki muda itu membuat Intan terpesona, ia begitu suka dengan wajah lelaki yang mencari Ainun saat itu.


"Mm, Nyonya lagi tidur! " Jawaban Intan terlihat gugup, ketika ia berdekatan dengan lelaki tampan.


Ainun yang melihat pada kaca jendela di kamarnya tersenyum kecil dan berkata, " bagus. Sesuai rencana. Padahal baru semalam menghubungi Andi, teman Almarhum kakakku, sekarang dia langsung datang begitu saja."


Rencana sepertinya berjalan mulus, tidak payah. Ainun meminjam ponsel Intan semalaman saat pelayannya itu tertidur begitu lelap.


"Tidak sabar rasanya menunggu Galih datang dan melihat apa yang ia lihat. Kamu tidak tahu ya Intan, sedang berhadapan dengan siapa kamu saat ini."


"Ya sudah kalau begitu saya pulang dulu." Pamit Andi, berusaha mengalihkan pesonanya pada Intan, agar tidak membiarkan dirinya pergi begitu saja.


Intan yang melihat ketampanan Andi kini bergumam dalam hati." Bisa bisanya si Ainun itu mempunyai pria tampan seperti ini. Padahal aku sudah berusaha menyewa lelaki untuk pura pura tidur dengan Nyonya Ainun, tapi lelaki itu belum juga datang. Kemana dia?"


Ainun tertawa dengan hal bodoh yang dilakukan Intan, jelas lelaki yang ia suruh datang. Sudah Ainun kirim pesan untuk membatalkan rencannya.


"Untung saja aku tidak bodoh seperti dia, kalau saja aku bodoh mungkin hancur harga diriku di depan Galih, dengan dibohongi dan dijebak oleh pelayannya itu." Ucap pelan Ainun di dalam kamar, saat melihat obrolan Intan dengan Andi.

__ADS_1


__ADS_2